NovelToon NovelToon
Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."

Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.

Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.

Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.

Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.

Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.

Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Kepanikan Buta

Cahaya di layar ponselnya itu menembak langsung ke wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Ribuan komentar bergulir cepat tanpa ampun, menghancurkan citra putri sempurna yang ia rawat bertahun-tahun.

Dokumen pengadaan barang dengan tanda tangan melingkarnya kini terpampang mutlak di semua portal berita nasional dan akun gosip terbesar. Publik yang kemarin sore memujanya, malam ini beramai-ramai mengasah pisau cibiran untuk mengulitinya.

Nadia melempar gawai mahal itu ke atas kasur berseprai sutra dengan tangan gemetar. Benda pipih itu memantul pelan, namun getarannya terus berderik merobek keheningan kamar tidurnya.

Gadis itu memundurkan langkahnya terhuyung-huyung hingga punggungnya menabrak meja rias. Deretan botol parfum mawar kesayangannya bergetar hebat akibat benturan tersebut. Napasnya memburu keras, dadanya naik turun dengan ritme tidak beraturan. Udara dari pendingin ruangan mendadak terasa berubah menjadi gas beracun yang mencekik tenggorokannya rapat-rapat.

Tangan Nadia meraba laci meja dengan panik, mencari ponsel cadangan miliknya. Jari telunjuknya yang berhias cat kuku mengilat menekan nomor Clarissa secara brutal. Pewaris jaringan hotel mewah itu adalah sahabat terdekatnya yang selalu menyanjungnya di setiap pesta akhir pekan.

Nada sambung berbunyi panjang tiga kali sebelum panggilan itu terhubung lambat.

"Clarissa, tolong aku sekarang juga," suara Nadia pecah, menyeret nada keputusasaan yang tidak pernah ia gunakan seumur hidupnya. "Kamu harus bantu aku bicara ke media malam ini. Katakan pada mereka kalau dokumen sialan itu palsu dan seseorang sengaja menjebakku."

Terdengar hembusan napas berat dari seberang telepon.

"Maaf, Nadia," suara Clarissa mengalun sangat jauh dan membeku. "Papaku langsung menyita semua jalur komunikasiku denganmu. Tim hukum keluargaku melarang keras kami terseret pusaran skandal korupsi yayasan Dharma Group. Jangan hubungi nomor ini lagi sampai keadaan tenang."

Sambungan terputus sepihak tanpa ruang perdebatan. Bunyi bip monoton itu menampar gendang telinga Nadia telak.

Ia menekan nomor teman berikutnya dengan beringas, lalu berlanjut ke nomor berikutnya. Semuanya berujung pada penolakan kasar atau mesin penjawab otomatis yang mengabaikannya. Orang-orang elit yang memujanya layaknya dewi kemarin sore, kini membuangnya seperti barang rongsokan pembawa virus mematikan.

Kepanikan buta mulai mengambil alih seluruh fungsi logikanya. Ia membuka aplikasi perbankan premium di ponselnya, berniat memesan tiket penerbangan kelas satu ke Singapura malam ini juga. Ia harus menghindari kerumunan wartawan lapar yang pasti mulai mengepung gerbang utama rumahnya sebentar lagi.

Aplikasi itu memuat data selama beberapa detik penuh ketegangan. Layar mendadak berubah menjadi merah darah.

Peringatan sistem berbunyi melengking. Akses ditolak, rekening dibekukan oleh otoritas berwenang atas dugaan tindak pidana pencucian uang.

Ponsel itu lolos dari genggaman Nadia, jatuh membentur lantai pualam hingga retak. Lututnya kehilangan tenaga penyangga seketika. Ia merosot pelan ke bawah, membiarkan gaun sutra birunya menyapu lantai yang sedingin es. Ruang spasial di sekelilingnya menyempit agresif, menjepit tubuhnya dalam kehampaan tanpa celah cahaya.

Inilah rasa sakit yang persis meremukkan kewarasan Savira lima belas tahun lalu. Rasa dihakimi tanpa ampun, dibuang tanpa pelindung, dan diludahi oleh dunia fana yang hanya menunduk pada uang.

Di seberang kota yang diguyur rintik hujan, Savira duduk tenang di atas sofa kulit usang dalam apartemen persembunyian Aaron.

Ia mengaduk mangkuk porselen berisi mi instan kuah merah pekat. Asap panas mengepul tebal membawa aroma cabai yang menusuk rongga hidung. Ia menggulung untaian mi tersebut menggunakan sumpit besi, memasukkannya ke dalam mulut tanpa keraguan sedikit pun.

Rasa pedas brutal meledak menyengat lidahnya. Sensasi terbakar itu menjalar liar hingga ke pangkal kerongkongan, memaksa butiran keringat halus bermunculan di pelipisnya. Rasa sakit fisik ini membakar sisa-sisa ketegangan yang membebani pundaknya selama dua puluh empat jam terakhir, membersihkan otaknya dari kekusutan.

Layar televisi besar di dinding ruangan menyiarkan berita terkini secara langsung.

Wajah pucat Nadia terpampang menonjol di layar kaca, disandingkan dengan lembar dokumen pencairan dana Yayasan Amal Dharma. Judul berita bergulir warna merah menyala di bagian bawah layar, memicu tuntutan penangkapan dan transparansi dari keluarga konglomerat tersebut.

Aaron Jayanegara berdiri tegak bersandar pada kusen jendela kaca. Jas hitamnya telah ditanggalkan sejak tadi, menyisakan kemeja katun gelap yang digulung rapi hingga siku. Pria itu menyilangkan lengannya yang berotot, menatap layar televisi dengan sorot mata sedingin dasar lautan utara.

"Tim audit independen menyita paksa semua perangkat kerja di kantor yayasan pagi ini," bariton Aaron mengalun stabil mengisi kabin ruangan. "Mereka menemukan salinan dokumen itu bersarang di peladen utama. Sesuai perhitunganmu, sistem keamanan internal mereka terlalu lamban untuk memverifikasi ulang berkas yang ditandatangani langsung oleh putri kesayangan Wijaya Dharma."

Savira meletakkan sumpit besinya perlahan di atas meja kaca. Ia mengambil selembar tisu kasar, menyeka sudut bibirnya yang memerah bengkak akibat kuah pedas.

Tangan kirinya merogoh saku celana kainnya pelan, menyentuh patahan jepit rambut kayu peninggalan ibu kandungnya. Permukaan kasar kayu lapuk itu bergesekan dengan ujung bantalan jarinya. Aroma melati yang samar menguar alami dari tubuhnya, menembus bau pekat bumbu cabai di udara.

"Dulu aku duduk di kursi baja ruang interogasi selama dua puluh jam tanpa setetes air minum," gumam Savira datar. Matanya tidak beralih satu inci pun dari wajah Nadia di layar televisi. "Aku memohon pada petugas penjaga untuk menelepon ayahku. Aku berharap pria itu datang membawa barisan pengacara bertarif tinggi dan membebaskan namaku dari fitnah kotor itu."

Aaron memutar tubuhnya tegap, memusatkan seluruh perhatian pada profil samping Savira. Ia tidak membuka mulut untuk menyela. Pria itu mengerti Savira tidak membutuhkan kata simpati eceran yang tidak akan mengubah masa lalu.

"Tapi pria itu justru berdiri tenang di depan jajaran kamera wartawan," lanjut Savira dengan ritme napas yang sangat terkontrol. "Dia memasang wajah seorang ayah yang hancur berkeping-keping, meminta maaf pada publik karena gagal mendidik anak angkatnya. Dia secara sadar menjadikanku martir darah untuk menutupi jejak penggelapan pajaknya sendiri."

Savira menekan ujung tajam jepit rambut kayu itu hingga bantalan jarinya memutih pucat.

"Nadia baru merasakan dua jam tanpa akses kartu kredit tanpa batasnya dan beberapa ribu komentar hinaan di dunia maya." Ujung bibir Savira terangkat membentuk senyum tipis tanpa nyawa. "Goresan ini bahkan belum mencapai sepertiga dari neraka yang mereka bangun untukku dulu."

"Langkah Wijaya Dharma selanjutnya sudah bisa dipetakan." Aaron mengetuk jemarinya pelan di atas ambang jendela. "Monster sosiopat itu tidak akan pernah membiarkan skandal ini menenggelamkan harga saham perusahaannya pada pembukaan bursa pasar besok pagi. Dia butuh kambing hitam baru secepatnya."

"Atau dia akan melempar domba kesayangannya sendiri ke kandang serigala," potong Savira tajam, menuntaskan kalimat tersebut dengan nada mutlak.

Di dalam kamar mewah yang kini membusuk layaknya sel isolasi, Nadia mencengkeram rambut cokelat panjangnya sendiri kuat-kuat. Kulit kepalanya terasa perih tertarik, namun sakit fisik itu tidak sebanding dengan teror psikologis yang memakan isi kepalanya.

Ilusi kekuasaan absolutnya remuk berserakan. Gelar putri mahkota yang ia sombongkan setiap hari runtuh menjadi lelucon publik memalukan. Ia bukan lagi siapa-siapa tanpa nama keluarga Dharma yang menempel di belakang namanya.

Pintu kamar berukir emas mendadak didorong terbuka lebar tanpa ketukan sopan.

Nyonya Dharma berlari masuk dengan napas tersengal parah. Wanita paruh baya itu mengenakan gaun tidur sutra yang berantakan, wajahnya pias tersedot rasa takut. Ia mengunci pintu dari dalam dengan gerakan tergesa-gesa, seolah puluhan wartawan sudah berhasil menjebol masuk memanjat tangga rumah mereka.

Nadia mendongak pelan menatap wanita itu. Pertahanan terakhirnya hancur berantakan.

"Mama," suara Nadia keluar berupa cicitan serak menyedihkan. Air mata deras membanjiri pipinya, melunturkan riasan kosmetik mahalnya menjadi noda hitam pekat yang meleleh menutupi wajahnya.

Nyonya Dharma jatuh berlutut kasar di hadapan putrinya. Tangan wanita itu gemetar parah saat mencengkeram kedua bahu Nadia. Aroma parfum mawar tebal dari tubuh mereka menyatu beringas, memicu bau artifisial yang memuakkan di tengah kepanikan mutlak.

"Apa yang kamu lakukan, dasar gadis ceroboh?" Nyonya Dharma berbisik panik, matanya melotot liar memeriksa setiap celah sudut kamar. "Bagaimana bisa dokumen pengadaan barang yayasan itu tertempel tanda tanganmu yang sah? Kamu tahu persis ayahmu menggunakan yayasan amal itu sebagai benteng pajaknya."

"Aku sungguh tidak tahu, Ma!" Nadia berteriak histeris, memukul lantai marmer berulang kali hingga buku-buku jarinya memerah lebam. "Aku tidak pernah memesan atau menyentuh urusan alat medis sialan itu. Seseorang memalsukan ini semua. Seseorang merakit perangkap untuk mengakhiri hidupku."

Otak sempit Nadia menolak keras memproses kebenaran di depan mata. Delusi kekuasaannya berputar mencari jalan keluar termudah untuk melimpahkan kesalahan.

"Ini pasti ulah kotor Savira," racau Nadia dengan bola mata menyala merah. Napasnya berbunyi serak dan memberat. "Perempuan tidak tahu diuntung itu iri padaku. Dia sengaja meletakkan kertas itu di tumpukan paket mejaku untuk menyingkirkanku."

Nyonya Dharma menggeser telapak tangannya, mencengkeram kedua sisi wajah putrinya keras-keras. Kuku tajam dengan polesan mahal itu menancap perih menembus kulit pipi Nadia.

"Dengarkan Mama baik-baik," desis Nyonya Dharma dengan nada mengancam yang membekukan darah. "Bukan urusan kita siapa bajingan yang menjebakmu malam ini. Masalah yang paling mematikan bagi kita sekarang adalah ayahmu. Dia sedang dalam perjalanan pulang dari kantor pusat."

Nama Wijaya Dharma bekerja seketika layaknya rapal kutukan di ruangan pengap itu.

Tubuh Nadia menegang kaku seperti kayu kering. Bola matanya melebar memancarkan teror paling murni. Bayangan senyum ramah ayahnya di meja makan mendadak berubah bentuk menjadi iblis bertaring yang meneteskan bisa. Wijaya tidak pernah segan mengoyak ikatan darah jika reputasi korporasinya terancam runtuh. Pria itu menyajikan teh hangat dengan senyum sopan kepada sekutunya, dan memaksa tegukan racun tanpa ampun kepada siapa pun yang menghancurkan investasinya.

"Papa tidak akan tega melemparku ke penjara, kan?" Bibir Nadia bergetar kehilangan kendali. Cengkeramannya pada kain lengan ibunya mengerat penuh keputusasaan. "Aku ini anak kandungnya. Aku putri kesayangan satu-satunya."

Nyonya Dharma menelan ludah dengan susah payah, menahan bongkahan batu imajiner yang mencekik tenggorokannya. Kebenaran kelam tentang bayi yang ditukar di gubuk bidan belasan tahun lalu menekan dada wanita itu layaknya mesin pres baja. Jika Wijaya mulai membedah skandal ini secara brutal, rahasia DNA itu hanya tinggal menunggu hitungan jam untuk meledak ke permukaan dan mengakhiri nyawa mereka berdua.

1
sukensri hardiati
itu kalau permen strawberry terus dikonsumsi....mk begitu wijaya tumbang...maka kamu juga bisa tumbang kena diabet
Sulati Cus
adu kekuatan sm bokap yg kental kelicikan ternyata g ada seujung kuku nya, terlalu dini pgn balas dendam mlh hancur sendiri
gina altira
makin rumit pertarungannya
tutiana
luar biasa
gina altira
Sosiopat itu sangat mengerikan
sukensri hardiati
hadeeeh savira....ganti permen straberimu dengan camilan sehat....otak geniusmu jadi lengket nanti...
gina altira
jgn" Savira yg akan jadi tumbal
gina altira
kuat Savira,, jgn menyerah
nur
ngeselin bpkmu vir
Pawon Ana
terus terang sampai sini perkembangan karakter Savira agak lambat, yng aku pahami Savira ini masih terbelenggu dengan trauma dimasa kehidupan sebelumnya, dia belum bisa benar2 lepas, egonya yang merasa mampu sendiri masih tinggi...🤦
Pawon Ana
ih itu otak Savira kok tidak ngebul ya....aktif terus tidak berhenti...🤦
Wega Luna
sebenarnya ceritanya bagus entah kenapa musuh lebih kuat dari para MC,panik panik panik sedang musuh hanya dengan diam tapi bisa melihat segala nya, ,dan sekarang Savira ditanya siapa pelakunya, Savira hanya menambah luka, jika tidak dicintai buat hatimu menjadi tembok besar, jangan sampai menambah luka, dengar berita ini langsung sakit hati,aku dulu juga gitu dengan orang tua ku,aku memilih cuek dan tidak memasukkan ke hati,, sampai bab ini aku belum bisa bangga dengan savira
Pawon Ana
berhadapan dengan sumber trauma terkadang memang menguras kewarasan mental 💪✌️
Cty Badria
ya hancurkan
Pawon Ana
ayo aku menunggu aksi duo genius selanjutnya 💪
kymlove...
mari🫡
watno antonio
lanjut thor
sukensri hardiati
tolong masukkan cerita ini ke perpus on going dong....biar gampang nyarinya ...
sukensri hardiati
aduuuhh...klo boleh menyayangkan awal yg tragis...bunuh diri...nggak cocok untuk gadis kuat yg merupakan tokoh utama cerita...
nur
msok cpet banget ketahuan km vir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!