Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.
Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:
"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."
Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?
Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16- Aturan Baru?
Sentakan kedua dari alat kejut jantung itu akhirnya menyudahi badai di kamar bawah. Bunyi tiiit panjang yang sempat membekukan darah Max perlahan berubah menjadi ketukan teratur.
Garis lurus di layar monitor kembali bergerak membentuk gelombang naik turun. Tanda vital Nyonya Sofia berangsur stabil setelah melewati masa kritisnya.
Nami menurunkan kakinya dari ranjang dengan tubuh yang lemas luar biasa. Peluh membanjiri pelipis dan tengkuknya, membuat beberapa anak rambut menempel di kulit. Gaun putih pernikahannya yang beberapa jam lalu terlihat anggun, kini kusut dan tak berbentuk lagi.
Ia melirik ke sudut ruangan. Max masih berdiri di sana. Wajah pria itu pias, seolah separuh nyawanya baru saja ikut tercabut melihat ibunya sempat berhenti bernapas.
"Ibumu sudah melewati fase kritisnya, Max," ucap Nami, suaranya agak parau. "Obat penenangnya sudah bekerja. Beliau perlu tidur total sampai besok pagi."
Max tidak menjawab. Pria itu hanya menatap lekat wajah ibunya yang kini terpejam damai di bawah masker oksigen, lalu mengangguk lambat sekali. Pendek.
Nami tahu kehadirannya di kamar ini sudah tidak dibutuhkan lagi oleh tim medis pribadi yang berjaga.
Dengan langkah gontai, ia keluar dari kamar bawah, menutup pintu dengan pelan, lalu mendudukkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah yang sunyi. Ia menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening akibat lonjakan adrenalin yang terlalu mendadak.
Keheningan itu pecah saat sebuah bayangan tinggi besar berhenti tepat di depan sofa.
Nami membuka matanya. Max sudah berdiri di sana, tanpa jas formalnya, dengan kemeja hitam yang lengannya sudah digulung kasar sampai siku. Tangan kanannya menyodorkan segelas air putih hangat ke arah Nami.
Nami menerimanya, membiarkan jemari mereka bersentuhan sedetik. Dingin. Tangan Max terasa sangat dingin.
"Minum," ujar Max pendek.
Nami meneguk air itu sampai habis, merasakan kehangatan yang perlahan menjalar ke tenggorokannya yang kering.
Setelah meletakkan gelas kosong di atas meja, ia mendapati Max masih bergeming di tempatnya, menatapnya dengan sepasang mata elang yang malam ini terlihat meredup. Kehilangan keangkuhan biasanya.
Max memperhatikan bagaimana gaun pengantin Nami yang rusak demi menyelamatkan ibunya. Ada jeda panjang yang sunyi di antara mereka sebelum akhirnya Max membuka suara.
"Terima kasih."
Suara Max begitu rendah, serak, namun bergetar pelan. Hanya dua kata. Sederhana, tanpa embel-embel kalimat puitis.
Tapi Nami tahu, untuk ukuran pria sekeras gunung es seperti Maxwell Ezra Tanuwijaya, ucapan itu keluar murni dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Gengsi laki-laki itu runtuh satu tingkat malam ini, tepat di hadapan Nami.
Nami tersenyum tipis, menggeleng pelan. "Aku dokter, Max. Itu sudah menjadi refleks tubuhku saat melihat pasien dalam bahaya."
"Tapi dia ibuku. Bukan sekadar pasienmu," sela Max cepat. Tatapannya menajam, mengunci manik mata Nami dengan intensitas yang dalam.
"Kau bisa saja mengabaikannya karena ini hanya pernikahan kontrak. Tapi kau tidak melakukannya."
"Aku tidak sejahat itu, Max," balas Nami, membalas tatapan pria itu dengan tegas.
Max terdiam sebentar, lalu mengembuskan napas berat dari hidungnya. "Kembalilah ke kamar atas. Bersihkan dirimu dan istirahatlah. Kau terlihat mengerikan dengan baju itu."
Nami mendengus kesal, rasa lelahnya sedikit terdistraksi oleh sindiran kaku pria ini. "Baiklah, Suamiku."
Kata "suamiku" yang diucapkan Nami dengan nada menyindir itu entah bagaimana membuat rahang Max sedikit mengeras, sebelum pria itu berbalik dan berjalan kembali menuju kamar ibunya.
***
Kamar utama di lantai atas terasa jauh lebih lengang saat Nami memasukinya sendirian. Badai medis di bawah sudah lewat, namun atmosfer intimidasi kamar ini kembali merayap naik, menyergap kesadaran Nami.
Nami bergegas masuk ke kamar mandi. Ia membersihkan diri di bawah kucuran air hangat, membasuh sisa peluh dan ketegangan yang menempel di tubuhnya.
Dua puluh menit kemudian, ia keluar dengan rambut hitamnya yang basah tergerai, mengenakan piyama satin longgar berwarna abu-abu muda yang disediakan di lemari.
Langkah kaki Nami langsung membeku di dekat pintu kamar mandi.
Max sudah ada di dalam kamar. Pria itu berdiri memunggungi ranjang, menatap lurus ke luar jendela besar yang menampilkan siluet pemandangan kota malam hari. Kemeja hitamnya sudah diganti dengan kaos rumahan berwarna putih yang melekat pas di tubuh tegapnya.
Mendengar suara pintu kamar mandi, Max menoleh. Sepasang matanya menyapu penampilan Nami dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rambut Nami yang basah dan aroma sabun yang segar mendadak mengubah sisa ketegangan ranjang yang sempat terputus oleh dering telepon tadi merayap balik ke udara.
Lebih pekat. Lebih canggung.
Nami berdeham kecil, mencoba mengalihkan pandangannya dari dada bidang Max. "Kau... tidak menjaga Ibumu di bawah?"
"Dokter pribadi dan dua perawat menjaganya bergantian. Aku hanya akan mengacaukan sterilisasi kamar jika terus di sana," jawab Max datar, langkah kakinya mulai bergerak mendekat ke arah ranjang.
Nami melirik ranjang king size berselimut sutra di tengah ruangan. Jantungnya kembali bertingkah aneh. Ide untuk tidur di sebelah pria ini setelah apa yang hampir terjadi beberapa jam lalu terasa seperti bunuh diri bagi ketenangan jiwanya.
Nami berjalan memutar, menuju sofa panjang yang terletak di sudut dekat jendela. "Aku akan tidur di sofa saja malam ini."
"Sofa itu keras," ucap Max, menghentikan langkah Nami seketika.
"Tidak apa-apa. Aku sudah biasa tidur di kursi rumah sakit saat dinas malam."
Max membalikkan tubuhnya sepenuhnya, menatap Nami dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Ekspresi wajahnya kembali dingin, namun ada kilat kepemilikan yang mutlak di matanya.
"Ranjangnya cukup luas untuk berdua, Namira," ujar Max, suaranya terdengar sangat tenang namun tidak menerima bantahan. "Lagipula, kontrak kita tidak pernah menyebutkan kalau istriku harus tidur di sofa."
Nami menahan napas. "Max, tapi kita—"
"Aku tidak akan menyentuhmu malam ini," potong Max cepat, seolah tahu apa yang berkecamuk di dalam kepala wanita itu.
Pria itu berjalan mendekati sisi kanan ranjang, menarik selimut hitamnya, lalu naik ke atas kasur tanpa melepaskan pandangannya dari Nami.
"Kau lelah setelah menyelamatkan ibuku. Aku bukan bajingan yang akan menuntut hak kontrak di saat kau bahkan nyaris pingsan karena kelelahan."
Nami tertegun. Ada sisi kemanusiaan dari si kulkas dua pintu ini yang perlahan mulai terlihat di permukaan.
Dengan ragu dan gerakan yang super lambat, Nami akhirnya melangkah mendekati sisi kiri ranjang.
Ia merebahkan tubuhnya di ujung kasur, mengambil jarak sejauh mungkin dari posisi Max di seberang sana.
Tubuhnya telentang kaku, matanya menatap langit-langit kamar dengan jantung yang masih berdegup konstan.
Max ikut merebahkan tubuhnya, mematikan lampu utama lewat sakelar di nakas, menyisakan lampu tidur temaram yang memancarkan cahaya kekuningan yang redup.
Suasana mendadak menjadi sangat intim dalam keheningan.
Nami bisa merasakan kasur yang sedikit amblas karena bobot tubuh Max yang bergeser. Walau jarak mereka terpisah oleh bentangan kasur yang luas, aroma dari tubuh Max tetap mampu menembus indra penciumannya dengan bebas.
"Namira," panggil Max tiba-tiba memecah kegelapan. Suaranya terdengar begitu dekat di sampingnya.
Nami sedikit menolehkan kepalanya. "Ya?"
"Mulai besok, batasan di antara kita akan berubah," ucap Max, nadanya tenang namun tersirat dominasi yang mutlak.
Pria itu sedikit bergeser, membuat kasur amblas, lalu tangannya bergerak di bawah selimut—bukan untuk menyentuh Nami, melainkan menarik ujung selimut Nami hingga menutup sempurna ke atas bahunya yang terekspos.
Nami menahan napas, tubuhnya kaku seketika saat aroma kayu cendana dari tubuh Max menguar begitu dekat.
"Tidurlah. Besok akan ada aturan baru pernikahan ini," lanjut Max dingin, matanya menatap tajam Nami dalam temaram lampu tidur sebelum akhirnya ia berbalik memunggungi wanita itu.
Nami terpaku menatap punggung tegap yang kini memunggunginya. Jantungnya bertalu jauh lebih liar daripada saat menghadapi Nyonya Sofia yang henti jantung tadi.
Aturan baru? Apalagi yang diinginkan pria ini?