Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.
Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan yang Mempertemukan Kembali Cinta dan Penyesalan
Sementara itu, di dalam ruang UGD, Kinasih hanya berdiri diam di sudut ruangan yang sepi. Ia menghela napas panjang, napas yang terasa sesak dan berat seolah membawa seluruh beban hatinya. Tangannya terulur lembut, mengelus perutnya yang sudah membuncit jelas, tanda kehamilannya yang kini genap berusia enam bulan.
Air matanya menggenang di pelupuk mata, berusaha ia tahan agar tak tumpah lagi. Jantungnya berdegup kencang tak karuan sejak melihat sosok Kenan masuk tadi. Ia pikir ia sudah cukup kuat melupakan, cukup kuat membangun tembok pertahanan, tapi melihatnya lagi—terlebih dalam keadaan terluka—membuat seluruh luka lama itu terasa kembali terbuka.
“Tenanglah, Nak… Ibu baik-baik saja…” bisiknya lirih pada janin di dalam kandungannya, berusaha menenangkan dirinya sendiri sekaligus menenangkan hati kecilnya yang bergejolak. “Dia sudah bukan milik kita lagi… kita sudah berjanji akan hidup berdua saja, kan?”
Namun di dalam hatinya yang paling dalam, ia tak sanggup menyangkal, rasa rindu dan cinta itu masih ada, meski terbungkus rapat oleh rasa sakit dan kenyataan pahit yang sudah terlanjur terjadi.
Akhirnya… akhirnya aku menemukanmu lagi, Kinasih… Di tengah kota yang asing ini, takdir justru mempertemukan kita kembali, dengan cara yang tak pernah aku duga sama sekali.
Saat mataku menangkap sosokmu berdiri di sana, memakai seragam dokter itu dengan perut yang sudah membuncit jelas… rasanya seluruh duniaku berhenti berputar. Jantungku berdegup sekuat tenaga, campur aduk antara rasa rindu yang membara, syok yang tak terkira, dan rasa bersalah yang menyayat hati sampai ke tulang sumsum. Itu kamu… benar-benar kamu, wanita yang selama ini kucari ke segenap penjuru negeri, wanita yang tak pernah sedetik pun lepas dari pikiranku.
Aku melihat matamu menatapku, ada keterkejutan, ada rasa sakit yang terpendam, ada tembok dingin yang kamu bangun setinggi mungkin untuk melindungi dirimu sendiri. Kamu menangani lukaku dengan sigap dan cekatan, persis seperti dokter yang sedang merawat pasien asing. Tak ada senyum, tak ada kata lembut, tak ada tatapan cinta seperti dulu… dan setiap detiknya terasa seperti ribuan pisau yang menusuk dadaku berulang kali.
Saat tanganku hampir menyentuh perutmu, tempat di mana buah cinta kita tumbuh dan berkembang, rasanya aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Itu anakku… darah dagingku sendiri yang kamu kandung sendirian selama berbulan-bulan ini, tanpa dukunganku, tanpa kasih sayangku, tanpa aku tahu apa-apa. Betapa kejamnya diriku, meninggalkanmu dalam keadaan hamil, membiarkanmu memikul semuanya sendirian jauh di sini.
Dan saat kamu mundur menjauh seolah sentuhanku adalah racun yang berbahaya… hatiku hancur berkeping-keping lagi. Aku tahu aku pantas menerimanya. Aku pantas mendapatkan kebencianmu, ketidakpercayaanmu, sikap dinginmu. Akulah yang mengucapkan kata cerai itu, akulah yang membiarkanmu pergi tanpa sempat mendengar kabar kehamilanmu, akulah yang membuatmu hidup dalam kesendirian dan kesakitan ini.
Tapi dengar aku, Sayang… meski sekarang aku terikat dalam pernikahan palsu itu, meski aku harus berpura-pura di depan semua orang… hatiku tetap milikmu sepenuhnya, sejak dulu, sekarang, dan selamanya. Aku takkan menyerah lagi. Aku sudah mendirikan jalanku sendiri, aku sudah mulai membebaskan diriku dari belenggu itu. Sekarang aku menemukanmu dan anak kita, takkan ada kekuatan apa pun yang bisa memisahkan kita lagi.
Beri aku waktu sedikit saja… izinkan aku menebus semua kesalahanku. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa menjadi laki-laki yang bertanggung jawab, suami yang setia, dan ayah yang pantas untuk anak kita. Kamu dan dia adalah satu-satunya alasan aku hidup sekarang. Aku takkan membiarkan kalian pergi lagi… tidak pernah lagi.
Di dalam perjalanan maupun saat tiba di depan pagar rumah, mereka sempat berdiri dan berbicara cukup lama. Reyna yang sudah menunggu di depan pintu segera berpura-pura menyapu halaman, namun telinganya terpasang erat dan matanya merekam semuanya dengan cermat, bahkan ia diam-diam merekam percakapan itu dari jarak yang agak jauh.
“Aku tahu kamu masih menyimpan luka dan masa lalu yang belum selesai, Kinasih,” ucap Firdaus dengan suara lembut namun sungguh-sungguh, matanya menatap lekat wajah Kinasih. “Tapi biarkan aku mencoba menjadi obat untuk lukamu. Aku tak meminta kamu melupakan siapa pun dalam semalam, aku hanya ingin diberi kesempatan untuk menjagamu, mencintaimu, dan menjadi ayah yang terbaik untuk anakmu nanti. Bagiku, kalian berdua adalah anugerah yang tak ternilai.”
Kinasih hanya menunduk, memainkan ujung jilbabnya, suaranya terdengar lirih dan bimbang: “Terima kasih atas kebaikan Bapak, Dokter Firdaus. Tapi sungguh… hati saya masih tertutup rapat untuk orang lain. Saya takut hanya akan membuat Bapak kecewa nantinya.”
“Tak apa, aku sabar. Aku akan menunggu selama yang kamu butuhkan. Asal kamu tahu, aku takkan pernah menyerah,” jawab Firdaus mantap, lalu tersenyum dan membantu Kinasih melangkah masuk ke halaman sebelum berpamitan pergi.
Begitu Firdaus menghilang dari pandangan, Reyna langsung masuk ke dalam kamar dan segera mengirimkan semua rekaman, catatan percakapan, beserta foto-foto momen itu ke ponsel Kenan, semuanya lengkap, jelas, dan tak ada yang disembunyikan.
Menerima laporan selengkap itu di Jakarta, rahang Kenan mengeras kuat, dadanya terasa sesak oleh rasa cemburu dan kekhawatiran yang meluap. Ia memegang ponselnya erat sampai buku-buku jarinya memutih, matanya menyala penuh tekad. Cukup sudah dia menunggu diam-diam. Kehadiran orang lain yang berusaha mendekati wanitanya itu menjadi tanda yang jelas—ia tak bisa menunda lebih lama lagi. Besok pagi juga, dia akan berangkat kembali ke Surabaya untuk mengambil haknya sendiri.
Sementara Kenan sedang gelisah menyiapkan keberangkatannya kembali ke Surabaya, di kantornya yang megah itu, Kamila datang dengan senyum manis sambil membawa kotak bekal makan malam. Ia sengaja datang sendiri, berharap bisa meluluhkan hati suaminya yang selama ini terasa sangat dingin. Namun begitu melangkah masuk dan menyapa, sambutan yang ia dapatkan tetaplah sama—dingin, datar, dan seolah kehadirannya tak berarti apa-apa.
“Mas, aku bawa makanan kesukaan Mas. Biar Mas nggak lelah bekerja sambil perut kosong,” ucap Kamila lembut sambil meletakkan kotak makan di atas meja.
Kenan hanya melirik sekilas tanpa menoleh sepenuhnya, suaranya terdengar datar tanpa perasaan. “Taruh saja di situ. Aku belum lapar.”
Mendengar jawaban itu, hati Kamila terasa tergores lagi, tapi ia berusaha tetap tersenyum menahan rasa sakitnya. Tak lama kemudian, Kenan berdiri dan berkata ia akan ke kamar mandi, meninggalkan ponselnya tergeletak di atas meja tanpa terkunci.
Rasa penasaran dan curiga yang selama ini ia pendam mendorong tangannya untuk bergerak. Begitu yakin Kenan sudah cukup jauh, Kamila segera meraih ponsel itu dan menyalakan layarnya. Detik itu juga, napasnya tercekat, matanya terbelalak lebar dan tangannya gemetar hebat.
Di layar sebagai gambar latar belakang terlihat jelas sebuah foto yang sangat indah sekaligus menyayat hatinya—Kenan sedang berpelukan sangat mesra dengan seorang wanita, berdiri di tengah rimbunnya hutan pinus di Lembang. Wajah Kenan terlihat begitu bahagia, tersenyum lebar yang belum pernah sekalipun Kamila lihat selama mereka menikah, sementara wanita itu memeluk leher Kenan erat, menempelkan wajahnya di dada suaminya itu dengan tatapan penuh cinta.
Rasa cemburu yang meluap dan kebencian yang membara seketika memenuhi hati Kamila. Ia menatap lekat wajah wanita di foto itu—wajah yang cantik, lembut, dan penuh ketenangan, yang selama ini menjadi alasan mengapa Kenan tak pernah sekalipun meliriknya. Akhirnya ia tahu pasti siapa sosok yang menjadi saingannya, wanita yang telah menguasai seluruh hati, pikiran, dan jiwa suaminya itu—wanita yang membuat pernikahan mereka hampa dan tak berarti sama sekali.
“Jadi… dia yang menjadi alasan semuanya…” gumam Kamila dengan suara tergigit, matanya memerah menahan amarah dan kecemburuan yang tak tertahankan. “Kau kira aku akan diam saja, Kenan? Kalau aku tak bisa memilikimu sepenuhnya, wanita itu pun takkan pernah bisa memilikimu juga…”
Dengan perasaan yang berkecamuk, ia segera mengembalikan ponsel itu ke tempatnya semula, berusaha menyembunyikan raut wajahnya yang berubah drastis sebelum Kenan kembali ke ruangan. Namun di hatinya, benih kebencian dan rencana jahat kini mulai tumbuh subur terhadap Kinasih.
Begitu meletakkan kembali ponsel Kenan dan menyembunyikan rasa cemburunya yang meluap, Kamila langsung berjalan keluar dari ruangan dengan langkah tergesa dan wajah yang sudah dipenuhi amarah. Begitu sampai di mobilnya, ia segera mengangkat telepon dan menekan nomor dengan jari gemetar karena dendam yang membara.
“Dengar baik-baik,” ucapnya dengan suara rendah dan tajam, penuh tekad jahat. “Cari segala informasi tentang wanita bernama Kinasih. Di mana dia tinggal, bekerja, apa pun yang berhubungan dengannya. Begitu ketemu, selesaikan dia… lenyapkan dia dari muka bumi ini selamanya. Aku tak mau dia ada lagi di dunia ini, mengganggu suamiku dan hidupku. Lakukan dengan rapi, dan bayaranmu akan aku gandakan.”
Di ujung telepon terdengar jawaban singkat dan patuh, membuat hati Kamila terasa sedikit lega—ia yakin, begitu Kinasih tiada, hatinya Kenan perlahan akan kembali padanya.
Tak lama kemudian, Kenan kembali masuk ke ruang kerjanya. Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung membereskan berkas-berkas pentingnya dan bersiap berangkat.
“Aku ada tugas mendesak ke kantor cabang di Surabaya. Mungkin akan tinggal di sana beberapa hari,” ucap Kenan datar tanpa menoleh, seolah hanya menyampaikan kabar biasa.
Hati Kamila mencelos mendengarnya, ia berusaha menahan Kenan dengan nada manja yang dipaksakan. “Mas… berangkat sekarang juga? Tidak bisa ditunda? Aku baru saja datang, kita bisa makan bersama dulu…”
“Tidak bisa. Urusan ini mendesak,” potong Kenan tegas, lalu melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun lagi, meninggalkan Kamila yang terpaku kaku di tempat.
Kamila mengepalkan tangannya kuat-kuat, amarahnya makin meledak. Ia takkan membiarkan Kenan pergi sendirian menemui wanita itu. Tanpa ragu lagi, ia segera memberi perintah kepada sopirnya untuk bersiap, dan diam-diam menyusun rencana—ia akan mengikuti Kenan ke Surabaya, memastikan rencananya berjalan sempurna, dan melihat sendiri bagaimana Kinasih akan musnah dari hadapannya.
Begitu Kenan meninggalkan gedung kantor dan melaju menuju bandara, mobil Kamila sudah mengikuti dari kejauhan dengan jarak yang cukup aman agar tak terdeteksi. Di dalam hatinya, ia sudah membayangkan—setelah ini, takkan ada lagi penghalang di antara dirinya dan Kenan. Namun ia tak menyadari, kepergiannya ini justru akan membuka semua rahasia dan membuat Kenan tahu siapa sosok yang sebenarnya berusaha mencelakai wanita dan anaknya.
Hujan rintik membasahi halaman pemakaman itu, seolah langit pun turut menangisi kepergian seorang pahlawan. Di bawah naungan payung hitam, Kinasih Wulandari berdiri kaku, tangannya erat menggenggam bahu ibunya yang terguncang hebat di sampingnya. Air matanya sudah kering sejak tiga hari lalu, saat kabar duka itu datang menghantam hidupnya.