NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

"Jangan bergerak, bajingan!" bentak Jonas yang pertama kali menerobos masuk, langsung menendang pergelangan tangan Andre hingga pisau komando itu terlempar jauh ke kegelapan gudang.

Dengan gerakan taktis militer yang cepat dan tanpa ampun, Deacon dan Jonas memiting lengan Andre dan Riko ke belakang, lalu menekan tubuh kedua pengkhianat itu ke lantai gudang yang dingin.

Suara gemertak tulang tangan Andre yang dikunci oleh Deacon terdengar luntur bersama raungan kesakitan.

Deacon dan Jonas menangkap mereka berdua dengan erat, mengunci pergerakan mereka tanpa memberi celah sedikit pun untuk kabur.

Namun, perhatian di dalam gudang itu tidak lagi tertuju pada dua iblis yang kini merangkak kalah.

"Jihan! Buka matamu, Sayang! Jihan!!"

Darren meraung panik, air matanya menetes deras membasahi wajah pucat Jihan.

Tanpa memedulikan jas mahalnya yang kini berlumuran darah segar, Darren dengan sigap membopong tubuh Jihan yang terasa kian ringan ke dalam pelukan kekarnya.

Jantung Darren berdegup kencang, didera ketakutan luar biasa bahwa ia akan kehilangan belahan jiwanya untuk kedua kalinya.

Angela berlari kencang dari balik bayangan, menjatuhkan dirinya berlutut di samping ayahnya yang sedang membopong tubuh Jihan.

Wajahnya dipenuhi air mata, jemarinya yang gemetar menggenggam tangan Jihan yang perlahan mulai mendingin.

"Mama, bertahan, Ma! Tolong bertahan!" ucap Angela dengan suara parau dan histeris, memohon agar ibu tiri yang baru saja ia peluk kembali itu tidak pergi meninggalkannya.

"Jangan tinggalkan kami lagi, Ma. Angela sayang sama Mama!"

Jihan tidak menjawab. Kelopak matanya tertutup rapat, dan napasnya berembus satu-satu, berjuang di ambang batas kesadarannya.

"Jonas! Siapkan mobil medis di luar sekarang! Deacon, panggil tim dokter terbaik!" teriak Darren dengan suara bergetar namun sarat akan otoritas yang mengerikan.

Sambil membopong Jihan dengan langkah lebar, Darren melirik sekilas ke arah Andre dan Riko yang masih didekap erat oleh Deacon dan Jonas.

Sorot mata Darren memancarkan kebencian murni yang siap menghancurkan sisa hidup kedua anaknya.

"Bawa mereka ke sel bawah tanah paling gelap. Jangan biarkan mereka mati sebelum Jihan-ku membuka matanya kembali!"

Di dalam ambulans taktis yang melaju membelah keheningan malam menuju rumah sakit, raungan sirine terdengar begitu memekakkan telinga.

Di dalam kabin yang sempit itu, Darren duduk bersandar dengan tubuh yang gemetar.

Ia tidak melepaskan pandangannya sedikit pun dari wajah pucat Jihan yang kini dipasangi masker oksigen.

Darren menggenggam tangan istrinya yang terluka dengan sangat erat, seolah-olah kekuatannya bisa disalurkan untuk menahan belahan jiwanya agar tidak pergi.

Tangan yang dulu terasa hangat itu kini terasa begitu dingin. Setiap kali monitor medis di dalam ambulans berbunyi tidak beraturan, jantung Darren serasa berhenti berdetak.

"Bertahanlah, Jihan. Aku mohon, jangan tinggalkan aku lagi," bisik Darren dengan suara parau, mengecup punggung tangan Jihan yang ternoda darah.

Sesampainya di rumah sakit, suasana berubah menjadi sangat kacau dan menegangkan.

Tubuh Jihan langsung dilarikan di atas brankar menuju ruang operasi darurat.

Pintu besar bertuliskan 'OPERASI' itu tertutup rapat, dan lampu indikator merah di atasnya seketika menyala, menandakan pertarungan antara hidup dan mati baru saja dimulai.

Di lorong rumah sakit yang sepi dan dingin, Darren dan Angela menunggu di ruang operasi dengan kecemasan yang membakar dada.

Angela terus berjalan mondar-mandir sembari menangis sesenggukan, sementara Darren duduk di kursi tunggu, menangkupkan kedua tangan di wajahnya, merapalkan doa-doa terbaik demi keselamatan wanita yang telah mengorbankan nyawanya itu.

Tak berselang lama, deru langkah kaki yang tegap dan tergesa-gesa memecah keheningan lorong.

Kedatangan Deacon dan Jonas langsung mengalihkan perhatian Darren dan Angela.

Kedua pria itu melangkah dengan sisa-sisa aura ketegangan dari gudang pelabuhan.

Pakaian Jonas bahkan masih menyisakan sedikit bercak tanah akibat pergulatan saat meringkus Andre tadi.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Deacon dengan suara berat, menatap langsung ke arah Darren yang berdiri kaku di depan pintu operasi dengan kemeja yang bersimbah darah Jihan.

Jonas melangkah mendekati Angela, memberikan ketenangan visual tanpa kata, sementara matanya melirik ke arah lampu operasi yang masih menyala merah.

"Dua bajingan itu sudah dipindahkan ke tempat yang aman di bawah pengawasan ketat tim kita, Om Darren. Mereka tidak akan bisa lolos."

Darren tidak langsung menjawab. Ia perlahan menoleh ke arah Deacon dan Jonas.

Sorot matanya kosong namun memancarkan kegelapan yang amat pekat—sebuah tanda bahwa Singa Bisnis ini sedang berada di titik paling berbahaya dalam hidupnya.

Waktu terasa berjalan begitu lambat di lorong rumah sakit yang sunyi.

Setiap detak jarum jam bagaikan siksaan bagi Darren yang tak sedetik pun memalingkan pandangannya dari pintu ruang operasi.

Kemeja putihnya yang mengering dengan noda darah Jihan menjadi saksi bisu betapa tipisnya jarak antara hidup dan kematian malam ini.

Satu jam kemudian, suara klik dari gagang pintu memecah ketegangan.

Dokter bedah yang memimpin operasi akhirnya membuka pintu dan melangkah keluar sembari melepas masker medisnya.

Wajahnya yang lelah namun menyiratkan kelegaan langsung diserbu oleh seluruh orang di lorong tersebut.

Darren melangkah maju paling depan, mencengkeram bahu sang dokter dengan tatapan mata yang dipenuhi keputusasaan.

"Dokter, bagaimana keadaan istri saya? Tolong katakan dia baik-baik saja!"

Dokter itu tersenyum tipis, memahami kepanikan sang kepala keluarga.

"Operasi berjalan lancar, Tuan Darren. Beruntung pisau itu tidak mengenai organ vitalnya. Kami berhasil menghentikan pendarahan hebat di punggungnya. Sebentar lagi kami akan memindahkan Nyonya Jihan ke ruang perawatan untuk masa pemulihan."

Mendengar kalimat mukjizat itu, ketegangan yang mengunci tubuh Darren dan Angela runtuh seketika.

Darren dan Angela langsung menghela napas panjang, mengeluarkan seluruh sesak yang sejak tadi menyumbat dada mereka.

Beban berat seolah terangkat dari pundak mereka.

Darren menyandarkan dahinya ke dinding rumah sakit, merapalkan syukur yang tak terhingga karena Tuhan tidak mengambil Jihan untuk kedua kalinya.

Angela yang lemas karena sisa-sisa tangis histerisnya hampir saja kehilangan keseimbangan jika sebuah lengan kokoh tidak menahan tubuhnya.

Jonas dengan sigap menangkap dan memeluk Angela, memberikan sandaran dan kehangatan yang sangat dibutuhkan gadis itu di tengah badai emosinya.

Angela menyembunyikan wajahnya di dada Jonas, menangis lagi—kali ini bukan karena ketakutan, melainkan karena rasa lega yang luar biasa.

Deacon yang berdiri di samping mereka hanya menepuk pundak Darren dengan tegas. "Istrimu adalah wanita yang kuat, Darren. Sekarang dia aman.

Tapi ingat, pekerjaan kita belum selesai. Dua serigala di sel bawah tanah sedang menunggu vonis dari sang Singa."

Darren menganggukkan kepalanya dengan perlahan, membalas tepukan di pundaknya dari Deacon.

Sorot matanya kini jauh lebih tenang, namun dinginnya tekad di dalam dirinya sama sekali tidak memudar. Ia tahu betul, keadilan bagi Jihan baru saja dimulai.

Tak berselang lama, pintu ruang operasi kembali terbuka lebar.

Darren mengalihkan pandangannya dan melihat perawat mendorong ranjang rumah sakit keluar, menuju ke ruang perawatan intensif.

Di atas ranjang itu, Jihan terbaring dengan wajah yang masih sangat pucat, namun deru napasnya kini terdengar jauh lebih stabil dan teratur di balik masker oksigennya.

Melihat belahan jiwanya telah melewati masa kritis, Darren langsung melangkah di samping ranjang, ikut menggiringnya sepanjang koridor rumah sakit tanpa melepaskan tautan jemari mereka.

Angela, Jonas, dan Deacon mengekor di belakang dengan langkah yang lebih santai namun tetap waspada.

Sesampainya di ruang perawatan VIP yang telah disiapkan secara khusus dengan penjagaan ketat, perawat menyelesaikan tugas mereka dan pamit keluar ruangan.

Suasana seketika berubah menjadi sunyi, hanya menyisakan bunyi ritmis dari alat pemantau detak jantung yang terpasang di samping ranjang Jihan.

Di dalam ruangan yang hangat itu, mereka bertiga—Darren, Angela, dan Jonas—duduk menunggu Jihan sadar dari pengaruh obat biusnya.

Deacon sendiri memilih untuk berdiri di dekat jendela besar, mengawasi area luar rumah sakit guna memastikan tidak ada penyusup atau anak buah Andre yang mengendus keberadaan mereka.

Darren duduk di kursi paling dekat dengan ranjang, mengecup kening Jihan dengan penuh kelembutan, sementara tangannya terus mengusap rambut istrinya.

Di sudut sofa ruangan, Angela duduk bersandar pada Jonas, matanya yang sembap terus menatap ke arah Jihan dengan penuh harap.

Mereka bertiga melebur dalam keheningan yang sarat akan doa, menunggu sang Cinderella membuka matanya kembali dan menyambut fajar kemenangan yang baru.

1
merry yuliana
👍👍👍
merry yuliana
lanjut kak...aku hadir ...cemungud kak sering2 crazy up yaaa💪💪💪
my name is pho: ok kak🥰
total 1 replies
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!