NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:824
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Malam terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan Nayla saja yang membeku perlahan, satu per satu, sejak kalimat itu ia dengar dari balik pintu kamar orang tuanya. Gadis itu meringkuk di atas ranjang dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, seakan kain tipis itu mampu melindunginya dari kenyataan yang terlalu kejam untuk diterima.

Isakannya lirih, nyaris tak terdengar. Tapi rasa sakit di dadanya begitu nyata, seperti ada sesuatu yang merobek perlahan dari dalam.

Ia masih mengenakan seragam sekolahnya. Kemeja putih itu sudah kusut, rok abu-abunya sedikit terlipat, dan rambut panjangnya berantakan tanpa arah. Tidak ada lagi sosok Nayla Arabella yang selalu terlihat sempurna di mata orang lain. Yang ada sekarang hanyalah seorang gadis rapuh yang kehilangan arah.

“Kenapa nasib gue harus kayak gini…?” bisiknya serak.

Tangannya naik, mencengkeram rambutnya sendiri tanpa sadar. Seolah rasa sakit fisik bisa sedikit mengalihkan luka di hatinya.

Namun tidak. Tidak ada yang berubah.

Semua tetap terasa hancur.

Bayangan itu kembali datang.

Suara papanya.

Suara mamanya.

Kata-kata yang seharusnya tidak pernah ia dengar.

“Saya sudah memaafkan kamu, tapi tidak dengan anak itu!”

“Kalau kamu tidak mau anak itu saya musnahkan…”

Napas Nayla memburu.

“Anak itu…”

Itu dirinya.

Dirinya yang tidak diinginkan.

Dirinya yang dianggap kesalahan.

Air mata kembali mengalir deras tanpa bisa ia tahan. Dadanya terasa sesak, terlalu sesak sampai ia harus membuka mulut untuk bernapas.

“Jadi… gue bukan anak papa?” gumamnya pelan.

Kalimat itu terasa asing, tapi juga terlalu nyata untuk diabaikan.

Selama ini… semua perlakuan kasar itu…

Semua bentakan…

Semua hukuman…

Semua rasa sakit…

Tiba-tiba terasa punya alasan.

Dan itu justru membuatnya semakin hancur.

Kalau memang bukan anak kandung kenapa harus disiksa seperti itu?

Kenapa tidak dilepaskan saja?

Kenapa harus dipaksa bertahan di tempat yang jelas-jelas membencinya?

Nayla menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi. Bahunya bergetar hebat, napasnya tersendat-sendat.

Dia sendirian.

Selalu sendirian.

Dan sekarang bahkan rumah yang selama ini ia tinggali pun bukan lagi tempat untuk pulang.

---

Waktu berjalan tanpa terasa.

Entah sudah berapa lama Nayla menangis sampai akhirnya tubuhnya terasa lemas. Air matanya mulai mengering, menyisakan rasa perih di mata dan sakit kepala yang berdenyut.

Ruangan itu sunyi.

Hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar.

Ia melirik ke sekeliling.

Kamar ini masih sama seperti yang ia ingat.

Apartemen milik Marvin.

Tempat yang dulu pernah ia datangi bersama Endra.

Dulu saat semuanya belum serumit ini.

Saat ia masih berpikir bahwa hidupnya memang berat, tapi setidaknya masih punya arah.

Sekarang?

Tidak ada lagi yang jelas.

Tidak ada lagi tempat untuk pulang.

Nayla menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

Tubuhnya bergetar saat ia kembali memeluk lututnya.

“Gue harus gimana sekarang…?”

Tidak ada jawaban.

Tidak pernah ada.

---

Suara kunci pintu terdengar.

Klik.

Nayla langsung terdiam.

Isakannya berhenti seketika.

Ia mengangkat wajahnya dengan cepat, menyeka air mata dengan punggung tangan.

Pintu terbuka.

Dan benar saja.

Marvin.

Laki-laki itu berdiri di ambang pintu dengan wajah datar, tangan masih memegang gagang pintu.

Pandangan mereka bertemu, beberapa detik hanya hening.

Marvin menghela napas pelan sebelum melangkah masuk.

“Gimana keadaan lo?” Suara itu terdengar santai, tapi entah kenapa ada sesuatu yang berbeda.

Nayla tidak menjawab.

Ia hanya menatapnya dengan mata sembab.

Lalu…

“Gue mau pulang.” Suaranya datar. Tanpa emosi.

Marvin berhenti melangkah menatapnya lebih dalam. “Pulang ke mana?” tanyanya pelan.

Nayla mengernyit.

“Emang lo masih punya rumah?”

Kalimat itu seperti tamparan.

Lebih sakit dari apapun.

Nayla terdiam, dadanya kembali terasa sesak.

“Apa maksud lo?” tanyanya pelan, tapi ada getaran di suaranya.

Marvin menghela napas panjang.

“Ini udah malam, Nay. Di luar bahaya buat lo.”

“Marvin!” bentak Nayla tiba-tiba.

Ia berdiri dari tempat tidur, emosinya kembali memuncak.

“Bisa nggak sih lo jangan kayak gini?!”

Marvin mengangkat alisnya sedikit.

“Kayak gimana?”

“Seolah-olah lo peduli!” suara Nayla meninggi.

“Gue tahu lo suka sama gue! Tapi gue udah punya pacar!”

Napasnya memburu.

“Dan pacar gue itu sepupu lo sendiri!”

Marvin terkekeh pelan. “Sepupu jauh,” koreksinya santai.

Sikap santai itu justru membuat Nayla semakin kesal.

“Lo dan dia nggak cocok, Nay,” lanjut Marvin, masih dengan nada tenang.

“Hubungan kalian itu toxic.”

Nayla mengepalkan tangannya.

“Dan lo siapa buat nilai hubungan gue?!”

Marvin mengedikkan bahu.

“Gue? Penengah aja.”

“Siapa tahu lo sadar dan berubah pikiran.”

Ia menatap Nayla lurus-lurus.

“Buat mutusin dia… dan milih gue.”

Hening.

Beberapa detik. “Jangan mimpi!” jawab Nayla tajam.

Tanpa ragu.

Tanpa pikir panjang.

Marvin hanya tersenyum tipis.

Tidak marah.

Tidak tersinggung.

Seolah sudah terbiasa.

“Malam ini lo bisa tidur di sini,” katanya santai.

“Besok terserah lo mau ke mana.”

Nayla menatapnya.

Lelah.

Benar-benar lelah.

“Vin…”

Suara itu lebih pelan sekarang.

Lebih rapuh.

Marvin menatapnya.

“Kenapa lo nggak pernah berhenti sih?”

Tidak ada jawaban langsung.

Hanya tatapan.

Lalu Marvin menghela napas pelan.

“Soal Endra…” katanya pelan.

“Lo tenang aja.”

“Dia nggak akan tahu lo di sini.”

Nayla terdiam.

Dadanya berdebar.

“Karena gue nggak akan kasih tahu dia,” lanjut Marvin.

Ia berhenti sejenak.

Menatap Nayla dalam-dalam.

“Kecuali…”

“Lo nekat pergi dari sini.”

Hening lagi.

Nayla menelan ludah.

“Endra bakal marah sama lo,” katanya pelan.

Marvin tersenyum miring.

“Dia bakal marah sama gue atau sama lo?”

Pertanyaan itu menggantung dan Nayla tidak bisa menjawab. Karena dia tahu jawabannya.

Ia menunduk.

Diam.

Marvin memperhatikannya beberapa detik.

Lalu berbalik.

“Gue di kamar sebelah,” katanya.

“Kalau butuh apa-apa panggil aja.”

Tanpa menunggu jawaban, ia keluar dari kamar.

Pintu tidak dikunci.

Langkahnya menjauh.

Dan Nayla kembali sendirian.

---

Sunyi.

Lagi.

Selalu begitu.

Nayla menatap pintu yang sudah tertutup.

Lalu perlahan tubuhnya kembali jatuh ke atas ranjang.

Ia menatap langit-langit.

Kosong.

Pikirannya berputar.

Tentang rumah.

Tentang papa.

Tentang mama.

Tentang Endra.

Tentang Marvin.

Tentang dirinya sendiri.

Semuanya terasa rumit.

Semuanya terasa berat.

“Kalau gue pergi… gue mau ke mana?”

Pertanyaan itu kembali muncul.

Dan lagi-lagi…

Tidak ada jawaban.

Ia memejamkan mata.

Menarik napas panjang.

“Setidaknya… di sini gue aman…”

Kalimat itu terdengar aneh.

Karena tempat ini milik Marvin.

Orang yang seharusnya ia hindari.

Orang yang seharusnya ia benci.

Tapi…

Malam ini…

Di tengah kekacauan hidupnya…

Tempat ini justru terasa seperti satu-satunya tempat yang bisa ia singgahi.

Meski sementara.

Meski tidak benar-benar nyaman.

Tapi cukup untuk bernapas.

Untuk berhenti sejenak.

Untuk tidak disakiti.

Air mata kembali mengalir, tapi kali ini lebih pelan.

Lebih tenang.

Nayla memeluk dirinya sendiri.

“Mungkin… gue capek…”

Sangat capek.

Dengan semuanya.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia tidak ingin memikirkan apapun lagi.

Tidak tentang keluarga.

Tidak tentang Endra.

Tidak tentang masa depan.

Hanya diam dan bertahan.

Sampai esok datang.

Meski ia tidak tahu apa yang akan menunggunya di sana.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!