Setelah menerima donor mata dari kakak nya, Kanaya terpaksa harus menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi kakak ipar nya sendiri, karena sang kakak meningal akibat kecelakaan yang di sebabkan oleh nya.
Kanaya adalah seorang gadis buta yang berusia dua puluh dua tahun, sejak kecil dia hanya tinggal dengan ibu dan kakak nya, "Aurel" sementara ayah nya sudah meninggal sejak Kanaya masih kecil.
Aurel yang seminggu lagi hendak melangsungkan pernikahan malah meningal karena menyelamatkan Kanaya adik nya yang hampir tertabrak mobil saat hendak menyebrang jalan.
Samuel yang kecewa terpaksa menikahi Kanaya atas permintaan terakhir Aurel, meskipun dia cukup membenci Kanaya karena Kanaya adalah penyebab meningal nya Aurel.
Bagaimana kisah Kanaya dan Samuel yang menikah karena unsur keterpaksaan? Bagaimana perlakuan Samuel kepada Kanaya wanita yang sangat dia benci ini? Ayo baca kisah mereka di sini bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
"Kau tidak berniat untuk menjawab pertanyaan ku barusan?" tanya Samuel lagi sambil menatap wajah bingung Naya.
"Bu ... Bukan begitu, tapi mengapa kakak, maksud ku tuan muda mengapa anda begitu penasaran dengan gantungan kunci itu?" tanya Naya dengan gugup.
"Kau tidak mencuri nya dari seseorang kan?" tanya Samuel lagi, dia malah menuduh Naya mencuri benda tersebut dari seseorang.
Mendengar ucapan itu, hati Naya terasa memanas karena segitu rendah nya Samuel melihat dirinya bahkan sampai menuduhnya mencuri.
"Aku mendapat kan nya dari teman kecil ku, makanya aku menyimpan nya sampai sekarang," ucap Naya seketika langsung mengatakan hal sebenarnya karena tidak ingin Samuel menuduhnya mencuri.
Wajah Samuel berubah, dia memegang lengan Naya lalu kemudian memutar balik tubuh Naya sehingga membelakangi dirinya.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Naya hendak berbalik, namun Samuel menahan Naya untuk tetap membelakangi nya.
Dengan cepat Samuel menyingkirkan rambut panjang Naya yang tergerai menutup pundak itu.
Terlihat sebuah bekas luka di pundak Naya yang seperti nya terkena goresan sesuatu namun bekas luka tersebut sudah cukup lama.
"Kau?"
Mata Samuel membulat menatap luka tersebut, bibir nya sedikit bergetar seolah tak percaya atas apa yang di lihat nya saat ini, tangan nya yang memegang pundak Naya terasa cukup dingin.
Menyadari Samuel yang melihat bekas luka di pundak nya itu, Naya pun buru-buru berbalik dan membenarkan rambut nya, untuk kembali menyembunyikan luka tersebut.
"Mengapa kau melihat pundak ku?" ucap Naya marah.
Merasa Samuel yang semakin semena-mena memperlakukan nya, Naya pun kesal karena sebelumnya Samuel mengucapkan bahwa dia tidak akan menyentuh Naya sembarangan. Tidak kuasa menatap Samuel, Naya pun berjalan cepat meninggalkan Samuel sendirian karena merasa tingkah laku Samuel yang cukup aneh.
Sementara itu Samuel masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat tadi, seketika bayangan masa lalu kembali terlintas di benaknya.
Flashback on
Sepuluh tahun yang lalu.
"Berikan es krim itu, itu milikku, kenapa kalian begitu jahat? Kalian bisa meminta ibu kalian untuk membeli nya, jadi kembalikan itu padaku," ucap seorang anak laki-laki tinggi nan kurus.
"Anak kecil kau mau es krim ini ya? Haha jangan mimpi, aku akan membuangnya!" Ucap dua orang anak laki-laki yang jauh lebih dewasa dari pada anak laki-laki pemilik es krim tersebut.
Pagi itu Samuel yang masih berusia tiga belas tahun meminta ijin kepada mama nya untuk keluar jalan-jalan ke taman, di karena kan sedang libur sekolah.
Namun setelah membeli es krim dia malah di hadang dua orang yang lebih dewasa darinya, mereka mengambil sepeda dan juga es krim yang dia beli serta mengolok-olok nya, Samuel yang notabene nya anak orang kaya di komplek itu selalu di benci oleh teman-teman nya yang kurang mampu karena mereka iri dengan Samuel, meskipun saat itu dia berusia tiga belas tahun, Samuel adalah anak manja yang lemah dan penakut.
"Berikan es krim dan sepeda ku, aku mau pulang, hiksss ... Hiksss, " ucap Samuel sambil menangis.
Namun pada saat itu Naya juga ada di taman sedang duduk dan membaca buku, dia selalu datang ke taman ketika libur sekolah dan membawa buku, karena di rumah dia tidak akan bisa belajar maka dia memilih taman sebagai tempat belajar nya.
"Ada suara orang menangis? Di mana ya?" ucap Naya menutup bukunya lalu kemudian berdiri dari duduknya dan melihat sekeliling taman.
Tidak menemukan siapapun yang menangis, Naya pun keluar dari taman sambil membawa buku nya dan berjalan menyusuri jalan keluar taman.
Akhirnya Naya melihat ada seorang anak laki-laki yang saat ini sedang di buli oleh dua orang remaja.
"Astaga, remaja-remaja itu benar-benar kembali bertingkah," ucap Naya bergegas menghampiri mereka dengan berlari kecil.
Tidak butuh waktu lama, Naya pun tiba di dekat Samuel yang sudah menangis.
"Hey! Mengapa kalian menganggu nya?" tanya Naya menunjuk dua orang anak remaja tersebut dengan tatapan galak nya.
"Seperti nya ada pahlawan kesiangan nih," ucap mereka melepaskan es krim yang mereka pegang dan menginjak nya hingga hancur.
"Hey! Kalian keterlaluan!" ucap Naya sambil menunjuk salah satu anak laki-laki remaja yang menginjak es krim tersebut.
"Apa? Mau marah? Kau itu hanya bocah perempuan yang sok pahlawan, berani-berani nya kau ikut campur urusan kami," ucap mereka yang kemudian mendorong Naya yang sedang melindungi Samuel di belakang nya.
Karena dorongan itu, Naya pun jatuh dan pundak nya terkena goresan batu yang ada di pinggir jalan tersebut hingga berdarah, meskipun luka itu kecil tapi cukup dalam.
"Astaga, sakit sekali," ucap Naya mengeluh kesakitan sambil memegang pundak nya, dia bahkan tidak menyadari kalau pundak nya berdarah.
Samuel yang melihat itu pun kaget dan berhenti menangis lalu kemudian menghampiri Naya,
"Kau berdarah, pundak mu berdarah," ucap Samuel membantu Naya berdiri.
Sementara itu dua orang anak laki-laki remaja tersebut bergegas kabur karena takut dan kebetulan penjaga taman pun datang menghampiri mereka.
"Sakit sekali," lirih Naya memegang pundak nya.
"Ada apa ini?" tanya penjaga taman dengan tergesa-gesa menghampiri mereka.
"Pak tolong dia, dia jatuh," ucap Samuel dengan wajah khawatir dan penuh rasa bersalah.
"Astaga kau anak nya Bu Rona kan? Ayo cepat aku antar pulang, ayah mu tadi sudah mencari mu," ucap penjaga taman tersebut buru-buru menggendong Naya dan meninggalkan taman.
Sementara itu Samuel tidak sempat mengatakan apapun karena Naya sudah keburu di bawa pulang oleh penjaga taman tersebut.
"Yah, aku tidak sempat berterima kasih dengan nya, semoga dia baik-baik saja," batin Samuel yang kemudian mengambil sepeda nya dan kemudian mengayuhnya pelan menuju rumah.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Samuel kembali ke taman untuk mencari gadis kecil yang menolong nya itu.
"Bagaimana aku bisa mencarinya ya? Aku tidak tau nama nya," ucap Samuel berkeliling di sekitar taman hanya untuk mencari Naya, sosok yang menjadi pahlawan nya.
Rasa salut dan kagum Samuel tak bisa membuat dia melupakan begitu saja, bagaimana Naya dengan beraninya membantu dirinya menghadapi dua orang jahat itu.
"Apa kau mencari ku?" ucap seseorang yang tiba-tiba memegang pundak Samuel yang tengah kebingungan.
Samuel yang mengenali suara itu pun sontak membalikkan badan dan alangkah bahagianya dia saat melihat gadis kecil nan cantik itu ada di belakang nya dan tersenyum manis.
"Kau, kapan kau berdiri di belakang ku?" tanya Samuel sambil tersenyum.
"Aku? Aku baru saja tiba, ayo duduk di sana," ucap Naya menunjuk sebuah kursi yang ada di bawah pohon rindang dekat taman.
Samuel pun mengangguk kan kepala nya dan kemudian mengikuti Naya dari belakang.
Beberapa jam pun berlalu, mereka asik mengobrol dan bercanda satu sama lain.
"Kakak, aku pulang dulu ya, ibu dan ayah ku pasti sudah mencari ku, terima kasih sudah menemaniku belajar hari ini, kakak sangat pintar, tetapi juga cengeng," ucap Naya sambil tersenyum mengatakan itu kepada Samuel.
"Aku tidak cengeng, kapan kau akan datang ke taman lagi?" tutur Samuel seolah tidak ingin berpisah dari Naya.
"Setiap libur sekolah aku akan datang ke sini," jelas Naya sambil tersenyum kecil.
"Baik lah, aku tunggu hari libur selanjutnya, aku akan datang untuk menemani mu belajar," ucap Samuel lagi.
"Baik lah kakak yang baik, aku pergi dulu,"
Naya pun hendak melangkah kan kaki nya meninggalkan taman tersebut, namun Samuel kembali memanggil nya.
"Tunggu, aku ada sesuatu untuk mu," ucap Samuel menghampiri Naya dan kemudian menenteng sebuah gantungan kunci boneka babi yang sangat mengemaskan.
"Wahhh, ini untuk ku kak? Cantik dan imut sekali," ucap Naya sangat antusias menerima hadiah dari Samuel.
"Iya, sama seperti mu, cantik dan imut ambil lah," ucap Samuel.
Naya pun mengambil dan menyimpan gantungan kunci tersebut dan menyimpan nya di dalam saku baju nya, setelah itu dia pun kembali berpamitan dan meninggalkan Samuel.
Sementara Samuel memperhatikan nya dengan begitu kagum,
"Mengapa dia sangat lucu dan cantik? Aku harap bisa selalu bertemu dengan nya," ucap Samuel hendak melangkah kan kaki nya hendak meninggalkan taman.
Namun tiba-tiba kaki nya terasa menginjak sesuatu di rumput taman, tempat di mana sebelumnya Naya berdiri.
Samuel pun membungkuk dan melihat apa yang sudah dia injak, ternyata itu adalah sebuah pulpen berwarna ungu muda.
"Ini bukan kah milik gadis kecil itu?" ucap Samuel tersenyum sambil menggenggam erat pulpen tersebut.
Beberapa hari rasanya begitu lama untuk Samuel yang sudah tidak sabar menunggu hari libur agar bisa pergi ke taman dan bertemu dengan gadis yang menempati hatinya beberapa minggu terakhir, namun bodohnya Samuel selalu lupa menanyakan nama nya.
Hari yang di tunggu pun akhirnya tiba, dari pagi Samuel sudah tiba di taman untuk menunggu kedatangan gadis kecil nya, namun jam demi jam berlalu, Naya tak kunjung datang ke taman, hal ini membuat Samuel kecewa, pulpen yang dia pegang hangat dalam genggaman nya terus dia tatap dengan penuh rasa gelisah.
Menunggu dan menunggu, sampai lah di mana saat jam menujukkan pukul 17.20
Mau tidak mau Samuel pun akhirnya memilih untuk kembali ke rumah nya dengan penuh rasa kecewa, karena khawatir sang mama akan mencarinya.
Namun satu hal yang tidak di ketahui Samuel, beberapa hari lalu, Naya mengalami kecelakaan hebat sampai-sampai sang ayah meninggal dunia dan kecelakaan itu juga merenggut pengelihatan Naya.
Flashback off.
"Apa gadis itu Naya? Tidak, ini tidak mungkin," batin Samuel tak percaya kalau Naya adalah gadis kecil yang dulunya pernah membantu dia dari dua remaja laki-laki yang membuli nya.
Di saat rasa penasaran serta kaget itu masih menghantam pikiran Samuel, Azka pun datang menghampiri nya.
Azka menepuk pundak Samuel dari belakang, karena sudah hampir tiga puluh menit Samuel berdiri mematung di tepi pantai itu, sedangkan Naya kembali ke mobil dengan wajah gusar.
"Tuan muda!"
Bersambung ....
🤣❤️