Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Tari dan Hendro
Riani tidak langsung bertanya malam itu.
Ia mematikan layar ponsel Bagus, meletakkannya kembali di tempat semula, lalu melipat kain seserahan dengan gerakan yang terlalu rapi. Di luar kamar, suara Bu Yati masih terdengar memberi arahan kepada Guntur agar tidak meninggalkan piring kotor. Rumah tampak hangat, tetapi di dada Riani ada batu kecil yang mulai menetap.
Beberapa bulan kemudian, batu itu belum meledak. Bagus makin sibuk dengan usahanya, Riani tetap bekerja sebagai perawat, dan Melati mulai terbiasa berlari kecil ke arah Riani sambil memanggil "Bunda" kalau pulang dari rumah Mbah Yati. Hidup seperti tenang. Hanya Bu Yati yang kadang melihat Riani terdiam saat ponsel Bagus bergetar.
Sementara itu, Tari mulai punya rahasia yang lebih manis.
Setiap kali Hendro mendapat tugas atau izin singkat ke Cirebon, laki-laki itu selalu muncul di mall tempat Tari bekerja. Alasannya berganti-ganti. Beli sandal untuk Putri. Beli kemeja untuk dirinya. Beli minyak kayu putih untuk teman satu asrama. Sekali ia bahkan membeli wadah makan plastik warna merah muda, lalu baru sadar benda itu sama sekali tidak cocok untuk seorang perwira.
Hari itu, Tari sedang merapikan rak kaus kaki ketika bayangan tinggi berhenti di depannya.
"Mbak, ada kaus kaki warna hitam?"
Tari tidak menoleh. "Di rak sebelah kiri, Mas. Kalau mau pura-pura belanja, pilih barang yang belum pernah dibeli minggu lalu."
Hendro terdiam.
Tari menahan senyum. "Mas Hendro sudah punya lima pasang kaus kaki hitam dari toko ini."
Laki-laki itu batuk kecil. "Berarti tokonya bagus."
"Atau pembelinya kehabisan alasan."
Pipi Hendro memerah tipis. Tari akhirnya menoleh, lalu mereka sama-sama tertawa pelan. Tidak keras, karena supervisor toko sedang berdiri dekat kasir. Tapi cukup membuat dada Tari terasa ringan.
Setelah jam kerja selesai, Hendro menunggu di luar mall. Ia tidak berdiri terlalu dekat pintu, tidak membuat Tari jadi bahan omongan teman kerja. Ia menunggu di dekat warung kopi kecil seberang jalan, dengan dua gelas kopi susu dan piring gorengan yang masih hangat.
"Aku pikir Mas sudah balik Surabaya," kata Tari, duduk di bangku plastik.
"Besok pagi. Malam ini masih boleh makan gorengan."
"Tentara makan gorengan juga?"
"Kalau tidak ada yang lihat komandan."
Tari tertawa. Angin sore membawa bau kopi, minyak panas, dan asap kendaraan. Di seberang, lampu mall mulai menyala satu per satu. Cirebon tidak semegah Surabaya, tetapi malam itu bagi Tari terasa cukup besar untuk menyimpan kebahagiaan kecilnya.
Hendro bercerita tentang Putri. Adiknya sudah mau berjalan pagi di halaman rumah sakit. Masih sulit bicara panjang, tetapi sudah mulai menulis hal-hal yang ia ingat di buku kecil. Kadang Putri menolak bertemu orang tua mereka. Kadang ia duduk lama menatap pintu, seperti masih takut seseorang menyeretnya kembali.
"Dia sering tanya tentang Ibu," kata Hendro.
"Tentang Mama?"
"Iya. Dia bilang, kalau waktu itu Bu Yati tidak datang membawa surat, mungkin tidak ada yang percaya dia masih hidup."
Tari menunduk. "Mama memang begitu. Kalau sudah yakin harus menyelamatkan orang, susah dihentikan."
"Termasuk kamu."
Jari Tari berhenti di pinggir gelas kopi.
Hendro tidak memaksa, tetapi tatapannya tetap di sana, sabar.
Untuk pertama kali, Tari menceritakan semuanya tanpa menyembunyikan bagian yang memalukan. Tentang Desa Karanganyar. Tentang Kuncoro yang mengintip dan memakai foto untuk menakutinya. Tentang bagaimana ia hampir menyerah karena merasa tidak punya tempat pulang. Tentang Bu Yati datang dengan jaket baru, berdiri di depannya seperti pagar hidup.
Suara Tari kadang putus. Hendro tidak menyela. Ia hanya mendengar, sampai gorengan di piring mendingin dan kopi di gelas tinggal setengah.
"Aku dulu pikir, kalau aku pulang, aku merepotkan Mama," kata Tari. "Aku anak perempuan. Di rumah, yang selalu dihitung itu anak laki-laki. Aku takut kalau pulang, Bapak marah, kakak-kakak terganggu."
"Kamu bukan gangguan."
Tari mengangkat wajah.
Hendro meletakkan tangannya di meja, tidak langsung menyentuh. Ia menunggu sampai Tari tidak menarik diri. Baru kemudian jari-jarinya menutup tangan Tari dengan hati-hati.
"Kamu nggak perlu takut lagi."
Kalimat itu sederhana. Tidak ada janji besar. Tidak ada kata manis yang berlebihan. Tetapi telapak tangan Hendro hangat, dan untuk sesaat Tari merasa tubuhnya sendiri percaya lebih cepat daripada pikirannya.
"Mas jangan bilang begitu kalau nanti berubah," bisik Tari.
"Kalau aku berubah jadi buruk, kamu lapor Bu Yati."
Tari tertawa sambil mengusap sudut mata. "Mama bisa benar-benar datang."
"Makanya saya takut dari sekarang."
Hendro lalu mendorong piring gorengan ke arah Tari. "Makan dulu. Dari tadi cerita terus."
Tari mengambil bakwan kecil. "Mas nggak tanya aku mau ikut ke Surabaya?"
"Aku mau tanya, tapi bukan malam ini. Kamu baru mulai berdiri dengan kakimu sendiri. Kalau aku langsung mengajak pergi, nanti sama saja seperti orang lain yang menentukan hidupmu."
Tari menggigit bakwan pelan. Matanya turun ke sepatu hitamnya yang ujungnya sudah lecet. Sepatu itu murah, pekerjaannya melelahkan, tetapi gaji pertama dari toko membuatnya merasa punya nama sendiri. Bukan cuma anak perempuan Pak Tono. Bukan cuma adik Mas Anto dan Mas Gus. Bukan calon istri siapa pun.
"Aku ingin kerja dulu," katanya.
"Aku tahu."
"Kalau nanti aku ke Surabaya, aku mau karena aku siap. Bukan karena takut kehilangan Mas."
Hendro tersenyum kecil. "Kalau begitu aku yang harus belajar sabar."
"Bisa?"
"Sulit. Tapi bisa."
Mereka duduk lama di warung kopi itu. Tidak ada pelukan. Tidak ada kata pacaran yang diucapkan keras-keras. Namun ketika Hendro mengantar Tari sampai dekat gang rumah, Tari tahu sesuatu sudah berubah.
Malamnya, ia menelepon Bu Yati dari kamar.
"Mama."
"Kenapa, Nduk? Capek kerja?"
"Nggak. Tari cuma mau bilang..." Tari menggigit bibir, lalu tersenyum sendiri. "Mas Hendro... dia baik."
Di seberang, Bu Yati diam sebentar. Lalu terdengar tawa kecil, hangat dan menggoda. "Oalah. Jadi sekarang Mama harus siap-siap punya menantu tentara?"
"Mak!"
"Ya sudah, kalau baik, lihat terus baiknya. Jangan cuma lihat seragamnya."
"Tari tahu."
Setelah telepon ditutup, senyum Bu Yati perlahan hilang. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kartu nama Hendro yang masih ia simpan di laci. Hendro memang baik. Anak itu punya tulang punggung. Tetapi orang tua Hendro, Pak Wibowo dan Bu Nur, dalam ingatan Bu Yati bukan orang yang mudah menerima menantu dari keluarga biasa.
Mereka bisa tersenyum sambil menghitung harga manusia.
Pak Tono masuk membawa handuk, melihat wajah istrinya, lalu bertanya, "Ada apa?"
"Tari punya laki-laki."
Handuk di tangan Pak Tono berhenti. "Siapa?"
"Hendro. Perwira itu."
Pak Tono duduk pelan. "Orang tuanya siapa?"
Bu Yati menatap laci tempat kartu nama itu tersimpan.
Ia tidak menjawab.