Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.
Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.
Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.
Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?
Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?
Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Penyesalan Yang Terlambat
Arini masih sibuk melipat pakaian-pakaiannya dan menyusunnya rapi ke dalam koper. Hampir semua barang pribadinya sudah berpindah tempat. Sesekali ia menarik napas panjang, berusaha menguatkan hati sebelum benar-benar meninggalkan rumah yang pernah begitu ia perjuangkan.
Tiba-tiba terdengar suara motor memasuki halaman. Disusul suara tawa dan obrolan yang riuh.
"Asyik! Mbak Arin pulang, ya? Akhirnya!" seru Vera dengan nada penuh semangat.
"Mbak Arinnya mana, Bu?" tanyanya begitu memasuki rumah.
"Di kamarnya," jawab Bu Sumarni singkat.
Tanpa menunggu lebih lama, Vera langsung berlari menuju kamar Arini. Langkahnya begitu ringan, seolah tak ada beban sedikit pun. Berkali-kali ia mengetuk pintu dengan keras.
"Mbak...! Mbak Arin... buka dong!" panggilnya riang.
Tak menunggu jawaban, ia kembali mengetuk lebih keras.
"Mbaaaak... ternyata kangen sama kita, ya? Buktinya cuma pergi dua malam saja sudah balik lagi. Aku tahu kok, Mbak Arin pasti nggak betah jauh-jauh dari rumah."
"Mbaaaak... buka dong!"
Tanpa menunggu jawaban, ia kembali berceloteh.
"Ternyata Mbak Arin bucin banget sama Mas Galang, ya. Sampai mau dimadu juga balik lagi. Aku tahu kok, Mbak Arin nggak bakal bisa ninggalin Mas Galang."
Ucapan itu membuat tangan Arini yang sedang melipat pakaian terhenti sesaat. Rahangnya mengeras menahan kesal. Vera benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia mengira kepulangan Arini adalah bukti bahwa dirinya tak sanggup hidup tanpa Galang, padahal kenyataannya Arini datang hanya untuk mengambil seluruh barang miliknya dan mengakhiri semua yang selama ini telah ia pertahankan.
Vera terus berceloteh sambil tersenyum lebar. Sedikit pun ia tidak menyadari bahwa di balik pintu itu, Arini bukan sedang kembali untuk tinggal, melainkan sedang mengemasi seluruh hidupnya agar bisa pergi untuk selamanya.
Di benak Vera hanya ada satu harapan sederhana. Ia begitu lega melihat Arini kembali. Baginya, selama Mbak Arin tetap tinggal di rumah itu, semuanya akan baik-baik saja. Kebutuhan rumah akan selalu terpenuhi, uang belanja tetap tersedia, dan ia tak perlu khawatir lagi memikirkan banyak hal. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa "ATM berjalan" yang selama ini menjadi penopang keluarga itu justru sedang bersiap meninggalkan mereka.
Karena sudah tak sanggup lagi mendengar celotehan Vera dari balik pintu, Arini akhirnya memutar gagang pintu dan membukanya.
Melihat Arini berdiri di hadapannya, wajah Vera langsung berbinar.
"Nah, gitu dong, Mbak," ujarnya sambil terkekeh. "Sudah, jangan lama-lama marahnya. Yang penting, kan, Mbak masih jadi istrinya Mas Galang, kakakku yang tampan itu."
Arini menatap Vera datar. Tak ada sedikit pun senyum di wajahnya.
"Siapa juga yang mau mempertahankan rumah tangga yang nggak sehat seperti ini? Aku sih ogah."
Tawa Vera perlahan mereda. "Maksud Mbak?"
"Aku ke sini cuma untuk mengambil barang-barangku yang belum sempat kubawa kemarin."
"Seriusan, Mbak?" Vera menggeleng sambil tertawa kecil. "Ah, jangan bercanda, deh. Mana mungkin seorang Arini Zara Listanto bisa jauh-jauh dari Galang Rajastra? Hahaha... bercandanya keterlaluan."
"Terserah. Mau percaya atau tidak, itu bukan urusanku."
Arini berbalik masuk ke dalam kamar, mengakhiri percakapan yang menurutnya tak ada gunanya diteruskan.
Belum sempat melanjutkan pekerjaannya, ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuatnya segera mengangkat panggilan itu.
"Halo."
"..."
"Sudah di depan rumah?"
"..."
"Iya, masuk saja. Langsung ke atas!"
Setelah panggilan itu berakhir, Arini kembali menutup ponselnya.
Tak lama berselang, dari lantai bawah terdengar suara-suara yang cukup ramai. Ada orang yang mengucapkan salam, disusul percakapan beberapa penghuni rumah. Sepertinya orang yang baru saja menelepon Arini telah tiba, dan kedatangannya langsung menarik perhatian seisi rumah.
"Maaf, Bu. Kami karyawan Bu Arini," ujar salah seorang pria itu dengan sopan. "Kami diperintahkan beliau untuk mengambil barang-barang yang akan dibawanya."
Bu Sumarni mengernyitkan dahi. Tatapannya bergantian meneliti wajah para pria itu, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Karyawan Bu Arini?" tanyanya dengan nada sinis. "Kalian salah orang, kali. Menantu saya cuma ibu rumah tangga biasa."
Pria itu tetap tersenyum sopan. "Maaf, Bu. Kami sudah mendapat instruksi langsung dari Bu Arini. Permisi, kami langsung ke atas."
Tanpa menunggu persetujuan, mereka melangkah masuk dan menuju tangga.
"Hei!" bentak Bu Sumarni sambil menghadang. "Ini rumah saya! Kalian mau ke mana?"
"Ke kamar Bu Arini, Bu. Kami hanya menjalankan tugas."
Meski Bu Sumarni terus memprotes, para karyawan itu tetap bersikap profesional. Mereka melangkah menaiki tangga dengan tenang, sementara Bu Sumarni mengejar dari belakang dengan wajah memerah menahan amarah.
Para karyawan itu langsung menaiki tangga menuju lantai atas. Sesampainya di depan kamar, mereka mendapati Arini telah menyiapkan seluruh barang bawaannya. Beberapa koper berukuran besar berjajar rapi di depan pintu, disusul beberapa kardus berisi barang-barang pribadinya.
"Maaf, Bu, kami agak terlambat. Tadi jalanan cukup macet," ucap salah seorang karyawan sambil sedikit membungkukkan badan.
Arini mengulas senyum tipis. "Gak apa-apa. Kalian datang tepat waktu, kok."
Ia kemudian menunjuk koper-koper yang telah disusunnya. "Tolong bawa semua barang ini ke mobil."
"Baik, Bu."
Para karyawan itu segera bergerak. Dua orang mengangkat koper besar, sementara yang lain mulai membawa kardus-kardus satu per satu.
Bu Sumarni yang baru saja tiba di lantai atas sontak membelalakkan mata melihat pemandangan di hadapannya.
"Arini, kamu apa-apaan, sih?" hardiknya. "Lagian mereka ini siapa? Pakai bilang karyawanmu segala!"
Arini menoleh sekilas ke arah ibu mertuanya. Wajahnya tetap tenang, tanpa sedikit pun terlihat gugup.
"Mereka memang karyawan saya, Bu. Sekarang, tolong jangan menghalangi. Saya sedang memindahkan barang-barang pribadi saya."
Jawaban itu membuat Bu Sumarni terdiam beberapa saat. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari bahwa selama ini ia sama sekali tidak mengenal menantunya sendiri.
"Mbak... seriusan Mbak mau pindah?" tanya Vera dengan suara bergetar. Ia menggenggam tangan Arini erat, seolah berharap kakak iparnya itu berubah pikiran.
"Iya," jawab Arini singkat.
"Tolong, Mbak... jangan tinggalkan kami. Di rumah semuanya kacau balau sejak Mbak pergi."
Arini menatap Vera dengan sorot mata tajam. Tatapan yang selama ini selalu lembut kini dipenuhi kekecewaan.
"Kenapa baru sadar sekarang?" tanyanya dingin.
Vera menundukkan kepala. Jemarinya semakin erat menggenggam tangan Arini.
"Maaf, Mbak. Semua ini terjadi karena Ibu yang memaksa Mas Galang menikahi Mbak Mayang."
Arini tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak menyiratkan kehangatan.
"Kamu juga mendukungnya, kan?"
Vera menggigit bibir bawahnya. Rasa bersalah begitu jelas terpancar dari wajahnya.
"Aku... terpaksa, Mbak."
"Terpaksa?" Arini mengulang pelan. "Saat kalian menghina aku, menganggap aku tidak pantas menjadi istri Galang, saat kalian membiarkan perempuan lain masuk ke rumah ini sebagai istri kedua, kalian semua terlihat baik-baik saja. Tidak ada satu pun yang tampak terpaksa."
Vera tak sanggup mengangkat wajahnya. Semua ucapan Arini terasa seperti tamparan yang tak bisa ia bantah.
"Maafkan aku, Mbak," lirihnya. "Aku benar-benar menyesal."
Arini menarik perlahan tangannya dari genggaman Vera.
"Penyesalan memang selalu datang belakangan, Ver. Sayangnya, tidak semua hal bisa diperbaiki hanya dengan kata maaf."
Kalimat terakhir memberi penegasan bahwa Arini sudah mantap dengan keputusannya, sekaligus menunjukkan perkembangan karakternya yang kini lebih tegas.
_________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Kalau istri lebih mandiri punya apa-apa sendiri ya mending pisah daripada cuman diperalat keluarga suami.
tp kl gk berani laporin berarti wanita lemah. mkne pantes di injak injak lemah sih. kasian kl punya anak ntar kl Ada apa apa ma anaknya pasti suruh ngalah walau bener. bukan mncerminkan wanita badas😄🔥
lbih bagus laporin beres.