NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.

​Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Aku berlari kencang menuju parkiran rumah sakit, mengabaikan denyut perih di pipiku dan tatapan orang-orang. Tanganku bergerak cepat menghapus sisa-sisa air mata yang terus mendesak keluar. Di sana, di dekat pembatas jalan, seorang pengemudi ojek daring pesananku sudah menunggu dengan motornya. Tanpa membuang waktu, aku langsung naik ke boncengan.

​"Cepat jalan, Bang. Tolong agak ngebut," pintaku dengan suara serak, setengah berbisik.

​Aku ingin segera pergi. Aku ingin meninggalkan rumah sakit terkutuk ini—tempat yang baru saja menggoreskan luka paling dalam dan paling hina dalam sejarah hidupku. Sepanjang perjalanan, pertahananku runtuh total. Air mataku jatuh bertebaran, tersapu angin jalanan Bandung yang terasa menusuk tulang. Beberapa pengendara lain sempat menoleh ke arahku dengan tatapan bingung dan penuh tanya, namun aku tidak peduli lagi. Rasa sakit dan kehancuran di dalam dadaku jauh lebih menyiksa ketimbang pandangan menghakimi dari orang-orang asing itu.

​Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit yang terasa seperti berjam-jam, motor akhirnya berhenti di depan rumah kos tempatku tinggal. Aku membayar ongkos dengan tangan gemetar, lalu melangkah cepat masuk ke dalam kamar dan langsung mengunci pintu dari dalam.

​Di dalam kesunyian kamar yang sempit, aku bergerak bagai kesurupan. Kukeluarkan koper tua dari kolong tempat tidur dan mulai membereskan barang-barangku. Pakaian, dokumen penting, dan beberapa barang yang benar-benar kuperlukan langsung kujejal masuk tanpa memedulikan kerapiannya. Setelah semuanya terkemas, aku terduduk di lantai, meraba ponselku untuk memesan tiket kapal laut secara daring. Aku sudah membulatkan tekad. Aku akan pulang ke Sulawesi, kembali ke provinsi asalku, tempat di mana aku tidak perlu menjadi istri rahasia siapa pun.

​Dengan tubuh yang teramat lelah dan jiwa yang remuk, aku membaringkan diri di atas kasur busa tanpa seprai. Aku harus istirahat. Besok pagi-pagi sekali aku akan pergi, meninggalkan kota Bandung yang semula menjanjikan harapan, namun justru berakhir dengan kutukan.

​"Ayah, Ibu... maafin Yasita," ucapku lirih di keheningan sore yang berangsur menggelap, menyambut malam. "Yasita belum bisa membanggakan Ayah dan Ibu di rantau."

​Waktu berlalu dalam kegelapan. Tepat jam sebelas malam, kesadaranku yang baru saja terlelap mendadak tersentak oleh suara ketukan keras yang bertubi-tubi di pintu kos. Dengan sisa-sisa kantuk dan kewaspadaan yang tersisa, aku bangkit lalu membuka kunci pintu. Lampu teras kosku mati total karena sambungan kabel dan bohlamnya memang sudah lama rusak, menyisakan kegelapan pekat di luar sana.

​Saat aku mencoba menyipitkan mata untuk memperjelas sosok tinggi besar yang berdiri di hadapanku, orang itu tiba-tiba merangsek maju. Dia mendekap tubuhku dengan sangat erat, lalu tanpa peringatan, dia meraup bibirku dengan berangsur-angsur beringas.

​Aku tersentak syok. Jantungku berdegup kencang karena ketakutan yang luar biasa. Aku berusaha sekuat tenaga melepaskan pelukan dan ciuman kasarnya, namun cengkeramannya sekeras besi. Pada detik yang sama, bau alkohol yang sangat menyengat memenuhi rongga hidungku, membuatku mual dan semakin panik. Aku mencoba berteriak meminta pertolongan, namun dengan cepat pria itu menahan mulutku. Dengan gerakan yang sangat kasar, dia melempar tubuhku ke atas tempat tidur busa di belakangku, lalu dengan gesit berbalik untuk mengunci pintu kamar yang masih terbuka.

​"Siapa kamu?! Keluar! Pergi!" jeritku histeris begitu mulutku terbebas.

​Namun, laki-laki itu tidak mendengarkan. Dia kembali menarik tubuhku, menguncinya di bawah bobot tubuhnya yang berat, lalu menciumku lagi dengan penuh kemarahan. Dalam keadaan terjepit, aku mengumpulkan keberanian dan menggigit bibirnya sekuat tenaga. Rasa asin darah seketika keluar dan mencecap lidahku, namun dia sama sekali tak kunjung melepaskan cengkeramannya, seolah rasa sakit itu justru membakar amarahnya.

​Aku menangis sesenggukan, mendorong dada lebarnya sekuat tenaga, namun usahaku sia-sia belaka. Ciuman pria itu perlahan turun meraba dan menciumi leherku dengan kasar. Dengan tangan yang meraba-raba ke samping kasur di tengah kegelapan, jariku menyentuh sebuah senter kecil. Aku menyalakannya seketika, mengarahkan cahaya terangnya tepat ke wajah pria itu.

​Detik itu juga, duniaku runtuh seruntuh-runtuhnya.

​"Pak Jalal...!" ucapku pelan, membelalak kaget.

​Pria itu menatapku balik. Di bawah sorot lampu senter, kulihat matanya yang memerah padam karena pengaruh alkohol dan amarah. Dengan nada suara yang teramat datar dan dingin, dia berbisik, "Kenapa? Kaget? Bukankah ini malam yang kamu nantikan? Mencoba mendekati saya dan menjebak saya agar kamu bisa merasakan malam pengantin?"

​Aku menggeleng kuat-kuat, air mata semakin deras mengalir. Mengambil kesempatan dari kelengahannya, aku sekuat tenaga menjedugkan jidatku tepat ke arah hidungnya. Pria itu mendesah samar, memegangi hidungnya yang kesakitan. Melihat celah itu, aku bergerak cepat mencoba merangkak menuju pintu untuk membukanya.

​Namun, pria paruh baya itu seolah menjelma menjadi iblis yang tak ingin melepaskan buruannya. Dengan gerakan kilat, dia menangkap kakiku, menarikku kembali ke tengah kasur, dan menciumku lagi dengan kemarahan yang berlipat ganda. Tanpa memedulikan penolakanku, dia membuka paksa piyama tidurku hingga kancingnya terlepas berhamburan. Dia menciumi sekujur tubuhku dengan penuh tuntutan yang merendahkan, sampai akhirnya, dengan keji dia menerobos paksa seluruh pertahanan terakhirku.

​Mahkotaku, hal paling berharga yang kujaga seumur hidup, direnggut paksa malam itu. Dia memasukinya, menggauliku dengan sangat kasar seolah-olah aku ini hanyalah mainan mati yang pantas dikasari tanpa perasaan.

​Aku akhirnya terdiam, lumpuh, dan lemah. Rasa sakit fisik akibat ruda paksanya sama sekali tidak ada seberapanya dibandingkan dengan rasa hancur yang mencabik-cabik hatiku. Air mataku mengalir deras membasahi kasur. Sungguh, walaupun secara hukum agama pria ini sudah sah menjadi suaminya tiga jam yang lalu, namun diperlakukan seperti binatang di malam pertama membuat seluruh jiwaku mati.

​Tak lama kemudian, dia mencapai puncaknya. Pria itu mendesah panjang, menumpahkan seluruh cairannya di dalam tubuhku. Aku hanya bisa tergugu, menangis dalam diam yang paling kelam. Perlahan, dia menjatuhkan tubuhnya, berbaring di sampingku setelah mengecup singkat kedua belah bibirku yang terluka.

​Malam ini adalah malam yang paling menakutkan dan mengutuk hidupku. Setelah semua kehancuran yang kualami dalam satu hari ini, aku benar-benar tidak tahu bagaimana nasib dan masa depanku esok hari.

1
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
semangat kk cantik 👌 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Fitria Syafei
cepat sehat yaa KK cantik 😍 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Ummi Sulastri Berliana Tobing
cepat pulih y Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!