Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Infomasi dari Paman Gu
keesokan pagi nya, Lin Fan terbangun dengan rasa lapar yang luar biasa. Perutnya berbunyi seperti guruh, mengisyaratkan bahwa Teknik Tubuh Naga Chaos Primordial telah membakar cadangan energi tubuhnya hingga habis untuk membangun ulang struktur tubuh.
Lin fan segera memakan seluruh sisa bubur jagung di dapur tersisa bekas kemaren, bahkan menjilati mangkuknya bersih.
Nyonya Lin terkejut melihat nya.
"Fan'er? Kau... kau makan sebanyak itu?" tanya ibunya tercengang, melihat piring-piring kosong yang menumpuk. "Apakah kau sakit nak?"
"enggak, Bu," jawab Lin Fan sambil mengelap mulutnya, wajahnya bersinar sehat. "Tubuh sedang dalam masa pertumbuhan. tentu butuh banyak makanan. setelah ini ibu jangan khawatir. Aku akan cari banyak makanan"
Nyonya Li tampak bingung namun lega melihat warna wajah anaknya yang kini merah merona, bukan pucat pasi seperti sebelumnya. "Ya sudah lah. Asal kau tidak sakit. Ibu sangat senang."
Setelah meyakinkan ibunya, Lin Fan bergegas menuju perpustakaan klan. Ia membawa serta sebuah kotak kayu kecil berisi sisa Air Spirit Murni sebagai "hadiah" atau mungkin suap halus untuk mendapatkan informasi.
Perpustakaan masih sepi. Debu menari-nari dalam sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela tinggi. Paman Gu sedang duduk di kursi goyang tua di sudut ruangan, membaca gulungan kulit yang sudah sangat usang. Sapu lidinya tergeletak di sampingnya.
Lin Fan berjalan mendekat dengan langkah ringan. Namun, sebelum ia sempat berbicara, Paman Gu sudah mengangkat kepalanya. Mata tua itu tidak lagi terlihat mengantuk atau linglung. Tatapannya tajam, menusuk, seolah-olah bisa melihat langsung ke dalam sumsum tulang Lin Fan.
"Berhenti bocah, Kau bau," kata Paman Gu datar.
Lin Fan terhenti. "Maaf, Paman. saya lupa mandi habis latihan"
"bukan bukan," potong Paman Gu, menutup gulungannya. "maksud ku, Kau bau perubahan. Tulangmu terlihat kokoh. terus darahmu mendidih. Dan juga. Eeee,, ada jejak energi kuno yang sangat berbahaya di jiwamu."
Jantung Lin Fan berdegup kencang. Dia tahu. Teknik Tubuh Naga Chaos meninggalkan residu energi yang unik, sulit disembunyikan dari ahli sejati. Apakah pria tua ini akan melaporkannya? Apakah ini jebakan?
Lin Fan tetap tenang. Ia meletakkan kotak kayu kecil di atas meja di depan Paman Gu. "ini paman. Ini yang kutemukan di hutan kabut. Air murni dari sumber tersembunyi".
"Mungkin Paman ingin mencicipinya untuk menyegarkan tenggorokan saat membaca buku-buku tua ini."
Paman Gu melirik kotak itu, lalu menatap Lin Fan lagi. Senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibirnya. Ia membuka kotak itu, mengendus isinya, dan matanya sedikit melebar.
"Air Spirit Tingkat Menengah? Dari gua tebing utara?" gumamnya. "Kau beruntung tidak mati karena serigala, atau karena keserakahanmu menyerap terlalu banyak sekaligus."
"hehe tenang paman, Saya hanya mengambil sedikit aja kok," jawab Lin Fan jujur. "Sisanya untuk Paman."
Paman Gu tertawa pendek, suara parau yang terdengar seperti batu bergesekan. "Kau licik, anak muda. ini nama nya menyogok, kau ingin aku diam kan?"
Hehehe...Lin Fan tidak menyangkal
"paman. Saya membutuhkan pengetahuan. Bukan penghakiman. Dan saya tahu Paman bukan orang yang akan melaporkan hal-hal sepele kepada Dewan Klan."
Paman Gu menatapnya lama. Akhirnya, ia mengangguk pelan. "benar. Aku tak peduli pokitik klan. Aku peduli bakat anak muda seperti mu. Teknik yang kau gunakan semalam... itu bukan dari kitab-kitab di perpustakaan ini kan. Itu teknik kuno. Sangat kuno. Bahkan berbahaya bagi tubuh remaja."
"Apa Paman mengenalnya?" tanya Lin Fan, mencoba memancing informasi.
Paman Gu menggeleng. "tidak juga. Tapi aku pernah melihat jejak serupa dalam catatan sejarah Klan Zhao seratus tahun lalu. Seseorang mencoba meniru kekuatan naga, dan tubuhnya hancur berkeping-keping. Kau berbeda. Tubuhmu bisa bertahan. kau lebih mirip monster tua daripada bocah nakal."
Lin fan Terkejut tak bisa berkata kata
Lalu paman Han, mengambil sapunya, dan mulai menyapu lantai dekat kaki Lin Fan.
"dengar bocah. Ujian Akademi minggu depan bukan hanya tes kekuatan. tapi ada tiga tahap:
Tes Fisik: Menghancurkan target dan mengukur kecepatan.
Tes Teori: Menjawab pertanyaan tentang meridian, alkimia, dan sejarah.
Tes Mental: Masuk ke Ruang Ilusi untuk menghadapi ketakutan terbesar dirimu."
Lin Fan mencatat setiap kata. Tes fisik dan teori ia yakin bisa dilewati dengan persiapan saat ini. Tapi Tes Mental? Itu adalah variabel yang tidak pasti.
"Ruang Ilusi?" tanya Lin Fan.
"benar," kata Paman Gu.
"itu Alat kuno peninggalan pendiri kota. alat itu akan menggali trauma masa lalumu. Bagi kebanyakan orang, itu adalah mimpi buruk masa kecil"
"Bagi kau... dengan jiwa setua itu... aku penasaran apa yang akan di tunjukan alat itu."
Lin Fan mengerutkan kening. Jiwa lamanya penuh dengan perang, pengkhianatan, dan kematian. Jika alat itu menyentuh memorinya sebagai Kaisar, bisa jadi alat itu rusak, atau ia akan terjebak dalam ilusi yang tak berujung.
"Paman, apa ada cara untuk melatih ketahanan mental?" tanya Lin Fan.
Paman Gu berhenti menyapu. Ia menatap Lin Fan dengan serius.
"Ada satu buku di rak paling atas, bagian terlarang.
Judulnya 'Sutra Ketenangan Jiwa Kosong'.
Isinya bukan teknik kultivasi, melainkan meditasi untuk membersihkan pikiran dari emosi berlebih. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi buku itu dikutuk. Siapa pun yang membacanya tanpa dasar mental yang kuat akan menjadi gila." Paman Gu mencondongkan tubuh, bisiknya terdengar jelas.
"Kau yakin jiwamu cukup kuat untuk menahan kehampaan?"
Lin Fan tersenyum. Kehampaan? Ia telah hidup dalam kehampaan kekuasaan selama ribuan tahun. Ia telah kehilangan kemanusiaannya berkali-kali. Membaca buku tentang kekosongan jiwa baginya seperti membaca manual instruksi mesin cuci.
"Di mana bukunya, Paman?"
Paman Gu menatapnya sejenak, lalu menunjuk ke arah tangga spiral besi di ujung ruangan. "Rak ketiga dari atas, pojok kanan belakang. Kunci lemari ada di bawah pot bunga di meja kerjaku. Ambil saja"
"Tapi ingat... jika kau mulai berteriak-teriak tentang 'kerajaan yang runtuh' atau 'pasukan juta-an', aku akan menganggapmu gila dan mengunci kamu di sini." Camkan itu
Lin Fan membungkuk hormat. "Terima kasih, Paman. Kau penyelamatku."
"Sudah sudah Pergi sana," gerutu Paman Gu, kembali ke kursinya.
"Dan juga bawa pulang sampahmu ini. Aku tidak mau perpustakaan ini bau ikan asin dari keringat latihanmu."
Lin Fan mengambil kunci, membuka lemari terlarang, dan menemukan gulungan kulit hitam pekat. Saat tangannya menyentuhnya, hawa dingin menusuk jari-jarinya. Ini dia. Kunci untuk menaklukkan Tes Mental.
Saat ia berbalik untuk pergi, Paman Gu memanggilnya sekali lagi.
"Lin Fan."
Lin Fan menoleh.
" ingat Jangan remehkan Lin Hao. Dia mungkin bodoh dan sombong, tapi dia didukung oleh Cabang Utama. Dan juga Cabang Utama memiliki akses ke pil dan senjata yang tidak kau miliki. jika kau di hukum secara klan kau bisa apa."
Lin Fan mengangguk. Nasihat itu valid. Ia butuh lebih dari sekadar kekuatan; ia butuh perlindungan hukum atau setidaknya saksi yang netral.
" terimakaasih. Selanjut nya Aku akan berhati-hati."
Lin Fan keluar perpustakaan dengan gulungan hitam di balik bajunya. Langit biru cerah di atas kepala, tapi badai politik di dalam klan semakin mendekati puncak.
Ujian Akademi tinggal enam hari lagi. Dan Lin Fan sekarang memiliki senjata terakhir: ketenangan jiwa yang mutlak.
* Bagaimana Lin Fan akan menggunakan Sutra Ketenangan Jiwa Kosong? Apakah dia akan berhasil menguasai tes mental? Dan bagaimana Lin Hao akan mencoba sabotase di tahap fisik atau teori?*
Cari tau di Bab berikut nya.