NovelToon NovelToon
Arkaholic

Arkaholic

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: siyunr

Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.

Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.

Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.

Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.

Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?

Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panic Attack

Satu setengah jam lebih hening merayapi lorong rumah sakit yang dingin.

Lintang, Arka, Ilna, dan Leno masih setia menunggu di kursi tunggu yang berjejer tepat di depan ruang operasi utama.

Arka duduk dengan posisi siku bertumpu di atas lutut, sementara pandangan matanya menatap kosong ke arah lantai keramik di bawahnya.

Di sebelahnya, Lintang duduk menemani tanpa jarak.

Tak bisa dipungkiri, dada Lintang ikut berdegup kencang karena dilingkupi rasa cemas yang luar biasa, walaupun jujur saja, belum ada ikatan batin yang terlampau mendalam antara dirinya dan sang ibu mertua.

Mengingat suasana yang semakin mencekam, Leno akhirnya membuka suara.

Suara beratnya terdengar tenang, mencoba menyalurkan sisa kekuatan yang dia punya. "Apapun hasilnya nanti, jangan pernah kecewa sama keadaan. Yang harus kita pegang dan syukuri sekarang, Frina bisa tenang. Entah tenang karena akhirnya mau jalanin operasi, atau... lebih jauh dari itu."

Rahang tegap Arka seketika mengeras kokoh mendengar kalimat terakhir mertuanya.

Namun, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir bungkamnya.

"Arka!" Sebuah panggilan lantang dari arah ujung lorong mendadak memecah kesunyian.

Mereka berempat otomatis menoleh serempak ke arah sumber suara.

Garis rahang Arka semakin mengetat hebat.

Seorang laki-laki paruh baya melangkah terburu-buru mendekati mereka. "Arka, gimana kondisi bunda kamu? Ayah denger bunda dioperasi," ujar Hansanto—mantan suami Frina, sekaligus ayahnya Arka.

"Ngapain kesini?" Tanya Arka.

Suaranya terdengar sangat datar, dingin, dan penuh dengan penekanan yang mengintimidasi.

"Ayah khawatir sama bunda—"

"Jangan pernah ngaku jadi ayah gue! Gue nggak punya ayah bajin*an kayak lu!" Sentak Arka kasar.

Ia langsung bangkit berdiri dengan napas memburu.

"Arka..." Lintang secara refleks langsung ikut berdiri dan melingkarkan kedua tangannya di lengan kekar Arka, mencoba menahan emosi cowok itu.

Hansanto tampak tersentak, namun ia berusaha membela diri. "Arka, Ayah berkali-kali bilang kalau Ayah nyesel... Ayah waktu itu dijebak—"

"DIJEBAK APA SAMPAI BIKIN KEPALA BUNDA BOCOR?! SAMPAI CIUMAN SAMA SELINGKUHAN LU DI DEPAN BUNDA?! SAMPAI GUE HAMPIR MATI KARENA DITODONG CUTTER SAMA JALANG ITU?!" Amarah Arka memuncak hebat.

Suara baritonnya menggema kencang, memutus seluruh urat sabar yang selama ini dia pertahankan.

Masa lalu kelam yang belum benar-benar berakhir kini mendadak kembali mencuat paksa ke permukaan lorong rumah sakit.

"Arka... Jangan teriak-teriak, ini rumah sakit..." Tegur Lintang lembut sambil meremas pelan lengan suaminya agar emosi Arka tidak sampai mengganggu ketenangan area medis.

Leno ikut bangkit berdiri, lalu menggeser posisinya untuk pasang badan di depan Arka dan Lintang. "Maaf mengganggu, Anda ayahnya Arka?"

Hansanto menoleh dengan dahi berkerut, lalu mengangguk kaku. "Iya, sa—"

"Bukan," potong Arka dengan nada suara yang terlampau dingin dan menusuk.

Leno menghela napas panjang, menatap Hansanto dengan pandangan mata seorang kepala keluarga yang tegas. "Mohon jangan bikin keributan di sini. Penyesalan di masa lalu Anda bisa dibahas di lain kali. Mohon hargai mantan istri dan anak Anda sekarang kalau Anda memang benar-benar merasa menyesal."

Hansanto seketika bungkam seribu bahasa. Wajah necisnya mendadak memucat karena tersudut oleh ketegasan Leno.

Suasana di lorong rumah sakit itu mendadak menjadi sangat sunyi dan mencekam. Namun, keheningan pekat itu justru menarik paksa ingatan Arka kembali pada situasi menegangkan saat sebelas tahun yang lalu.

Flashback On.

Duk. Prang!

"BUNDAAAAAA!" Arka kecil berteriak histeris. Ia berjalan terseok-seok karena kedua kakinya lecet dan perih setelah dicambuk oleh jalangnya Hansanto.

"LARI, ARKA! JANGAN KESINI!" Teriak Frina histeris.

"Ayaaaaahh, tolongin bunda, yaah... Bunda berdarah..." Tangis Arka memohon sembari menatap sang ayah.

Namun, Hansanto hanya diam saja di sudut ruangan dengan rahang mengeras tanpa berniat menghentikan kegilaan itu.

Merasa kondisi rumah sudah tidak aman lagi, Arka kecil bergerak mendekat ke arah pintu keluar, hendak mencari pertolongan dari tetangga sekitar.

Melihat pergerakan itu, si jalang dengan sadisnya langsung meraih sebuah cutter dan mencegah langkah Arka. Tanpa belas kasihan, perempuan itu menodongkan mata pisau cutter yang tajam tepat ke leher kecil Arka.

"ARKAAAA!" Teriak Frina dengan kepala yang sudah bersimbah darah segar akibat dihantam benda keras.

"SERAHIN SEMUA ASET MAS HANSANTO YANG DIPAKAI ATAS NAMA KAMU KE AKU KALAU MAU ANAK INI SELAMAT!" Sentak jalang itu penuh ancaman.

"AKU SERAHIN SEMUANYA ASAL JANGAN SENTUH ANAKKU!" Teriak Frina tanpa ragu, merelakan seluruh harta bendanya demi nyawa sang putra.

Jalang itu tersenyum licik, lalu membuang cutter tersebut ke sembarang arah setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.

"Bagus. Setelah urusan ini selesai, jangan pernah berani tinggal di rumah ini lagi," usirnya kejam.

Flashback Off.

Arka memegangi kepalanya yang mendadak terasa luar biasa sakit. Kilasan trauma masa lalu yang berputar hebat di otaknya serasa mencekik dan membuatnya gila.

"Aaaarghh!!" Lengkingan frustrasi keluar dari tenggorokan Arka.

"Arka!" Lintang membelalak panik melihat wajah suaminya yang mendadak berubah pucat pasi dengan tatapan mata yang dipenuhi ketakutan luar biasa.

"Pergi dari sini!" Usir Arka dengan napas yang memburu cepat. Bayang-bayang masa lalu yang menyesakkan dada membuat radarnya tidak bisa membedakan situasi sekarang.

"PERGII!" Bentak Arka brutal, mencoba mengusir sosok Hansanto yang memicu mimpi buruknya.

Mengingat Arka yang dilanda stres dan kepanikan tingkat dewa, Ilna—yang sejak dulu sudah tahu betul seluruh kisah pilu sahabatnya itu—langsung bergerak maju dan turun tangan.

Ilna berdiri tegap, menatap Hansanto dengan pandangan menghina yang teramat sangat. "Silakan Anda pergi dari sini! Jangan temui Arka maupun Frina, seperti saat jalang sialan Anda melarang Frina untuk tinggal di rumah setan itu!"

Sentakan tajam dari Ilna seketika mengunci mati mulut Hansanto. Wajah pria paruh baya itu pias tanpa sisa karena seluruh borok masa lalunya dikuliti habis di depan orang banyak.

Leno memberikan isyarat mata yang sangat dingin, memaksa Hansanto untuk tidak punya pilihan lain. Dengan langkah gemetar dan rasa malu yang menembus tulang, Hansanto akhirnya berbalik arah, melangkah pergi meninggalkan koridor dengan bayang-bayang dosa yang tidak akan pernah selesai.

Begitu sosok itu hilang di belokan, Lintang tidak membuang waktu satu detik pun. Ia langsung mendekati Arka yang tubuh tegapnya masih gemetaran hebat dengan napas memburu.

"Arka, duduk dulu," Lintang mendorong pundak Arka pelan agar cowok itu mau duduk kembali di kursi tunggu.

Namun, genggaman emosi dan trauma masa lalu rupanya masih mencengkeram kuat kesadaran Arka. Tubuhnya menegang kaku, matanya menatap kosong ke depan dengan pancaran ketakutan yang nyata.

"Jangan... Jangan pegang Bunda!" Racau Arka lirih. Suaranya bergetar hebat, ia masih terjebak di ambang trauma sebelas tahun lalu.

Lintang yang melihat suaminya seperti kehilangan kendali langsung panik sendiri. Air mukanya berubah cemas. Ia menoleh cepat ke arah kedua orang tuanya. "Gimana ini, weh? Aku harus apa?" Tanya Lintang dengan suara parau menahan tangis.

Ilna yang paham betul betapa hancurnya mental Arka akibat kejadian malam itu, langsung memberikan instruksi cepat. "Peluk, Neng. Peluk."

Tanpa membuang waktu atau memedulikan rasa gengsinya lagi, Lintang langsung melangkah maju merapatkan tubuh mungilnya di depan Arka yang sedang duduk menyandar lemas.

Lintang mendekap tubuh jangkung itu erat-erat. Dengan penuh kasih sayang, kedua tangan lentiknya bergerak membawa dan menenggelamkan kepala Arka agar bersandar pasrah tepat di perutnya. Mengurung cowok itu di dalam kehangatan pelukannya agar terhindar dari sisa-sisa memori kelam.

"Bunda..." Lirih cowok itu dengan suara yang teramat sangat kecil dan rapuh.

Kedua tangan kekar Arka yang biasanya kokoh di matras silat, kini perlahan bergerak naik. Ia mencengkeram erat bagian belakang kaus Lintang, menyembunyikan seluruh wajah pucatnya di sana seolah Lintang adalah satu-satunya pelindung yang ia punya di dunia ini.

Lintang tidak mengeluarkan suara berisik lagi. Sifat lantamnya menguap total. Jemari tangannya bergerak lembut, mengusap pucuk kepala Arka berulang kali dengan ritme yang teratur, mencoba menyalurkan ketenangan demi menenangkan debaran dada suaminya yang menggila.

Leno dan Ilna hanya bisa memandangi pemandangan itu dalam keheningan yang pilu. Mereka sadar, pernikahan darurat tadi malam ternyata menjadi awal dari takdir baru yang menyatukan luka dan pelindung.

Perlahan tapi pasti, tarikan napas Arka yang tadinya berantakan mulai berangsur stabil. Cengkeraman tangannya di baju Lintang pun perlahan mengendur.

Kepalanya perlahan mendongak, menatap lintang yang menunduk. "Gue benci ayah, dia bukan ayah gue..."

Lintang mengusap rahang cowok itu. "Gue juga benci... Dan mertua gue cuman bunda Frina."

...----------------...

Enam jam sudah berlalu sejak masa tegang menunggu Frina dioperasi. Operasinya berjalan lancar, dan kini wanita itu masih berada di ICU untuk penanganan intensif.

"Kamu ajak Arka pulang dulu ke rumah," ujar Ilna, menyuruh Lintang agar mereka bisa beristirahat dulu di rumah.

Lintang berkedip bingung. "Rumah siapa?"

"Rumah kita-lah. Di rumah Arka nggak ada siapa-siapa," sahut Ilna gemas. "Si Arka udah menggigil banget itu di rumah sakit terus."

"Ohhh..." Lintang manggut-manggut mengerti. "Naik apa?"

"Naik burok, Lintang! Naik burok biar cepet!" sahut Ilna yang sudah keburu gemas sampai ingin bilang 'hih'.

Leno tertawa melihat tingkah kedua wanita kesayangannya itu. "Naik mobil Papi aja. Kamu yang nyetir biar Arka bisa istirahat di mobil. Kasihan dia dari kemarin bolak-balik terus bawa motor."

Lintang tersenyum lalu mengangguk. "Kuncinya?"

Leno menyerahkan kunci mobil BYD miliknya. "Hati-hati bawanya, ya. Kamu lagi bawa nyawa."

"Siap, Papi... Udah ya, aku ke ruangan dulu manggil Arka," pamit Lintang.

Leno dan Ilna mengangguk, memandangi langkah putri mereka yang semakin menjauh membelah koridor.

...----------------...

"Arka, ayo pulang." Lintang mengguncang pelan pundak Arka yang lagi-lagi sudah rebahan di sofa panjang, padahal kasur lipat busa tadi masih ada di sana walau sudah dirapikan.

"Nggak, ah," tolak Arka tanpa membuka matanya sedikit pun.

"Lu kenapa sih? Pusing? Nggak kuat bangun? Mau ke parkiran pake brankar?" cerocos Lintang beruntun.

"Ck, diem." Gumam Arka terusik.

Lintang mendesah malas. Ia akhirnya berjongkok dan mengusap lembut rambut cowok itu. "Ayo pulang dulu, gue yang nyetir mobil. Biar lu nggak kedinginan di sini. Badan lu tambah panas lagi, tahu."

Mata Arka perlahan terbuka samar. "Pulang ke mana?"

"Ke rumah gue. Kita berobat ke klinik, habis itu lu istirahat di rumah gue," ujar Lintang lembut.

Arka menarik napas panjang, lalu mulai bangun secara perlahan. Kepalanya terasa semakin pusing bergulung-gulung.

Lintang dengan sigap menopang tubuh tegap itu sampai berdiri tegak. "Aduuh, laki gue lagi sakit aja cakep banget, dah," komennya dalam hati, eh, keceplosan.

"Berisik," umpat Arka lirih.

 

Mobil BYD mewah itu akhirnya memasuki pekarangan rumah, bertemu dengan Tesla dan Baleno yang sudah duduk manis di singgasananya masing-masing.

Lintang mematikan mesin mobil. "Ayo keluar."

Mereka berdua keluar dari mobil dan mulai memasuki rumah mewah tersebut.

Lintang berjalan cepat seperti kebiasaan aslinya. Namun, begitu tangannya membuka pintu depan, langkah kakinya mendadak terhenti sebelum sempat masuk.

Ia menepuk jidatnya sendiri. "Oh iya, laki gue."

Lintang langsung putar balik beberapa langkah ke belakang, lalu melingkarkan kedua tangannya di lengan kekar Arka yang berjalan pelan di belakangnya. Menuntun cowok itu masuk.

"Lu istirahat di kamar gue aja. Nanti gue bikinin bubur ayam, minum obat, terus tidur sambil gue kompres," celoteh Lintang persis seperti bidan kandungan yang sedang menasihati pasien.

"Nggak suka bubur ayam," keluh Arka dengan suara serak.

"Terus maunya apa, Ntong? Mi Gacoan?" tanya Lintang gemas.

Arka mendadak terdiam. Ia tampak cukup malu untuk mengakuinya, tapi itulah satu-satunya makanan sumber semangat yang bisa masuk ke lambungnya jika dia sedang sakit sejak kecil.

"Malah diem aja. Jawab dong, lu maunya makan apa?" bujuk Lintang lagi, menurunkan intonasi suaranya.

"Bubur..." Arka bicara dengan nada yang sangat ragu dan pelan. "Bubur Cerelac..."

Lintang terdiam seketika. Matanya membelalak melongo. "Hah?... Cerelac?!"

Arka langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kedua daun kupingnya mendadak memerah menjalar hebat sampai ke wajah dan lehernya yang pucat.

Sial. Habis ini pasti gue jadi bahan bulanan si Lantam ini, umpat Arka dalam hati, pasrah pada takdirnya yang baru saja runtuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!