SCANDAL Part II: To Catch a Star
Sinopsis:
Bagi dunia, Galasky Ardayana (35 tahun) adalah definisi kesempurnaan. Aktor papan atas yang telah merajai layar kaca selama 12 tahun, pewaris tunggal Ardayana Group yang membangkang, dan pria lajang yang paling diinginkan se-Indonesia. Namun, di balik lampu spotlight, Gala adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan di masa kuliah membuatnya menutup pintu hati rapat-rapat, lebih memilih hidup sebagai "perjaka tua" daripada harus terluka lagi.
Namun, ketenangannya hancur saat Airaya Greline Pradipta (19 tahun)—putri dari sahabat karibnya sendiri, Elang Adytama—muncul kembali sebagai gadis dewasa yang luar biasa cantik... dan sangat berani.
Yaya tidak main-main. Dia tidak peduli dengan perbedaan usia 16 tahun. Dia juga tidak peduli kalau Gala adalah orang yang sering menggendongnya saat ia masih bayi. Bagi Yaya, Gala adalah satu-satunya pria yang harus ia taklukkan.
"Om Gala, jangan sok jual mahal. Daripada diledekin perjaka tua terus sama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
.....
...
Deru mesin mobil sport milik Galasky Ardayana membelah keheningan kompleks perumahan elite itu dengan brutal tepat pukul tiga dini hari. Gala mencengkeram setir dengan buku-buku jari yang memutih. Wajahnya yang biasa terpampang tampan di papan reklame jalanan, malam ini terlihat sangat menyeramkan. Tekanan emosi dan amarah yang meledak-ledak di dadanya membuat aura aktor ramah itu lenyap total.
Gala tahu dia sudah gila. Dia sangat tahu perasaannya pada Aira sudah bergeser jauh dari kata 'Om dan Keponakan' sejak malam itu. Tapi egonya tetap menolak kalah. Sepanjang jalan tol dengan kecepatan di atas 140 km/jam, Gala terus mencuci otaknya sendiri: 'Gua cuma mau mendisiplinkan dia. Gua pelindungnya selama Bang Elang di China. Gua gak cemburu. Gak mungkin!'
Begitu sampai di depan gerbang megah rumah Zion, dua penjaga berbadan kekar langsung pasang badan menghadang mobil Gala. Gala menurunkan kaca mobil, wajah dinginnya menatap lurus. Tanpa babibu, dia menyodorkan sebuah kartu nama eksklusif berlogo Ardayana Group.
"Saya Galasky Ardayana. Saya ke sini untuk menjemput Airaya Greline Pradipta, putri dari Elang Adytama," ucap Gala dengan suara baritonnya yang sangat rendah dan penuh penekanan.
Mendengar nama 'Ardayana' dikombinasikan dengan nama legendaris 'Elang Adytama', dua penjaga itu langsung menelan ludah susah payah. Mereka tahu betul siapa dua nama raksasa itu. Daripada besok pagi nasib pekerjaan mereka berakhir di ujung tanduk karena menghalangi singa lapar, mereka langsung menekan tombol pagar otomatis dan mempersilakan Gala masuk sambil membungkuk hormat.
Gala turun dari mobil, melangkah lebar membelah halaman rumah Zion dengan tatapan yang seolah siap meratakan bangunan itu dengan tanah.
Sementara itu di dalam ruang tamu luas milik Zion, suasana justru sedang sangat bising. Permainan Truth or Dare (ToD) baru saja dimulai. Botol kaca berputar di atas meja, menyisakan tawa heboh dari Mela, Ami, Zion, dan Rakel yang berniat begadang sampai subuh.
"Nah, kena lu Ya! Truth or Dare?!" seru Ami bersemangat menunjuk Aira.
Aira yang malam itu duduk mepet di sebelah Zion sengaja menaikkan dagunya menantang. "Gua pilih Dare lah! Mana ada sejarahnya anak Adytama milih aman!" tantang Aira, meskipun dalam hati dia masih misuh-misuh karena HP-nya yang sengaja di-silent tidak menunjukkan tanda-tanda dicari oleh Gala.
"Oke, Dare-nya adalah..." Zion baru saja mau membuka mulut sambil tersenyum manis ke arah Aira.
BRAK!
Pintu depan ruang tamu dibuka dengan kasar tanpa ketukan. Suara tawa yang tadi menggema di ruangan itu mendadak diredam oleh keheningan yang mencekik. Oksigen di dalam ruangan mewah itu serasa lenyap seketika.
Sesosok pria berwajah datar, rahang yang mengeras kokoh, dan tatapan mata yang dingin berdiri tegak di ambang pintu. Galasky Ardayana dalam mode psikopat paling nyata.
Rakel yang malam itu ikut nongkrong langsung kicep, martabak di tangannya jatuh ke lantai. Jantungnya berasa mau copot dua kali seminggu menghadapi pria 35 tahun ini. "Mampus gua, malaikat maut beneran dateng," batin Rakel pucat pasi.
Gala sama sekali tidak melirik sirkel kuliahan yang sedang ketakutan itu. Pandangannya langsung mengunci sosok Airaa yang duduk manis di samping Zion. Langkah kakinya yang tegap bergaung di atas lantai marmer, memangkas jarak dalam hitungan detik.
Zion yang merasa harga dirinya sebagai pemilik rumah harus dipertahankan, mencoba berdiri untuk menghadang. "Maaf, Om... Anda siapa ya? Kok main masuk rumah orang sewenang-wenang—"
SRET!
Gala mengabaikan Zion total layaknya seonggok pajangan tak berguna. Tangan besar Gala yang kekar langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira dengan kuat, menarik tubuh gadis itu berdiri dari sofa dalam satu gerakan sentakan yang tegas namun penuh proteksi.
"Pulang, Airaya," perintah Gala. Suaranya tidak keras, tapi getaran baritonnya yang dingin dan penuh ancaman sukses membuat seisi ruangan merinding ketakutan.
Aira tersentak kaget, tapi begitu melihat mata Gala yang memerah menahan amarah, senuh licik di batin Tuan Putri langsung meledak penuh kemenangan. Umpan nginepnya dimakan mentah-mentah sampai sang aktor rela nyetir di malam buta demi menjemputnya!
"Ih, Om Gala lepasin! Sakit tau!" rengek Aira sengaja dikeraskan biar Zion dan teman-temannya melihat.
Gala tidak membalas. Dia justru makin mempererat cengkeramannya, lalu menoleh sekilas ke arah Zion dengan pandangan yang seolah siap menguliti cowok itu hidup-hidup. "Satu kali lagi saya lihat kamu menyentuh pundak dia seperti tadi... saya pastikan kedua tangan kamu tidak bisa berfungsi lagi" ancam Gala dingin, kejam, dan tanpa sensor.
Duar! Zion langsung membeku di tempat dengan wajah pucat.
Gala langsung berbalik, menyeret Aira keluar dari rumah itu tanpa memberi kesempatan pada siapa pun untuk bernapas. Pintu depan kembali ditutup dengan debuman keras, meninggalkan sirkel kampus aira yang masih syok berat seperti habis diguncang gempa bumi berkekuatan 9 skala Richter.
Di koridor menuju mobil, Aira terus memberontak manja. "Om! Om! Lepasin gak! Yaya kan mau nginep!"
Gala menghentikan langkahnya tepat di samping pintu mobil sport-nya. Dia membalikkan tubuh Aira kasar hingga punggung gadis itu membentur badan mobil, mengunci tubuh ramping Yaya di antara kedua lengan kekarnya. Jarak wajah mereka hanya satu senti.
"Nginep katanya?" bisik Gala sinis, napasnya yang memburu terasa panas di wajah Yaya. "Lu bener-bener mau bikin gua jadi kriminal ya, Aira? Udah gua bilang jangan main api, lu malah tidur di rumah cowok lain! Sengaja mau ngetes gue hm?!"
langsung di kurung yeeee
🤣🤣🤣🤣🤣🤣om om mateng satu ini emang beda
di sini kesannya gala jadi tersangka yang paling jahat ya ?!
semngat beb , aku selalu menanti karya2 mu love you😘😘😘😘😘