Marah dan kecewa pada sang ayah yang tak menganggapnya anak membuat Anesha memilih kabur dari rumahnya dan pergi ke kota.
Anesha pikir dia akan mudah mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal. Namun ternyata dia salah, dua hari di kota tanpa uang dan arah tujuan justru membuatnya terlunta-lunta bahkan nyaris mati kelaparan.
Hingga akhirnya sosok bak dewa penyelamat itu datang di saat yang tepat.
"It's ok baby girl, Daddy's here." Sebuah kalimat penenang yang akhirnya membuat Anesha tanpa sadar jatuh cinta pada pria dewasa yang sudah menganggapnya sebagai putrinya sendiri.
Akankah Alesha memperjuangkan perasaannya atau justru memilih mundur saat mengetahui sang Daddy bukanlah seorang pria single?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isthiizty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto
Anesha menatap gedung sekolah di hadapannya dengan takjub. Bagaimana bisa dia menginjakan kakinya di sekolah elit seperti ini. Bahkan kini dia bisa menjadi salah satu siswi di sekolah ini.
Sekolah dengan bangunanan empat lantai ini terlihat jauh berbeda dari sekolahnya dulu saat di desa. Bahkan perbedaan itu membuat kedua sekolah itu bagaikan langit dan bumi.
Jika di sekolah lamanya dulu, tak banyak fasilitas yang mendukung untuk pembelajaran, maka sangat berbanding terbalik dengan di sekolah barunya ini. Karena hampir semua fasilitas penunjang ada disini yang pastinya akan membuat kegiatan belajar mengajar disini menjadi lebih nyaman dan pastinya menyenangkan.
Setelah melewati lapangan basket, Anesha berjalan menuju kerumunan siswa yang berada di depan salah satu kelas.
"Ruang guru ada di sebelah mana ya?" tanya Anesha. Hampir semua siswa disana menatapnya dari atas sampai bawah seolah memindai apakah Anesha layak menjadi bagian sekolah ini atau tidak.
Anesha sendiri tak bisa memungkiri jika siswa siswi disini sangat tampan dan cantik. Selain itu mereka juga terlihat stylish dengan sepatu dan aksesoris yang mereka pakai dan Anesha yakin jika barang-barang itu pasti berharga fantastis.
"Anak baru?" tanya salah seorang siswi dengan rambut sebahu.
Anesha menganggukan kepalanya sembari menjawab dengan kata 'iya' dengan sangat lirih. Entah kenapa dia merasa tak nyaman menjadi pusat perhatian beberapa siswi disini.
"Lo lurus aja. Nanti setelah lewat perpustakaan lo belok kanan. Nah disana ruang guru berada."
Setelah mengucapkan terimakasih, Anesha meninggalkan kerumunan itu dengan diiringin tatapan ingin tahu dari beberapa sisiwi disana.
Sebelum melewati perpustakaan, Anesha berbelok ke arah kamar mandi terlebih dahulu. Entah kenapa dirinya tiba-tiba merasa perutnya mules dan tak bisa di tahan lagi. Padahal pagi ini dia hanya makan sepotong roti coklat buatan Dad Daniel.
Tak lama setelah Anesha masuk ke dalam toilet, Anesha mendengar ada beberapa orang yang masuk.
Awalnya Anesha tak terlalu peduli. Namun gebrakan pintu di sampingnya membuat dia terlonjak kaget. Hingga samar-samar dia mendengar pembicaraan orang di depan pintu toiletnya.
"Gue pikir hidup princess Danisa ini sesempurna yang di tampilkan. Ternyata dugaan gue salah," ujar seorang gadis yang suarana nampak tak asing di telinga Anesha. Dia merasa pernah mendengar suara itu. Tapi entah dimana dia sama sekali tak ingat.
"Lo benar Ta, hidup Danisa tak semanis senyum centilnya pada Aril," sahut salah satu dari mereka.
"Maksud kalian apa?" Gadis yang mungkin bernama Danisa itu balik bertanya dengan nada ketus yang menandakan ke tidak sukaannya pada tiga siswi di hadapannya.
"Gak usah pura-pura gak tau lo."
"Gue emang gak tau maksud kalian bertiga apa," sahut Danisa masih dengan lantang.
"Baiklah. Kalau lo emang gak tau, kita bakalan kasih tahu." Gadis itu mengambil ponselnya di dalam saku seragam sekolahnya. Lalu mulai membuka galeri dan menunjukan beberapa foto pada Danisa.
Seketika itu juga wajah Danisa memucat. Dadanya bergemuruh menahan emosi, kekecewaan dan kesedihan secara bersamaan.
"Hapus foto itu!" Danisa hendak merebut ponsel milik Lita. Namun dengan gerak cepat, Lita lebih dulu mengamankan ponsel itu. Dia tak akan membiarkan Danisa menghapus foto itu. Foto yang dia dapatkan dengan susah payah. "Ta, tolong hapus foto itu," pinta Danisa dengan suara bergetar dan penuh permohonan. Bahkan suara itu sudah tak lagi seperti sebelumnya yang terdengar cukup menantang.
"Lo mau gue hapus foto ini?" tanya salah satu dari mereka dengan diiringi senyum smirk.
Danisa menganggukan kepalanya cepat. Dia berharap Lita yang merupakan teman sekelasnya itu mau menghapus foto Mom Tara yang tengah bermesraan dengan seorang pria muda. Danisa tak ingin foto itu tersebar. Dan yang paling utama Danisa tak ingin sampai Dad Daniel mengetahuinya.
Danisa takut Dad Daniel marah pada Mom Tara dan berimbas padanya. Berimbas pada Daniel yang tak mau menyayanginya lagi. Apalagi saat ini Danisa sudah mengetahui fakta bahwa dirinya bukan anak kandung Daddynya.
"Gue bakalan hapus foto ini. Tapi tentunya tak gratis," ujar Lita sembari memutar-mutar ponsel di tangannya.
"Berapapun yang kalian mau gue bakalan bayar." Uang bukanlah sesuatu yang sulit bagi Danisa. Dan di yakin bisa membayar berapaun yang tiga orang ini inginkan.
"Hahaha... Lo pikir gue butuh duit lo?" Orang tua Lita memang tak sekaya orang tua Danisa. Namun kedua orang tuannya masih cukup mampu untuk memenuhi kebutuhannya selama ini. Jadi untuk saat ini bukan uang Danisa yang Lita inginkan.
"Lo bisa minta apa aja sama gue. Tapi tolong hapus foto itu."
"Emang udah seharusnya lo ngasih apa aja yang gue mau. Karena kalau gak, gue bakal pastiin foto nyokap lo terpampang di setiap sudut mading sekolah ini," ujar Lita diiringi tawa kedua temannya.
ko blm di up sate lagi
penasaran nih
kenapa ga di lanjut
penasaran nih sama
kisah nya anesha dan daniel