NovelToon NovelToon
Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28: Apartemen Kosong

Tidak ada siapa pun yang menunggu lagi.

Rayhan mendarat di Jakarta hampir dua belas jam lebih lambat dari jadwal.

Begitu pintu jet terbuka, udara panas dan lembap langsung menghantam wajahnya. Ia tidak peduli. Kotak cincin berada di saku dalam jas, menempel di dada seperti detak kedua. Selama perjalanan dari bandara, ia mengirim tiga pesan kepada Keira.

Aku sudah mendarat.

Aku ke kantor dulu.

Nanti aku jemput kamu.

Tidak ada balasan.

Rayhan menelepon. Nada sambung berjalan sampai putus. Ia menelepon lagi. Putus lagi. Di kursi depan, Farel menatap kaca spion sekali, lalu cepat menunduk.

"Ke HEALER," kata Rayhan.

Mobil hitam melaju ke Kuningan.

Di lobby HEALER, resepsionis berdiri begitu melihat Rayhan masuk. Biasanya orang-orang akan menyambut dengan hormat yang rapi. Pagi itu, hormat mereka tercampur gugup.

"Bu Keira ada di lab?"

Resepsionis memucat. "Pak Hartono... Bu Keira sudah tidak aktif di kantor Jakarta."

Rayhan berhenti.

"Apa maksudnya tidak aktif?"

"Beliau mengajukan transfer internal. Berkasnya diproses beberapa hari lalu."

"Transfer ke mana?"

Resepsionis tidak berani menjawab.

Rayhan menatapnya.

"Ke mana?"

"Saya tidak punya akses detail, Pak."

Farel sudah menghubungi manajemen HEALER, tetapi jawaban yang datang sama: data transfer dibatasi atas instruksi tingkat direksi. Kevin Widjaja tidak bisa dihubungi.

Rayhan berjalan ke lift eksekutif tanpa meminta izin. Di lantai fragrance development, beberapa staf langsung berdiri. Kursi kerja Keira sudah kosong. Di mejanya hanya tersisa monitor, keyboard, dan satu cangkir putih milik kantor. Tidak ada sampel pribadi. Tidak ada catatan aroma. Tidak ada scarf tipis yang kadang ia gantung di sandaran kursi.

Seorang staf muda gemetar saat berkata, "Bu Keira sudah serah terima proyek, Pak. Semua file lengkap."

Lengkap.

Kata itu membuat Rayhan hampir tertawa. Bahkan saat pergi, Keira meninggalkan pekerjaan tanpa cela. Ia tidak memberi celah bagi siapa pun untuk menyebutnya tidak profesional.

Kotak cincin di saku Rayhan tiba-tiba terasa lebih berat.

"Apartemennya," kata Rayhan.

Perjalanan ke apartemen Keira terasa terlalu panjang. Rayhan menelepon lagi. Tidak diangkat. Mengirim pesan. Tidak dibaca. Ia membuka chat lama, menatap kata "Kangen" yang tidak pernah tertulis tetapi masih berputar di telinganya dari panggilan kemarin.

Dia bilang kangen.

Dia pasti hanya marah.

Dia pasti menunggu dijelaskan.

Di depan pintu apartemen, Rayhan menempelkan ibu jari ke sensor.

Lampu merah menyala.

Akses ditolak.

Ia menempelkan lagi.

Akses ditolak.

Ketiga kali, sensor mengeluarkan bunyi pendek yang terdengar seperti ejekan.

Rayhan menatap panel hitam kecil itu. Beberapa bulan lalu, Keira menambahkan sidik jarinya karena ia terlalu sering datang tanpa memberi tahu. Saat itu Rayhan menganggap akses itu wajar, hampir seperti tanda bahwa ia punya tempat dalam hidup Keira. Sekarang satu lampu merah kecil memberitahunya bahwa tempat itu sudah dihapus.

Sesuatu di dadanya retak kecil.

"Buka," katanya pada Farel.

"Pak, ini properti..."

"Buka."

Teknisi gedung dipanggil dengan wajah pucat. Kunci dibuka manual setelah beberapa menit yang terasa seperti satu malam. Begitu pintu terbuka, Rayhan masuk lebih dulu.

Aroma teh putih yang dulu selalu samar di apartemen itu hampir tidak ada.

Ruang tamu tetap rapi, tetapi berbeda. Di sofa ada bantal motif bunga yang bukan milik Keira. Di meja ada tumbler plastik Tari. Di rak, beberapa folder kantor dan gantungan kunci lucu menggantikan tempat perhiasan yang dulu pernah Rayhan lihat.

Tari keluar dari kamar dengan rambut berantakan dan wajah terkejut.

"Pak Rayhan?"

Rayhan menatapnya.

"Keira di mana?"

Tari memeluk kardigan di dadanya. Ia jelas sudah disiapkan untuk pertanyaan itu, tetapi tetap tidak mudah ketika berhadapan langsung dengan Rayhan.

"Ci Keira pergi belajar. Ke luar negeri."

Kebohongan itu keluar dengan susah payah. Tari tidak pandai berbohong pada pria yang bisa membuat seluruh kantor diam hanya dengan berjalan lewat. Tetapi Keira sudah memintanya. Dan jika ada satu hal yang Tari tahu setelah semua bulan ini, itu bahwa Keira tidak pernah meminta bantuan untuk dirinya sendiri kecuali benar-benar perlu.

"Negara mana?"

"Saya tidak tahu."

"Alamat?"

"Tidak tahu."

"Nomor barunya?"

"Tidak ada."

Rayhan berjalan ke kamar. Lemari terbuka. Kosong. Meja rias kosong. Laci yang dulu menyimpan dokumen dan sampel kecil kosong. Di kamar mandi, tidak ada sikat gigi Keira, tidak ada botol sampo yang biasa ia pakai, tidak ada aroma tubuhnya. Bahkan tempat sampah pun bersih.

Di atas meja samping ranjang, ada bekas bundar samar dari gelas air. Rayhan pernah meletakkan kompres di sana saat Keira demam. Di sudut sofa, tidak ada lagi selimut tipis yang dipakai Keira saat menunggunya pulang dari menghajar Denny. Semua benda yang menyimpan jejak mereka telah diangkat dengan teliti, seolah Keira menyapu dirinya sendiri dari hidup Rayhan tanpa meninggalkan debu.

Ini bukan pergi beberapa hari.

Ini pemutusan.

Rayhan kembali ke ruang tamu. "Kenapa kamu tinggal di sini?"

"Ci Keira menyewakan ke saya sebelum pergi. Semua dokumen sudah resmi."

"Aku beli apartemen lain untukmu."

Tari menggeleng cepat. "Tidak perlu, Pak."

Rayhan mengeluarkan kartu bank dari dompet dan meletakkannya di meja. "Lima ratus juta. Pindah hari ini."

Tari mundur setengah langkah. "Saya tidak bisa menerima."

"Bisa."

"Ci Keira sudah bilang Bapak mungkin akan melakukan ini."

Rayhan membeku.

Tari menelan ludah. "Dia bilang kalau Bapak menawarkan uang, saya harus ingat uang itu bukan jawaban untuk semua pintu yang sudah ditutup."

Kalimat itu seperti suara Keira yang keluar dari mulut Tari.

Rayhan menatap kartu bank di meja. "Dia benar-benar merencanakan semua."

Tidak ada yang menjawab.

"Ambil kartunya," kata Rayhan akhirnya.

"Pak..."

"Ambil. Bukan untuk pindah. Untuk biaya kalau ada orang mengganggumu karena kamu tinggal di sini. Jangan hubungi aku. Hubungi Steven."

Tari ragu lama sebelum mengambil kartu itu. "Saya benar-benar tidak tahu Ci Keira ke mana."

"Dia bilang luar negeri?"

"Ya."

Rayhan tertawa pendek, tidak ada suara bahagia di dalamnya. "Dia bahkan menyiapkan kebohongan untukmu."

Tari menunduk. "Atau Ci Keira sedang melindungi saya."

Rayhan menatapnya tajam.

Tari pucat, tetapi tetap melanjutkan. "Kalau saya tahu, Bapak pasti tanya. Kalau saya tidak tahu, saya tidak bisa mengkhianati siapa pun."

Untuk pertama kalinya pagi itu, Rayhan tidak punya kalimat untuk melawan.

Tari ingin membela Keira, tetapi melihat wajah Rayhan membuat kalimatnya berhenti. Pria itu berdiri di tengah apartemen seperti orang yang baru menemukan rumahnya dicabut dari tanah, tetapi masih menolak percaya tanah itu kosong.

Farel masuk perlahan. "Pak, Steven menelepon."

Rayhan tidak mengambil ponsel.

Ia mengeluarkan kotak cincin dari saku.

Tari melihat kotak itu dan wajahnya berubah. "Pak..."

Rayhan membuka kotak.

Safir biru di dalamnya berkilau di bawah lampu apartemen yang bukan lagi milik Keira. Detail merah kecil di sisi batu menangkap cahaya, seperti mata yang tidak akan pernah melihatnya.

Tari langsung memalingkan wajah. Ia baru paham mengapa Rayhan datang dengan mata yang terlalu terang meski tubuhnya lelah. Pria itu tidak datang untuk memarahi. Ia datang membawa sesuatu yang mungkin ia kira bisa menjadi awal baru.

Yang ia temukan hanya akhir yang sudah dibereskan rapi.

Rayhan menatap cincin itu lama.

"Dia bilang kangen," katanya pelan.

Tidak ada yang berani menjawab.

Ia menutup kotak, lalu menelepon Steven.

"Keira pergi."

Di seberang, Steven diam beberapa detik. "Apa maksud lo pergi?"

"Apartemennya kosong. Dia resign dari HEALER Jakarta. Sidik jariku dihapus."

"Ray..."

"Cari Kevin."

"Oke."

"Jangan sentuh Tari."

"Apa?"

"Dia tidak tahu apa-apa."

Setelah panggilan berakhir, Rayhan berdiri sendirian di ruang tamu. Tari sudah mundur ke kamar, memberi ruang yang tidak akan cukup. Farel menunggu di dekat pintu.

Apartemen itu kecil. Dulu Rayhan merasa tempat ini terlalu sempit untuk Keira. Sekarang, tanpa Keira, ruangan yang sama terasa seperti kota kosong.

Di meja, masih ada satu bekas persegi pada kayu, tempat Keira mungkin pernah meletakkan kotak sebelum mengirimnya pergi. Rayhan menyentuh bekas itu dengan ujung jari.

Ia belum tahu bahwa kotak-kotak itu sedang dalam perjalanan ke Hartono Estate.

Ia belum tahu bahwa semua pemberiannya akan kembali sebelum ia sempat memberikan cincin.

Malam itu, di Hartono Estate, beberapa teman konglomerat berkumpul setelah mendengar kabar. Ada yang berkata Keira keenakan dimanja lalu kabur. Ada yang menyebut perempuan seperti itu memang tahu kapan harus membawa diri. Steven hampir melempar gelas ke orang yang bicara paling keras.

"Dia pasti bawa banyak barang, kan?" seseorang berkata sambil tertawa kecil. "Setidaknya pintar. Enam bulan sama Ray, masa pulang tangan kosong?"

Steven berdiri. "Sebut nama Keira sekali lagi dengan nada itu."

Ruangan langsung sunyi.

Rayhan tidak menoleh. Ia duduk seperti patung, tetapi jari-jarinya mencengkeram kotak cincin sampai ruasnya memutih. Jika mereka tahu semua barang sedang kembali, mungkin mereka akan diam. Jika mereka tahu Keira bahkan meninggalkan sidik jarinya dari panel pintu, mungkin mereka tetap tidak mengerti.

Rayhan duduk diam di kursi utama, kotak cincin dalam genggaman.

"Dia pasti kembali," katanya.

Suaranya datar, terlalu tenang.

Steven dan William saling menatap.

Rayhan menunduk, ibu jarinya mengusap permukaan kotak beludru.

"Dia tidak bisa hidup tanpaku. Beberapa hari lagi, dia pasti kembali."

1
kitty ❤
lanjut Thor 😍🔥
kitty ❤
Semangat Thor 😍🔥
kitty ❤
lanjut Thor 🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!