NovelToon NovelToon
Unexpected Scenario

Unexpected Scenario

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

❣️ Update : 19.00 WIB ❣️

Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8 - The Way I Am

Pagi itu aku berangkat kerja dengan perasaan yang entahlah. Meskipun masih dua bulan lagi hari pernikahanku, tapi setelah meminta surat pengantar dari RT rasanya semuanya jadi begitu nyata. Pernikahanku terasa sangat dekat. Aku sedikit takut.

Meskipun aku dan Javier akan menikah hanya di atas kesepakatan dan tidak benar-benar menjadi suami istri, tetap saja kata menikah terdengar besar dan menakutkan bagiku.

Saat sampai di Sina Bank, kulihat Salsa baru turun dari motornya. Wanita itu langsung melambaikan tangan begitu melihatku.

“Hai... Nay...” ucap Salsa.

“Hai, Mbak,” jawabku lirih sambil melepas helm.

Salsa mengernyit. “Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa. Udah, yuk masuk,” ucapku cepat.

Kami berjalan masuk bersama dan menyapa satpam yang berjaga. Namun bahkan setelah masuk ke lobby, Salsa masih terus memperhatikanku.

“Jujur sama aku, kamu kenapa, Nay?” tanyanya saat kami absen.

“Nggak apa-apa, Mbak.”

“Nggak apa-apa tapi muka kamu lemes banget gitu?”

Aku hanya menggeleng kecil lalu masuk ke ruangan pegawai. Di sana sudah ada Fahri dan Yuni.

“Pagi....” sapaku pelan.

“Pagi...” sahut Fahri dan Yuni hampir bersamaan.

“Nay...” Salsa ikut masuk ke ruangan.

“Ada apa, Sal?” tanya Yuni sambil menoleh.

“Aku sih nggak apa-apa, tapi Naya kayaknya ada apa-apa.”

Mereka langsung menatapku bersamaan sampai aku jadi salah tingkah sendiri.

“Ada apa, Nay?” tanya Yuni lembut.

“Nggak apa-apa. Beneran deh.”

“Jangan sungkan gitu, Nay. Kalau ada masalah cerita aja,” ujar Fahri.

Aku menatap mereka satu per satu. Rasanya aneh.

“Nggak apa-apa sih. Cuma...” ucapku ragu.

“Cuma apa?” tanya Salsa penasaran.

“Kemarin aku sama Ayah udah minta surat pengantar dari RT. Entah kenapa rasanya pernikahanku udah deket banget. Aku takut.”

Salsa langsung mengangguk paham. “Wajar itu. Mau nikah pasti takut, ragu, resah. Apalagi ini pertama kali.”

“Ngomong-ngomong kapan pernikahanmu, Nay?” tanya Yuni.

“Papanya Javier maunya dua bulan lagi.”

“Gila, cepet banget,” celetuk Fahri.

“Iya, bener. Ini mah bisa-bisa orang-orang mikir kamu hamil duluan, Nay,” tambah Salsa santai.

“Ihh Mbak Salsa!” Aku langsung memprotes. "Aku nggak gitu ya.”

“Aku nggak nuduh kamu gitu kali,” ucap Salsa sambil tertawa kecil. “Aku cuma nebak pikiran orang-orang aja.”

Aku mengembuskan napas pelan. Jujur saja, hal seperti itu memang sempat terpikirkan olehku. Pernikahan mendadak seperti ini memang mudah mengundang prasangka.

“Nggak usah dipikirin omongan Salsa tadi,” ujar Yuni menenangkan. “Kalau kamu takut atau ragu, mending kamu sholat istikharah aja. Siapa tahu setelah itu kamu lebih tenang atau malah menemukan jawaban apakah yang kamu lakuin ini benar atau nggak.”

“Iya, bener tuh,” sahut Fahri. “Kadang beberapa masalah jawabannya emang ada di sholat.”

Aku terdiam.

Sholat istikharah?

Haruskah aku melakukan itu?

Padahal sejak awal aku sudah tahu kalau pernikahan ini bukan karena cinta. Tapi kenapa sekarang aku malah semakin takut melangkah?

“Eh udah waktunya kita ke depan,” ucap Yuni sambil melihat jam.

Kami berempat pun segera berdiri dan berjalan menuju meja masing-masing di area pelayanan. Namun ucapan Yuni tadi masih terus terngiang di kepalaku.

Mungkin aku memang harus sholat istikharah...

Begitu duduk di tempatku, aku menghela napas pelan, mencoba menenangkan pikiran lalu menyalakan komputer. Lampu-lampu di area pelayanan mulai menyala sempurna, menandakan jam operasional segera dimulai.

Beberapa menit kemudian, orang-orang mulai masuk ke dalam bank. Suasana yang tadinya tenang perlahan berubah ramai oleh suara langkah kaki, bunyi mesin nomor antrian, dan percakapan para nasabah.

Yuni dan Fahri memencet tombol panggilan antrian lebih dulu. Dua orang langsung berjalan menuju meja mereka. Aku dan Salsa pun melakukan hal yang sama.

Seorang ibu-ibu menghampiri meja Salsa, sementara seorang wanita muda berjalan ke arahku sambil memegang ponsel.

“Mbak, saya mau bayar UKT,” ucapnya sopan.

“Baik. Nomor virtual account-nya ada?” tanyaku ramah.

Wanita muda itu langsung membuka layar ponselnya lalu menunjukkannya ke arahku. Aku mengetik beberapa data di komputer sebelum kembali menatap layar.

“Atas nama Dinda Aulia?”

Wanita itu mengangguk cepat. “Iya.”

“Semester empat ya?”

“Iya, Mbak.”

“Totalnya dua juta tujuh ratus lima puluh ribu.”

Wanita itu langsung menyerahkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya.

Aku menghitung uang itu sebentar lalu mulai memproses pembayaran. Jemariku bergerak otomatis di atas keyboard, sesuatu yang sudah kulakukan berkali-kali setiap hari.

Tak lama kemudian printer kecil di sampingku mengeluarkan struk pembayaran.

“Ini bukti pembayarannya disimpan ya, Mbak,” ucapku sambil menyerahkan struk itu.

Wanita muda itu menerimanya lalu tersenyum kecil.

“Terima kasih, Mbak.”

“Iya, sama-sama.”

Wanita itu pun pergi dan aku kembali memencet tombol antrian berikutnya.

Begitulah pekerjaanku sepanjang hari.

Melayani setoran tunai, pembayaran cicilan, transfer antar bank, hingga membantu nasabah lanjut usia yang kesulitan mengisi formulir. Waktu terasa berjalan cepat di tengah kesibukan yang tidak berhenti.

Hingga akhirnya sore tiba dan bank mulai sepi.

Pintu otomatis sudah jarang terbuka. Yuni dan Fahri juga mulai bersiap pulang.

Aku dan Salsa masih sibuk menghitung uang untuk dicocokkan dengan data di komputer. Suasana jauh lebih tenang dibanding pagi tadi. Hanya terdengar suara mesin penghitung uang dan ketikan keyboard.

Tiba-tiba ponselku bergetar pelan di atas meja.

Aku berhenti menghitung uang lalu mengambil ponsel.

[ Nay, kamu udah pulang? Bisa ke Ruang Rindu nggak? Aku mau tanya pendapatmu tentang rumah. ]

Aku langsung terdiam beberapa detik membaca pesan itu.

“Siapa, Nay?” tanya Salsa penasaran tanpa mengalihkan pandangan dari uang di tangannya.

“Javier,” jawabku singkat.

Salsa langsung menoleh cepat. “Cowok yang dijodohin sama kamu itu?”

Aku mengangguk pelan.

“Dia kirim pesan apa?” tanya Salsa penasaran.

“Dia nyuruh aku ke Ruang Rindu.”

“Ngapain hayo?” goda Salsa sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Nggak ngapa-ngapain, Mbak,” jawabku cepat. “Dia mau minta saran aku soal rumah yang mau dia beli.”

“Wah... dia seprepare itu ya? Padahal kalian kan dijodohin.”

“Iya, soalnya kita....”

Aku langsung menghentikan kalimatku sendiri. Hampir saja aku keceplosan soal rencana kamar terpisah antara aku dan Javier.

“Soalnya kalian apa?” tanya Salsa curiga.

“Soalnya kita mau mandiri. Haha...” jawabku canggung.

“Oh...” Salsa mengangguk paham. “Bagus itu. Kalau udah nikah memang sebaiknya punya rumah sendiri.”

Aku hanya tersenyum kecil lalu membalas singkat pesan Javier.

[ Ya. ]

Setelah itu aku kembali menghitung uang di depanku, mencoba fokus pada pekerjaan. Namun entah kenapa pikiranku malah terus memikirkan Javier.

Tentang rumah.

Tentang pernikahan.

Dan tentang kenyataan bahwa semuanya berjalan terlalu cepat.

Beberapa menit kemudian, pekerjaan kami selesai. Setelah berpamitan dengan yang lain, aku langsung pergi menuju Ruang Rindu.

Sore itu jalanan ramai lancar seperti biasa. Langit tampak mendung dan berwarna abu-abu pucat, seolah hujan bisa turun kapan saja.

Beberapa menit kemudian, aku sampai di Ruang Rindu.

Setelah memarkirkan motor, aku langsung masuk ke dalam restoran. Aroma makanan dan suara pelan lagu instrumental langsung menyambutku.

Seorang pegawai segera menghampiri.

“Selamat sore, untuk berapa orang?”

“Maaf, saya ke sini bukan untuk makan. Saya ke sini atas permintaan Mas Javier,” jawabku sopan.

“Oh, begitu.” Pegawai itu langsung tersenyum paham. “Tapi maaf, Mas Javier sedang sholat. Mbak silakan tunggu dulu di sini.”

“Ah...” Aku terdiam sebentar lalu teringat sesuatu. “Ehm... bisa tunjukkan musholanya di mana? Kebetulan saya juga mau sholat. Tadi belum sempat soalnya.”

Pegawai itu tampak sedikit terkejut sebelum akhirnya mengangguk.

“Baik, mari saya tunjukkan.”

Aku mengikutinya menuju mushola yang berada di bagian belakang restoran.

“Silakan, Mbak. Di dalam sudah ada mukenah kalau Mbak nggak bawa.”

“Iya, terima kasih,” ucapku sambil tersenyum kecil.

Pegawai itu mengangguk lalu pergi.

Aku mengintip ke dalam mushola.

Di sana ada Javier dan beberapa pengunjung lain yang sedang sholat berjamaah. Aku langsung masuk pelan lalu meletakkan tasku di pojok mushola sebelum keluar lagi untuk mengambil wudhu.

Setelah selesai wudhu, aku kembali berjalan menuju mushola.

Namun tepat saat berada di depan pintu, tubuhku tiba-tiba bertabrakan dengan seseorang yang hendak keluar.

Bruk—

Tubuhku terhuyung ke belakang.

Refleks, orang itu langsung menarik tanganku.

Javier.

Dan seketika jarak kami menjadi sangat dekat.

Aku bisa mencium samar aroma parfum dari tubuhnya.

Kami saling menatap.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Dan entah kenapa jantungku tiba-tiba berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.

Aku langsung melepaskan tanganku dan mundur pelan.

“Ehm... kapan kamu sampai?” tanya Javier pelan.

“Baru tadi sebelum wudhu,” jawabku mencoba terdengar normal.

“Ah... kamu udah wudhu ya? Maaf... maaf...” ucap Javier bersalah.

“Nggak apa-apa. Aku bisa wudhu lagi.” Aku tersenyum tipis. “Dan harusnya aku yang makasih sama kamu. Kalau kamu nggak narik tanganku, mungkin aku udah jatuh.”

“Tapi wudhumu jadi batal,” ucap Javier.

“Nggak apa-apa. Aku bisa wudhu lagi.”

Hening.

Untuk sesaat kami kembali saling menatap tanpa mengatakan apa-apa.

Dan anehnya... aku malah jadi gugup sendiri.

“Oh ya udah, aku wudhu lagi,” ucapku cepat hendak pergi.

“Nay...”

Aku menoleh. “Ya?”

“Setelah sholat kamu langsung ke ruanganku aja.”

Aku mengangguk kecil lalu segera pergi menuju tempat wudhu.

Begitu sampai di sana, aku tidak langsung membuka keran.

Tanganku justru naik ke dada sendiri.

Deg.

Deg.

Deg.

Jantungku masih berdetak cepat.

Ada apa denganku?

Rasanya benar-benar aneh.

Padahal Javier bahkan tidak melakukan apa-apa selain menarik tanganku agar tidak jatuh.

Aku mengembuskan napas pelan lalu menunduk menatap lantai basah di bawah kakiku.

Ucapan Yuni tadi tiba-tiba terlintas lagi di kepalaku.

Kalau kamu takut atau ragu, coba sholat istikharah...

Aku menatap pantulan wajahku samar di genangan air dekat tempat wudhu.

Mungkin...

Mungkin memang ada sesuatu yang harus aku minta jawabannya pada Tuhan.

Sebab semakin hari, pernikahan ini tidak lagi terasa seperti sekadar kesepakatan biasa.

1
Mamah Dini11
sebenarny kmu itu nay oon atau loding sih bkn nya mulai menerima yg du otakmu cerai dan cerai aja gk punya frinsip banget. ,kan kmu itu pegawi bang ko sebodoh itu pemikiranmu. liat javer gk. kayak kmu Dia santai tenang gk mikirin hal2 aneh ,mungkin di pikirannya jalani aja dulu, nah kmu nay blm apa2 udh ribet pikiranmu .lanjut
Mamah Dini11
kok takut bknnya bagus., dan teganya javer biarkan kmu hujan2an,kalau dia. punya mobil kan bisa anterin kmu. jadi gk kehujanan , atau blm punya kali.
Mamah Dini11
kmu terlalu jauuuh mikirnya nay , coba mikirny yg positif2 aja biar ringan kedepan nya, ok. permisi thor ikutan ni..
Mamah Dini11
thor maaf setiap episodnya. bisa tambah bhs, indo. kuring ngerti aku mh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!