Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24
Jangan Buka Diam-Diam
Chisen pulang lebih cepat dari yang seharusnya.
Erlyn berdiri di depan pintu loteng dengan kunci tua masih di tangan, seluruh tubuhnya seperti kehilangan perintah. Dari bawah terdengar suara sepatu dilepas, lalu langkah yang bergerak ke arah tangga utama.
Ia harus turun.
Tidak. Ia harus menyembunyikan kunci dulu.
Tidak. Ia harus pura-pura lewat.
Tiga pilihan itu bertabrakan di kepalanya, dan karena terlalu lama memilih, ia justru tidak bergerak sama sekali.
"Erlyn?"
Suara Chisen terdengar dari bawah.
Terlambat.
Ia memasukkan kunci ke saku rok dan berbalik turun. Baru dua anak tangga, Chisen sudah muncul di belokan koridor lantai dua. Ia memakai kemeja putih, tas portofolio hitam tersampir di bahu, rambutnya sedikit berantakan karena angin. Matanya langsung bergerak dari wajah Erlyn ke arah pintu loteng di belakangnya.
Tidak ada yang bisa disembunyikan dari mata itu.
"Sedang apa?"
"Lewat."
Chisen menatap tangga kecil menuju loteng, lalu kembali padanya. "Lewat ke mana?"
Erlyn menggenggam sisi rok. Kunci tua menekan pahanya dari dalam saku.
"Aku mencari Mama."
"Mama di kamar."
"Iya. Aku mau ke sana."
"Kamar Mama di bawah."
Erlyn menutup mulut.
Chisen berjalan naik dua langkah. Jarak mereka menjadi lebih dekat, tetapi kali ini tidak ada aroma dapur, tidak ada wajan, tidak ada alasan untuk berpura-pura sibuk. Hanya koridor sunyi dan pintu loteng yang terlalu jelas di belakangnya.
"Tanganmu."
"Apa?"
"Keluarkan."
Erlyn menatapnya. "Koh menggeledah aku?"
"Aku belum menyentuhmu."
"Tapi Koh menyuruh."
"Karena kamu menyembunyikan sesuatu."
Kalimat itu membuat pipi Erlyn panas. Bukan karena marah saja. Karena benar.
Ia bisa terus berbohong. Bisa berlari ke kamar. Bisa mengatakan Chisen tidak punya hak. Tetapi kunci di sakunya terasa semakin berat, seperti benda kecil itu sedang membakar kain.
Perlahan, Erlyn mengeluarkannya.
Kunci tua dengan benang merah kusam terletak di telapak tangannya.
Wajah Chisen tidak berubah, tetapi matanya menjadi lebih gelap.
"Dari mana?"
"Lemari bawah tangga."
"Kamu coba buka?"
Erlyn diam.
"Erlyn."
Nama itu terdengar lebih berat daripada teguran.
"Iya," jawabnya akhirnya.
Chisen mengambil napas pelan. Untuk sesaat, Erlyn lebih suka jika ia marah keras. Jika ia membentak, ia bisa melawan. Tetapi Chisen hanya berdiri diam, rahangnya mengeras, dan itu membuat rasa bersalah Erlyn naik lebih cepat.
"Tidak bisa," katanya, seolah itu bisa mengurangi kesalahan. "Kuncinya tidak cocok."
"Jadi kalau cocok, kamu masuk?"
Erlyn tidak menjawab.
Chisen menatapnya lama.
"Kalau kamu mau tahu sesuatu, tanya."
Tawa pendek keluar dari mulut Erlyn sebelum ia bisa menahannya. "Aku sudah tanya."
"Tidak berarti kamu boleh membuka diam-diam."
"Tidak berarti Koh boleh menutup semua hal."
"Itu ruangku."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, kenapa?"
Pertanyaan itu memotong napasnya.
Kenapa?
Karena ia kesal. Karena penasaran. Karena Chisen tahu terlalu banyak tentang dirinya tetapi menyimpan hidupnya sendiri seperti harta yang tidak boleh disentuh. Karena semua orang di rumah ini berjalan hati-hati di sekitar loteng, dan semakin hati-hati mereka, semakin Erlyn ingin tahu apa yang bisa begitu berbahaya di balik pintu itu.
"Karena Koh selalu membuat orang bertanya," jawabnya pelan.
"Itu bukan alasan."
"Aku tahu."
Untuk pertama kalinya sejak Chisen muncul di tangga, suara Erlyn turun. Ia menatap kunci di telapak tangannya, lalu mengulurkannya.
"Maaf."
Chisen tidak langsung mengambil kunci itu.
Di wajahnya, kemarahan yang tadi tertahan berubah menjadi sesuatu yang lebih sulit. Kecewa, mungkin. Atau lelah. Erlyn tidak yakin. Ia hanya tahu bahwa ekspresi itu membuat dadanya terasa tidak enak.
Akhirnya Chisen mengambil kunci.
Jari mereka tidak bersentuhan.
Entah kenapa, jarak kecil itu terasa disengaja.
"Jangan lakukan lagi," katanya.
Erlyn mengangguk.
"Aku serius."
"Aku juga."
Dari bawah, suara Jing terdengar samar.
"Er? Chisen?"
Erlyn langsung menegang. Jika Mama naik dan melihat mereka berdiri di depan loteng dengan kunci tua, pertanyaan yang muncul akan lebih sulit dijawab. Ia baru saja membuka mulut, tetapi Chisen sudah menoleh ke arah tangga.
"Di sini, Tante," jawabnya tenang. "Erlyn bantu ambil buku."
Jing tidak naik. "Jangan lama-lama. Nanti makan buah."
"Iya."
Langkah Jing menjauh.
Erlyn menatap Chisen. Ia baru saja menegurnya, tetapi juga menutupinya dari Mama. Rasa bersalahnya jadi lebih tidak nyaman, karena tidak bisa lagi disederhanakan menjadi marah.
Semuanya lebih rumit.
Sekarang.
"Kalau kamu penasaran, tahan."
"Koh kalau marah, bilang."
Chisen menatapnya.
"Jangan masuk loteng," katanya.
Bukan jawaban.
Erlyn menunduk sedikit. "Iya."
Chisen melewatinya menuju pintu loteng. Ia memasukkan kunci tua itu ke saku kemejanya, lalu mengeluarkan kunci asli dari tas. Erlyn melihat bentuknya sekilas, lebih baru, lebih kecil, terikat gantungan hitam polos.
Pintu loteng terbuka.
Bau cat langsung keluar, samar tetapi tajam.
Erlyn tanpa sadar mengangkat kepala.
Chisen berhenti di ambang pintu, tidak masuk dulu. Dari celah yang terbuka, Erlyn hanya sempat melihat kaki easel, sudut meja, dan kain putih menutup sesuatu yang besar di sisi dinding.
Lalu Chisen menoleh.
Tatapannya jelas.
Cukup.
Erlyn mundur satu langkah.
Chisen masuk dan menutup pintu.
Tidak dibanting.
Tidak dikunci keras.
Namun kali ini, saat suara kunci diputar dari dalam, Erlyn tidak merasa seperti sedang ditantang. Ia merasa seperti baru saja kehilangan sesuatu yang belum sempat ia punya.