Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Strategi untuk Sang Putri
Air mata Keira belum kering ketika layar ponselnya mulai meredup.
Di seberang video, Kiara masih sibuk menunjukkan kucing oranye dengan mata hijau. Kak Anisa beberapa kali mengingatkan agar Kiara tidak menempelkan krayon ke layar, tetapi Kiara tetap tertawa kecil, bangga seperti baru memenangkan lomba besar.
Keira memaksa dirinya tersenyum.
"Kak, aku harus kerja lagi."
"Kei kerja terus," gumam Kiara. Bibirnya maju. "Nanti Kei pulang bawa krayon?"
"Iya. Aku janji."
"Krayon oranye banyak?"
"Banyak."
Kiara baru mau tersenyum lagi setelah Keira mengangkat jari kelingking ke depan kamera. Mereka tidak bisa benar-benar mengaitkan jari lewat layar, tetapi bagi Kiara, janji seperti itu cukup. Ia menempelkan kelingkingnya ke kaca ponsel, lalu tertawa.
Setelah panggilan terputus, kamar kecil itu kembali sunyi.
Amplop cokelat di pangkuan Keira terasa berat. Rp 20 juta. Uang itu belum cukup untuk menyelamatkan seluruh hidup Kiara, tetapi cukup untuk membuat satu minggu ke depan tidak terasa seperti tepi jurang.
Keira memasukkannya ke dalam tas kain di bawah pakaian ganti, lalu menarik napas panjang.
Ia tidak punya kemewahan untuk menangis lama.
Nyonya Stephanie menunggu.
Saat Keira kembali ke kamar Stephanie, jam di ponselnya menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Koridor lantai dua lebih sepi daripada siang. Lampu dinding menyala kuning lembut, tetapi keheningannya bukan damai. Di rumah sebesar ini, keheningan terasa seperti telinga yang sedang mendengar.
Di depan pintu Stephanie, Keira berhenti sebentar.
Dari dalam tidak terdengar teriakan. Tidak ada suara barang pecah. Hanya isak kecil yang terputus-putus.
Keira mengetuk dua kali. "Nyonya Stephanie, saya Keira."
Tidak ada jawaban.
Ia membuka pintu perlahan.
Kamar itu masih redup. Bayi tidur di boks kecil dekat ranjang, kini memakai selimut tipis katun putih setelah semua kain berbulu dikeluarkan. Stephanie duduk di lantai dekat sofa, memeluk lutut. Rambutnya lepas berantakan, wajahnya pucat, tetapi matanya langsung mencari Keira.
"Bayiku?" suaranya serak.
"Sudah diperiksa dokter. Napasnya stabil. Nyonya Besar juga meminta semua perlengkapan bayi diperiksa ulang."
Stephanie menutup mata. Bahunya turun seolah tulangnya baru dilepas dari tali.
"Aku bahkan tidak ada di sana saat anakku hampir mati."
Keira mendekat, tetapi tidak menyentuhnya sembarangan. "Nyonya sedang dalam pemulihan. Dokter memberi obat tadi subuh."
"Itu alasan semua orang." Stephanie tertawa tanpa suara. "Aku capek mendengar orang bilang aku sedang pemulihan. Seolah aku barang rusak yang harus ditaruh di kamar sampai tidak mengganggu pemandangan."
Keira berjongkok di depannya. "Kalau Nyonya mau marah, marahlah. Tapi setelah itu, kita harus bicara tentang besok."
Mata Stephanie bergerak. "Gilbert."
Nama itu membuat udara kamar berubah.
Keira mengangguk. "Ko Gilbert akan datang?"
"Ethan bilang dia akan memaksanya datang. Kalau perlu pakai kontrak kerja sama." Stephanie menggigit bibir sampai pucat. "Tapi dia datang hanya karena uang. Bukan karena aku."
"Itu belum tentu buruk."
Stephanie menatapnya seperti Keira baru saja mengatakan sesuatu yang kejam.
Keira tidak mundur. "Kalau dia datang karena uang, berarti dia datang dengan pertahanan tinggi. Dia akan siap menolak penjelasan Nyonya, menolak tangis Nyonya, dan menolak setiap tuduhan tentang Chenny."
Wajah Stephanie menegang. "Jadi aku harus bagaimana? Berlutut? Memohon? Bilang aku tidak gila?"
"Tidak."
Jawaban itu membuat Stephanie terdiam.
Keira mengambil tisu dari meja, menyerahkannya. "Justru Nyonya tidak boleh menjelaskan. Tidak boleh memohon. Tidak boleh memaki Chenny."
"Kamu gila?"
"Kalau Nyonya menjelaskan, Ko Gilbert akan merasa Nyonya sedang membela diri. Kalau Nyonya memohon, dia akan merasa Nyonya menggunakan bayi untuk menahannya. Kalau Nyonya memaki Chenny, dia akan melihat persis gambaran yang Chenny ingin tunjukkan kepadanya."
Stephanie mencengkeram tisu itu.
Keira melanjutkan dengan suara rendah, tetapi setiap kata diletakkan jelas. "Strategi Chenny bukan membuat Ko Gilbert jatuh cinta saja. Dia membuat Ko Gilbert percaya bahwa Nyonya adalah perempuan yang kasar, cemburuan, dan berbahaya. Setiap kali Nyonya mengejar, berteriak, atau menangis di depan Ko Gilbert, Chenny menang tanpa harus hadir."
Wajah Stephanie kehilangan warna.
"Dia selalu begitu," bisiknya. "Dia bicara pelan. Dia minta maaf duluan. Dia bilang, 'Aku takut Nyonya Stephanie salah paham.' Lalu Gilbert menatapku seperti aku monster."
"Besok, jangan beri dia monster."
Stephanie mengangkat kepala.
"Beri dia kehilangan," kata Keira.
Kamar itu diam.
Di luar jendela, hujan Jakarta turun tipis, menyentuh kaca dengan bunyi halus.
Keira berdiri dan melihat sekeliling. Kamar Stephanie terlalu mewah untuk terlihat terluka. Seprai satin sudah diganti. Meja rias sudah dirapikan. Vas baru ditempatkan di sudut. Orang-orang di rumah ini terlalu cepat menghapus bekas kehancuran, seolah hati manusia juga bisa disapu seperti pecahan botol.
"Kita harus membuat ruangan ini jujur," ucap Keira.
"Jujur?"
"Nyonya bukan penjahat. Nyonya seorang ibu yang baru melahirkan, kurang tidur, dikhianati, lalu dibuat seolah seluruh rasa sakitnya memalukan. Kalau Ko Gilbert masih punya hati, dia harus melihat itu. Bukan versi Nyonya yang berteriak. Bukan versi Nyonya yang mengejar. Versi Nyonya yang sudah terlalu lelah untuk mempertahankan diri."
Stephanie menatapnya lama.
"Kalau gagal?"
Pertanyaan itu kecil. Hampir seperti anak yang takut dimarahi.
Keira teringat Kiara yang menempelkan kelingking ke layar ponsel.
"Kalau gagal, kita cari cara lain," jawabnya. "Tapi besok Nyonya tidak akan kalah dengan cara Chenny."
Untuk pertama kalinya malam itu, Stephanie tidak membantah.
Mereka mulai bekerja.
Keira meminta izin membuka laci meja kerja Stephanie. Di dalamnya ada kertas surat berkop Keluarga Kang, catatan rumah sakit, undangan makan malam yang tidak pernah dihadiri Gilbert, dan beberapa foto pernikahan yang sudah terlipat di sudut.
Stephanie memegang foto itu terlalu lama.
"Aku cantik sekali hari itu," katanya pelan.
"Nyonya masih cantik."
"Jangan bohong."
"Saya tidak sedang menghibur. Saya sedang mengatur medan."
Stephanie menatap Keira, lalu tiba-tiba tertawa pendek. Tawanya pecah, basah, tetapi hidup.
Keira mengarahkan agar beberapa kertas disobek tidak terlalu rapi dan disebar di dekat meja. Bukan amukan teatrikal. Bukan kerusakan yang dibuat-buat. Lebih seperti seseorang yang berkali-kali mencoba menulis pesan, lalu tidak sanggup menyelesaikannya.
Di atas satu lembar kertas putih, Stephanie menulis dengan tangan gemetar:
kenapa?
Hurufnya miring. Tinta menebal di ujung karena pulpen ditekan terlalu kuat.
Ia menatap kata itu sampai matanya merah.
"Aku memang ingin tahu," bisiknya. "Kenapa dia percaya perempuan itu lebih cepat daripada istrinya sendiri?"
Keira tidak menjawab dengan teori.
Ia hanya mengambil kertas itu dan meletakkannya di tempat yang akan terlihat dari pintu, cukup dekat untuk menusuk mata, cukup jauh agar tidak tampak sengaja dipamerkan.
Menjelang pukul tiga pagi, kamar itu berubah.
Bukan berantakan seperti amukan. Lebih buruk dari itu. Seprai putih kusut. Selimut bayi terlipat rapi di sisi boks, seolah satu-satunya hal yang masih sanggup dijaga Stephanie adalah anaknya. Di meja, tisu basah menumpuk. Di lantai, kertas-kertas dengan tulisan yang berhenti di tengah kalimat tersebar seperti napas yang tidak selesai.
Stephanie duduk di tepi ranjang, memandang semuanya.
"Aku harus terlihat menyedihkan?"
"Tidak," kata Keira. "Nyonya harus berhenti terlihat seperti sedang bertarung."
"Bedanya apa?"
"Kalau Nyonya terlihat bertarung, Ko Gilbert akan melawan. Kalau Nyonya terlihat sudah menyerah, dia akan bertanya pada dirinya sendiri apa yang membuat Nyonya sampai di titik itu."
Stephanie menelan ludah.
Pagi datang dengan cahaya abu-abu.
Keira membantu Stephanie mengganti baju. Bukan gaun mahal. Bukan setelan rapi yang biasa dipakai untuk menerima tamu. Hanya baju tidur putih tipis dengan cardigan lembut di bahu. Rambutnya tidak disanggul, hanya disisir seperlunya. Wajahnya tidak diberi makeup selain pelembap bibir agar tidak pecah.
Ketika Stephanie melihat bayangannya di kaca, ia hampir mundur.
"Aku terlihat seperti kalah."
Keira berdiri di belakangnya. "Tidak. Nyonya terlihat seperti berhenti mengejar orang yang tidak mau melihat."
Mata Stephanie basah lagi.
"Kalau dia masuk?"
"Nyonya jangan menoleh dulu."
"Kalau dia bertanya?"
"Jawab pendek."
"Kalau dia menyebut Chenny?"
Keira menatapnya lewat cermin. "Diam."
Stephanie memejamkan mata.
"Tidak menjelaskan. Tidak memohon. Tidak memaki Chenny," ulangnya pelan, seperti menghafal doa yang menyakitkan. "Cukup."
Keira mengangguk. "Cukup."
Mereka memindahkan kursi kecil ke dekat jendela. Stephanie duduk di sana, menghadap halaman basah. Dari tempat itu, siapa pun yang berdiri di pintu bisa melihat bahunya yang tipis, kertas berserakan di lantai, dan satu kata kenapa? yang tergeletak seperti luka terbuka.
Bayi tidur tenang di boks. Napasnya kecil, teratur.
Keira memeriksa sekali lagi posisi selimut, suhu ruangan, botol susu steril yang belum digunakan, dan bel kecil di dekat ranjang. Semua aman.
Lalu suara mobil terdengar dari halaman depan.
Stephanie langsung menoleh.
Keira menggeleng kecil.
Tubuh Stephanie kaku. Jari-jarinya mencengkeram cardigan di dada, tetapi ia memaksa wajahnya kembali ke jendela.
Di luar kamar, langkah cepat terdengar mendekat. Seorang staf mengetuk dari balik pintu.
"Suster Keira, Ko Gilbert sudah sampai di Kediaman."
Keira menatap Stephanie.
Semua sudah siap.