SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.
Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.
Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?
Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 SANG "WADAH" PENCARI TUMBAL
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
🌳🌳🌳🏫🌳🌳🌳
Gendis masuk ke dalam kelas, langsung berjalan melewati teman-temannya...
Suasana kelas begitu riang gembira...
Bahkan ada beberapa teman Gendis yang ingin mengajaknya bermain sebentar sebelum guru masuk.
Anehnya...
Ketika sudah masuk kelas itu...
Gendis berubah total...
Gendis, menjadi Gendis yang seperti biasanya...
Ia ikut bermain sebentar dengan teman-temannya itu. Tertawa bersama. Bercanda bersama. Riang gembira ekspresi wajah Gendis.
Sampai akhirnya guru matematika pun masuk ke dalam kelas.
Sang Guru memimpin doa bersama sebelum belajar. Kemudian mengabsen kehadiran semua murid dalam kelas Gendis.
Dengan penuh semangat, sang guru memulai pelajaran menulis dan menghitung angka-angka sederhana.
Selama pembelajaran berlangsung, sang guru tampak mondar-mandir keliling kelas. Membimbing seluruh murid dengan baik.
Dan, ketika sang guru berjalan mendekati Gendis...
"Waaah... Hebat kamu Gendis! Sudah bisa menulis lebih rapi ya!" pujian sang guru saat melihat tulisan Gendis yang lebih rapi.
Sebenarnya, sang guru pun sedikit merasa heran...
Karena, sebelumnya Gendis cukup kesulitan untuk menulis di atas kertas. Karena matanya yang buta itu.
Tapi kali ini, seolah ada keajaiban yang terjadi, Gendis bisa menulis dengan lebih rapi. Meskipun tetap tulisannya itu tak bisa lurus mengikuti garis-garis bukunya.
"Coba anak-anak... Lihat Gendis! Dia sekarang sudah bisa menulis rapi loooh!" ucap sang guru.
Sontak, beberapa teman sekelas Gendis penasaran, sampai-sampai mereka berlari mendekati Gendis. Dan mereka langsung memuji Gendis.
"Waaah... Gendis! Kamu bisa nulis!"
"Iyaaa... Waaah... Hebaaat-hebaaat..."
"Tulisanku kok lebih jelek dari Gendis ya Pak?"
"Iiiihhhh... Bapak Guru... Aku mau dooong bisa nulis lebih rapi kayak Gendiiis..."
"Gendiiis... Ajarin aku dooong biar bisa nulis kayak kamuuu..."
"Iyaaa ajarin dooong..."
Begitulah ucapan-ucapan teman sekelas Gendis, saat melihat tulisan di bukunya.
Akhirnya, sang guru matematika pun kembali menertibkan seluruh muridnya. Dan kembali melanjutkan pembelajaran menulis dan berhitung angka-angka sederhana.
.....
.....
.....
Tak terasa, jam istirahat pun tiba...
Seluruh murid dari semua kelas pun mulai menuju kantin sekolah untuk jajan...
Sang guru matematika yang bernama Pak Bobi, yang tadi mengajar di kelas Gendis, segera kembali ke ruang guru. Dan ia segera bicara dengan Bu Rahayu, wali kelas Gendis.
"Bu, Bu..."
"Iya Pak Bobi? Kenapa?" jawab Bu Rahayu.
"Ibu harus tau ini! Ada berita bagus!" ucap Pak Bobi dengan antusias.
"Waduh, berita bagus apa nih?" tanya Bu Rahayu.
"Itu loh, anak kelas Ibu, bisa nulis lebih rapi loh sekarang Bu!"
"Hah? Siapa Pak?"
"Itu, si Gendis Bu!"
"Eh? Iya kah?"
"Iya! Beneran loh Bu."
"Ah, masa sih Pak Bobi?"
"Yeeeh... Dibilangin malah gak percaya... Barusan pas saya ngajar di kelas Ibu, saya kan lagi ngajarin materi menulis dan berhitung ke anak-anak, nah... Saya lihat tulisan Gendis sekarang lebih rapi loh Bu!" jelas Pak Bobi dengan sangat antusias.
"Oh gitu... Ya Alhamdulillah dong kalo gitu. Berarti Gendis udah ada kemajuan positif kan..." respon Bu Rahayu dengan perasaan senang.
"Iya Bu, Alhamdulillah... Kalo Ibu masih gak percaya, coba aja nanti panggil Gendis, Ibu periksa sendiri deh bukunya hari ini."
"Hehehe... Iya Pak, iya..."
Bu Rahayu dan Pak Bobi pun melanjutkan obrolan lain di ruang guru.
.....
.....
.....
Sementara itu...
Di kelas 2 yang hampir kosong karena murid-muridnya sedang jajan...
Gendis dihampiri oleh salah satu teman baiknya yang bernama Sinta...
"Gendiiis..." ucap Sinta dengan nada yang ceria.
"Iya Sintaaa..." jawab Gendis, saat ia sangat mengenali suara teman baiknya itu.
"Kamu gak jajan?" tanya Sinta sambil berdiri di samping Gendis yang duduk di bangku pojok kelas paling belakang.
"Enggak Sin, aku gak jajan." jawab Gendis.
"Emangnya hari ini kamu gak dikasih uang jajan sama Bapak Ibu kamu?"
"Enggak, aku gak dikasih uang jajan."
"Oooh... Gituuu..." respon Sinta.
"Eh iya! Aku bawa nasi kuning loh dari rumah. Kamu mau gak makan sama aku?" tambah Sinta.
"Waaah... Mau-mauuu..." jawab Gendis.
"Bentar ya, aku ambil dulu di tas aku."
Sinta pun berjalan menuju bangkunya, dan segera ia mengeluarkan satu buah mika plastik berisi nasi kuning.
"Naaah... Ini nasi kuningnyaaa... Kita makan sama-sama ya Gendis..." ucap Sinta saat sudah duduk di bangku sebelah Gendis.
Langsung Sinta berusaha untuk membuka mika plastik nasi kuningnya itu. Dimana mika plastik itu di tutup rapat dengan solasi bening.
Sinta tampak kesulitan untuk membuka solasi yang rapat.
"Duuuh... Susah banget sih!" gerutu Sinta.
"Eh iya, aku kan bawa cutter ya... Aku ambil dulu deh..." tambah Sinta, saat ia ingat dirinya membawa pisau cutter kecil yang biasa digunakan untuk menajamkan pensil.
Setelah kembali duduk di sebelah Gendis, langsung dibuka pisau cutter itu untuk membuka mika plastik nasi kuningnya.
Akan tetapi...
Karena Sinta kurang hati-hati...
"Awww!!!" teriak Sinta pelan, saat jari telunjuknya malah terkena ujung pisau cutter itu.
"Eh, Sinta, kamu kenapa?" tanya Gendis.
"Awww... Aduuuh..."
"Kenapa Sinta? Tangan kamu kena cutter?"
"Awww... Aduuuhhh... Iya nih... Aduuuhhh perih bangeeet..."
Meneteslah darah segar dari telunjuk Sinta.
Akan tetapi, tiba-tiba terjadi sebuah keanehan lagi pada Gendis.
Meskipun matanya tak bisa melihat tetesan darah di jari telunjuk Sinta itu...
Hidungnya bisa mencium dengan jelas aroma anyir darah Sinta...
Tapi...
Anehnya adalah...
TERCIUM WANGI DARAH SINTA ITU DI PENCIUMAN GENDIS...
"Awww... Aduuuhhh... Periiihhh..." Sinta masih meringis pelan kesakitan.
Dan tiba-tiba...
Tanpa banyak bicara...
Seolah Gendis mendapatkan sebuah dorongan ghoib dalam pikirannya...
Gendis segera memegang tangan Sinta yang berdarah itu...
Dan...
GENDIS LANGSUNG MENGHISAP DARAH YANG KELUAR DI JARI TELUNJUK SINTA...
"Slrrrppp... Slrrrppp... Slrrrppp..." suara Gendis menghisap darah teman baiknya itu.
Sinta yang melihat Gendis seperti itu, menatapnya dengan ekspresi heran bercampur menahan rasa perih akibat dari kuatnya hisapan Gendis.
"Awww!!! Aduh!!! Gendis... Pelan-pelan, perih jariku..." kata Sinta.
Namun Gendis masih terus menghisap darah Sinta.
"Gendis... Udah-udah... Perih jariku Gendis..."
Akhirnya, dengan kuat Sinta menarik tangannya dari mulut Gendis. Lalu menatap Gendis dengan heran.
Tapi, namanya juga anak kelas 2 SD, Sinta malah merasa lega karena darah di jari telunjuknya itu sudah tidak keluar lagi.
BAHKAN... TERASA SEDIKIT KEBAS DAN PUCAT JARI TELUNJUKNYA ITU...
"Waaah... Makasih ya Gendis, darahnya udah gak keluar lagi!" ucap Sinta.
Dan... Gendis pun kembali seperti sebelumnya...
"Hehehe... Iya Sinta... Sama-samaaa..." jawab Gendis.
"Ya udah, ayok kita makan nasi kuningnya sama-sama!"
"Iya!" jawab Gendis.
Mereka berdua pun makan bersama. Menikmati gurihnya nasi kuning yang bertaburkan toping telur dadar, kacang goreng, dan juga tempe kecap manis.
Mereka berdua makan sambil saling tertawa dan sedikit bercanda.
Di saat nasi kuning itu sudah habis, Sinta dan Gendis pun bisa merasa sedikit kenyang.
"Gimanaaa? Enak kaaan masakan Ibu aku?" tanya Sinta sambil cengengesan.
"Hehe... Enak banget Sinta... Aku suka, aku suka!" jawab Gendis.
"Iya doong... Ibu aku yang masak."
"Hebat ya Ibu kamu Sin!" puji Gendis.
"Hehehe... Iya dooong... Ibu aku gitu loooh..."
Setelah itu, bel masuk setelah istirahat pun berbunyi. Seluruh murid kembali ke kelasnya masing-masing untuk melanjutkan pelajaran mereka.
.....
.....
.....
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
🌳🌳🌳🏫🌳🌳🌳
Singkat waktu...
Seluruh pelajaran hari ini pun selesai...
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, menandakan bahwa sudah waktunya seluruh murid di sekolah SD itu untuk pulang ke rumah masing-masing.
Gendis memegang tongkatnya, dan berjalan paling belakangan untuk keluar kelas.
Dan entah kebetulan atau karena ada "sesuatu", Sinta berjalan di depan Gendis.
Gendis berjalan perlahan-lahan...
Sedangkan Sinta berjalan cepat di depannya. Sinta ingin segera pulang. Karena kebetulan juga hari ini orang tuanya tidak datang untuk menjemputnya pulang.
Akan tetapi...
Seketika langkah cepat Sinta itu menjadi pelan...
Kemudian berhenti tak jauh dari depan kelas...
Sinta menoleh ke belakang, menatap Gendis yang ternyata berdiri diam di depan kelas sembari memegangi tongkatnya itu.
Dan seolah-olah ada "sesuatu" yang menutupi aura keberadaan Gendis dan Sinta itu...
Semua murid dan para guru yang masih ada di sekitar mereka, seperti tak menyadari keberadaan mereka berdua.
"Eh, Gendis? Kamu ngapain berdiri di sana? Ayok pulang!" ucap Sinta.
Alih-alih menjawab Sinta, Gendis justru berjalan ke arah lain.
Dan seolah ada "sesuatu" yang menarik perhatian serta rasa penasaran Sinta. Akhirnya Sinta mengikuti Gendis.
"Gendis? Kamu mau kemana sih? Ayok pulang!" ucap Sinta lagi, tapi ke dua kakinya terus saja mengikuti langkah Gendis di depannya.
Gendis terlihat berjalan ke sebuah tempat di ujung belakang sekolah SD itu. Sinta masih saja terus mengikutinya dari belakang.
Dan lagi-lagi, semua yang masih ada di sekolah SD itu, seperti tak menyadari sama sekali langkah mereka berdua.
.....
.....
.....
"Gendis? Kamu mau ngapain ke sana?" tanya Sinta di belakang Gendis.
Gendis ternyata berjalan menuju sebuah area toilet sekolah yang masih dalam proses pembangunan. Tepat di ujung belakang area sekolah SD itu.
"Gendis? Kamu mau ngapain sih ke sini?" tanya Sinta lagi.
Dan...
Sinta justru melihat Gendis memasuki sebuah toilet yang hampir jadi. Dan Gendis menutup pintunya.
"Loh? Gendis? Kamu mau pipis ya? Kok di situ sih pipisnya?" tanya penasaran Sinta.
Alih-alih Sinta segera melapor ke guru atau siapa pun, dia justru seperti "ditarik" oleh sesuatu untuk lebih dekat ke toilet yang dimasuki Gendis.
"Gendiiis?" ucap Sinta saat sudah di depan toilet yang dimasuki Gendis.
Tepat di sisi kanan dan kiri toilet itu, terdapat beberapa tumpukan besi yang tajam. Disusun dengan posisi berdiri tumpukan besi itu.
Sinta mulai mengetuk pintu toilet itu...
Tok tok tok...
"Gendiiis? Gendiiis?"
Tapi, tak ada sahutan apapun dari Gendis yang barusan ia lihat masuk ke dalamnya.
Dengan penuh rasa penasaran, dan kepolosan, Sinta malah membuka pintu toilet itu...
Krieeettt...
"Loh? Gendis kok gak ada?" ucapnya saat melihat toilet itu kosong. Tak ada siapapun.
Dengan semakin heran, Sinta mundur beberapa langkah. Berniat untuk melapor kepada guru tentang keanehan yang baru saja dia lihat.
Ketika Sinta berbalik badan...
Tiba-tiba...
DEG!!!
Terkejut bukan main Sinta, saat melihat Gendis sudah berdiri di belakangnya...
.....
.....
.....
"Ge-Ge-Gendiiisss???"
Berdetak cepat jantung Sinta...
Napasnya menjadi tak karuan...
Raut wajah Sinta berubah menjadi ketakutan...
Dia kini berhadapan dengan Gendis...
Tapi, wajah Gendis sudah berubah...
Wajah Gendis itu pucat pasi...
Ke dua matanya menghitam seluruhnya...
Terlihat guratan-guratan berwarna hitam di wajah Gendis...
"Ge-Gendiiisss??? Ka-ka-kamuuu... Ke-ke-kenapaaa???" terbata-bata suara Sinta.
Dan tanpa sadar, Sinta berjalan mundur...
Dan Gendis berkata...
"AKU SUKA DARAHMUUU..." dengan suaranya yang terdengar lembut namun berat.
Lalu Gendis mengangkat tangan kirinya, seperti hendak menyentuh Sinta...
"Ge-Ge-Gendiiisss..."
Dan...
"AAAHHH!!!"
Kaki Sinta tersandung...
Tubuhnya terjatuh ke belakang...
Lalu...
CRAAAKKK!!!
Kepala Sinta tertusuk besi tajam...
Menembus kepalanya dari belakang sampai ke dahinya...
Langsung mengalir deras darah merah segar di antara tumpukan besi tajam dan lantai yang kotor...
Tubuh Sinta mengejang sesaat...
Dan...
Berhenti total...
Sinta...
Mati...
.....
.....
.....
Gendis berjalan meninggalkan jasad Sinta...
Dan lagi-lagi...
Aura tubuhnya seperti "ditutupi" oleh sesuatu...
Sehingga tak ada satu pun yang menyadari dirinya berjalan meninggalkan sekolah...
😆😆 lanjut kak👍👍👍