NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:364.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Sandrila Patilima

"Kamu sudah tidak lagi menarik untukku. Aku bosan denganmu!"


Sepenggal kisah nyata yang dibubuhi banyak fiksi, seorang istri yang ditinggalkan sebab ia tidak lagi menarik. Gendut, kusam, tidak lagi enak dipandang, merupakan alasan sang suami menikah lagi dengan perempuan berstatus janda muda yang masih terlihat sexy dan cantik. Ia di poligami di saat ia tengah mengandung anak ke empat mereka. Dan pada akhirnya ditinggalkan.

Hingga ia berhasil move on dan kembali membangun rumah tangga bersama seorang dokter kaya dan tampan.

Namun saat ia telah berbahagia dengan sang dokter, ternyata sang mantan suami malah kembali dan memintanya untuk rujuk.



Genre : Romantis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandrila Patilima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Menjalankan Kewajiban

Assalamualaikum warahmatullahi.

Mohon maaf atas keterlambatan update. Anak Author sudah dua hari sakit sebab tumbuh gigi. Do'akan anakku cepat sembuh yah..... Terima kasih 🙏🙏🙏

💖💖💖💖

Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Bolak-balik aku mengamati jendela kamarku untuk melihat adakah mobil mas Hafizh memasuki kawasan hotel yang menjadi tempat kami menghabiskan malam pengantin. Namun nihil, telah dua jam lebih aku berdiri disini, tetap saja tidak ada tanda-tanda kepulangan mas Hafizh.

Telah aku coba untuk menghubungi ponselnya. Tapi lagi-lagi aku hanya mendapatkan kekecewaan, sebab nomornya sudah tidak aktif untuk kuhubungi.

Pikiranku mulai menerka-nerka. Akankah mas Hafizh benar-benar tidak akan kembali ataukah memang ada sesuatu yang terjadi disana tanpa sepengetahuanku.

"Tidak. Aku yakin mas Hafizh tidak akan pernah mengecewakanku," ucapku lirih.

Kembali aku jatuhkan tubuh ini ke kasur yang masih terhias cantik. Bahkan dua angsa saling berciuman yang terbuat dari handuk kecil itu pun belum berpindah dari tempatnya. Masih tetap rapi seperti sedia kala.

"Mas, kamu lagi dimana?" Gumamku kecil.

Air mata tanpa sengaja menetes begitu saja tanpa menunggu komando. Ditinggal pada saat malam pengantin memang begitu menyakitkan. Bahkan hasrat yang tadi mulai terpancing, harus pudar seketika karena kepergian mas Hafizh.

Kuputuskan untuk menunaikan shalat Sunnah witir dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an sebelum memutuskan untuk menjatuhkan diri dalam dunia mimpi.

Aku tumpahkan segala rasa yang kupendam malam ini. Memohon keselamatan atas pernikahan yang baru dimulai beberapa jam yang lalu. Dan keselamatan untuk suamiku yang entah dimana dan bagaimana keadaannya sekarang.

Air mataku kembali tumpah ruah tak tertahan. Rasa takut seketika menggerogoti hati. Takut kalau-kalau mas Hafizh berpaling lagi dariku.

Setelah menunaikan shalat Sunnah, aku baringkan kembali tubuh ringkihku. Menatap remang langit-langit kamar hotel yang dihiasi beberapa lampu hias berbentuk hati.

"Mas. Pulanglah, aku rindu." Kembali aku bergumam sendiri. Berharap gumamanku mampu menembus malam dan sampai pada telinga sang kekasih hati yang sedang kunanti.

Cukup lama aku menerawang, hingga rasa kantuk tak mampu lagi kutahan. Akhirnya aku benar-benar terlelap dalam kekalutan hati yang teramat dalam.

***

Saat ini aku berdiri di taman yang terdapat banyak beberapa macam bunga-bunga cantik. Memandang dengan arah tak menentu. Menebak-nebak, dimana saat ini aku berada.

Hahahaha...

Terdengar tawa seorang perempuan yang tidak cukup jauh dari tempatku berdiri. Semakin aku mencari semakin aku bisa mendengar jelas tawa perempuan tersebut.

Tepat dibalik pohon Cemara besar tak jauh dariku. Disana terlihat sepasang kekasih sedang memadu kasih. Sang perempuan sedang melingkarkan kedua tangannya pada pinggang lelakinya dan bermanja-manja di pelukannya.

Aku bisa mengenali siapa perempuan tersebut.

Miranda. Yah, perempuan itu adalah Miranda. Ia melihat kearahku bersamaan dengan lelaki dalam pelukannya juga berbalik dan melihat padaku.

Aku benar-benar kaget mendapati kenyataan bahwa lelaki itu adalah mas Hafizh. Bahkan kini mereka tertawa bersama sambil terus memandangiku dengan tatapan kasihan.

Air mataku seketika luruh ketika melihat adegan mereka selanjutnya. Adegan yang menampilkan kedua pasangan ini sedang melakukan hubungan intim layaknya sepasang suami istri yang sedang di mabuk asmara.

Kriieek.....

Bunyi gagang pintu yang dibuka mengagetkanku dari tidurku. Ternyata aku hanya sedang bermimpi. Syukurlah apa yang barusan kulihat hanyalah mimpi belaka. Namun, entah apa arti dari mimpiku tadi.

Aku merubah posisi tidurku menghadap pintu. Terlihat mas Hafizh masuk dengan wajah sendunya. Sesaat kemudian wajah sendu itu melempar senyum kepadaku.

"Sayang, kamu belum tidur?" Sapa mas Hafizh, sambil membuka satu persatu baju yang melekat pada tubuhnya.

"Sudah Mas. Tapi terbangun karena kaget kamu membuka pintu," ucapku, kemudian bangun dari pembaringan. Setelahnya membantu suamiku melepas pakaiannya.

"Maafkan aku sayang." Mas Hafizh mencium keningku kemudian menarikku dalam pelukannya.

Cukup lama kami saling berpelukan untuk sekedar menuntaskan rindu yang bersarang lama di antara hati kami.

"Bagaimana dengan Miranda Mas?"

"Dia sekarang sedang dirawat sayang," jawab mas Hafizh.

"Kenapa mas, apa dia benar-benar mengakhiri hidupnya?" tanyaku begitu panik.

"Iyah sayang. Ia melakukannya karena aku tidak mau menikahinya."

Sebegitu cintakah Miranda terhadap mas Hafizh sampai ia harus menyakiti dirinya sendiri hanya karena mendapat penolakan darinya.

"Benarkah kamu menolaknya Mas?"

Seketika hatiku menjadi khawatir. Takut bila mas Hafizh sedang membohongiku. Apalagi jika teringat mimpiku tadi yang terlihat seperti begitu nyata.

"Percayalah padaku sayang. Aku tidak akan pernah menyakitimu," ucap mas Hafizh sambil menyentuh lembut wajahku.

"Aku percaya padamu Mas." Aku menjatuhkan diri dalam pelukannya kembali. Mencari kenyamanan atas hatiku yang dirundung kekhawatiran sejak kepergian mas Hafizh tadi.

"Tenanglah sayang. Aku tidak akan pernah mengkhianati kepercayaanmu." Ia membalas pelukan dengan erat, kemudian membelai kepalaku dengan mesranya.

Aku mengangkat kepalaku sampai menghadapnya. Menatap matanya dengan penuh pengharapan agar ia benar-benar tidak akan mengkhianati hubungan ini.

"Jangan pernah.........." Belum selesai aku menyelesaikan perkataanku, mas Hafizh sudah lebih dulu menutup mulutku dengan ciumannya.

"Aku ingin mandi sayang. Maukah kau menemaniku?" Mas Hafizh kembali melancarkan aksinya yang tertunda tadi.

Aku mengangguk tanda setuju. Dan sejenak melupakan semua kekhawatiranku. Biar bagaimanapun kewajibanku untuk melayani hasratnya. Bahkan Allah menjanjikan pahala untuk istri yang dengan ikhlas melayani kebutuhan biologis suaminya.

Kini wajah mas Hafizh mulai mendekati wajahku. Kemudian dengan semangatnya ia menghujani wajahku dengan ciuman hangatnya. Tangannya mulai membuka satu persatu kancing piyama yang masih kukenakan. Aku pun sama, mulai membuka kaus putih polos yang ia pakai tadi untuk melapisi kamejanya saat pergi menemui Miranda.

Desahan nafas kami terdengar berirama. Bersamaan dengan bunyi gemericik air hujan yang semakin lama semakin deras.

Setelah itu mas Hafizh mendorongku pelan dengan kedua bibirnya masih menciumiku. Memasuki kamar mandi yang hanya berdinding kaca transparan. Menyalakan Shower dan mandi bersama.

Malam ini kami benar-benar mengecap nikmatnya surga dunia yang sempat tertunda tadi.

***

Adzan subuh membangunkanku. Melirik sejenak ke jam dinding yang tergantung tak jauh dari meja rias. Kemudian beralih pada mas Hafizh yang masih terlelap dalam tidurnya.

Membelai wajahnya setelah itu mengecup pelan bibirnya. Malam ini aku merasakan kebahagiaan yang tiada terkira. Tidur dengan berbantalkan lengan kokoh dari pria yang tak disangka-sangka menjadi imamku kini. Sungguh sangat membuatku nyaman.

"Sayang. Bangun. Sudah masuk waktu shalat subuh." Aku menghujaninya dengan ciuman secara bertubi-tubi.

Mas Hafizh menggeliat dengan tangan yang semakin ia eratkan dipinggangku. Kemudian Menempelkan bibirnya pada dahiku.

"Satu menit lagi sayang," jawabnya dengan suara serak.

"Baiklah." Akupun sama. Mengeratkan pelukanku pada pinggangnya. Serta membenamkan kepalaku pada dada bidangnya.

"Sayang, aku mau lagi," ucap mas Hafizh dengan tangan yang mulai menjelajahi tubuhku.

"Sholat dulu sayang." Aku sedikit melonggarkan pelukanku dan mengangkat wajah mas Hafizh yang kini telah berpindah posisi pada leherku.

"Lima menit saja sayang," sahutnya dengan senyum memohon padaku.

"Tunaikan kewajiban kita pada Allah terlebih dahulu. Setelah itu kewajiban kita dalam rumah tangga sayang."

"Hehe. Baiklah sayangku!" Ia mengecup keningku dan bangkit dari tempat tidur.

Setelah itu kami tunaikan shalat wajib subuh secara berjamaah.

***

Mentari semakin menampakkan wujudnya di ufuk timur. Terpaan sinarnya menembus masuk di celah-celah gorden yang menutup jendela kamar hotel yang kutempati.

Mas Hafizh terlelap lagi dalam tidurnya setelah tadi selepas shalat subuh ia kembali meminta haknya sebagai seorang suami.

Sementara aku memilih mandi besar dan melanjutkan aktivitas dengan membaca Alquran. Karena memang tidak ada yang bisa aku kerjakan disini.

Kemudian duduk di pinggiran ranjang memutar murotal dzikir dari ustadz Hanan Attaki dan mendengarkannya dengan hikmat.

📩📩📩

[Dek. Sebentar kita sarapan bersama yah] pesan dari mbak Brenda.

[Baik Mbak. Anak-anak lagi apa?]

[Nih lagi pada bermain] mbak Brenda membalasnya dengan beberapa kiriman foto anak-anak yang terlihat sedang memainkan permainan ular tangga dengan ukuran yang sangat besar. Dengan batu pionnya adalah mereka sendiri.

Tidak puas melihat foto mereka. Akhirnya aku menghubungi mbak Brenda dengan video call.

[Halo ummi] teriak anak-anak dari seberang telepon.

[Ummi lagi dimana? Syamil kangen tau]

[Ummi di kamar sebelah sayang]

[Sebelah kamar mana?] Tanya Syafiq dengan wajah polosnya.

[Sebelah kamar Syafiq dong]

[Ummi kesini yuk sama Abi Afis. Syamil pengen main dengan Abi baluu] cercah Syamil gemas.

[Iyah sayang. Nunggu Abi Afis bangun dulu yah baru ummi kesana.]

[Baik ummi]

Telepon kemudian aku matikan dan beralih untuk membangunkan lelakiku yang masih terlelap dalam mimpi indahnya. Bahkan ia tidak sedikitpun terganggu dengan pembicaraanku bersama anak-anak.

Tuk.. tuk.. tuk

Aku menjentikkan jari telunjuk pada pipi mas Hafizh. Menusuk-nusuknya agar ia terbangun. Namun tak ada respon juga.

"Mas. Bangun, mbak Brenda ngajak kita sarapan," bisikku lembut pada telinganya.

Lagi-lagi tak ada respon, meski hanya sebuah gerakan saja. Sejenak aku berpikir bagaimana agar lelakiku ini bisa bangun.

Aku mendekatkan posisi duduk pada mas Hafizh. Dan dengan berani menciumnya tepat pada bibir manisnya. Menempelkan lama, berharap dengan cara ini mas Hafizh akan bangun. Ternyata tidak ada respon juga.

Pelan aku mengangkat kepalaku, namun dengan cepat tangan mas Hafizh menahan kepalaku untuk terus menunduk menciumi bibirnya. Ia kemudian membalas ciumanku dengan sangat lama. Dan kembali menjatuhkanku dalam surga dunia yang begitu nikmat.

Bersambung 😁😁

1
Maritza Hanan
asik gerah juga akunya🙊🙊
Nuraini Nuraini
ayo lanjut ko lama
Senja🌻
semangat ❤️ ditunggu feedback nya kk ♥️
Senja🌻
semangat ❤️
Ishiba Aoi
semangat thor!
Khai Rudin
gila parah banget aku nangis dan meleleh terus air mataku
Ishiba Aoi
semangat thor! next
Ishiba Aoi
semangat thor!
vi
knp ga ada lanjutannya ???
Baca Aja
kenapa thor ngga lanjut?
Baca Aja
ini pindah atau bagaimana ?
Baca Aja
seprrtinya kira harus kasih vote rame rame biar lanjut
Baca Aja
smg semua sehat ya thor ..bisa lanjut ceritanya... suka nih ma novel beda dari y lain. sarat makna..
Baca Aja
seneng ni novel banyak hikmah.. ingin belajar mrnulis tlg di bimbing ya
Baca Aja
puaa bisa, nampar galih....
Endang Purwati
wweeuuhhh.....26 M itu tas harganya...
Endang Purwati
sungguh...rahasia Alloh memang tidak ada yg pernah bisa menebak...

dan sangat betul...buah dari kesabaran adalah sesuatu yg manis...

karena memang sabar sejatinya adalah ujian yg amat sangat berat...maka Alloh pun akan menyiapkan hadiah yg ISTIMEWA....

banyak pelajaran. hidup yg bisadipetik dari novel ini...bagaimana sabar dan ikhlas seorang hamba ketika mendapatkan ujian Nya...bagaimana kasih sayang dan ketulusan ditanamkan...dan bagaimana kewajiban sebagai umat dijalankan...

keren thorr sayaaanngg novel ini...ceritanya lugas..layaknya kehidupan real..alurnya gak bertele-tele dan yg paling keren..pesan moralnya sampek dgn mudah ke pembaca...

lluuvv authoorr sayaaanngg...💝💝💝💝💝
Endang Purwati
dan terima kasih author...sudah menghibur kami para readers dengn cerita indah ini...

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
A͙y͙u͙💖DA
kok g d lanjut kan kk
Endang Purwati
gak mau komentar...lagi osi saya sama suami Rianti...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!