Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Kian
"Makan dulu, ya. Tadi perut kamu bunyi bunyi," goda Kian lagi sambil menuangkan termos yang berisi sup ke dalam mangkok kaca, hingga supnya masih hangat. Kian juga menambahkan sedikit nasi dan dicampurkan ke dalam sup ayam yang harumnya sangat menyelerakan.
Masa, sih, perutnya ngga sopan? Wanda malu untuk membantah. Sekarang aja pipinya pasti sudah berwarna sangat merah, karena dia sudah merasa panas di kulit wajahnya.
Apalagi saat Wanda menerima suapan dari Kian.
"A aku bisa sendiri," tolaknya pelan. Dia merasa ngga pantas diperlakukan sebaik ini oleh Kian. Kian seorang tuan muda, sama seperti Aditama. Sedangkan dia hanyalah art di rumah Aditama dan juga di sekolah. Cap babu sudah ditempelkan di keningnya oleh Aditama.
Kian tersenyum lembut.
"Jangan membantah. Kamu juga masih kurang sehat." Kian tetap mendekatkan sendok yang berisi nasi, kuah, wortel dan irisan ayam ke arah Wanda yang mau ngga mau jadi membuka mulutnya.
Wanda mengunyah pelan. Tatapnya ngga bisa lepas dari Kian yang sedang bersiap untuk menyuapinya lagi.
"Hidup kamu berat, ya?"
Untung saja Wanda sudah menelan makanannya hingga dia ngga tersedak mendengar pertanyaan tak terduga Kian.
Kini Kian menatapnya sebelum dia sempat mengalihkan tatapannya.
Jantung Wanda berdebar keras. Tatapan Kian seakan ingin menggali kebih dalam lagi tentang semua yang sudah dia alami. Penderitaannya mungkin bisa terlihat sebagian oleh Kian.
Kian tersenyum samar, dia menyendokkan lagi nasi supnya ketika Wanda menatap ke arah lain, seolah ingin menyembunyikan lukanya.
Wanda tidak protes lagi, langsung menerima suapan Kian. Tapi dia ngga mau menatap Kian. Perlakuan lembut Kian mengingatkannya pada mamanya. Matanya mulai memanas.
Wanda menyusut kedua sudut matanya. Perasaannya mendadak merasa melow. Dia tidak ingin Kian melihatnya menangis hingga menimbulkan banyak tanya.
"Sering lebam begini?" tanya Kian ketika Wanda menyusut air matanya.
"Emmm .... ngga juga." Wanda memperhatikan lebamnya yang sudah ada sejak kemarin.
"Sejak kapan lebam lebam begini?" tanya Kian lagi.
"Baru baru ini juga." Wanda menjawab setelah makanannya tertelan. Suaranya tetap tenang.
"Sering angkat berat berat, ya?" Geram memenuhi hati Kian. Si lemah itu, kenapa dia tega menyiksa perempuan, rutuknya dalam hati.
KIan berjanji akan menghajarnya lebih keras kalo mereka nanti adu mekanik lagi.
Wanda tersenyum miris sambil menunduk.
Hening.
"Sekarang kamu aman bersamaku. Dia ngga akan berani macam macam lagi ke kamu. Daddy juga sudah mengurus perpindahan kelas kamu ke kelasku," jelas Kian panjang lebar.
Wanda mendongak menatap Kian dengan tatapan ngga percaya.
Sungguhkah?
Semudah itu?
Tapi entah kenapa dia tetap saja merasa takut.
"Kamu mau, kan, ..... bersamaku?" tanya Kian.tiba tiba merasa gugup.
Sebagai apa? Wanda ingin bertanya tapi lidahnya mendadak kelu.
Babu juga, kah? Wanda tidak berani terlalu berharap kalo Kian akan menganggapnya lebih dari ini.
Kian terus menatapnya seakan menunggu dia memberikan jawaban.
Wanda akhirnya menganggukkan kepalanya.
Sebagai apa pun, dia akan menerimanya. Wanda yakin dia akan lebih baik saat bersama Kian.
Kelasnya pun disamakan dengan Kian. Dia merasa nyaman karena Aditama semakin jauh darinya.
Senyum Kian melebar melihat anggukan Wanda. Dia kembali menyuapkan makanannya pada Wanda yang juga menerimanya dengan wajah yang tidak sendu lagi. Ada sinar harap terpancar di mata dan wajah Wanda.
*
*
*
"Pa, kenapa papa diam aja? Wanda itu pembantuku," protes Aditama saat mobil sudah meninggalkan tempatnya berkelahi tadi
Wajahnya masih menampakkan kemarahan yang amat sangat.
Papanya menatap wajahnya sambil memegang tangannya.
"Keadaan kamu bagaimana?" Putranya dari tadi meributkan Wanda terus, padahal keadannya juga cukup memperihatinkan. Keningnya juga terluka dan memar. Mungkin karena terbentur stir akibat mobilnya menabrak pohon.
"Aku ngga apa apa, Pa. Kalo papa ngga cepat cepat datang tadi aku bisa ngalahin Kian ," ceritanya dengan raut kesal. Tadi Kian sudah hampir jatuh, dia yakin ngga lama lagi bisa membuat Kian tersungkur bersama Wanda. Babu kurang ajarnya itu.
Panji tersenyum. Dia sempat melihat putranya menendang Kian yang sedang menggondong Wanda.
Tadi dia sempat terpaku. Remaja tanggung itu sangat melindungi putrinya dan merelakan dirinya terkena tendangan putranya. Sedangkan dia membiarkan putra dan istrinya mengasarinya. Panji menghela nafas panjang.
Papa macam apa dia!
Pikirannya langsung blank. Kecemasan kemudian muncul ketika melihat Wanda yang pingsan.
"Pa ....!"
Panji tersadar dari lamunannya.
"Papa kenapa, sih. Mikir apa? Aku panggil berkali kali ngga dengar," dengus Aditama jengkel.
"Ya, papa kepikiran ada meeting dengan klien sebentar lagi," bohongnya agar anaknya ngga semakin ngamuk.
Aditama mendengus lagi. Hari ini dia kesal banget sama papanya. Papanya sama sekali tidak seperti biasanya yang selalu antusias setiap mendengar ceritanya. Sekarang dia perlu berkali kali memanggil papanya hanya untuk mendapat respon.
"Jadi gimana, Pa? Bisa bawa Wanda balik?" tanya Aditama berusaha menyabarkan diri. Karena urusan Wanda sudah masuk dalam lingkaran orang tua.
Panji mengambil nafas dalam dalam.
"Papa akan mencari pembantu baru buat kamu." Panji mencoba menawarkan solusi.
Aditama tentu saja ngga setuju. Dia mengelengkan kepalanya dengan tegas.
"Aku hanya mau Wanda. Dia pintar; bisa bantu aku ngerjain pe-er. Dia juga ngga banyak tingkah," tolak Aditama ngga minat dengan tawaran papanya.
"Mungkin karena itu Kian mau ambil Wanda. Ngga mungkin murni karena suka. Masa suka sama anak pembantu," sinis Aditama mencerca Wanda. Dia kemudian tertawa meremehkan.
Jantung Panji rasanya sudah mau meledak karena merasakan cengkeraman yang sangat kuat akibat perkataan Aditama. Dia ingin menyangkal, mengatakan yang sebenarnya siapa Wanda. Tapi lidahnya terasa berat untuk dia liukkan.
"Bagaimana, Pa? Bisa, kan?" desak Aditama ngga sabar.
Panji tersenyum sumbang. Melihat wajah datar Dewa, dia yakin akan sulit memenuhi keinginan putranya.
Nanti papa bicarakan dulu dengan Om Dewa."
Akan dia coba bicarakan saat menemui rekan bisnisnya nanti, janjinya membatin. Walaupun bayangan kegagalan sudah ada di depan matanya
"Janji, Pa." Aditama berusaha mempercayai kata kata papanya.
Panji mengangguk. Sekarang mereka sudah memasuki gerbang rumah sakit.