Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.
Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:
Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu Yang Tersisa
Aku memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuaku.
Bukan karena ada acara keluarga yang wajib dihadiri, bukan pula karena Mama menelepon berulang kali memintaku pulang. Melainkan karena aku mulai sadar sepenuhnya: waktu yang masih kumiliki untuk berkumpul bersama keluarga tercinta ini tidaklah lagi panjang dan tak terbatas. Hanya tinggal sekitar tiga bulan lagi, aku akan berada di seberang samudra yang luas, di negeri yang jauh, di kota Melbourne yang belum pernah sekalipun kulihat sebelumnya.
Aku ingin memanfaatkan setiap detik yang tersisa untuk berada lebih lama di sisi Mama, Papa, adikku Dinda, dan adikku Rangga—menghirup suasana rumah, mendengarkan canda mereka, dan menyimpan setiap kenangan itu di dalam hati, sebelum segala sesuatu berubah dan terpisah jarak.
***
Tepat pukul delapan pagi, kendaraan taksi daring yang telah kupesan berhenti perlahan di depan pagar rumahku.
Aku menyerahkan uang pembayaran kepada pengemudi, lalu turun membawa koper kecil berisi beberapa helai pakaian ganti dan laptop kerjaku, kemudian berjalan santai menuju pintu pagar.
Rumah ini tampak persis sama seperti yang selalu kulihat setiap hari: taman halaman depan yang tidak terlalu luas, di mana tanaman melati mulai mekar mengeluarkan aroma harum yang lembut; ayunan plastik berwarna merah yang dulu menjadi kesayangan Rangga, namun kini sudah lama tak tersentuh dan mulai terlihat kusam; serta deretan pot‑pot tanaman hias yang disusun rapi berbaris di pinggir teras.
Di sana, di kursi panjang kayu teras, Papa sudah duduk bersandar santai sambil memegang lembaran koran pagi—seperti kebiasaannya yang tak pernah berubah. Matanya menatapku sekilas saat aku melangkah masuk, lalu seketika kembali tertuju pada tulisan di koran, seolah‑olah tak ada hal istimewa yang terjadi. Namun aku paham betul: Papa selalu memperhatikan segala hal dengan teliti, meski jarang sekali menunjukkannya secara terang‑terangan.
"Pa," sapaku pelan sambil berjalan mendekatinya.
"Eh, Tari… kamu pulang ya?" Papa melipat korannya perlahan, lalu meletakkannya di samping kursi.
"Iya, Pa. Aku merindukan rumah dan kalian semua," jawabku sambil tersenyum.
"Masuklah. Mama ada di dapur sedang sibuk masak," ucapnya lembut.
Aku mengangguk, lalu melangkah masuk melewati pintu depan yang selalu terbuka lebar di pagi hari.
Sesampainya di dapur, Mama tampak sibuk berdiri di depan kompor sambil memotong‑motong sayuran di atas talenan kayu.
Aroma masakan yang begitu kukenal—kuah sayur asem, makanan kesukaanku sejak kecil—sudah tercium harum menusuk indra penciuman sejak aku baru saja melangkah di ambang pintu dapur. Aku berdiri diam sejenak, menatap punggung Mama yang kini terlihat mulai sedikit membungkuk karena usia yang terus bertambah. Rambutnya yang dulu hitam pekat berkilau, kini mulai tampak bercampur uban yang tumbuh halus di sekitar pelipisnya.
"Ma," panggilku lirih.
Mama menoleh cepat, tangannya masih memegang pisau dapur sementara potongan wortel di talenan belum selesai sepenuhnya. Sepasang matanya yang berwarna coklat tua dan selalu hangat itu seketika berbinar cerah begitu melihat keberadaanku.
"Tari… Nak, kamu belum sarapan kan, di luar?" tanyanya cepat.
"Belum sama sekali, Ma."
"Ya sudah, kalau begitu duduklah dulu di meja makan. Sebentar lagi sayur asemnya matang dan siap disajikan."
Namun aku tidak langsung beranjak ke meja. Aku berjalan mendekati Mama, lalu memeluknya erat dari belakang. Tubuh Mama sempat menegang sejenak karena terkejut, namun tak lama kemudian melembut dan bersandar pasrah pada pelukanku.
"Kamu kenapa, Tari? Ada yang terjadi?" tanya Mama dengan suara lembut dan penuh perhatian.
"Aku hanya ingin memeluk Mama saja… sekadar ingin merasakan betapa nyamannya berada di dekat Mama," jawabku jujur.
Mama terdiam beberapa saat. Ia segera meletakkan pisau di tepi talenan, mengelap tangannya yang basah di kain celemek, lalu memutar badannya menghadapku. Ia pun membalas pelukanku dengan erat—pelukan yang sama persis seperti yang sering ia berikan saat aku masih kecil dan sedang sedih atau sakit.
"Mama juga sudah lama merindukanmu, Nak," bisiknya pelan tepat di telingaku.
"Aku pun sangat merindukan Mama."
"Kamu akhir‑akhir ini jarang sekali pulang ke rumah."
"Memang sibuk sekali kegiatanku di luar, Ma."
"Sibuk karena urusan kuliah saja… atau karena sibuk juga bersama pacar?" tanyanya setengah bercanda.
Aku tertawa kecil sambil mengendurkan pelukanku. "Keduanya lah, Ma… keduanya sama‑sama menyita waktu."
Mama ikut tertawa renyah. "Kamu ini ya… pandai sekali menjawab."
Kami pun melepaskan rangkulan. Mama menatap wajahku lama sekali, seolah sedang berusaha mengingat‑ingat setiap lekuk wajahku agar tak mudah terlupakan.
"Tari… ketahuilah satu hal, Mama sangat bangga padamu," ucapnya tiba‑tiba dengan nada yang sungguh‑sungguh.
"Bangga karena apa, Ma?"
"Karena kamu berani melangkah mengejar impian—hal yang dulu Mama sendiri tidak pernah berani lakukan," jawabnya pelan namun terdengar jelas.
Aku tertegun mendengarnya. "Mama… Mama juga punya impian sendiri dulu?"
Mama tersenyum—senyum yang terasa sedikit pahit namun ikhlas, senyum yang membuat dadaku terasa sesak oleh rasa haru.
"Dulu… sewaktu Mama masih muda, Mama bercita‑cita ingin menjadi seorang guru. Ingin sekali mengajar anak‑anak kecil di sekolah," ceritanya perlahan. "Tapi sayang, waktu itu keluarga kami tidak punya biaya yang cukup untuk membiayai kuliah lebih lanjut. Akhirnya Mama hanya diam di rumah, menikah dengan Papa, menjadi ibu rumah tangga, dan perlahan‑lupa melupakan impian itu selamanya."
"Ma…" suaraku tercekat.
"Tapi lihatlah kamu," sambungnya kembali dengan sorot mata berbinar bangga. "Kamu berbeda. Kamu berani berjuang sendiri, berani meraih kesempatan beasiswa itu, berani pergi jauh ke negeri orang, berani menjadi diri sendiri yang berbeda dari kebanyakan orang. Itu hal yang luar biasa, Tari."
"Dan Mama tidak merasa kecewa karena aku akan pergi meninggalkan rumah cukup lama?" tanyaku ragu.
"Kecewa? Kenapa Mama harus kecewa? Justru Mama sangat bangga dan bahagia melihatmu sukses," jawabnya tegas. Ia lalu mengusap pipiku dengan lembut menggunakan punggung tangannya yang kasar namun penuh kasih. "Kamu adalah bukti nyata bahwa Mama tidak pernah gagal dalam mendidik anak‑anak Mama."
Butiran air mata mulai menetes di pipiku mendengar kata‑kata itu. "Ma…"
"Sudah, jangan menangis begitu," Mama mengusap air mataku dengan ujung jarinya. "Nanti kuah sayur asemnya jadi keasinan kena air matamu yang jatuh ke panci, lho."
Aku tertawa kecil sambil menyeka sisa tangisku, bercampur rasa bahagia yang meluap.
"Sudah, sekarang duduklah di sana. Biar Mama cepat selesaikan masakannya supaya kita bisa makan bersama," pintanya lembut.
Aku pun duduk di kursi meja makan yang terbuat dari kayu jati kokoh—meja yang sudah berpuluh tahun usianya. Inilah meja yang sama tempat aku pertama kali belajar makan sendiri, tempat aku mengerjakan segala tugas sekolah, tempat kami sekeluarga tertawa dan bercerita, hingga tempat aku menangis saat mendapatkan nilai rapor yang kurang memuaskan.
Benda‑benda di sini masih sama persis seperti dulu, namun waktu terus berjalan membawa kami menuju masa depan yang baru.
***
Tepat pukul sembilan pagi, seluruh anggota keluarga sudah berkumpul lengkap di sekitar meja makan.
Mama menyajikan hidangan sederhana namun sangat lezat: kuah sayur asem yang segar, ikan laut goreng renyah, sambal terasi pedas yang menggugah selera, serta aneka lalapan sayuran mentah. Aroma masakan itu menguar memenuhi seluruh ruangan, bercampur dengan wangi dupa yang masih tercium samar dari tempat persembahan kecil di sudut ruang tamu.
Dinda mengambil porsi nasi yang lebih banyak daripada kebiasaannya. Sedangkan Rangga datang melangkah gontai dari kamarnya dengan mata yang masih setengah terpejam, rambutnya berantakan tak tersisir, dan masih mengenakan baju piyama bergambar pahlawan kesayangannya yang bagian kerahnya sudah mulai lusuh dan tipis.
"Kak Tari?" Rangga mengucek matanya dengan punggung tangan. "Kakak pulang ke rumah?"
"Iya, Rangga. Kakak pulang menjenguk kalian semua," jawabku sambil tersenyum melihat wajah mengantuknya.
Rangga langsung duduk di sebelahku, segera mengambil nasi dan lauk tanpa banyak bicara, lalu mulai makan dengan sangat lahap. Tak ada sapaan "selamat pagi" atau tanya‑jawab kabar darinya—hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan pinggan, tanda bahwa ia sangat menikmati hidangan pagi itu.
"Rangga, makanlah dengan sopan dan tenang sedikit," tegur Mama lembut.
"Iya, Ma…" jawabnya singkat, lalu sedikit memperlambat gerakannya namun tak mengurangi semangat makannya.
Di ujung meja, duduk Papa dengan diamnya yang khas. Sesekali ia melirik ke arahku, memperhatikan gerak‑gerikku, namun jarang sekali bersuara. Papa memang bukan orang yang banyak bicara, tapi aku tahu betul, segala perhatiannya tertuju penuh padaku.
"Tari," panggilnya tiba‑tiba setelah kami makan beberapa saat dalam keheningan yang nyaman.
"Iya, Pa?" jawabku sambil mengunyah pelan.
"Apakah tempat tinggalmu di Melbourne sudah selesai dicarikan?"
Aku mengangguk mantap. "Sudah, Pa. Aldo yang membantu mencarikan dari sini. Lokasinya di kawasan Carlton, tidak jauh, hanya berjalan kaki sebentar saja sampai ke kampus."
"Kamu akan tinggal di sana sendirian?"
"Ya, Pa. Bentuknya ruang studio kecil, cukup untukku saja."
Papa mengangguk pelan, lalu menatapku lekat‑lekat. "Kamu tidak merasa takut tinggal sendirian di tempat yang asing dan jauh begitu?"
"Ada merasakan takutnya juga, Pa… jujur saja," jawabku tulus. "Tapi aku harus belajar berani menghadapinya, demi mimpiku."
Papa pun tersenyum—senyum yang jarang sekali ia tunjukkan, senyum yang membuat kerutan di wajahnya tampak lebih jelas namun terasa begitu hangat dan menenteramkan hati.
"Papa sangat bangga padamu, Tari. Sangat bangga," ucapnya pelan namun tegas.
"Terima kasih banyak, Pa," jawabku dengan hati yang penuh rasa syukur.
Papa kembali mengarahkan pandangannya ke makanan di hadapannya, melanjutkan santapannya dengan tenang.
***
Setelah makan selesai, Rangga langsung menarik tanganku menuju kamarnya.
Kamar Rangga sangat berbeda jauh dengan kamar Dinda yang serba berwarna merah muda dan penuh boneka. Dinding kamarnya berwarna biru tua, ditempel banyak poster gambar tokoh‑tokoh permainan elektronik kesukaannya. Di sudut ruangan, terpasang satu set komputer lengkap dengan lampu‑lampu hias yang berkedip‑kedip warna‑warni.
"Kak, coba lihat yang ini deh," kata Rangga sambil menunjuk layar komputernya yang menyala terang. "Ini pahlawan andalan aku, lho."
Aku mendekat melihat ke layar. Tampaklah sosok karakter dengan pedang besar yang tajam dan baju zirah yang berkilau.
"Wah… hebat sekali kelihatannya," pujaku tulus.
"Memang hebat," jawabnya bangga. "Karakter ini susah sekali dimainkan, Kak. Tapi kalau sudah mahir mengendalikannya, dia bisa mengalahkan lima lawan sekaligus sendirian."
"Jujur saja, Kakak tidak terlalu paham istilah‑istilah permainannya, tapi kalau kamu bilang hebat, berarti memang hebat sekali," kataku tersenyum.
Rangga tertawa renyah. "Ah, Kak Tari ini kuno sekali deh."
"Kuno?" ulangku heran.
"Iya… tidak pernah ikut update hal‑hal baru soal permainan," jawabnya polos.
Aku ikut tertawa mendengarnya. "Maafkan Kakak ya, Rangga… soalnya Kakak sibuk sekali dengan kuliah dan menulis cerita sampai tidak sempat mempelajari hal‑hal seperti itu."
Rangga terdiam sejenak, senyumnya perlahan hilang.
"Kak… aku dengar kabar kalau Kakak mau pergi ke Australia, ya?" tanyanya pelan.
"Iya, selama dua tahun lamanya," jawabku lembut.
Ia menundukkan pandangan. Sepasang matanya yang berwarna coklat muda—yang selalu tampak bersinar penuh rasa ingin tahu—kini terlihat agak sayu dan muram.
"Nanti aku pasti akan sangat merindukanmu, Kak," bisiknya pelan.
Aku segera mengusap kepalanya dan mengacak‑acak rambutnya yang berantakan itu dengan penuh kasih sayang. "Kakak pun akan sangat merindukan Rangga, percayalah."
"Kakak janji sering menelepon aku di sana?" pintanya menatapku lekat.
"Aku janji."
"Dan Kakak janji mau belajar main permainan ini sama aku lewat layar?"
"Rangga… kan Kakak bilang tidak pandai main permainan," tolakku halus.
"Kakak bisa belajar pelan‑pelan kan? Aku yang akan ajari," katanya bersemangat kembali.
Aku tertawa melihat kesungguhannya. "Baiklah, Rangga. Kakak janji akan berusaha belajar. Tapi jangan marah ya kalau Kakak masih sering kalah dan jelek mainnya."
"Aku tidak akan marah sedikit pun. Aku akan sabar sekali mengajari Kakak," janjinya dengan wajah serius.
Kami pun tertawa bersama di dalam kamar yang penuh warna itu, melupakan sejenak rasa berat hati karena perpisahan yang akan datang.
***
Pukul dua siang, aku beranjak ke kamar Dinda.
Begitu melihatku lewat di depan pintunya, Dinda langsung memanggilku masuk. Kamarnya benar‑benar serba merah muda: dinding, sprei tempat tidur, tirai jendela, semuanya berwarna kesukaannya. Di dinding terpasang foto‑foto penyanyi grup Korea yang ia kagumi, potret bersama teman‑teman sekolahnya, serta beberapa boneka beruang besar yang duduk rapi di ujung kasur.
Ia duduk di sampingku begitu aku bersandar di pinggiran tempat tidurnya.
"Kak…" panggilnya pelan sambil memain‑mainkan ujung jarinya.
"Iya, Sayang?"
"Aku… aku pasti akan merindukan Kakak Tari," ucapnya dengan mata yang mulai berkaca‑kaca.
Aku menatap adik perempuanku itu. Dinda sudah tumbuh besar, tak lagi sekecil saat ia masih duduk di bangku taman kanak‑kanak. Tingginya kini hampir sejajar dengan bahuku, wajahnya bulat lembut persis seperti Mama, dengan mata yang sipit dan hangat menatapku.
"Kakak juga akan merindukan Dinda setiap saat," jawabku sambil mengelus pipinya.
"Jangan lupa belikan aku oleh‑oleh ya dari sana," pintanya tiba‑tiba, berusaha menyembunyikan kesedihannya.
Aku tersenyum. "Oleh‑oleh apa yang kamu inginkan?"
"Yang apa saja boleh, Kak. Yang penting berasal dari Australia," jawabnya antusias.
"Baiklah, Dinda. Kakak janji akan belikan yang paling bagus untukmu."
"Kakak harus serius ya… jangan sampai lupa," tegurnya memastikan.
"Kakak tidak akan lupa. Sudah berjanji kan," jawabku mantap.
Tanpa banyak bicara lagi, Dinda memelukku dengan erat—pelukan yang mengingatkanku pada masa lalu saat ia masih kecil dan selalu berlari kepadaku setiap kali merasa takut atau sedih.
"Aku sangat menyayangi Kakak Tari," bisiknya lirih di sela‑sela pelukan itu.
"Kakak pun sangat menyayangimu, adikku sayang," jawabku lembut.
***
Pukul empat sore, Rangga kembali datang mencariku yang sedang duduk santai di ruang tamu.
Ia membawa ponsel genggamnya sendiri, berjalan dengan langkah cepat, matanya bersinar penuh semangat.
"Kak… ayo kita berfoto bersama sekarang," pintanya tiba‑tiba.
Aku agak terkejut mendengarnya. "Untuk apa berfoto sekarang? Kan Kakak belum berangkat, masih ada waktu tiga bulan lagi di depan kita."
"Memang aku tahu masih ada waktu… tapi aku takut nanti wajah Kakak terlupakan dari ingatanku," jawabnya polos namun jujur.
"Melupakan wajah Kakak? Mustahil sekali," kataku tersenyum haru.
"Tetap saja aku mau berfoto sekarang juga," desaknya tak mau kalah.
Aku pun mengalah. Kami berdiri berdampingan, Rangga menempelkan bahunya ke bahuku sambil tersenyum lebar dan mengangkat jari membentuk tanda damai ke arah kamera. Aku merangkul bahunya erat, tersenyum bahagia sepenuh hati.
Begitu sesi pemotretan selesai, Rangga menatap layar ponselnya puas.
"Kak, kirimkan salinan fotonya ke nomorku ya," pintanya.
"Baiklah, akan Kakak kirimkan sekarang juga," janjiku.
Ia berjalan kembali menuju kamarnya dengan langkah gembira, namun tepat di ambang pintu, ia berhenti sejenak lalu menoleh kembali ke arahku.
"Kak…" panggilnya pelan.
"Iya?"
"Aku sayang Kakak Tari," ucapnya sekali lagi, sungguh‑sungguh.
Aku tersenyum lebar, hati terasa hangat luar biasa. "Kakak pun sangat menyayangi Rangga."
Rangga pun tersenyum—senyum yang jarang ia tunjukkan, senyum yang polos dan tulus, membuatnya tampak persis seperti anak kecil yang sesungguhnya. Lalu ia masuk ke kamar dan menutup pintunya perlahan, meninggalkanku duduk sendirian di ruang tamu dengan perasaan bahagia yang memenuhi dada.
***
Pukul tujuh malam, Papa memanggilku masuk ke ruang kerjanya.
Ruangan itu berukuran kecil dan sederhana, terletak di ujung lorong rumah. Di sana ada rak buku kayu yang penuh sesak berisi kitab‑kitab hukum yang menjadi keahlian Papa, meja kerja kayu jati tua yang permukaannya tertutup berkas‑berkas rapi, serta dinding yang dipenuhi bingkai‑bingkai foto kenangan keluarga kami dari masa ke masa.
"Duduklah di sini, Tari," kata Papa lembut sambil menunjuk kursi di hadapannya.
Aku duduk dengan tenang. Papa lalu membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah amplop kertas berwarna coklat yang terasa tebal dan padat isinya.
"Ini ada sesuatu untukmu," katanya seraya meletakkan amplop itu tepat di depanku.
"Apa ini, Pa?" tanyaku bingung.
"Uang tunai. Sisihkanlah ini untuk keperluan hidupmu di Melbourne nanti," jawabnya tenang.
Aku terkejut tak percaya. "Pa… kan aku sudah mendapat uang saku bulanan dari beasiswa yang kudapatkan—"
"Aku tahu hal itu," potongnya lembut namun tegas. "Tapi Papa juga tahu, biaya hidup di luar negeri itu tidak sedikit dan seringkali tak terduga. Papa tidak mau kamu kekurangan atau kesusahan hanya karena uang tidak cukup."
"Pa… rasanya aku sungkan sekali menerima sebanyak ini…"
"Ambil saja, Nak. Anggaplah ini hakmu sebagai anak kami," desaknya penuh kasih.
Aku mengulurkan tangan menerima amplop itu. Terasa berat bukan hanya karena isinya, tapi berat pula oleh rasa kasih dan harapan yang terselip di dalamnya.
"Terima kasih banyak, Pa… aku… aku tak tahu harus membalas kebaikan Papa dengan cara apa," ucapku dengan suara yang mulai bergetar.
Papa tersenyum menenangkan. "Kamu tidak perlu membalas apa‑apa atau mengucapkan terima kasih yang berlebihan. Kamu cukup berjanji satu hal saja: jadilah anak yang baik, berkelakuan sopan, dan tetap ingat asal‑usulmu di mana pun kamu berada."
"Aku akan melakukannya, Pa. Aku janji dengan sepenuh hati," jawabku mantap.
Papa mengangguk puas, lalu berdiri berjalan mengelilingi meja mendekatiku. Ia memelukku erat—pelukan yang hangat dan melindungi, persis seperti saat aku masih kecil dan bagiku Papa adalah pahlawan terhebat di dunia.
"Papa sangat menyayangimu, Tari. Ingatlah itu selalu," bisiknya parau.
"Aku pun sangat menyayangi Papa… selamanya," jawabku di sela‑sela air mata yang jatuh.
Kami berdua diam saling berpelukan di ruang kerja yang sunyi itu, di antara tumpukan buku hukum dan foto‑foto keluarga, menyimpan rasa kasih sayang yang takkan pernah lekang oleh waktu maupun jarak.
***
Pukul sembilan malam, terdengar ketukan lembut di pintu kamarku.
Aku sudah mengganti pakaian dengan baju tidur santai dan bersandar di kasur, bersiap untuk beristirahat. Mama masuk perlahan sambil membawa dua gelas berisi susu hangat yang masih mengepul uapnya.
"Masih terjaga ya, Nak?" tanyanya lembut.
"Masih, Ma."
Mama duduk di pinggir kasur di sebelahku, lalu menyerahkan salah satu gelas kepadaku. Aku menerimanya dan meminumnya perlahan—rasanya hangat, pas manisnya, persis seperti yang biasa ia buat sejak aku masih kecil.
"Tari…" panggilnya pelan.
"Iya, Ma?"
"Mama hanya ingin memastikan kamu tahu satu hal… Mama sangat menyayangimu, lebih dari apa pun di dunia ini."
Aku menatap wajah Mama yang tampak begitu lembut dan teduh di bawah cahaya lampu kamar yang redup itu—wajah yang mulai dihiasi garis‑garis halus penanda usia, namun tetap menjadi wajah terindah bagiku.
"Aku tahu itu, Ma. Aku selalu tahu," jawabku tulus.
"Kamu tidak akan melupakan Mama dan rumah ini begitu saja setelah sampai di sana, kan?" tanyanya dengan nada setengah bercanda namun matanya jelas terlihat berkaca‑kaca menahan rindu.
"Ma…"
"Sudah, Mama hanya bercanda kok," potongnya cepat sambil tersenyum. "Pergilah, Nak. Kejarlah impianmu setinggi langit. Mama akan selalu berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaanmu, setiap hari tanpa henti."
Aku segera meletakkan gelas susu di meja kecil samping tempat tidur, lalu memeluk Mama dengan sekuat hati.
"Terima kasih untuk segalanya, Ma… terima kasih atas semua kasih sayang, pengorbanan, dan didikan yang Mama berikan padaku sampai sekarang," ucapku dengan suara yang penuh haru.
Mama membelai rambutku perlahan, berulang‑ulang, persis seperti kebiasaannya saat aku masih kecil dan sulit tidur.
"Sudah, sekarang tidurlah yang nyenyak. Besok pagi kamu masih harus kembali ke kosan lagi kan?" pintanya lembut.
"Iya, Ma."
Mama berdiri perlahan, berjalan menuju pintu kamar, lalu berbalik menatapku sekali lagi sebelum melangkah keluar.
"Tari…" panggilnya terakhir kali.
"Iya, Ma?"
"Mama bangga sekali padamu. Sungguh bangga sekali."
Mama tersenyum manis, lalu perlahan menutup pintu kamar hingga tertutup rapat dan meninggalkanku sendirian dalam keheningan yang damai.
Aku merebahkan diri kembali ke atas kasur empuk itu, menatap langit‑langit kamar yang memiliki guratan retak kecil di sana‑sini—langit‑langit yang sama persis yang kulihat sejak aku masih kanak‑kanak.
Langit‑langit yang sama. Namun aku tahu betul: kehidupanku selanjutnya takkan pernah sama lagi seperti sedia kala.