Kesetiaan itu memang ada. Hanya saja, situasi dan kondisi yang membuat itu tiada. Saat kita menerima dia sepenuh jiwa, tapi kondisi memintanya sesuatu yang tak terduga. Maka, kita harus bersiap dengan kemungkinannya yang akan membuat kita kecewa dan menderita.
Pengorbanan hati dan harga diri demi dia yang kita sayang. Apakah dia akan menerima meski hati terluka, atau dia akan menjauh dengan hati yang runtuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BILANOUR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
...🌺🌺🌺...
...Kau tuliskan cerita...
...tentang engkau dan dia...
...membuat hatiku semakin terluka...
...sudah usai sudah...
...jangan menangis lagi...
...ku rasa sampailah di sini ... kasih....
...🌺🌺🌺...
"Ndre. Ada apa? kenapa makanannya hanya diaduk-aduk doang?"
"Hmm? ada apa, Mia?"
Mia tersenyum. Dia tahu bahwa Andre tidak sedang bersamanya. Hatinya.
"Pergi saja. Jika kamu mencintai dia, pergilah. Susul dia, Ndre."
"Tidak. Aku masih mencintai kamu, Mia."
"Kamu hanya bingung. Jika kamu mencintai aku, saat ini kami tidak akan merasa terganggu dengan kehadirannya. Harusnya kamu baik-baik saja melihat dia bersama laki-laki lain. Nyatanya?"
Andre menatap Mia. Dia berusaha mencerna apa yang Mia ucapkan.
"Ndre. Yang kamu rasakan saat ini bukan cinta, tapi hanya rasa yang ingin kamu selesaikan. Ada sebuah penyesalan yang ingin kamu tuntaskan padaku."
"Jangan bahas ini lagi. Aku masih mencintaimu kamu seperti dulu." Andre menegaskan. Mia hanya tersenyum lalu melanjutkan makannya.
****
Zidan mengantar Raya ke rumah bundanya, Ibu kandung Raya. Ya, Raya memiliki Ibu sambung yang juga mencintai dirinya. Wanita yang raya panggil Mami.
Papi Raya yang masih saja suka main perempuan, membuat bundanya memilih untuk berpisah. Beruntung karena wanita yang menjadi istri ke dua papinya, baik. Meski sampai saat ini, Papi Raya masih suka bermain dengan wanita lain.
Ya. Cerita Raya pada malam itu, bukanlah karangan semata. Dia hanya berpura-pura tegar di hadapan Andre.
"Udah siap semuanya, Sayang?"
"Udah bunda. Raya rasa semuanya sudah lengkap."
"Papi ngasih uang gak?"
"Mami tadi yang ngasih. Dia ngasih Raya kartu ATM nya sebelum pergi arisan ke Jepang."
"Ya Allah. Wanita itu, masih saja suka hura-hura. Ya sudah, kalau begitu hati-hati di jalan, Nak. Zidan, jaga anak Bunda"
"Siap, Bun."
"Ya udah, yuk. Tar keburu macet di jalannya. Zidan, mampir ke mini market dulu. Gue mau beli cemilan."
"Sip!
Raya dan Zidan sama-sama menengok saat sebuah mobil sport hitam masuk ke halaman rumah Raya. Begitu juga dengan Bunda. Dia menghentikan langkahnya saat hendak masuk ke rumah.
"Mau pergi ke mana?" tanya Andre kesal. Dia berjalan menghampiri Raya. "Berdua saja dengan dia?" mata Andre melirik sinis pada Zidan.
"Iya. Kenapa?"
"Aku sudah bilang sama kamu, jangan pernah pergi berdua dengan laki-laki. Dia belum tentu bisa jagain kamu, Raya."
"Buktinya, aku jauh lebih terluka saat bersama Kakak."
"Jangan pergi. Ayo kembali ke rumah." Andre menarik kasar tangan Raya.
"Kak, kenapa? lepaskan!"
"Jangan pergi sama dia. Aku gak suka."
"Lepaskan, Kak. Sakit."
"Ndre, jangan begitu," ujar Bunda.
"Tante. Kenapa Tante ngasih izin buat mereka pergi berduaan? ke luar kota pula. Tante gak takut sesuatu terjadi pada Raya?"
"Zidan anak baik. Tante percaya sama dia, Ndre."
"Tidak ada yang tahu, Tante. Apa saja bisa terjadi jika wanita dan laki-laki hanya berdua saja."
"Kak. Aku bukan wanita murahan!"
"Aku tahu. Tapi kita tidak bisa percaya begitu saja sama dia." Andre menunjuk Zidan. Remaja itu hanya tersenyum melihat Andre.
"Kak. Sebenarnya Kakak itu kenapa, sih? jujur, aku bingung sama sikap Kakak selama ini. Kakak bertingkah seolah Kakak itu sedang cemburu karena aku pergi sama Zidan."
"Ya! aku memang tidak suka kamu dekat dengan dia atau dengan laki-laki mana pun juga."
"Why?" Raya menatap penuh intimidasi. Untuk sesaat Andre tertegun. Baik Zidan maupun Bunda, sama-sama menunggu dengan penasaran.
"Kakak tidak bisa jawab? kalau begitu, jangan ikut campur lagi masalah aku mau pergi dengan siapapun."
"Raya, tunggu dulu."
"Jangan mempersulit keadaan, Kak. Aku sudah payah berusaha melupakan Kakak. Jangan gagalkan masa pemulihanku. Kita akhiri semuanya sekarang, Kak." Raya mengusap pipi Andre. Memberikan sebuah senyuman yang membalut luka hatinya.
"Berbahagialah, Kak. Aku akan mendoakan Kakak dan dia." Raya memeluk Andre. "Selamat tinggal, Beb." Raya berbisik lirih di telinga Andre. Air mata Raya menetes. Melepasmu pelukannya, seperti melepas nyawa agar terpisah dari raga. Disiksa rasa sekarat yang tiada ujungnya.
"Raya pergi, Kak." Raya mengurai pelukannya. "Bunda, Raya pamit. Assalamualaikum."
"Waalikumsalam. Hati-hati, Nak."
Raya mengangguk. Andre enggan melepaskan genggaman tangannya, tapi Raya melepasnya paksa.
"Elu baik-baik aja?" tanya Zidan saat mobil mereka mulai berjalan.
"Hmm. Gue gak apa-apa. Kita ke mini market. Gue butuh cemilan."
"Laksanakan!"
Andai kamu menghentikan langkahku, Beb.