Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 12
Alysia terdiam, menatap layar ponsel yang masih menyala. Nama "Damian" masih terpampang di sana, seolah-olah pria itu masih menunggu respons setelah dering yang terasa sangat panjang.
Dengan tangan yang sedikit ge-me-tar, Alysia menekan tombol terima. Dia tidak langsung bicara, membiarkan keheningan di antara keduanya beradu.
"Alysia?" suara Damian terdengar di seberang sana.
Nada bicaranya tetap sama, datar, formal, dan tidak memiliki infleksi emosional. Persis seperti cara dia berbicara dengan rekan bisnisnya.
"Apakah Arkhasa sudah sampai di sekolah dengan selamat? Apakah dia masih sedih karena masalah tadi?"
Pertanyaan itu membuat Alysia meremas setir mobilnya hingga buku jarinya memutih. Dia kesal sekali dengan cara Damian menanyakan kabar anaknya sendiri.
"Sudah," jawab Alysia singkat.
"Dia baru saja masuk kelas. Tadi dia sempat menangis karena merasa kecewa kepada papanya! Bahkan dia sempat bertanya apakah dia anakmu atau bukan? Apakah kamu menyayanginya atau tidak!"
Damian terdiam sejenak.
"Aku sudah menginstruksikan sekretarisku untuk mengirimkan mainan edukasi terbaru ke rumah hari ini. Pastikan dia menyukainya dan berhenti bersikap cengeng. Aku butuh fokus penuh untuk negosiasi kontrak sekarang. Untuk hari Sabtu aku pastikan akan datang ke acara sekolah dan menonton Arkha!"
Alysia memejamkan mata rapat-rapat. Damian tidak menanyakan apakah Arkhasa baik-baik saja secara perasaan. Alysia benar-benar kesal kepada Damian. Apalagi Arkhasa anaknya sendiri. Mungkin kalau padanya hanya seorang wanita yang di anggap pengasuh tapi di nikahi. Tapi Arkhasa? Dia anak kandungnya!
"Terserah kau saja!" jawab Alysia ketus dan mematikan panggilan sepihak.
Tak lama ponselnya kembali berdering, Damian kembali menghubunginya. Namun kali ini Alysia tidak mengangkatnya. Dan lebih memilih untuk mengabaikan panggilan Demian.
Alysia memutar mobilnya, kali ini dia tidak datang ke cafe seperti hari-hari biasanya menunggu Arkha pulang sekolah. Dia lebih memilih taman. Dia pergi ke taman kota untuk menenangkan perasaannya.
"Jangan kekanakan Alysia! Apa mungkin Arkhasa melihat sifatmu ini dan dia menirunya! Jangan contohkan hal buruk pada anakku!"
Alysia menarik napas panjang, menatap air mancur di tengah taman yang membiaskan cahaya matahari. Ponselnya, yang kini telah dia nonaktifkan, tergeletak di dalam tas. Pesan Damian yang dingin tadi seolah menjadi titik didih yang akhirnya memecahkan bejana kesabaran Alysia.
Dia tidak ingin pulang ke rumah itu dengan perasaan kalah. Dia tidak ingin menyambut Arkhasa dengan sisa-sisa air mata dan kepura-puraan bahwa "Papa sedang sibuk bekerja".
Alysia beranjak dari taman. Alih-alih pergi ke cafe tempat dia biasanya menunggu dengan gelisah, dia melajukan mobilnya ke sebuah toko buku besar dan sebuah toko perlengkapan hobi. Dia harus membawa sesuatu yang baru, sesuatu yang menjadi milik mereka berdua, bukan pemberian Damian yang "dipesankan oleh sekretaris".
Saat waktu menunjukkan pukul satu siang, dia memarkir mobil di depan sekolah. Arkhasa berlari keluar, wajahnya mencari-cari sosok yang dia harapkan, namun saat melihat Alysia berdiri sendirian, tatapannya meredup.
"Mama," sapa Arkhasa pelan.
"Papa sibuk ya? Papa tak pernah lagi menjemput Arkha!"
Alysia berlutut, menyejajarkan tingginya dengan sang anak. Dia tersenyum, bukan senyum getir seperti biasanya, tapi senyum yang tulus dan tenang.
"Sayang, tadi Papa menelepon Mama. Dia minta maaf karena sibuk sekali, tapi dia bilang dia akan mencoba datang hari Sabtu nanti," ucap Alysia tenang.
Dia sengaja tidak memberikan janji manis, namun dia tidak ingin memutus hubungan itu secara ekstrem di depan Arkhasa.
"Tapi, sambil menunggu hari Sabtu, Mama punya rencana lain untuk kita."
"Rencana apa?" tanya Arkhasa, matanya sedikit berbinar.
Alysia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari jok penumpang. Di dalamnya bukan mainan mahal dari toko daring, melainkan satu set alat lukis lengkap dengan kanvas kecil.
"Kita akan membuat proyek rahasia. Namanya 'Dunia Kita'. Kita akan melukis semua tempat yang ingin kita kunjungi dan semua hal yang membuat kita senang. Hanya mama dan Arkha. Kita tidak butuh orang lain untuk membuat kita bahagia, kan?"
Arkhasa terdiam, mencerna kata-kata itu.
"Jadi, kita tidak usah menunggu Papa untuk main atau pergi kemanapun yang kita mau?"
"Kalau Papa bisa, itu bagus. Tapi kalau Papa sibuk, kita tetap punya petualangan sendiri. Kita tidak akan duduk diam menunggu, karena waktu kita terlalu berharga untuk dihabiskan dengan menunggu, Arkha," ujar Alysia tegas namun lembut.
Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa berbeda. Alysia mematikan lagu anak-anak yang tadi terdengar menyedihkan, dan menggantinya dengan alunan musik instrumental yang menenangkan.
Sesampainya di rumah, setelah makan siang. Dan Arkhasa istirahat sebentar.
Menjelang sore, Alysia segera menggelar tikar besar dan mengatur peralatan lukis mereka. Tidak ada lagi suasana duka, yang ada hanyalah aroma cat air dan suara gesekan kuas di atas kanvas.
Arkhasa tampak begitu serius, memadukan warna-warna cerah. Oranye, biru, dan kuning yang kontras dengan warna-warna gelap yang biasanya dia gambar saat merasa sedih.
Sementara Alysia sedang fokus menggoreskan sketsa langit senja. Mereka begitu asyik, larut dalam dunia mereka sendiri, hingga suara deru mesin mobil yang memasuki garasi sama sekali tidak menarik perhatian mereka.
Damian pulang lebih awal hari ini. Dia melangkah keluar dari mobil dengan kemeja yang lengannya sudah digulung ke siku, wajahnya tampak kelelahan namun ada guratan frustrasi yang jelas.
Setelah bertanya kepada Bibi, Dia langsung menuju taman belakang, mungkin berniat mencari Alysia untuk menanyakan kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi sepanjang hari.
Langkah kaki Damian terhenti tepat di pintu kaca penghubung taman. Dia terdiam, menatap pemandangan di depannya dengan tatapan sulit diartikan.
Alysia sedang mengusap noda cat di pipi Arkhasa dengan lembut, lalu mereka tertawa bersama. Tawa yang terasa sangat asing bagi telinga Damian. Arkhasa tampak begitu lepas, jauh berbeda dengan anak lelaki yang pagi tadi menangis bengkak karena menuntut perhatian ayahnya.
Damian berdeham keras, mencoba menegaskan kehadirannya.
"Kalian membuat taman ini berantakan," ucap Damian, suaranya tetap kaku, mencoba menyembunyikan keterkejutan melihat mereka yang tampak begitu bahagia tanpa kehadirannya.
lanjut lg thooorrrr🥳🥳🥳🥳
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,