Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.
Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.
Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Pak, kami ga mau tau ya, pokoknya Daren dan Zakia harus dinikahkan, gimanapun keadaannya kami ga mau menanggung bala akibat ulah anak kalian!"
Pagi ini dalam kondisi toko yang baru buka, pak Jamrud dan bu Lili sudah dihujani banyak permintaan dan penekanan dari beberapa warga, ternyata memang benar bahwa foto tersebut tersebar begitu cepat.
Di mulai dari group obrolan sampai di sosial media, foto itu sudah tersebar dan hampir satu kampung sudah mengetahui hal itu.
"Pak Buk, anak saya tidak seperti itu, foto yang kalian dapatkan berbeda jauh dengan cerita aslinya," jelas pak Jamrud dengan sabar. Walaupun dalam hatinya meledak-ledak, tapi syukurnya dia masih bisa mengendalikan emosi.
"Halah, kalau ga sesuai kasi bukti dong, ini kan buktinya ga ada, pokoknya kami ga mau tau, apapun ceritanya mereka berdua harus dinikahkan biar ga ada bala yang datang ke kampung ini, kalau tidak mending bapak sama keluarganya pergi aja dari sini!"
"Bapak-bapak ibu-ibu semua silahkan pergi dari sini, biar masalah ini saya selaku pak RT dan keluarga pak Jamrud yang akan menyelesaikannya."
Kedatangan pak RT yang tiba-tiba untuk meredakan emosi mereka sedikit berguna, buktinya mereka yang tadinya riuh kini lumayan tenang.
"Pak! Bapak selaku RT selesaikan masalah ini! Yang pastinya kami menuntut. mereka untuk dinikahkan! Apapun ceritanya! Kami tidak mau tau!"
Bu Lili menatap wanita itu lantang, itu adalah wanita yang semalam datang dengan heboh dan juga marah-marah akibat kejadian antara Zakia dan Daren. Entah apa motif si ibu sehingga dia yang paling semangat untuk memojokkan keluarga mereka.
"Ayo bapak ibu! Kita pergi, kami tunggu keputusannya!" lanjutnya. Usai dari situ si ibu yang berlagak seperti ketua pimpinan demo langsung mengajak rombongannya pergi.
Suasana depan toko lumayan tenang, nafas bu Lili terasa sesak menghadapi rombongan warga tadi, tidak pernah terpikir olehnya bahwa tempat usahanya akan seramai itu bukan untuk membeli tapi untuk menuntut.
"Pak Jamrud bu Lili ayo kita bicara ke dalam, saran saya mending tutup dulu untuk hari ini tokonya, biar ketika bisa berbincang di dalam, sekalian panggilkan Daren," suruh pak RT. Pak Jamrud menghela nafas dan mengangguk pasrah.
"Dinda Reza tutup kembali toko, kalian pulang aja, nanti bakal bapak infokan kapan masuk kerja lagi," titah pak Jamrud. Dinda dan Reza saling tatap dan bergegas untuk segera menutup pintu.
"Mau seneng tapi sedih mau sedih tapi seneng, gimana ya," celetuk Reza. Dinda melempar Reza dengan botol aqua besar, temannya ini memang tidak tau kondisi.
"Kok bisa sih orang kayak lo mikir gitu!"
"Ya bisalah, seneng karena libur kerja, sedih karena masalahnya bertambah runyam Din," jawabnya. Dinda duduk di depan toko sambil menopang dagu dengan tangan.
"Ada benernya juga sih lo bilang, mending ke rumah kak Zakia yok, gue mau jenguk dia, tapi temenin bentar beli buah," ajak Dinda.
Bagaimanapun juga ada rasa khawatir yang tersimpan di dalam hatinya, apalagi situasi sudah seperti ini, walaupun bukan Dinda yang mengalaminya tapi dia ikut pusing dengan keadaan sekarang.
"Tapi kan Din, lo liat ga tadi ibu-ibu yang ngomongnya paling keras, gue curiga banget sama tuh ibu-ibu, kompornya itu ngompor banget sumpah."
Saat ini Reza dan Dinda sudah berada di atas motor menuju rumah Zakia. Kejadian tadi sangat sayang kalau dilewatkan begitu saja, karena memang Reza merasa ada yang salah dengan si ibu tukang kompor tadi.
"Iya sih Za, gue juga rada ragu sama tu ibu-ibu, mana yang paling semangat nyuruh mereka nikah ya ibu-ibu itu, kalau ga mau nikah malah mau diusir, gila kali ya tu orang tua," sahut Dinda.
Dirinya merasa berapi-api dengan kelakuan si ibu tadi, bisa-bisanya paling semangat nyuruh mereka nikah atau ga pergi dari kampungan itu. Jika pak Jamrud dan bu Lili pergi, maka mereka akan bekerja dengan siapa, pemilik toko sebaik pak Jamrud dan bu Lili belum tentu bisa mereka temui lagi.
Lagi pula kejadian itu belum terbukti kebenarannya tapi orang-orang sudah menyimpulkannya dengan sebaik mungkin, menyimpulkan bahwa itu kejadian haram yang akan menghasilkan bala kepada mereka.
"Tapi ya udahlah Din, semua keputusannya ada di tangan mereka, tapi kalau mereka nikah lo oke ga nih Din?" canda Reza.
"Ya okelah gilak! Gue mah cuman kagum doang bukan suka atau beneran cinta sama bang Daren, ngapain coba!"
"Ya ga usah marah-marahlah, gue kan cuman nanya, toh gue liat lo kayaknya kecintaan banget sama tu abang-abang," jawabnya.
"Enggaklah, orang pacar gue ada kok, udah mending lo ga usah banyak omong deh, cepetan naik motornya gue mau pipis!" desak Dinda sambil memukul pelan bahunya.
"Asihh! Jorok banget sih lo!"
Demi menjaga kesejahteraan jok motor yang ia sayangi, akhirnya ia rela kebut-kebutan di jalan, urusan rambut Dinda yang akan berserakan dia tidak peduli, yang terpenting adalah jok motornya bisa aman.
****
"Ma, apapun ceritanya Kia ga mau nikah dengan cara kayak gitu, Kia bukan sengaja, Kia diperkosa sama orang lain dan bang Daren nyelametin Kia, lebih penting lagi, Kia belum mau nikah!"
Begitu sampai di depan rumah Zakia, Dinda dan Reza saling pandang saat mendengar teriakan Zakia. Yang membuat mereka salah fokus ialah, topik yang diceritakan Zakia sama dengan topik yang dituntu oleh warga di rumah pak Jamrud tadi.
"Zakia tenang dulu, mama juga ga mungkin ngelepasin kamu gitu aja."
Di dalam sana terlihat Zakia bersimpuh di depan kaki ibunya, air matanya lebih deras mengalir dibanding tadi malam, pertanda memang perempuan itu memohon agar ia tidak masuk ke dalam lubang pernikahan yang tidak direncanakan itu.
"Ma, tolong bilangin sama pak RT jangan paksa Zakia nikah, Kia belum mau mau, Kia masih punya banyak mimpi, Kia belum tamat kuliah," ujarnya parau.
Keadaannya sungguh kacau, mental dan emosi Zakia benar-benar terguncang begitu mendengar ucapan pak RT yang tadi datang ke rumah mereka.
"Warga menuntut kalian untuk menikah." Satu kalimat sederhana tapi rasanya seperti menggoncang seluruh dunia milik Zakia.
Menikah? Artinya semua mimpinya akan terhambat, menikah? Berarti Zakia tidak bisa sebebas dulu, menikah? Maka Zakia harus rela mengorbankan semua impiannya. Zakia belum mau, Zakia belum siap, masa gadisnya begitu berharga untuk dilepaskan begitu saja dengan rasa keterpaksaan.
Zakia rela jika tubuhnya dipaksa banting tulang untuk bekerja demi memenuhi impiannya dari pada dipaksa untuk menikah dan merelakan semua rencana yang sudah ia bangun untuk ke depan harinya.
Zakia belum siap dengan perubahan besar itu.