NovelToon NovelToon
Takluknya Boss Kecil Mafia

Takluknya Boss Kecil Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: NoorBee

Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Kecewanya Seorang Ayah

Suara deru mesin SUV hitam milik Evan perlahan mati tepat di depan pagar rumah orang tua Aruna. Ketegangan di dalam kabin begitu pekat, mengalahkan dinginnya hembusan AC sore itu.

Aruna meremas erat amplop putih berisi hasil cetak USG minggu kelimanya. Di sebelahnya, Gavin tetap menggenggam jemari wanita itu dengan tangan kanannya yang sehat, menyalurkan kekuatanya.

Di kursi depan, Evan dan Ethan memasang wajah serius layaknya bersiap memasuki ruang negosiasi bisnis tingkat tinggi.

"Ingat rencana kita," ucap Ethan sembari melepas sabuk pengaman, melirik Aruna dan Gavin melalui spion tengah.

 "Gue dan Evan yang bakal buka suara duluan soal latar belakang keluarga Gavin biar Mamah Inda nggak syok. Tugas lo berdua cuma jujur soal kehamilan ini dan tunjukin foto USG-nya."

"Dan lo, Vin," Ethan menoleh ke belakang, menatap Gavin dengan tatapan intimidasi khasnya.

"Siapkan mental lo. Biarpun lo adiknya Dom, dan Om Fiki berhubungan baik sama keluarga lo, tapi ini ngelibatin harga diri seorang ayah yang diusik. Begitu tahu anaknya hamil duluan, lo harus siap denger bentakan pertama beliau."

" Salah than, lebih tepatnya bogeman papah fiki" ucap Evan.

Gavin hanya mengulas senyum miring andalannya, meski guratan rahangnya menegang serius.

"Gue udah siap semenjak denger detak jantung anak gue di rumah sakit tadi, Than Van. Apapun konsekuensinya, gue hadapi."

Begitu mereka berempat melangkah masuk ke ruang tamu, suasana hangat rumah seketika berubah kaku. Ayah Fiki dan Mamah Inda yang sedang bersantai langsung berdiri dengan wajah bingung sekaligus terkejut melihat dua keponakan tertuanya datang mengawal Aruna dan Gavin.

"Lho... Evan? Ethan? Kok kalian bisa barengan datang ke sini?" tanya Fiki, alis tebalnya bertaut penuh selidik.

 "Ada urusan bisnis apa sore-sore begini?"

"Selamat sore, Papa, Mamah," Ethan membuka obrolan dengan suara baritonnya yang tenang dan berwibawa, mengambil alih kendali ruangan.

"Udah makan, nak? Evan sering ke sini, tapi Ethan sibuk banget, jarang mampir. Mamah bikin cupcake kesukaan kamu waktu kecil," ucap Inda hangat kepada Ethan.

"Aku sibuk di kantor, Mah. Semenjak Papa Fiki sama Daddy menghibahkan tanggung jawab, aku nggak bisa main lagi," adu Ethan yang langsung memancing tawa lepas dari Fiki.

"Itu sudah menjadi tanggung jawab kalian berdua. Terlebih adik-adik kalian perempuan," ucap Fiki tegas namun bangga. Inda segera beranjak ke dapur untuk menyuruh asisten rumah tangga membawakan cemilan dan minuman, sebelum akhirnya kembali bergabung di ruang keluarga.

"Pah, ada waktu? Ada yang mau Ethan sampein, tapi Ethan butuh privasi," ucap Ethan mendadak serius.Fiki langsung menatap tajam keponakannya itu.

 "Baik, ayo kita ke ruang kerja Papa."Namun, saat Fiki berdiri, seluruh orang di ruangan itu ikut bangkit berdiri.

'Loh, kenapa?" tanya Fiki bingung.

"Kita semua akan berbicara di ruang itu, Pah," ucap Ethan tenang.

Fiki semakin curiga. Namun, dia hanya mengangguk dan memimpin mereka masuk ke ruang kerja, lalu menyalakan tombol peredam suara dinding. Setelah semua duduk di posisi masing-masing, Ethan langsung membuka konfrontasi.

"Kami datang ke sini bukan untuk urusan bisnis korporat, Pah... Kami datang untuk membawa sebuah pertanggungjawaban besar terkait Aruna dan Gavin."

Mamah Inda yang duduk di sebelah suaminya langsung menatap anak gadisnya dengan pandangan panik.

"Pertanggungjawaban apa, Ethan? Aruna, kamu bikin masalah apa di kantor?"

Aruna menelan ludah dengan susah payah. Ia berdiri dan melangkah maju satu langkah, menarik napas panjang demi mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya sebagai wanita dewasa.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengeluarkan selembar kertas hitam-putih mengilat dari dalam amplop, lalu meletakkannya tepat di atas meja kerja Fiki.

"Ma, Pa... Aruna minta maaf," ucap Aruna, suaranya bergetar namun terdengar sangat jujur.

"Aruna... Aruna sedang hamil. Usianya sudah memasuki minggu kelima. Dan ini adalah anak Gavin."

Brakk!

Ayah Fiki menggebrak meja kerja di depannya dengan sangat keras. Dentuman itu begitu kuat hingga vas bunga di sudut meja bergetar dan cangkir teh di atasnya berdenting nyaring. Pengakuan Aruna bagaikan hantaman bom yang seketika membekukan seluruh pasokan udara di dalam ruang kerja kedap suara tersebut.

Wajah Inda seketika pucat pasi. Tangannya refleks menepuk dada dengan mata melotot sempurna karena syok yang teramat sangat. Sementara itu, Ayah Fiki langsung berdiri tegak. Wajah tegas seorang ayah menggelap, dan sepasang matanya menatap tajam ke arah Gavin dengan kilat amarah yang pekat.

"Gavin!" bentak Ayah Fiki, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, persis seperti yang diprediksikan Ethan.

"Om memang mengagumi otak bisnismu dan latar belakang keluargamu! Tapi bukan berarti kamu bisa merusak kehormatan anak gadis Om sebelum ada ikatan pernikahan resmi! Kamu tahu apa akibatnya?!"

Sebelum Gavin sempat mengeluarkan sepatah kata pun, Ayah Fiki yang sudah diselimuti amarah membuta langsung melangkah lebar memutari meja. Dengan gerakan cepat dan penuh emosi, Ayah Fiki melayangkan satu pukulan tepat ke arah wajah pemuda itu.

Bugh!

Hantaman keras itu mengenai rahang tegas Gavin hingga wajahnya terlempar ke samping. Tubuh tegapnya sempat terhuyung mundur satu langkah, membuat rembesan luka di bahu kirinya yang terbalut perban kembali berdenyut nyeri.

"Gavin!" pekik Aruna histeris.

Air matanya langsung tumpah melihat pria itu dipukul di depan matanya. Ia hendak maju menahan ayahnya, namun Evan dan Ethan dengan sigap menahan lengan Ayah Fiki agar situasi tidak semakin lepas kendali.

Gavin menyeka setitik darah di sudut bibirnya menggunakan punggung tangan kanan. Bukannya marah atau membalas, ia justru kembali menegakkan punggungnya bagai ksatria seutuhnya.

Ia melangkah maju satu langkah ke depan Aruna, memasang badan tegapnya demi melindungi wanita dan calon anaknya dari amarah lanjutan sang ayah. Gavin menundukkan kepala dengan hormat, namun suaranya terdengar sangat mantap dan berwibawa tanpa ada secuil pun keraguan.

"Saya menerima pukulan Om dengan lapang dada, karena saya tahu saya memang salah," ucap Gavin, mengunci pandangan matanya dengan mata Ayah Fiki yang masih menyalang marah.

"Saya mengakui kesalahan saya sepenuhnya. Tetapi kedatangan saya ke sini bersama Evan dan Ethan bukan untuk melarikan diri. Saya ke sini untuk melamar Aruna secara resmi."

Barulah setelah menunjukkan ketegarannya, Gavin merogoh saku jaketnya dan menyerahkan map kulit hitam tebal berisi berkas jaminan dan kesiapan pernikahan darurat yang sudah ia bawa dari rumah sakit.

"Kak Dom dan klan Sterling sudah menyiapkan seluruh dokumen legalitas untuk pernikahan kami besok pagi," lanjut Gavin dengan nada baritonnya yang sangat protektif.

"Seluruh aset pribadi saya atas nama perusahaan rintisan logistik digital juga sudah dialihkan sebagai jaminan perlindungan untuk Aruna dan calon anak kami seumur hidup. Saya tidak hanya ingin bertanggung jawab atas kehamilan ini, Om. Saya ingin menjadikan Aruna sebagai wanita satu-satunya yang memegang kendali penuh atas hidup dan masa depan saya."

Mendengar kalimat lantang penuh komitmen serta melihat keberanian berondong berusia sembilan belas tahun yang tetap berdiri tegap meski baru saja dipukul, kemarahan Ayah Fiki seketika mereda. Ia menatap map di tangannya, lalu beralih menatap Gavin dengan pandangan yang mendadak dipenuhi rasa takjub atas kejantanan luar biasa adik sang bos mafia ini.

Keheningan yang panjang dan emosional menyelimuti seisi ruangan. Ayah Fiki masih berdiri terpaku menatap map kulit hitam di tangannya, sementara Evan dan Ethan perlahan melonggarkan jagaan mereka pada Fiki.Ketegangan mencekam yang baru saja memuncak seketika mencair, menyisakan isak tangis Aruna yang pecah tanpa bisa ditahan lagi.

Melihat anak gadisnya yang biasa begitu tegar, mandiri, dan keras kepala kini menangis tergugu dengan bahu berguncang hebat, hati Inda runtuh seutuhnya. Seluruh rasa syok dan kemarahan menguap, digantikan oleh naluri murni seorang ibu.Inda langsung melangkah tergesa mengabaikan Gavin, lalu merengkuh tubuh Aruna ke dalam pelukan hangatnya.

"Aruna... anak Mama..." bisik Ibu Aruna dengan suara bergetar menahan tangis.Aruna langsung menyembunyikan wajah di ceruk leher ibunya, menangis sejadi-jadinya di dalam dekapan yang sangat ia rindukan.

 "Ma... maafin Aruna, Ma... Aruna sudah bikin kecewa Mama sama Papa..."

"Sudah, Sayang, sudah... Jangan menangis lagi," ucap Ibu Aruna lembut sembari mengusap punggung Aruna dengan penuh kasih sayang. Air matanya sendiri kini ikut luruh membasahi pipi.

"Mama memarahi kamu bukan karena benci, tapi karena Mama takut kamu salah melangkah. Tapi melihat Gavin yang begitu ksatria berdiri di depan kamu... Mama tahu anak Mama tidak berada di tangan pria yang salah."

Ibu Aruna perlahan melepaskan pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Aruna yang basah. Ia menghapus air mata di sudut mata anaknya dengan ibu jari, lalu menatap perut Aruna yang masih rata dengan binar mata yang kini dipenuhi rasa haru.

"Di dalam sini... beneran sudah ada cucu Mama, kan?" tanya Inda dengan senyuman tulus yang sangat hangat.

Aruna mengangguk pelan di sela sisa isaknya, lalu mengeluarkan cetakan foto USG minggu kelima dan menyerahkannya kepada sang ibu. Inda menerima kertas mengilat itu dengan jemari bergetar, menatap titik kecil di dalam lingkaran hitam tersebut dengan rasa haru yang luar biasa membuncah di dadanya

****

1
Jingga
Menarik, fresh, menghibur
Alam2719
Thor, sehari up tiga kali yah????
QueenBee: di usahkan tiga kali yah, pagi, siang sama malam🙏🙏
total 1 replies
Alam2719
gw juga kecewa kalau jadi papa fiki
Alam2719
Thor, ganteng amat si gavin!!
QueenBee: iyah aku juga merasa dia ganteng banget🤣
total 1 replies
Musafa87
Thor thor, visul yang lain dong, 🤣🤣🤣
QueenBee: hahahaha.... oke aku usahakan yah kaaaa 😍
total 2 replies
Musafa87
Gavin lo ganteng amat!!!! sesuai ekspektasi gw 😍😍😍😍😍
QueenBee: terimakasih kaaa
total 1 replies
HD1
aruna run 🤣
hayroco
berondong obses🤣
hayroco
berondong meresahkan
Anonymous333
ih seru thor!!!
Anonymous333
vin, tokcer amat lo 🤣
Jingga
sumpah, seru 🤣🤣🤣
Jingga
anjrit, hamil 🤣🤣🤣🤣
Jingga
cantik banget cewenya 😍
Bocil323
thor kapan up lagi, rame dong 🤣🤣🤣
Bocil323
ighhh ko gemes 😍😍😍
Bocil323
wkwkwkwkwkkw malah di restuin sama om fiki 🤣🤣🤣
Bocil323
please banget, mau satu berondong yang kaya gini!!!
Bocil323
evan rey, usil banget loh 🤣🤣🤣
Bocil323
aaaahhhhh!!! asli bagus banget, suka banget!!!!! karakter cowonya kuat, dan cewenya cantik banget!!! dom juga kepala mafia tapi secy banget kata gw mah!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!