Cinta Kirana, hidup dengan masa lalu yang tragis ditinggalkan orangtua. Menyisakan trauma sampai dengan ia dewasa. Siapa sangka, seorang datang mengganti luka dengan suka cita. Perbedaan usia, status sosial dan keterkaitan di masa lalu membuatnya Cinta terpuruk dan kembali terluka. Akankah Cinta bisa menerima kenyataan yang menghampiri?
===
“Namaku Cinta, banyak yang cinta udah pasti. Yakin masih mau sama aku?”
“I love you, Cinta. Sekarang, nanti dan selamanya.”
“Masa?”
“Mahameru pantang ingkar janji.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Banyak Fans
Bab 3
“Nanti saya jemput jam berapa Den?”
“Belum tahu. Nggak usah jemputlah, bisa ojol atau taksi.”
“jangan gitu Den, nanti Nyonya marah. Telpon aja ya atau mau saya tungguin? Nyonya bilang Aden masih sakit, harusnya mulai kerja nanti aja kalau udah sehat.”
“Nggak pa-pa Pak, saya udah sehat. Nggak usah jemput karena belum pasti pulang jam berapa.” Membuka pintu mobil lalu keluar dari sana. Dengan langkah pasti melewati pintu lobby menuju meja resepsionis.
“Pagi mbak, saya mulai magang hari ini.” Ia tersenyum membaca nama dan melihat foto dirinya di name tag, tidak mengawasi kaki melangkah dan ….
Bugh.
“Sorry, mbak,” ucapnya menabrak seseorang.
Senyumnya semakin lebar saat orang itu menoleh dan berdeham. Wajah setengah jutek dan cuek itu kembali fokus dengan layar ponsel.
“Cantik,” batinnya. Baru kali ini ia bertemu perempuan dan tidak terkesima saat bertatapan dengannya, bahkan melirik seola penasaran dan mencuri pandang pun tidak. “Macan nih,” batinnya lagi mengekor langkah gadis itu.
Ia mengu-lum senyum mendengarkan gadis itu berbincang dengan rekannya. Namanya Cinta, membuat para pria jatuh cinta. Agak risih melihat tangan rekan Cinta merangkul bahunya.
“Semoga kita bertemu lagi, mbak Cinta.”
Rupanya semesta sedang berpihak padanya. Setelah menemui HRD ia diarahkan ke devisi produksi dan bertemu lagi dengan gadis itu. Cinta.
“Ini Asep dan Cinta, kita sekarang satu tim,” seru Umar.
Ia mengangguk dan kembali tersenyum. Gadis itu, Cinta masih menatapnya.
“Salam kenal, saya Eru. Mohon bimbingannya.” Ia menjabat tangan Cinta dan Asep.
“Anak magang belum dapat meja, lo gabung sama Cinta. Ambil kursi di pojok sana. Kalian cari tahu destinasi kita, nanti siang kita brief untuk keberangkatan,” jelas Umar mengarahkan anggotanya.
“Okeh, siap,” seru Asep lalu beranjak dari sana.
“Eru?”
“Iya, mbak.” ia mengangguk. CInta meraih name tagnya.
“Eru doang?” tanya Cinta agak menengadah untuk menatap.
“Mahameru,” serunya lagi, Cinta beroh ria.
“ikut aku!”
Dengan senang hati, batinnya.
Sampai dengan tadi ia masih merutuk niat keluarga besarnya, terutama Ayah Akbar Arkatama kakak dari mendiang Papi yang mengharuskan ia magang dan training di beberapa divisi sampai akhirnya fokus di satu bidang. Papinya dan Ayah Akbar pemilik Digital Corp. Ada tiga perusahaan bernaung di Digital Corp. Yess Tv, di mana ia magang. Media suara, portal berita online maupun cetak. Venus Music Entertainment, perusahaan yang bergerak di bidang entertainment. Namun, semua berubah. Sepertinya ia akan menyukai kegiatan magang ini.
CInta mendadak berhenti, membuatnya harus rem mendadak agar tidak menabrak tubuh mungil itu.
“Kamu ….” Menoleh lalu mengendus dengan hidung yang kembang kempis. “Parfum kamu, kayaknya nggak asing. Waktu di lobby, aku ….”
“Maaf mbak, saya yang nabrak mbak.”
“Oh, bukan itu masalahnya?”
Ia mengernyitkan dahi heran. “Saya ada masalah mbak?”
“Ish, bukan. Abaikan aja.” Cinta mengibaskan tangan di depan wajah.
Gemes banget sih, batin Eru.
“Ta, cari tahu tentang situ Sedong gue cari info tentang Gua Sunyaragi!” titah Asep sudah fokus dengan layar komputer.
Cinta duduk dan menggeser mousenya. “Males ah, nanti aja tunggu laporan dari tim riset.”
“Buat bahan kita juga, kadang laporan mereka nggak detail.” Asep menendang kursi Cinta membuatnya terdorong. Tangan Eru menahan kursi itu.
“Rese banget dah,” cetus CInta lalu mengarahkan Eru mengambil kursi.
“Saya ngerjain apa mbak?” tanya Eru memposisikan kursinya di samping Cinta. Gadis itu melepas kemeja tacticalnya dan menyampirkan ke sandaran kursi.
“Belum adalah, aku aja masih nganggur nih.”
“Riset lokasi Ta!” titah Asep lagi.
***
Eru mencatat hal-hal berkaitan dengan lokasi yang disebutkan oleh Asep. Mengenai cuaca, kondisi area dan budaya masyarakat sekitar. Ia mengerjakan itu menggunakan komputer di meja Cinta, sedang pemiliknya sejak tadi pergi setelah mendapat telpon dari Umar.
Hampir tengah hari Cinta baru kembali ke mejanya.
“Dari mana lo, ngayap aja. Makan gaji buta,” ejek Asep, tapi pandangannya tetap pada layar.
“Dih, gimana bisa makan gaji kalau buta. Aku ikut rapat bareng Bang Umar.” Menempati kursi milik Eru. “Ru, nomor hp kamu berapa?”
Eru menyebutkan sederet nomor. Cinta berdecak dan melirik sekilas ke arah Eru.
“Emang keren, tapi nggak usah narsis juga,” gumam Cinta dan Eru hanya terkekeh, ia tahu maksud Cinta.
...Pejuang Tanggal Muda...
Cinta_Cuantik menambahkan Asep
Cinta_Cuantik menambahkan Umar
Cinta_Cuantik menambahkan Eru_kerenz
Cinta_Cuantik menambahkan Abil
Asep : grup apaan lagi ini
Abil : Gue bukan pejuang tanggal muda doang Ta
Cinta_Cuantik : Pejuang 45 ya 🤭. Ini khusus tim 7 ya, obrolin pembagian tugas di sini aja
Eru_kerenz : Mohon arahannya para senior 🙏
Cinta_Cuantik : Anak baru harus di ospek dulu
Asep : Setuju
Umar : Jangan aneh-aneh, jam 2 kita briefing
Cinta_Cuantik : ish ish ish, tak patut
Eru tersenyum membaca pesan grup dan menyimpan kontak seluruh anggota tim. Ada pesan lain masuk di ponselnya
...Mami...
Eru sayang, jangan telat makan ya. obat kamu nggak dibawa nih
Diantar Pak Budi aja, gimana?
^^^Nggak usah Mih^^^
^^^Aku minum nanti sore, udah enakan kok^^^
“Mbak, istirahat jam berapa?”
Cinta menatap jam dinding. “Mau makan ya, sekarang juga nggak pa-pa. Ayo, nanti rame liftnya. Tadi pagi aja aku naik tangga.” Cinta beranjak, Eru mengikutinya. “Mau nitip apa mau jalan?” tanyanya pada Asep.
“Nggak, gue bekel nih. Semalem ikut kenduri,” sahut Asep sudah login game dengan ponselnya. Jam istirahat selalu digunakan dengan hal yang bermanfaat, selain makan, main game bisa juga tidur.
Kantin khusus karyawan itu sudah mulai ramai, Eru mengekor langkah Cinta. Ada beberapa tenant di kantin, pilihan CInta kali ini nasi dan soto ayam. Eru memilih menu yang sama. Mereka menjadi perhatian. Bahkan ada yang terang-terangan memanggil CInta dan menawarkan kursi. Juga karyawan perempuan yang menanyakan siapa pria di samping Cinta.
“Rekan 1 tim, nggak usah ada yang aneh-aneh nanti dia sawan terus besok nggak balik lagi,” sahut Cinta.
“Nomor hp boleh kali Ta.”
“Tanya langsung aja,” sahut Cinta membawa nampan berisi makanan nya menuju meja kosong agak sudut. Eru menempati kursi berseberangan dengannya.
“Saran aja kalau nggak nyaman makan di sini, mending keluar. Cuma agak jauh dan lebih mahal tentunya. Bisa juga pesan online, tapi pesan 1 jam sebelum jam makan siang. Nanti datangnya pas udah istirahat. Bisa juga bekal dari rumah, lebih sehat dan ngirit juga.”
Eru mengangguk menekuni makanan di hadapannya atau menatap Cinta, enggan menatap sekitar karena ada mata yang memandang dan mencuri pandang ke arah mereka.
“Mbak sering makan di sini?”
“Kadang-kadang. Yang tadi aku bilang, kadang pesan online atau bawa bekal, tapi kalau bawa bekal effortnya luar biasa. Aku harus bangun lebih pagi dan … malaslah.”
“Cinta, pulang gue antar ya.” Entah dari mana datangnya Restu, tiba-tiba sudah duduk di samping CInta.
“Nggak usah, nanti sore aku diantar Kang Asep. Kita mau cari sesuatu, prepare keberangkatan.”
“Yakin?”
Cinta mengangguk cepat, sambil menyuap makanan nya. Restu berdecak lalu menatap Eru. “Elo siapa?”
“Saya Eru, mas. Timnya mbak Cinta.”
“Anak magang?”
“Iya, mas.”
“Jangan naksir sama dia ya, udah gue patok,” ujar Restu lalu beranjak.
“Dih, apaan sih.” Cinta berdecak malas.
Mendadak selera makan Eru menguap, bahkan makanan yang ada di mulut terasa sulit untuk dikunyah. Ia menatap Cinta yang masih mengoceh pada Restu yang melenggang begitu saja.
“Mbak Cinta,” sapa pria itu dengan senyum peps0dent.
Apa lagi ini batin Eru.
Pria dengan seragam biru dan abu, khas cleaning service dengan gaya rambut klimis dan licin. Entah berapa banyak minyak rambut yang ditumpahkan di sana.
Banyak juga fansnya
egoisnya akbar hanya mementingkan ke baikan keluarganya sendiri. tanpa memikirkan orang lain.😤
siap2 reaksi cinta nrma ga ya kenyataan
kamu dah di kasih tau sama mamih kan dan di wanti² tentang gosip tidak enak nah ini maksudnya
harusnya kamu dukung dan restuin agar cinta dapet keluarga baru dari pihak keluarga laki². lah ini aneh² aja 😏
takut nama keluarga tercoreng,takut ini takut itu..
Takut saham hancur dan turun lebih pastinya..
tapi nggak mikir gimana cinta tidak mendapat keadilan untuk orang tuanya...
Perselisihan dan perpisahan pasti ada,tapi aku yakin cinta Eru itu tulus dan kuat.
lama lama Cinta juga akan luluh dan memaafkan Eru..
lagian bukan eru yang menabrak,mereka sama sama korban juga