NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action
Popularitas:930
Nilai: 5
Nama Author: Muhamad Aditiar

SINOPSIS:

"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."

Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.

Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cahaya yang Mengundang Pemburu

Bab 5: Cahaya yang Mengundang Pemburu

Napas Ethan terdengar sedikit lebih berat ketika ia terus menyusuri hutan di lereng Bukit Arjaya. Dahan-dahan pinus yang basah oleh embun menghalangi pandangannya, sementara batu giok berbentuk bulan sabit di genggamannya masih memancarkan hawa dingin yang meresap hingga ke tulang.

Cahaya merah yang tadi menembus langit telah menghilang.

Namun akibatnya baru saja dimulai.

Ethan berhenti di balik sebuah batu besar. Ia mengatur napas, lalu mengangkat batu giok itu setinggi mata.

Retakan halus memenuhi permukaannya.

Setiap beberapa detik, cahaya merah redup berdenyut dari dalamnya, seperti jantung yang masih hidup.

"Alat penanda..."

gumam Ethan.

Di dunia kultivasi, artefak semacam ini digunakan untuk mengirim sinyal kepada sesama anggota sekte ketika menemukan warisan penting atau menghadapi bahaya.

Masalahnya...

Teknik pembuatannya berasal dari Dunia Kultivasi.

Bukan dari Bumi.

Tatapan Ethan menjadi semakin dalam.

"Apakah benar ada orang dari dunia itu yang berhasil datang ke sini?"

Atau...

"Memang sejak awal kedua dunia saling terhubung?"

Ia belum memiliki jawaban.

Namun satu hal pasti.

Semakin lama batu giok itu berada di tangannya, semakin besar kemungkinan posisinya terlacak.

Tanpa ragu, Ethan membungkus artefak tersebut menggunakan potongan kain yang disobek dari bagian dalam jaketnya. Kemudian ia menyelipkannya ke dalam kotak kayu hitam yang ditemukan di dekat Batu Mata Air Ketujuh.

Begitu tutup kotak tertutup rapat, denyutan cahaya langsung melemah.

Ethan mengangguk tipis.

"Benar..."

Kotak itu bukan kotak biasa.

Ia mampu menahan pancaran aura artefak.

Di sisi lain Bukit Arjaya...

Pemimpin kelompok berjubah abu-abu berdiri dengan wajah muram.

Tangannya mengepal erat.

"Dia mengambil Kunci Bulan."

Dua bawahannya menundukkan kepala.

"Kami gagal mengejarnya."

Pria itu tidak langsung marah.

Sebaliknya, ia menutup mata sejenak.

"Apakah kalian melihat wajahnya dengan jelas?"

"Sangat jelas."

"Pemuda sekitar dua puluh tahun."

"Tingkat kultivasinya rendah."

"Tapi gerakannya..."

"...tidak seperti orang biasa."

Pemimpin berjubah membuka matanya perlahan.

"Sebarkan wajahnya."

"Jangan bunuh."

"Bawa hidup-hidup."

Salah seorang bawahannya tampak heran.

"Kalau dia membuka Gerbang lebih dulu?"

Pria itu menggeleng.

"Dia tidak akan bisa."

"Kunci Bulan hanyalah satu dari tiga bagian."

"Kunci Matahari dan Kunci Bintang masih belum ditemukan."

"Tanpa ketiganya..."

"...Gerbang tidak akan pernah benar-benar terbuka."

Langit mulai memperlihatkan semburat jingga ketika Ethan keluar dari kawasan hutan.

Ia tidak kembali menuju rumah kontrakannya.

Tempat itu sudah tidak aman.

Orang-orang berseragam naga perak pernah menemukannya.

Kelompok berjubah abu-abu kini juga mengetahui keberadaannya.

Kemungkinan besar, rumah itu sudah diawasi.

Sebaliknya, Ethan memilih menuju kawasan kota lama.

Daerah itu dipenuhi bangunan tua yang sebagian besar kosong.

Banyak pendatang singgah di sana tanpa menarik perhatian.

Tepat seperti yang ia butuhkan.

Sebuah penginapan kecil berdiri di ujung gang sempit.

Bangunannya kusam.

Cat dinding mengelupas.

Plang bertuliskan "Penginapan Melati Indah" nyaris roboh.

Pemiliknya, seorang wanita paruh baya, mengangkat kepala saat Ethan masuk.

"Kamar?"

Ethan mengangguk.

"Satu malam."

Wanita itu memandang pakaian Ethan yang penuh lumpur.

"Bayarnya di depan."

Ethan terdiam.

Uang.

Ia kembali dihadapkan pada masalah yang sama.

Melihat ekspresi Ethan, wanita itu menghela napas.

"Kalau tidak punya uang, jangan bercanda pagi-pagi."

Ethan mengeluarkan jam tangan dari pergelangan kirinya.

Jam itu peninggalan ayahnya.

Ia menatap benda tersebut beberapa detik sebelum meletakkannya di meja.

"Sebagai jaminan."

Wanita itu mengambilnya.

Memeriksa sebentar.

"Lumayan bagus."

"Aku terima."

Ethan mengangguk pelan.

Ia tidak menyukai harus melepaskan satu-satunya kenangannya.

Namun hidup lebih penting.

Kalau masih hidup, jam itu bisa diambil kembali.

Kamar yang didapat sangat sederhana.

Kasur tipis.

Meja kayu kecil.

Jendela menghadap gang belakang.

Begitu pintu terkunci, Ethan langsung duduk bersila.

Kotak kayu hitam diletakkan di depannya.

Ia membuka perlahan.

Batu giok bulan sabit masih memancarkan hawa dingin.

Namun kini jauh lebih stabil.

Ethan menutup mata.

Kesadarannya perlahan memasuki kondisi meditasi.

Bukan untuk berkultivasi.

Melainkan memeriksa struktur artefak.

Benang-benang Qi tipis menyentuh permukaan batu giok.

Perlahan.

Sangat hati-hati.

Beberapa menit berlalu tanpa hasil.

Kemudian...

Kesadarannya tiba-tiba ditarik masuk.

Ethan membuka mata.

Namun dunia di sekelilingnya telah berubah.

Ia berdiri di sebuah ruang gelap tanpa ujung.

Di hadapannya melayang bulan sabit raksasa yang terbuat dari cahaya merah.

"Ruang kesadaran..."

gumam Ethan.

Suara tua tiba-tiba bergema.

"Identitas tidak dikenali."

"Memulai proses eliminasi."

Seketika bulan sabit merah itu berubah menjadi ribuan bilah cahaya.

Melesat ke arahnya.

Tatapan Ethan tetap tenang.

"Jadi begitu."

Alih-alih melawan, ia justru menutup seluruh aliran Qi miliknya.

Dalam sekejap...

Aura kultivatornya menghilang.

Bilah-bilah cahaya yang semula menyerang mendadak berhenti di udara.

Suara tua kembali terdengar.

"Deteksi ulang..."

"Kesalahan identifikasi..."

"Pemindaian gagal."

Ruang kesadaran mulai retak.

Kesadaran Ethan pun terlempar keluar.

Ia membuka mata dengan napas sedikit tersengal.

Setetes darah mengalir dari sudut bibirnya.

"Formasi pelindung tingkat tinggi..."

Kalau tadi ia memilih menyerang secara paksa, kemungkinan kesadarannya akan terluka.

Untungnya, pengalaman lima abad membuatnya memahami cara menghadapi artefak semacam itu.

Namun ia juga memperoleh satu informasi penting.

Artefak itu masih memiliki pemilik.

Atau setidaknya...

Masih terhubung dengan seseorang.

Di saat yang sama.

Sebuah vila mewah di pinggir kota.

Alya Pramesti berdiri di balkon sambil memandang matahari yang mulai terbit.

Bram datang membawa sebuah map.

"Hasil penyelidikan."

Alya membukanya.

Di halaman pertama terdapat foto Ethan ketika masih menjadi mahasiswa.

Juara olimpiade nasional.

Peneliti muda.

Mahasiswa terbaik.

Kemudian...

Semua prestasi itu berhenti dua tahun lalu.

Disusul laporan kehilangan kedua orang tua.

Kasus perebutan hak paten.

Lalu laporan kematian yang tak pernah selesai.

Alya membaca seluruh berkas tanpa berbicara.

Semakin banyak ia membaca...

Semakin besar rasa penasarannya.

"Semua saksi meninggal?"

"Ya."

"Rekaman CCTV hilang?"

"Benar."

"Kasus ditutup?"

"Kurang dari seminggu."

Alya menutup map perlahan.

"Ini bukan kebetulan."

Bram mengangguk.

"Kami juga menemukan satu hal."

"Apa?"

"Perusahaan yang mengambil penelitian ayah Ethan..."

"...adalah anak perusahaan Wijaya Group."

Tatapan Alya berubah dingin.

"Keluarga Wijaya lagi."

Sementara itu.

Di ruang rapat tertutup Gedung Wijaya Group.

Ardi Wijaya duduk sendirian.

Di depannya tergeletak laporan kematian Riko.

Pintu perlahan terbuka.

Seorang pria tua memasuki ruangan.

Usianya sekitar enam puluh tahun.

Mengenakan setelan jas sederhana.

Namun langkahnya ringan.

Tatapannya tajam.

Ardi langsung berdiri.

"Paman Han."

Pria tua itu hanya mengangguk.

"Aku mendengar kau membuat masalah."

Ardi tersenyum kaku.

"Hanya seorang bocah."

"Benarkah?"

Pria tua itu melempar sebuah foto ke atas meja.

Foto Ethan.

"Kau tahu siapa yang sedang diburu organisasi Mata Hitam?"

Ardi menggeleng.

"Tidak."

"Kalau begitu mulai hari ini..."

"...jangan sentuh Ethan Mahendra."

Ardi terkejut.

"Kenapa?"

Paman Han menatapnya tajam.

"Karena orang yang terlalu cepat mati..."

"...kadang membawa lebih banyak masalah daripada orang yang masih hidup."

Sore harinya.

Ethan akhirnya menyelesaikan meditasi singkat.

Pemulihan Qi memang belum banyak.

Namun tubuhnya terasa lebih stabil.

Ia baru saja hendak menutup kotak kayu ketika mendengar suara gaduh dari lantai bawah.

"Tolong!"

"Ada yang terluka!"

Disusul suara pecahan kaca.

Jeritan.

Langkah kaki yang panik.

Ethan berdiri.

Naluri bertarungnya langsung aktif.

Ia berjalan menuju jendela.

Di halaman depan penginapan, seorang gadis berusia sekitar tujuh belas tahun roboh bersimbah darah di bahunya.

Di belakang gadis itu...

Seekor makhluk berwujud seperti anjing, tetapi bertubuh hampir sebesar harimau, sedang merangkak keluar dari bayangan gang sempit.

Matanya merah menyala.

Mulutnya dipenuhi taring hitam.

Namun yang membuat Ethan membeku bukanlah wujud monster itu.

Melainkan Qi gelap yang menyelimuti tubuhnya.

Qi semacam itu...

Seharusnya hanya muncul pada makhluk yang telah lama tersegel.

Dan kini...

Makhluk itu perlahan mengangkat kepalanya.

Tatapan merahnya tepat mengunci Ethan yang berdiri di balik jendela.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!