Kisah cinta sepasang anak manusia yang dijodohkan. Ternyata mereka pasangan kekasih 8 tahun yang lalu, banyak yang mengincar nyawanya, musuh dari masa lalu maupun musuh dalam bisnisnya.
Akankah mereka mampu melewati ujian cinta??
tunggu kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariez Aprileo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Selly*
Hari demi hari berganti dengan cepatnya. Kini keadaan Aurora juga sudah membaik. Gadis itu
sudah bisa beraktifitas seperti biasa. Edward, Brian dan yang lainnya juga telah kembali dan
melakukan rutinitas seperti sedia kala.
Tentang Aldi, pria itu juga ikut menghilang bak ditelan bumi usai kejadian di rumah sakit waktu
lalu. Entah kemana, tidak ada seorang pun yang tahu. Yang jelas, Edward masih menugaskan seseorang untuk mengintai markas di London yang menurut desas desus sudah berganti
kepemimpinan.
Kini, di tempat Edward mencari nafkah, tepatnya di gedung Global Inc, pria tampan yang daulat sebagai pimpinan perusahaan itu sedang disibukkan dengan tumpukan berkas yang harus
diselesaikan secepat mungkin. Pria itu bahkan mengabaikan ponselnya yang terus berkedip
entah siapa yang sedang berusaha menghubunginya.
"Tuan, ada wanita yang memaksa ingin bertemu dengan anda. Apa anda ijinkan untuk masuk?"
Lukas masuk ke ruang kerja Edward membawa setumpuk dokumen dan diletakkan di atas meja
Edward lagi.
Edward memicingkan mata. Kesal tentu saja. Yang di atas meja kerjanya saja belum selesai
sudah ditambah lagi. Mau berapa lama ia akan duduk di kursinya jika begini, 24 jam bahkan tidak
akan cukup untuk menyelesaikannya.
"Apa kamu belum tau apa yang harus dilakukan Lukas?" tanya Edward melirik tajam asistennya.
"Tahu Tuan."
"Jika sudah tahu jawabannya, kenapa musti bertanya lagi Lukas? Apa kamu tidak lihat, aku
sedang sibuk! Usir saja jika tidak penting. Aku malas meladeni orang orang yang tidak penting.
Satu lagi, jika itu tamu perusahaan, minta lain kali untuk membuat janji!"
"Baik Tuan, saya permisi." Lukas buru buru keluar sebelum Edward mengamuk.
Lukas menuju lantai bawah, tepatnya di depan meja resepsionis. Matanya menangkap seorang
gadis yang melakukan perlawanan ketika diseret security keluar gedung.
"Ada masalah apa." Tanya Lukas dengan nada datarnya.
"Ini Tuan, wanita itu memaksa ingin menemui Tuan Muda, padahal dia belum membuat janji." Adu sang resepsionis.
"Berhenti! Siapa kamu. Ada urusan apa menemui Tuan Muda. Mengapa membuat keributan
di kantor orang." Tanya Lukas datar. Pria itu memberi kode anak buahnya untuk melepaskan
cekalan tangannya.
Gadis itu mendekati Lukas yang berdiri menatapnya tajam. Dengan menangkupkan kedua
tangannya, gadis itu mengungkap alasan di balik kedatangannya. Ia sebenarnya juga tidak ingin
membuat keributan, tapi keadaan juga yang memaksa melakukannya.
"Saya Selly. Tolong Tuan. Bantu saya bertemu Tuan Edward. Anda pasti asistennya bukan. Ini
penting. Ada hal yang ingin saya tanyakan pada beliau. Ini tentang Brian dan Kak Yuna."
Lukas semakin menatap tajam gadis yang bernama Selly tersebut. Benarkah yang ia dengar.
"Siapa mereka. Tuan muda tidak mengenalnya. Lagi pula beliau sedang sibuk. Tidak mungkin
Tuan muda mau melayani remeh temeh seperti ini. Sebaiknya nona pulang saja. Anda sudah
salah tempat. Satu lagi, jangan membuat kegaduhan lagi disini."
Lukas memberi kode dua security untuk menyeretnya keluar gedung.
"Tuan! Mereka berdua keluarga saya. Tolong Tuan. Biarkan saya bertemu Tuan muda!" Seru Selly tak terima.
Para karyawan yang berlalu lalang sempat berhenti sejenak untuk melihat kegaduhan yang
terjadi, tapi melihat lirikan maut Lukas, mereka buru buru bubar sebelum pria itu mengeluarkan
ultimatumnya.
"Tuan asisten berhenti! Aku akan memenjarakanmu jika tak berhenti. Tuan asisten, aku hamil
anakmu! Kau harus bertanggungjawab padaku!" Teriak Selly terlihat tak takut.
Woah!
Para karyawan bergunjing mencela, tapi melihat mata Lukas yang seakan menyala, membuat
mereka seketika langsung kicep.
"Lepaskan dia. Dan kau ikut aku!"
Selly bergegas mengekori Lukas. Gadis itu tersenyum lebar dengan ucapan yang baru saja terlontar dari bibirnya. Tak menyangka jika kalimat itu bisa mengubah keputusan pria dingin itu.
Didalam lift yang bergerak naik ke atas. Lukas mencengkeram dagu Selly. Pria itu terlihat kesal
mendengar penuturan gadis itu. Memangnya sejak kapan dirinya bermain wanita.
"Apa maksudmu mengatakan hal tidak benar. Kau mau merusak reputasiku!" Ujar Lukas tertahan.
"Itu juga karena anda sendiri, tak sepenuhnya salahku!" Selly menyentakkan tangan Lukas dengan
begitu mudahnya.
"Gadis bar-bar." Gumam Lukas geram. Jika saja didepannya seorang pria, sudah pasti ia akan
menghajarnya sampai babak belur.
Sampai didepan ruang kerja Edward. Lukas membenarkan jas yang dipakainya dan melirik Selly
yang terlihat acuh. Masih menyimpan rasa kesal, tapi pria itu diam saja.
"Tuan. Ada yang ingin bertemu."
Edward seketika menghentikan kegiatannya. Pria itu menatap Lukas dengan wajah butuh
penjelasan. Ah ia pikir asistennya mengerti maksud perintahnya,
nyatanya tidak.
"Perkenalkan nama saya Selly, Tuan. Maaf, sudah mengganggu waktu anda. Saya janji hanya sebentar saja. Kedatangan saya kemari untuk menanyakan perihal putra kakak saya, Brian."
Sekali lagi Edward menatap Lukas butuh penjelasan, tapi pria itu malah menaikkan kedua
bahunya, tak tahu. Menyebalkan bukan.
"Ada masalah apa." Tanya Edward yang sekarang duduk di sofa berhadapan dengan Selly.
"Saya ingin mengambil hak asuh Brian. Saya bibinya, jadi sudah sewajarnya dia ikut bersama saya.
Terimakasih sudah merawatnya selama ini Tuan."
Selly menyerahkan bukti yang dia punya pada Edward.
"Darimana kamu mengetahui jika Brian anak Yuna. Siapa yang memberitahumu. Tidak
sembarang orang yang tahu hal ini."
"Ya. Anda benar. Memang tidak sembarang orang yang tahu. Saya dengar juga dari Nyonya
Yuli sendiri, Ibu anda. Sampaikan maaf saya pada beliau jika saya lancang telah menyimak
pembicaraannya bersama majikan saya-Nyonya Dina, hingga saya bisa berada disini saat ini.
Saya bodyguard beliau."
Edward mengangguk mengerti. Dilihat dari sudut manapun, Selly ini wanita tangguh seperti kekasihnya. Bahkan cara berpakaiannya pun hampir sama. Tunggu, jangan jangan dia salah
satu anak buah Aurora. Batin Edward saat tak sengaja melihat tato kecil bergambar mahkota di jempol kirinya.
"Saya akan mengizinkanmu bertemu dengannya, tapi tidak dengan hak asuhnya. Brian sudah
resmi menjadi bagian dari kami. Kami juga punya legalitasnya."
Selly terdiam. Ia sudah tahu jika hal ini pasti tidak akan mudah. Memangnya siapa dirinya,
harusnya ia tahu diri. Brian memang lebih baik hidup bersama mereka daripada dengan dirinya.
Lukas membawakan berkas legalitas, surat wasiat dan beberapa bukti penunjang lainnya.
Semua ia letakkan di atas meja.
"Kamu boleh membacanya." kata Edward.
Selly meraih map itu dengan tangan gemetar, takut dengan kenyataan yang sebenarnya.
"Apa kamu sudah tau sebab kakakmu meninggal?"
Selly menganggukkan kepala.
"Ya, sudah lama kakak menderita penyakit itu. Dulu ia selalu dibawa keluar negeri untuk
pengobatan, tapi semenjak keluarga kami mengalami kebangkrutan, ayah dan ibu meninggal,
kakak tak lagi berobat kesana. Dia hanya minum obat tanpa melakukan kemoterapi lagi." Selly
meletakkan berkas itu diatas meja.
"Sayang sekali kakak harus pergi secepat itu, padahal aku bekerja keras untuk membantu
pengobatannya." Lanjutnya.
Edward mengusap wajahnya. Bayangan Yuna tertabrak mobilnya terlintas di otaknya.
"Ada hubungan apa anda dengan kakak saya. Apa Brian anak biologis anda?" Tanya Selly penuh
selidik.
"Jangan sembarangan bicara! Aku sama sekali tak mempunyai hubungan darah dengannya."
"Lalu siapa ayahnya? Alasan apa yang membuat anda mengadopsinya, jika Brian bukan siapa
siapa anda."
"Mana aku tahu ayahnya. Aku masih baru mau menyelidiki. Untuk alasan itu, harusnya kamu tak
menanyakan lagi. Bukankah didalam surat itu tertulis dengan jelas!"
Selly menggeleng tak percaya. Bagaimana mungkin kakaknya tiba tiba meminta Edward untuk
mengadopsinya jika tidak ada sesuatu diantaranya. Tidak masuk akal. Memangnya siapa kak
Yuna dibanding pria berkuasa itu.
"Saya akan mencari tahu kebenaran ini. Saya akan membawa kasus ini ke pengadilan untuk memperoleh hak asuhnya."
"Kamu tidak akan menang di persidangan nona. Kamu hanya akan buang buang uang saja. Lagi
pula apa masalahnya, toh kamu bisa bertemu dengan Brian kapan pun yang kamu mau. Kamu tidak perlu memikirkan merawat anak itu saat kamu bekerja. Harusnya kamu bersyukur Brian diadopsi keluarga kami."
Dalam hati Selly membenarkan ucapan Edward, tapi pernyataan itu justru membuatnya semakin curiga.
"Tolong ceritakan bagaimana anda bisa bertemu dengan kak Yuna. Apa anda kekasihnya?"
"Sudah aku katakan jangan sembarang bicara! Aku sudah memiliki kekasih! Dan itu bukan Yuna!"
Edward memalingkan wajah.
"Aku tak sengaja menabraknya malam itu. Dan seperti inilah pada akhirnya. Saya sudah
memerintahkan orang untuk mencari keluarganya, tapi belum menemukan titik terang. Lalu kamu
tiba-tiba datang kemari. Maaf, harusnya aku jujur sedari awal." Ungkap Edward pada akhirnya.
Selly menyentuh dadanya. Hatinya mencelos mendengar kenyataan pahit itu. Pantas saja.
.
.
Selly berjalan gamang usai dari makam kakaknya. Walaupun kakaknya dimakamkan di
pemakaman elit oleh keluarga Edward sebagai bentuk penyesalan, tapi hal itu masih belum
menyurutkan kemarahan dalam hatinya. Ia belum bisa menerima semua kenyataan itu.
"Perlukah aku menuntut balas atas kematianmu kak?" Batinnya selalu mempertanyakan hal itu.
Ia bimbang harus bersikap seperti apa. Jika saja lawannya orang biasa, pasti dengan mudah ia
menjebloskan ke dalam penjara. Ia sadar diri jika tak akan mampu melawan pria berkuasa itu,
pria itu pasti tidak mudah disentuh.
Getaran ponsel mengembalikan pikiran kalutnya. Gadis itu mengernyit menatap nama sang pemanggil. Ada apa pikirnya.
"Yes Queen."
"Selly, apa kamu sudah melakukan tugas yang aku berikan?"
"Belum Queen. Saya masih harus banyak belajar. Lagi pula saya masih terikat dengan kontrak
kerja dengan majikan saat ini. Bukankah ada Mira yang menangani AR Progamer saat ini."
Terdengar decakan diseberang sana. Jelas sekali jika wanita itu tak suka.
"Aku akan membayar penaltinya atau aku akan minta Mira untuk melobi agar mau diganti orang lain. Mira harus mengurus Dark Queen, Selly. Jadi kamu harus segera menjadi wajah perusahaan.
Mira tidak bisa jika harus melakukan dua hal sekaligus. Dia hanya boleh menjadi wakil, itupun jika organisasi kita tidak bermasalah. Apa kamu paham?"
"Yes Queen."
Selly menghela nafas usai panggilan itu berakhir. Jika saja bukan karena Aurora, entah seperti apa kehidupannya saat ini. Ia merasa berhutang budi baiknya.
Sebuah teriakan minta tolong membuyarkan lamunannya. Ia melihat seorang wanita paruh
baya tengah mempertahankan tasnya yang hendak dijambret. Gadis itu buru buru berlari
menolongnya.
"Hoi lepaskan!" Teriak Selly dari kejauhan.
Karena mendengar teriakan Selly, penjambret itu seketika menyentak tas itu dan langsung terlepas dari genggamannya.
"Kembalikan atau berakhir!" Ancam Selly mengacungkan senjata api.
Pria itu menelan ludah. Ia yang tadinya akan berlari setelah mendapat tas itu, mendadak kaku
dengan mengangkat kedua tangannya keatas.
"I..ini. Saya kembalikan. Maaf." Pria itu melempar tas kemudian lari terbirit birit.
"Anda tak apa Nyonya?"
Wanita itu menggeleng. "Terima kasih sudah menolong saya. Siapa namamu nak?"
"Saya Selly Nyonya."
"Saya Elda."
"Lain kali jangan pergi sendiri Nyonya. Dia pasti sudah mengincar Anda sedari tadi."
"Saya tadi bersama putraku, dia sedang ada urusan sebentar. Mungkin sebentar lagi kembali.
Sebagai ucapan terimakasih saya, kamu boleh minta sesuatu."
"Ah maaf itu tak perlu Nyonya, saya ikhlas membantu anda."
Wanita itu terdiam. Jarang sesekali ada orang membantu tanpa mengharap imbalan pikirnya.
"Sebagai gantinya, saya mengundang kamu untuk makan malam bersama. Dimana rumah
kamu, supir kami akan menjemputmu."
Nyonya Elda berusaha membujuk, siapa tahu Selly jodoh
putranya. Selly terlihat seperti gadis yang diidamkan putranya.
"Maaf nyonya, saya tidak bisa memberitahu tempat tinggal saya. Saya seorang bodyguard, tidak
bisa pergi sembarangan, Nyonya."
Selly berusaha menolak ajakan Nyonya Elda.
"Begitu ya, tapi saya memaksa. Ayolah, jangan sombong seperti itu. Ini alamat rumah kami.
Besok malam kamu harus ke sana. Wajib. Tante memaksa. Jika kamu menolak datang, saya akan
mencari tahu sendiri majikanmu dan meminta izin darinya."
Selly hanya menerima kartu nama itu tanpa memberi harapan. Entahlah, esok malam bisa hadir
atau tidak, ia juga tak ingin memikirkannya saat ini.
.
.
.
#####
kalo bisa up nya jgn kelamaan jd lupa jalan ceritanya