"Namaku Rara..... Rara.... bukan Khanza. Jangan panggil aku dengan nama jelek itu!" kata Rara emosi ketika orang rumah memanggilnya dengan nama Khanza.
Dia sangat membenci nama itu. Bukan hanya nama itu, tapi juga orang yang telah memberinya nama itu, yaitu Sahreza Gracio kakak sepupunya.
Khanza Ghaniya adalah nama yang di berikan oleh Gracio sejak dia dalam kandungan ibunya. Sebenarnya Rara sangat suka dengan nama itu. Tapi karena kebenciannya pada Cio membuat dia tidak suka nama itu.
Cio pergi ke Eropa untuk melanjutkan studi di sana membuat mereka berpisah. Rara berjanji akan menunggu Cio kembali. Cio juga meminta Rara untuk menunggunya pulang. Meski jauh, hubungan cinta dan kasih sayang persaudaraan di antara mereka tetap terjalin.
Tapi seiring berjalannya waktu Gracio melupakannya. Hal itu membuat Rara benci Gracio dan mengganti namanya dengan Rai Rara.
12 tahun berlalu keduanya di pertemukan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Pendekatan
Happy reading!
Setelah ziarah ke makam Artawijaya, Edgar masih menyempatkan diri berbincang dengan Ara dan Rafa. Nesa sudah pamit karena ada pekerjaan penting.
Pembicaraan yang Awalnya hanya membahas tentang pekerjaan, perlahan di alihkan Edgar pada Cia. Karena dia merasa tertarik dengan wanita itu.
Rafa yang sudah tahu penolong Cia adalah Edgar mengucapkan terimakasih pada pria matang itu. Meski tak di beri tahu, Rafa selalu tahu apa yang terjadi pada putra putrinya. Rafa mengetahui informasi itu dari orang orangnya.
Edgar sendiri kaget saat Rafa tahu bahwa dia penolong Cia dari perlakuan bejad Boby. Dia tidak menyangka Rafa tahu akan hal itu.
"Daddy, Ante.... Cia mau ke butik." kata Cia yang muncul tiba tiba di depan mereka.
Ketiganya langsung menoleh pada gadis itu.
"Ke butik?" tanya Rafa kembali. Ara juga menatap heran. Ini pertama kalinya Cia mau pergi ke butik atas kemauan sendiri setelah sekian lama menolak ketika di ajak Nesa dan dirinya untuk mengurus usaha bisnis yang ditinggalkan Maya untuk gadis ini.
"Iya Daddy. Cia pikir sudah saatnya Cia turun tangan untuk mengelola dan mengurus sendiri usaha usaha bisnis nenek!"
Rafa dan Ara tersenyum saling berpandangan.
"Bukan usaha bisnis nenek sayang. Tapi punya dirimu. Semua usaha itu punya mu." ujar Ara senang mendengar keputusan Cia.
"Itu bagus sayang." sambung Rafa ikut senang.
"Ante senang dengarnya. Minta sopir untuk mengantar mu! Jangan pergi sendiri." pungkas Ara. Khawatir terjadi sesuatu yang buruk lagi pada Cia seperti semalam di bali. Meski Cia menyembunyikannya, Rafa tahu kejadian semalam.
Cia mengangguk. Dia mendekati Rafa dan Ara. Mencium tangan keduanya.
"Tuan Ravendro, kalau di izinkan biar saya yang akan mengantar putri anda. Kebetulan saya juga mau ke kantor." sela Edgar yang sejak tadi menatap Cia dan mendengarkan percakapan mereka. Dia menawarkan diri untuk melakukan pendekatan dengan Cia agar bisa lebih mengenal gadis yang telah memikat hatinya ini.
"Apa tidak merepotkan anda?" tanya Rafa.
"Tentu saja tidak." kata Edgar segera.
"Sayang, pergilah bersama tuan Edgar. Daddy harap kau tidak akan menolak kebaikannya!" Rafa menoleh pada Cia.
"Tante juga setuju. Kau akan aman bersama tuan Edgar." timpal Ara. Mengingat berulangkali Edgar menyelamatkan Cia.
Cia melihat Edgar sejenak.
"Baik Daddy." katanya tak bisa menolak keinginan ante dan Daddynya.
Edgar tersenyum senang. Dia segera bangkit. Bersalaman dengan Rafa dan Ara.
"Titip Cia ya tuan Edgar?" kata Ara pada Edgar seraya menyentuh lengan kekar pria itu.
"Tentu saja. Saya pastikan putri anda sampai dengan selamat tak kurang apa pun ke tempat tujuannya!"
"Terimakasih sebelumnya tuan Edgar." ucap Rafa menepuk pundaknya.
"Tuan dan nyonya Artawijaya, jangan memanggil saya se formal itu. Panggil saja Edgar. Saya merasa nyaman jika anda berdua menyebut nama saya saja."
Rafa dan Ara tersenyum.
"Kalau begitu kau pun bisa memanggil kami Om dan Tante, karena kami pun merasa nyaman di panggil dengan sebutan itu." pungkas Ara.
Edgar tertawa kecil.
"Dengan senang hati Om...tante. Itu akan membuat kita semakin dekat dan terasa seperti keluarga." katanya seraya melirik pada Cia yang hanya diam memperhatikan percakapan basa basi mereka.
"Ya sudah, lebih baik kalian pergi. Hati hati di jalan!" kata Rafa. Dia mendekat pada Cia. Memegang wajah gadis itu.
"Sayang, mulailah hidup yang baru, membuka lembaran baru dengan semangat yang baru penuh percaya diri. Lupakan yang telah lalu, lihatlah kedepan, ada banyak kebahagiaan yang menanti mu. Masih banyak orang baik yang sayang dan mencintai mu." ucap Rafa.
Cia tersenyum mengangguk.
Rafa mencium keningnya dan memeluk sesaat.
"Daddy menyayangi mu!"
"Aku juga sayang Daddy dan Ante!" kata Cia membalas pelukan Rafa.
Ara juga melakukan hal yang sama. Memeluk dan mencium kening Cia lembut.
Edgar menatap mereka dengan takjub. Suatu pemandangan yang indah.
Keduanya segera pamit meninggalkan kedua pasutri itu.
Dalam perjalanan.
Edgar menyetir dengan tenang. Sesekali dia menoleh pada Cia yang duduk diam menatap ke depan. Gadis ini lebih banyak diam dengan wajah yang murung. Mungkin saja karena trauma dengan kejadian buruk yang menimpanya.
"Mengenai kejadian semalam....!" kata Edgar memecah kesunyian di antara mereka.
"Terimakasih sudah menyembunyikan kejadian semalam dari Daddy dan Ante Ara." Cia memangkas ucapannya. Dia menoleh pada Edgar.
"Menyembunyikan? Tuan Rafa sudah mengetahui kejadian yang menimpamu Nona. Aku bahkan belum mengatakan sekatah pun padanya." batin Edgar.
"Siapa dia?" Edgar bertanya tentang Boby. Meski dia sudah tahu pria itu mantan pacar Cia yang tidak terima di putuskan sepihak.
"Siapa?" dahi Cia mengerut tak mengerti pertanyaan Edgar.
"Pria semalam yang melakukan pelecehan padamu untuk ke dua kali?"
Cia membuang nafas kasar. Wajahnya langsung berubah muram.
"Bukan siapa-siapa. Tolong jangan di bahas."
"Baiklah Nona....!"
"Cia.... namaku Cia!"
"Nona Cia.... Graciana Putri Aditama. Nama yang indah!" ucap Edgar tersenyum manis.
Cia menoleh padanya. Pria ini tahu nama lengkapnya. Mungkin dari Daddy dan Ante, batinnya.
"Kenapa kau ingin menyembunyikan kejadian semalam dari tuan Rafa? Seharusnya mereka harus tahu."
"Aku tidak ingin membuat mereka dan juga mama khawatir terus menerus mencemaskan diriku. Dari kecil mereka mengurus aku dengan penuh kasih sayang. Hingga aku besar seperti sekarang ini masih saja menyusahkan mereka. Merepotkan mereka, membuat mereka selalu cemas." kata Cia seraya menghadap kembali pada Edgar. Lalu menoleh kembali ke depan.
"Itulah orang tua. Mereka tidak akan pernah bosan, lelah dan mengeluh untuk mengurus anak anaknya. Mereka bahkan rela melakukan apapun untuk anak anaknya." kata Edgar.
Cia mengeluh sedih.
"Iyah...anda benar!" ucapnya lirih.
"Tapi aku tahu kamu anak yang baik. Kejadian buruk yang terjadi pada dirimu bukan sesuatu yang kau minta. Jadi jangan menyalahkan dirimu. Seperti kata tuan Rafa, lanjutkan hidup mu kembali. Masih banyak kebahagiaan yang menanti dirimu kedepannya. Lupakan hal hal yang membuat dirimu sakit. Berjalan kembali untuk mencari kebahagiaan yang baru."
Cia mendesah sedih.
"Aku bukan sedih dengan takdir perpisahan dari suatu hubungan yang telah ku jalani sekian lama. Tapi aku menyesali dan menganggap diriku paling bodoh karena menambatkan hati dan cintaku pada hati yang salah. Menaruh harapan pada orang yang salah. Aku terlalu buta dan bodoh menilai mana hati yang jujur dan tulus! Aku......!"
"Dia yang tidak pantas untuk mu. Tidak pantas mendapatkan dirimu. Dan tuhan mengakhiri hubungan kalian dengan memperlihatkan keburukannya. Betapa tidak berharganya dirinya, betapa hina dirinya dan tidak pantas untuk dirimu." Edgar memotong ucapannya.
Cia melihat kepadanya.
"Jangan pernah menyalahkan dirimu, jangan mengatai dirimu buruk. Dan jangan mengeluarkan air mata untuk nya. Air mata mu terlalu berharga untuk pria bejad seperti dirinya." lanjut Edgar.
Cia terisak. Dia menyapu air mata di pipinya.
Edgar mengambil tissue dan di serahkan padanya. Cia segera menerima dan melap air matanya. Dia semakin terisak. Perasaan menyesal berhubungan dengan Boby. Dan lebih merasa sangat bersalah pada Rafa yang dulu memperingatkan dirinya kalau pria itu bukan lelaki baik. Tapi dia tidak perduli dan tetap memilih Boby sebagai kekasihnya, menerima Boby dan melanjutkan hubungan mereka. Tapi ternyata pria itu lelaki brengsek tak punya hati dan perasaan. Mengumbar cinta dan rayuan manis pada banyak wanita hanya untuk menyalurkan hasrat birahinya.
Cia semakin terisak. Suara tangisnya pecah. Tangisan kesedihan yang di pendam selama dua minggu ini karena tidak ingin di perlihatkan pada Nesa, Ara dan juga Rafa.
Edgar menepikan mobil. Kembali memberi tissue pada Cia. Membiarkan wanita itu mengeluarkan segala beban kesedihan dan emosi yang menghimpit jiwanya.
Reflek saja satu tangannya mengusap kepala Cia karena tidak tega melihat air mata dan mendengar suara tangisan gadis itu.
10 menit berlalu, emosi Cia mulai stabil. Suasana hatinya mulai membaik. Tak terdengar lagi tangisan maupun isakan. Cia menyapu sisa air matanya, membuang nafas berulang kali.
"Sudah tenang?" tanya Edgar memperhatikan dari samping.
Cia mengangguk.
Edgar kembali melanjutkan perjalanan.
"Tuan.....!" panggil Cia, tapi ucapannya di potong Edgar.
"Kita hanya berdua. Sebut saja Edgar." sela Edgar tersenyum.
Cia menoleh padanya.
"Tapi aku belum terbiasa...."
"Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri." kata Edgar kembali "Ada apa?"
"Kok anda bisa kenal dengan paman Raka, Ante Ara dan Daddy? anda Juga datang ke rumah kami?!" tanya Cia.
Edgar kembali tersenyum menoleh sesaat pada dirinya. Melihat wajah sembab tapi manis.
"Mereka orang baik, sudah pasti banyak orang yang mengenal dan merindukan kebaikan mereka!"
Dahi Cia mengerut melihatnya. Ya, dia tahu orang tua dan almarhum pamannya memang sangat baik pada semua orang.
"Apa kau ingin tahu?" tanya Edgar masih tersenyum melihat wajah penasaran Cia.
Edgar menepikan mobil karena mereka telah sampai di tempat tujuan Cia. Dia menatap wajah gadis itu. Cia mengangguk.
"Aku akan mengatakan di pertemuan kita nanti." katanya penuh arti.
Kedua alis Cia terpaut mendengar ucapannya. Cia ikut menatapnya.
"Kita sudah sampai." Edgar menunjuk bangunan megah dan besar berlantai empat, yang merupakan butik Cia.
Cia tergagap, dia menoleh pada bangunan itu. Benar, mereka telah sampai dan dia tidak menyadarinya. Cia segera memakai tas selempangnya. Edgar kembali tersenyum melihatnya.
"Terimakasih sudah mengantarku." ucap Cia.
Edgar mengangguk.
"Sama sama." katanya.
Cia hendak membuka pintu mobil, tapi lengannya di tahan Edgar. Cia kaget.
Edgar mendekat lalu menjulurkan tangannya ke wajah Cia.
Cia menarik mundur tubuhnya.
Untuk selanjutnya kedua tangan kekar itu memperbaiki rambutnya yang berantakan. Cia kembali di buat kaget.
"Semangat untuk hari pertama mu bekerja!" ucap Edgar menatapnya.
Cia menatapnya dengan debaran jantung tak beraturan. Lalu mengangguk pelan. Edgar membuka pintu mobil Cia kebelakang.
"Tu-tuan.... untuk bantuan anda semalam dan juga yang dulu, sekali lagi saya mengucapkan terimakasih." kata Cia gugup, karena jarak mereka yang dekat. Edgar belum memundurkan tubuhnya.
"Selain terimakasih, apa tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan?" tanya Edgar.
Cia kembali melihat kepadanya, membuat mereka saling menatap dekat.
"Apa yang anda inginkan?" tanya Cia.
Edgar tersenyum. Dia mundur mengambil ponselnya.
"Berapa nomor mu?" tanyanya.
"Untuk apa?" wajah Cia mengernyit.
"Katakan saja."
Ragu dan tidak mengerti, Cia menyebut nomor teleponnya.
Edgar segera menyimpan ke kontak teleponnya.
"Yang ku inginkan akan ku beri tahu nanti." katanya kemudian kembali tersenyum. Senyum sangat manis membuat hati Cia deg degan.
Cia menelan ludah lalu membuka pintu mobil karena tidak ingin bertatapan terlalu lama dengan pria matang ini. Dia turun perlahan.
"Sampai jumpa lagi." Edgar melambaikan tangan.
Cia hanya menatap, lalu segera berbalik melangkah ke butik. Sesekali dia menoleh ke belakang melihat mobil Edgar yang belum pergi. Senyum manis dari wajah tampan itu masih terlihat dari balik pintu mobil. Setelah dirinya masuk, barulah mobil mewah itu di lihatnya pergi.
*****
Dukung ya 😘
semoga sehat& semuanya baik-baik saja author nya
Aamiin