Hidup sungguh tak pernah berpihak kepadanya,
Sejak kecil nyawanya sudah terancam, dia harus menjadi saksi kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.
Menjadi yang tertuduh dan dianggap paling bertanggung jawab atas kematian satu satunya orang yang paling menyayanginya setelah sang ibu yakni sang tuan besar yang sebenarnya adalah juga kakeknya hingga akhirnya ia di buang dan ia terpaksa harus bertahan hidup di jalanan menjadi seorang kurir narkoba sejak usia belia demi hanya untuk bisa bertahan hidup.
Gabriella Calista,
mampukan ia menyelamatkan nyawanya ketika meski setelah 15 tahun berlalu, nyawanya masih di inginkan.....
dan apakah ia akan mau menerima cinta yang di tawarkan padanya oleh seseorang yang ternyata dia adalah pewaris sah darah seseorang yang telah membuatnya hidupnya hancur dan sengsara....
ikuti karya baru aku.....
" BIEL..... "
SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, LOVE YOU😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29 membawa Biel
Klik...
Suara borgol yang terkunci, Biel sontak menoleh kebelakang.
Matanya melotot seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat dan apa yang di lakukan Erick padanya.
Benar saja...
Erick memborgol kedua tangannya kebelakang tubuhnya.
" kau menahanku pak Komisaris ?! Atas tuduhan apa ?! " sentak Biel kian marah
" pencurian " jawab Erick enteng
" pencurian ?! memangnya apa yang ku curi ?! kau jangan mengada Ngada.....
itu namanya fitnah.....!!! "
" hatiku...kau mencuri hatiku Bee " bisik Erick yang sejenak membuat Biel tercengang.
Ia kembali menoleh manatap Erick yang saat ini juga tengah menatapnya dari arah samping.
mata keduanya saling bertemu,
" aku tidak suka bercandamu pak komisaris,
kau pikir aku wanita labil yang akan langsung gila hanya karena kata katamu ?! "
" tidak...aku tidak pernah menganggap kau sebagai wanita labil,
hanya saja saat ini....itu yang kurasakan " jawab Erick
Sebenarnya ia sendiri tak tahu dengan apa yang ia katakan.
kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
Namun satu yang hal yang pasti, ia harus membuat Biel tak bisa pergi darinya atau paling tidak dari tempat ini malam ini.
Bagaimanapun,
Malam ini....
Ia akan memastikan jika gadis itu tak turut terlibat dalam operasi pengiriman besar besaran barang haram yang entah milik siapa itu karena ia sendiri belum mampu mengendusnya.
Operasi itu sendiri tak mampu di hentikan olehnya karena orang orang yang menjadi backingan pemilik barang barang haram itu.
Dan akhirnya hanya satu hal yang bisa Erick lakukan.
Menghentikan Biel menjadi salah satu dari mereka.
Akhirnya....
Dengan memakai motor Samy, Erick melajukan motor itu menyusuri jalan raya dengan posisi Biel yang tetap duduk di depannya.
Hembusan angin malam menerpa wajah tampan Erick yang tak memakai helm.
Ia tak sempat memakai helm karena ia tak mau melepaskan Biel barang sebentar.
Meski ia telah memborgol kedua tangan gadis itu,
Tapi jika melihat kemampuan bela diri Biel, ia yakin..
lengah sedikit, ia pasti akan kehilangan gadis itu.
Sementara Biel ...
ia merasa jantungnya berdetak kencang seperti genderang yang mau perang.
Tubuh Erick begitu menempel padanya di bagian punggung.
Ia bahkan bisa mencium aroma wangi tubuh laki laki itu meski ia memakai helm.
Tapi beruntung ia memakai helm, karena dengan begitu...
ia yakin, Erick tak akan tahu jika saat ini, ia sadari atau tidak...
Ia sedang kacau,
Antara malu karena tak terbiasa dan entah perasaan apalagi yang seolah tergambar di wajahnya karena situasi ini.
Glek....
Biel bahkan diam diam merasa kesulitan menelan ludahnya sendiri,
Tanpa sadar ia menggigit bibirnya kuat kuat, ia merasa....
Erick sangat kurang ajar padanya....
( awas kau.....) desisnya di dalam hati.
Sedangkan Erick sendiri, meski diam tak bicara sama sekali sejak tadi.
Tapi diam diam ia berkali kali melirik ke arah Biel yang tentu wajahnya kini berada di sisi wajahnya.
Senyum tipis tersungging di bibirnya melihat ketidak berdayaan gadis itu.
Di dalam hati,
Erick sebenarnya terus bertanya kepada dirinya sendiri,
Ia tak paham kenapa ia bisa berbuat sejauh ini pada seorang gadis.
20 tahun....atau 21 tahun usia Biel saat ini,
Jokey pernah memberitahunya.
tapi ia lupa.
Dan itu artinya....
Ia dan Biel terpaut usia tujuh atau enam tahun,
Lagi lagi Erick meringis di dalam hati, lumayan jauh beda usia mereka.
bisiknya di dalam hati.
Ia juga masih meringis di dalam hati ketika ia membayangkan jika mungkin akan ada hubungan yang lebih serius diantara dirinya dan Biel.
Tak lama setelah perjalanan yang lumayan jauh,
Erick menghentikan motor yang ia kendarai tepat di depan area pemakaman umum namun nampak begitu elit dan mewah.
Biel menatap pemakaman itu dengan tatapan entah.
" ayo turun....." ajak Erick yang sudah turun lebih dulu.
" pemakaman ?! apa kau gila ?! ini tempat yang kau bilang ingin membawaku ?! " sentak Biel dan Erick mengangguk.
" kau benar benar sudah gila pak komisaris, ini pemakaman....
dan ini sudah malam.....lihat...jam berapa ini ?!
mungkin sekarang ini sudah pukul satu.....ckkk.....
Kau benar benar gila " umpat Biel kesal sambil berusaha menunjuk jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya dengan susah payah dan jelas itu tak berhasil karena kedua tangannya yang masih terborgol di belakang tubuhnya.
Ia merasa semakin kesal ketika ia mengingat seharusnya di jam ini ia sudah harus berada di lapangan.
Tapi ini.....
( akhh....sialan orang ini, apa sih sebenarnya maksudnya membawaku kemari ?! ) omelnya di dalam hati.
" aku tahu ini pemakaman Bee....bukan mall,
apa kau takut ?! " jawab Erick sedikit mengejek.
Biel menatap garang,
" aku tidak takut apapun meski itu sebuah kematian sekalipun " jawab Biel sarkas sambil turun dari motor dengan kasar.
Erick tersenyum mendengar jawaban Biel yang penuh emosi itu.
" kalau begitu ayo....aku kenalkan kau pada seseorang " ucap Erick sambil meraih tangan Biel yang masih ia borgol kemudian mulai melangkah masuk ke area makam.
" ini pemakaman,
memangnya siapa yang mau kau kenalkan padaku ?!
Setan.... ?! " cibir Biel kesal dengan terpaksa melangkah mengikuti Erick,
Ke dua tangannya masih terborgol, dan rasanya tidak mungkin ia bisa melepaskan borgol itu tanpa kuncinya.
Sungguh kata kata yang keluar dari bibir seorang Gabriela Calista adalah kata kata yang kasar,
tapi Erick hanya tersenyum mendengar kata kata Biel itu.
Setelah melangkah cukup jauh, akhirnya Erick menghentikan langkahnya di depan sebuah batu nisan bertuliskan...
JENDR. RUBEN HARIS WIRATMAJA BIN HARIS WIRATMAJA.
Membaca nama yang bertuliskan di batu nisan itu,
Biel diam diam menelan ludahnya,
Ia sadar makam siapa itu, nama belakangnya sama dengan nama belakang Erick.
Biel tahu nama lengkap Erick dari Jokey.
Dan tadi apa katanya ?!
Setan ?!
ia mengatakan setan kepada Erick.....
Tanpa sadar, Biel menggigit bibirnya sendiri.
Jahatnya bibirnya.....
sementara Erick,
Ia masih menatap makam di hadapannya.
Ada tumpukan bunga yang nampak telah kering,
( mommy....)
Desisnya pelan di dalam hati,
Ia hafal betul jenis bunga yang saat ini sudah nampak kering itu.
itu adalah jenis bunga yang selalu di bawa Shahnaz setiap kali datang ke makam ini.
" Bee...." panggilnya pelan kepada Biel
" hemm..... " jawab Biel spontan karena ia terkejut dengan panggilan Erick yang menurutnya tiba tiba itu.
" kenalkan....dia papaku " ucap Erick pelan dengan masih menatap makam sang papa.
" oh...." hanya itu kata yang keluar dari bibir Biel,
Ia tak tahu harus berkata apa,
Erick menolah menatapnya,
" apa ?! kenapa melihat begitu padaku ?! " tanya Biel dengan kening berkerut membalas tatapan Erick padanya.
" kau tidak ingin menyapa papaku ?! " tanya Erick,
Biel reflek mengangkat alisnya ke atas.
" sapalah papaku " pinta Erick lagi.
Biel menarik nafas,
" dengan tangan terborgol begini ?! Apa itu sopan ?! " jawabnya sambil menunjukkan kedua tangannya yang terborgol di belakang tubuhnya.
Erick tersenyum kecil,
" kemari..." panggilnya
" kau saja yang kemari karena kau yang tiba tiba tanpa alasan yang jelas sudah memborgolku seperti ini " balas Biel menolak permintaan Erick yang memintanya mendekat pada pria itu.
Erick pun mengalah,
Ia mendekat kepada Biel kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil kunci borgol itu.
Setelahnya ia melepaskan borgol di tangan Biel.
" sudah " ucap Erick,
Biel mengusap pelan kedua pergelangan tangannya sebelum akhirnya ia melangkah sedikit maju.
" emm....
om....e maaf maksudku......pak....salam kenal, aku....Biel....
Gabriela Calista " ucap Biel kemudian dan membuat Erick menoleh menatapnya.
( Gabriela Calista....)
Desis Erick pelan dengan tatapan yang begitu dalam kepada Biel.
Gabriela Calista.....nama yang seolah sudah sangat akrab di telinganya.
( Siapa sebenarnya kamu......
Kenapa aku merasa tak asing denganmu..... )
Bisik Erick di dalam hati.