Kanaya Tabitha adalah definisi wanita sempurna. Cantik, pintar, dan mandiri, dia sukses membangun bisnisnya dari nol. Di balik keanggunannya, Kanaya adalah sosok wanita tangguh yang menguasai seni bela diri tingkat tinggi, dan jangan harap ada pria yang bisa mendekatinya dan mengusik hidup tenang nya, hubungan dan cinta tidak ada di dalam daftar hidup nya.
Namun, dunia indahnya runtuh saat sebuah rahasia besar mendadak memutarbalikkan hidupnya. Tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia hamil tanpa pernah disentuh pria mana pun?
Kanaya tidak tahu bahwa setiap malam, rahimnya telah diklaim oleh Alexander Giorge, Raja Vampir yang posesif dan berbahaya di balik kegelapan.
"Kamu milik ku, Kanaya. Berlari lah sejauh apa pun, darah daging ku akan selalu membimbingku kembali ke tempat tidurmu. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, ku pastikan namanya tinggal sejarah."_ Alexander Giorge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH SAKIT JIWA
Di sisi lain kota, di dalam sebuah ruangan rawat VIP sebuah rumah sakit jiwa swasta yang tertutup rapat, suasana terasa sangat mencekam.
Suara teriakan histeris seorang wanita terdengar bersahut-sahutan.
"Pergi! Jangan mendekat! Ulat-ulat itu... mereka memakan kulitku! Tolong!" teriak Catalina dengan rambut yang acak-acak dan baju rumah sakit yang sudah robek di beberapa bagian.
Kedua tangannya terus mencakar lengan dan perutnya sendiri hingga memerah, menyisakan bekas luka goresan yang cukup dalam.
Di luar pintu kaca kecil, beberapa perawat dan seorang dokter spesialis jiwa hanya bisa menatapnya dengan raut wajah pasrah sekaligus ngeri.
"Dokter, dosis penenang yang kita berikan tadi subuh sama sekali tidak mempan, pasien terus berhalusinasi melihat bayangan hitam dan ulat sejak dibawa ke sini," bisik salah satu perawat senior dengan wajah pucat.
Dokter itu menghela napas panjang sambil mencatat.
"Tingkatkan dosisnya secara bertahap, tapi jangan sampai over. Ini aneh sekali, kerusakan mentalnya terjadi begitu cepat, dalam hitungan jam, seolah-olah ada sesuatu yang sengaja menghancurkan fungsi otaknya dari dalam," ucap sang dokter menggeleng heran, tidak habis pikir dengan kondisi mendadak putri konglomerat yang baru saja viral itu.
"Mungkin berita pagi ini, membuat pasien sangat shock dok," ucap suster, mengira semua ini karena berita scandal Catalina yang tersebar.
"Mungkin," jawab sang Dokter.
Mereka tidak akan pernah tahu bahwa akal sehat Catalina telah dihancurkan oleh kekuatan tingkat tinggi milik klan vampir murni semalam, sebuah hukuman karena telah berani mengusik ketenangan Kanaya.
Sementara itu, di penthouse Naya, suasana justru terasa jauh lebih hangat dan tenang.
Fanya masih duduk bersandar di sofa, sesekali matanya melirik ke arah botol kaca kecil yang kini sudah kosong melompong di atas meja.
"Nay, sumpek banget rasanya otakku mikirin ini semua, tapi ya sudahlah, yang penting sekarang kamu kelihatan segar lagi. Aku sempat jantungan pas pertama masuk tadi," kata Fanya sambil mengembuskan napas panjang, mencoba meredakan sisa rasa paniknya.
Naya tersenyum tipis, tangannya mengusap lembut perut buncitnya yang kini terasa sangat nyaman, tidak ada lagi rasa panas membakar seperti beberapa jam yang lalu.
"Maaf ya sudah bikin kamu repot dan panik, Fan, makasih banyak kamu sudah mau mengantarkan obat ini sampai ke sini," ucap Naya dengan tulus, matanya menatap sang sahabat dengan penuh rasa terima kasih.
Fanya langsung mengibaskan tangannya di udara, memotong ucapan Naya.
"Heh, jangan kayak orang asing begitu, deh! Kita ini bersahabat sudah lama. Lagian, aku juga penasaran setengah mati sama cowok berjas yang mengantarkan botol ini semalam," sahut Fanya dengan mata yang mendadak berbinar kepo.
Naya yang melihat perubahan ekspresi sahabatnya itu langsung terkekeh pelan.
"Kenapa? Kamu tertarik sama dia? Katanya kemarin dia aneh?" goda Naya, mencoba mencairkan suasana.
Wajah Fanya mendadak sedikit memerah, teringat bagaimana lancangnya dia menempelkan plester luka bermotif kartun di pipi pria dingin tersebut semalam.
"Tertarik apanya! Dia itu menyebalkan, tahu. Wajahnya memang ganteng banget sih, mirip-mirip aktor Hollywood yang dingin begitu. Tapi sifatnya itu loh, kaku sekali seperti robot. Mana bicaranya irit banget lagi," gerutu Fanya sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
Naya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Fanya.
"Tapi biar bagaimanapun, dia sudah membantu kita, Fan. Berarti dia orang baik," ucap Naya lembut, mencoba memberikan sudut pandang lain.
"Iya sih, untung saja obat yang dia bawa itu beneran ampuh. Kalau tidak, sudah ku pastikan pria itu akan kucari sampai ke lubang semut," jawab Fanya berapi-api, membuat Naya kembali tertawa kecil.
Di tempat lain, tepatnya di dalam mobil mewah yang terparkir tidak jauh dari area penthouse, Alexander duduk di kursi belakang sambil melipat kedua tangannya di dada, matanya menatap tajam ke arah luar jendela, mengamati bangunan tinggi tempat Naya berada.
"Tuan, apakah perubahan fisik Nona Naya yang begitu cepat ini menandakan bahwa bayi di dalam kandungannya memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari perkiraan kita sebelumnya?" tanya James hati-hati, mencoba mengulik informasi.
Alexander menatap James dengan kilatan mata merah yang tipis namun tajam.
"Benar. Darah murni yang mengalir di rahim Naya bereaksi sangat kuat terhadap dunia luar, itu sebabnya para pemberontak mulai bergerak agresif, mereka bisa merasakan aura energi yang sangat besar dari calon penerus ini," jawab Alexander serius.
Mendengar penjelasan itu, James langsung mengepalkan tangannya kuat.
"Kalau begitu, saya akan memastikan bahwa tidak akan ada satu pun dari para Vampir pemberontak itu yang bisa menyentuh wilayah kota ini, Tuan," tegas James, loyalitasnya sebagai tangan kanan raja sama sekali tidak perlu diragukan.
Alexander tersenyum tipis melihat semangat bawahannya itu, lalu dia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah jam saku perak antik.
"Aku pegang janjimu, James. Sekarang, jalankan mobilnya, kita harus menyelesaikan beberapa urusan sebelum matahari tenggelam, dan setelah itu..." ucap Alexander sengaja menggantung kalimatnya, menatap James dengan senyuman penuh arti melalui kaca spion tengah.
"Aku tidak ingin mengganggu jadwal penting mu nanti malam di rumah sakit," lanjut Alexander terkekeh pelan.
James berdehem keras, wajahnya kembali salah tingkah saat rahasia kecilnya disinggung lagi oleh sang raja.
"Baik, Tuan," jawab James buru-buru menyalakan mesin mobil, mencoba mengalihkan perhatiannya agar detak jantungnya tidak berpacu terlalu cepat karena bayangan wajah seorang dokter galak berambut sebahu.
Mobil mewah yang membawa Alexander dan James akhirnya membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kawasan apartemen Naya menuju area pinggiran kota yang berbatasan langsung dengan hutan tua.
Suara deru mesin mobil menjadi satu-satunya pelipur kesunyian di antara sang Raja Vampir dan tangan kanannya.
"James," panggil Alexander memecah keheningan, matanya masih menatap deretan pepohonan yang mulai terlihat di sisi jalan.
"Iya, Tuan?" jawab James sambil tetap fokus pada kemudi, sesekali melirik spion tengah.
"Menurutmu, berapa banyak dari para Vampir pemberontak itu yang sudah berhasil menyusup ke wilayah perkotaan?" tanya Alexander, nadanya terdengar santai namun sarat akan ketegangan.
James terdiam sejenak, menimbang-nimbang laporan dari para intelijen klan yang dia terima tadi subuh.
"Dari pergerakan energi yang kami lacak semalam, setidaknya ada tiga kelompok kecil, Tuan. Mereka bergerak dalam bayangan dan mengincar tempat-tempat sepi yang dekat dengan akses medis, seolah-olah mereka tahu kalau Nona Naya sedang membutuhkan pengawasan dokter," jawab James dengan raut wajah yang berubah serius.
Alexander mendengus, sebuah senyuman meremehkan terukir di wajah tampannya.
"Mereka pikir mereka bisa bergerak bebas setelah tahu aku sedang lengah. Bodoh sekali," ucap Alexander, kilatan merah di matanya meredup digantikan tatapan dingin.
"Mereka hanya belum merasakan langsung bagaimana murkanya Anda, Tuan," jawab James, mencoba sedikit mencairkan suasana tegang yang mulai menguar di dalam mobil.