⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Tiga hari setelah operasi gagal.
Tiga hari sejak Ainz duduk sendirian di Ruang Takhta, menatap peta Holy Kingdom dengan titik-titik merah yang tidak pernah bergerak. Tiga hari sejak dia memutuskan untuk menunda operasi berikutnya sampai ada informasi yang cukup.
Tapi informasi tidak kunjung datang.
Demiurge masih menyelidiki. Albedo masih memulihkan diri. Aura dan Mare masih melaporkan getaran aneh di Lantai Enam yang tidak pernah benar-benar berhenti. Semuanya berjalan di tempat. Semuanya bergerak tanpa arah.
Dan Ainz mulai kehilangan kesabaran. Bukan kesabaran yang meledak-ledak. Bukan amarah yang bisa dilihat orang lain. Tapi kegelisahan yang tumbuh perlahan di dalam dadanya, seperti akar yang merambat di bawah tanah, tidak terlihat sampai suatu hari seluruh permukaannya retak. Rasa frustasi yang mulai menggerogoti, membuat jari-jari tulangnya tanpa sadar mengetuk lengan singgasana lebih cepat dari biasanya, satu kali, dua kali, tiga kali, tanpa henti.
Dia berdiri dari Throne of Kings. Langkahnya terdengar berat di atas lantai batu yang dingin, menggema di ruangan yang luas dan kosong. Tidak ada Guardian di sini. Tidak ada pelayan. Hanya dia, dan pikirannya yang terus berputar tanpa henti.
Jika aku tidak bisa mempercayai informasi dari luar, maka aku harus melindungi apa yang ada di dalam. Pikirannya berhenti di situ. Nazarick. Tempat ini adalah satu-satunya yang tersisa dari teman-temanku. Jika sesuatu terjadi di sini...
Dia tidak menyelesaikan pikirannya. Tidak perlu. Sudah terlalu sering dia memikirkannya akhir-akhir ini. Setiap kali dia memejamkan mata, dia membayangkan Nazarick yang kosong, tanpa pengunjung, tanpa kehidupan.
Dia mengaktifkan sihir teleportasi. Tubuhnya menghilang dalam sekejap, meninggalkan ruangan yang kosong.
Great Tomb of Nazarick. Gerbang Utama.
Ainz berdiri di tengah area terbuka di depan pintu masuk makam yang megah, dibangun dari batu hitam yang dipoles sampai mengkilap, dihiasi ukiran-ukiran yang menggambarkan para Supreme Being dalam kemegahan abadi. Di sekelilingnya, monster penjaga berjaga di setiap sudut, diam dan patuh, menunggu perintah yang tidak pernah datang. Mata mereka tidak berkedip, tidak bergerak, hanya menatap lurus ke depan dengan kesetiaan yang mutlak.
Ainz mengangkat tangan kanannya. Mana mulai berkumpul di ujung jari-jarinya, membentuk pola cahaya yang berputar pelan. Ilusi. Lapisan perlindungan tambahan. Jika musuh bisa masuk tanpa terdeteksi, mungkin ilusi bisa membuat mereka tersesat.
Mantra mulai terbentuk. Kata-kata kuno YGGDRASIL keluar dari mulutnya, bergema di udara malam yang dingin, seperti nyanyian yang tidak pernah selesai. Cahaya keperakan menyebar dari tangannya, meluas ke segala arah, mulai menyelimuti seluruh makam.
Tapi sebelum mantranya selesai, sesuatu terjadi.
Sistem Nazarick merespons. Bukan dengan persetujuan, bukan dengan penerimaan, tapi dengan penolakan. Sebuah jendela peringatan muncul di depan wajahnya—sebuah panel transparan dengan huruf-huruf merah yang berkedip tidak stabil, seperti sedang mengalami gangguan. Bukan jendela sihir biasa, tapi jendela sistem, seperti yang dulu dia lihat di YGGDRASIL, seperti yang sekarang jarang muncul di New World.
"Error: Registrasi Data Pengguna Tidak Lengkap."
"Sistem Tidak Dapat Memproses Perintah."
"Konflik Data Terdeteksi di Lantai Dua."
Ainz membeku. Tangannya masih terangkat. Mana masih mengalir di ujung jari-jarinya, berdenyut pelan, seperti sedang menunggu perintah yang tidak jadi diberikan. Tapi mantranya berhenti di tengah jalan, tidak selesai, tidak gagal, hanya menggantung di udara seperti kata-kata yang tidak pernah terucap. Huruf-huruf di jendela peringatan itu terus berkedip-kedip tidak stabil, semakin cepat, semakin tidak teratur, seperti sedang kesulitan memproses sesuatu.
Error. Registrasi data tidak lengkap. Konflik data di Lantai Dua.
Dia menurunkan tangannya perlahan. Cahaya di ujung jarinya padam. Mana yang tadinya mengalir dengan tenang kini seperti berhenti, seperti menunggu jawaban yang tidak datang.
Dia mengaktifkan teleportasi lagi.
Lantai Dua Nazarick.
Ainz berdiri di lorong utama yang menghubungkan ruangan-ruangan di lantai ini. Dinding batu yang sama. Lampu obor yang sama, dengan nyala api yang bergoyang pelan, seperti sedang bernapas. Bau yang sama, bau lembab yang sudah menjadi ciri khas Nazarick, bau batu dan tanah yang sudah berusia ribuan tahun.
Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Dia tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Tidak ada yang terlihat berubah. Tidak ada yang terlihat bergerak. Tapi ada getaran kecil di udara, sangat halus, hampir tidak terasa, seperti sisa-sisa sesuatu yang pernah terjadi di sini dan tidak pernah benar-benar hilang. Di bawah kakinya, lantai batu terasa sedikit lebih hangat dari seharusnya. Di sekitar obor, nyala api bergoyang ke arah yang salah, tidak mengikuti arah angin.
Dia berjalan menyusuri lorong. Langkahnya terdengar pelan di atas lantai batu, bergema di antara dinding-dinding yang sunyi. Di depannya, pintu ruangan Kyouhukou terbuka setengah. Tidak ada yang bergerak di dalamnya, tapi ada bayangan panjang yang jatuh dari balik pintu, bayangan yang tidak memiliki sumber.
Dia masuk.
Ruangan itu kosong. Kyouhukou tidak ada di sini. Mungkin sedang bertugas di tempat lain. Mungkin sengaja menghindari tempat ini setelah kejadian itu. Ainz tidak tahu. Yang dia tahu, di dalam ruangan ini, udara terasa lebih berat, seperti sesuatu yang tertahan di dalamnya, tidak bisa keluar, tidak bisa menghilang.
Di permukaan lantai, ada bekas goresan halus yang tidak dia ingat sebelumnya. Goresan yang membentuk pola, bukan acak, bukan kebetulan. Pola yang mirip dengan bentuk segitiga, dengan sudut-sudut yang saling bertemu di satu titik.
Dia merasakan sisa-sisa mana yang tidak seharusnya ada. Jejak data yang tidak seharusnya tersimpan. Seolah-olah sistem Nazarick masih menyimpan informasi tentang Slamet, tentang kemunculannya di ruangan ini, tentang kematiannya di tangan Albedo. Seolah-olah sistem tidak bisa menghapusnya.
Konflik data. Itu yang tertulis di jendela peringatan tadi. Sistem tidak bisa memproses data anomali. Jadi sistem masih menyimpannya. Sampai sekarang. Di dalam Nazarick.
Dia berdiri di tengah ruangan. Tidak bergerak. Tidak berbicara. Hanya diam, merasakan ketidaknyamanan yang perlahan merayap di tulang-tulangnya yang tidak lagi memiliki daging. Di bawah kakinya, lantai batu terasa sedikit lebih hangat dari sebelumnya, seperti ada sesuatu yang memanas di bawah permukaan.
Jika sistem tidak bisa menghapus data Slamet, apakah itu berarti dia masih ada di sini? Atau apakah itu berarti dia bisa kembali kapan saja?
Cahaya hijau berdenyut di rongga dadanya.
Di Ruang Takhta, Ainz duduk kembali di Throne of Kings.
Jari-jari tulangnya mengetuk lengan singgasana dengan irama lambat, satu kali, dua kali, tiga kali, berhenti, lalu mulai lagi. Di rongga matanya, cahaya merah menyala redup, tidak secerah biasanya, seperti sedang berpikir atau merenung. Pikirannya masih di Lantai Dua. Masih di ruangan Kyouhukou. Masih di jendela peringatan yang muncul di hadapannya.
Error: Registrasi Data Pengguna Tidak Lengkap. Konflik Data Terdeteksi di Lantai Dua. Sistem Tidak Dapat Memproses Perintah.
Dia menghela napas. Suara kering yang bergema di ruangan yang kosong. Di balik topeng, rongga matanya yang menyala menatap ke suatu titik di kejauhan, seperti sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
Jadi, bahkan Nazarick sendiri tidak bisa melupakannya. Sistem makam masih menyimpan jejaknya. Dan selama jejak itu masih ada, selama itu masih tersimpan di dalam sistem, dia bisa kembali kapan saja. Ke tempat yang sama. Ke Lantai Dua. Ke ruangan Kyouhukou.
Cahaya hijau berdenyut lagi. Ditekan lagi. Kembali lagi.
Dia mengepalkan tangannya. Kuku tulangnya menekan telapak tangannya sendiri. Tidak sakit. Tapi sensasinya nyata. Di bawah kuku-kuku itu, ada bekas tekanan yang mulai meninggalkan goresan halus di permukaan tulangnya sendiri.
Dia sudah mati. Aku yakin dia mati. Albedo membunuhnya. Tapi sistem Nazarick masih menyimpan datanya. Sistem Nazarick tidak bisa menghapusnya. Sistem Nazarick menganggapnya sebagai konflik. Seolah-olah dia bukan entitas yang seharusnya mati. Seolah-olah dia adalah bug. Bug yang tidak bisa dihapus. Bug yang akan selalu kembali.
Cahaya di rongga matanya berkedip cepat, tidak stabil, seperti sedang mengalami gangguan sendiri.
Tolong tenangkan aku.
Tidak ada yang menjawab.
*
*
*
Di tenda logistik Holy Kingdom, Slamet sedang mengupas kentang.
Bukan karena dia suka. Tapi karena Neia memintanya membantu persiapan makan malam. Tugasnya sederhana: kupas kentang, potong kecil-kecil, masukkan ke dalam panci. Tidak perlu banyak berpikir. Tidak perlu banyak bicara. Hanya tangan yang bergerak, pisau yang memotong, kentang yang jatuh ke dalam air.
Dia duduk di atas karung goni, pisau kecil di tangan kanan, kentang di tangan kiri. Kulit kentang terkelupas perlahan, jatuh ke lantai tanah yang sudah dipenuhi sisa-sisa kulit lainnya. Di bawah jari-jarinya, kentang terasa dingin dan basah, meninggalkan sisa-sisa pati di kulitnya.
Kakinya masih sakit. Tapi tidak separah kemarin. Mungkin mulai sembuh. Atau mungkin hanya mati rasa. Dia tidak tahu. Tidak peduli.
Di sebelahnya, Neia sedang menulis laporan. Sesekali dia melirik ke arah Slamet, memperhatikan gerakannya yang lambat dan malas.
"Kau tidak pernah bertanya," kata Neia tiba-tiba.
Slamet mengangkat kepala. "Bertanya apa?"
"Tentang apa pun. Tentang perang. Tentang kelompok ini. Tentang apa yang terjadi di luar kamp."
Slamet menggaruk kepalanya. "Gak perlu."
"Kenapa?"
"Gak ada gunanya."
Neia menatapnya beberapa saat. Tidak ada emosi di wajahnya. Tidak ada rasa ingin tahu. Hanya ketidakpedulian yang nyaris sempurna.
"Kau orang yang aneh," kata Neia akhirnya.
Slamet mengangkat bahu. "Sudah sering dibilang."
Dia kembali mengupas kentang. Di bawah jari-jarinya, pisau bergerak lambat, memisahkan kulit dari daging kentang dengan gerakan yang sudah menjadi kebiasaan.
Di luar tenda, salju masih turun.