bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Dinda mendengus sinis, tangannya melipat di depan dada, membuat perhiasan di lehernya
ikut bergetar.
"Jangan berlagak bodoh di depanku. Aku tahu setiap sudut di rumah ini, termasuk di mana kakek menyembunyikan kunci cadangan brankasnya."
Dinda melangkah selangkah lebih dekat, menciptakan jarak yang membuat Nadira harus sedikit menarik kepalanya ke belakang.
"Kamu pikir perubahan sikapmu yang tiba-tiba itu bisa menipuku? Itu semua sandiwara belaka."
Perdebatan pun pecah di balik pintu kayu jati yang tebal, sengaja mereka lakukan dengan
suara pelan agar tidak terdengar oleh para pelayan yang mungkin masih berlalu-lalang di koridor.
Nadira bersikeras bahwa ia tidak menyentuh apapun di brankas, namun Dinda
terus menekannya dengan bukti-bukti yang samar. Ketegangan di ruangan itu meningkat,
terasa seperti kabel yang akan putus kapan saja karena beban listrik yang terlalu berat.
"Kamu hanya berusaha mengalihkan perhatian agar aku tidak menemukan surat wasiat itu lebih dulu," tuduh Nadira tiba-tiba, mencoba membalikkan serangan.
Dinda terdiam sejenak, matanya menyipit, dan untuk pertama kalinya ia terlihat kehilangan kata-kata. Itu adalah momen kecil yang segera ditangkap oleh Nadira sebagai tanda bahwa ia berada di jalur yang benar.
Dinda memang takut kehilangan warisan itu, dan ia akan melakukan apa saja untuk menyingkirkan Nadira. Setelah terdiam beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Dinda akhirnya tertawa kecil, tawa yang kering dan tanpa humor.
"Bukti? Kamu ingin bukti?" Dinda merapatkan
wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Kamu tidak akan pernah bisa
membuktikan apapun, karena aku yang mengendalikan aliran informasi di sini. Tapi kamu...kamu sendiri yang harus membuktikan bahwa kamu memang sudah berubah, bukan sekadar perempuan
malang yang tiba-tiba sok pintar."
Dinda kemudian memberikan tantangan yang sangat gamblang, tantangan yang membuat
darah Nadira sedikit mendidih.
"Tunjukkan padaku dalam tiga hari ke depan, bahwa kamu bisa menyelesaikan apa yang kakek tinggalkan untuk keluargamu. Jika kamu gagal, aku akan membawa bukti 'pencurian'mu pada Pak Herman, dan kamu tahu apa yang akan terjadi setelah itu."
Ancaman itu nyata, terlihat dari bagaimana jari-jari Dinda menunjuk ke arah dada Nadira dengan gerakan yang tajam.
Nadira tidak gentar sedikit pun. Alih-alih merasa terintimidasi, ia justru merasakan
semacam gelombang adrenalin yang familiar. Tantangan Dinda ini adalah kunci yang
selama ini ia cari, sebuah alasan logis untuk bisa menyelidiki lebih dalam tanpa membuat
Dinda curiga. Ia menatap Dinda dengan sorot mata yang kini jauh lebih tajam, berbeda
dengan tatapan 'Nadira' asli yang biasanya penuh ketakutan.
"Tiga hari?" Nadira mengulang kata-kata Dinda dengan nada mengejek yang halus.
"Kamu terlalu baik, Dinda. Aku bahkan tidak butuh waktu selama itu untuk menunjukkan siapa yang sebenarnya memegang kendali di sini." Nadira melenggangkan kakinya, berusaha terlihat tenang meski hatinya sedang berkecamuk.
Ia tahu bahwa ia harus bergerak cepat,
sebelum Dinda menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan orang yang sama sekali
berbeda. Justru, tantangan dari Dinda itu memicu semangatnya untuk segera menyelesaikan misi ini.
Nadira tidak lagi hanya ingin bertahan hidup di tubuh ini, ia ingin memenangkan permainan yang sudah dipasang oleh Dinda. Warisan dua ratus triliun itu bukan lagi sekadar angka, tapi sebuah tiket kebebasan, dan Dinda baru saja memberikan tenggat waktu yang membuat segalanya semakin mendesak.
Ia berbalik pergi, melangkah tegas melewati Dinda yang masih mematung di sudut
ruangan. Dinda tampak terkejut dengan sikap Nadira yang sangat berbeda dari
ekspektasinya. Wajah Dinda yang biasanya pucat kini memerah padam karena kesal dan
mungkin juga karena rasa tidak percaya. Ia mengira Nadira akan menangis atau
memohon, bukan justru menantangnya kembali dengan dingin.
Nadira berjalan menuju pintu ruang tamu, melewati karpet tebal yang meredam langkah
kakinya. Ia bisa merasakan tatapan tajam Dinda yang masih tertuju di punggungnya,
seolah-olah ingin menusuknya dengan pandangan itu. Namun, Nadira tidak menoleh. Ia memiliki fokus baru sekarang, dan fokus itu membawanya keluar dari ruangan yang
pengap itu menuju koridor yang lebih sepi.
Sesampainya di koridor utama, Nadira menghela napas panjang untuk melepaskan
ketegangan di bahunya. Udara di sini lebih sejuk, berbau lilin aromaterapi yang biasa
dipakai untuk menyamarkan bau tembakau kakek.
Ia menyandarkan punggungnya sejenak
ke dinding marmer yang dingin, menutup mata untuk mengatur ritme napasnya yang mulai stabil. Tantangan Dinda adalah batas waktu yang nyata, dan ia tidak boleh membuangnya.
Ia mulai merekonstruksi setiap kata yang diucapkan Dinda tadi. Dokumen di brankas, kunci cadangan, dan surat wasiat. Dinda tahu persis di mana letak surat wasiat itu, atau
setidaknya Dinda tahu di mana Nadira harus mencarinya.
Ini adalah permainan kucing-kucingan yang sangat berbahaya, di mana satu langkah salah bisa membuatnya kehilangan segalanya, termasuk nyawanya sendiri jika Dinda benar-benar berani melakukan tindakan ekstrim.