NovelToon NovelToon
KAISAR 100.000 DUNIA

KAISAR 100.000 DUNIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tawaki

Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Jawaban yang Mengguncang

Ruang ujian teori Akademi Langit Biru berbeda jauh dari arena fisik yang bising. Ini adalah aula batu besar yang dingin, sunyi, dan berbau tinta serta kertas tua. Ratusan meja kayu disusun rapi dalam barisan lurus. Di setiap meja terdapat selembar kertas perkamen tebal dan sebuah pena bulu angsa.

Suasana di sini mencekam. Tidak ada sorakan, hanya suara gesekan pena di atas kertas dan napas peserta yang tertahan. Pengawas berkeliling dengan wajah serius, mata mereka tajam mengawasi setiap gerakan curiga. Kecurangan di tahap ini dihukum berat: pemotongan jari atau pengusiran seumur hidup.

Lin Fan duduk di barisan tengah. Ia mengambil pena itu, merasakannya ringan di tangannya. Di depannya, Elder Mo berdiri di podium, memegang gulungan soal utama.

"Dengar baik-baik," suara Elder Mo bergema, lebih lembut namun tetap berwibawa. "Tes teori bukan tentang menghafal kitab suci. Ini tentang pemahaman kalian terhadap hukum alam, aliran Qi, dan sejarah kultivasi. Ada lima pertanyaan esai. Kalian memiliki waktu dua jam. Mulailah."

Para peserta segera membungkuk pada kertas mereka. Lin Hao, yang duduk beberapa baris di depan, langsung mulai menulis dengan cepat, keringat dingin membasahi dahinya. Ia tahu teorinya lemah; ia mengandalkan kekuatan fisik dan koneksi keluarganya. Tapi kali ini, tidak ada yang bisa menolongnya kecuali otaknya sendiri.

Lin Fan membalik kertas soalnya. Matanya menyapu kelima pertanyaan tersebut. Senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di bibirnya.

Bagi siswa biasa, pertanyaan-pertanyaan ini adalah jebakan maut yang membutuhkan hafalan ratusan halaman kitab.

Bagi Lin Fan, ini adalah pertanyaan dasar tingkat taman kanak-kanak.

Pertanyaan 1: Jelaskan hubungan antara Lima Elemen (Api, Air, Tanah, Kayu, Logam) dalam siklus penciptaan dan penghancuran, serta berikan contoh aplikasi praktis dalam alkimia pil tingkat rendah.

Siswa biasa akan menulis definisi buku teks: "Api menghasilkan Tanah, Tanah menghasilkan Logam..." dst.

Lin Fan mengangkat penanya. Ia tidak menulis definisi. Ia menulis analisis dinamika energi.

"Lima Elemen bukanlah entitas statis, melainkan fase transisi energi Qi. Dalam alkimia, 'Api menghasilkan Tanah' bukan berarti api berubah menjadi tanah, tetapi panas (Api) memadatkan esensi volatil menjadi substansi padat (Tanah). Contoh: Saat memanggang Akar Besi Hitam, api menguapkan kelembapan (Air), meninggalkan residu mineral padat (Tanah). Kesalahan umum alkemis pemula adalah menganggap elemen sebagai bahan, padahal mereka adalah proses."

Tulisannya cepat, tegas, dan menggunakan terminologi yang jarang diketahui remaja seusianya.

Pertanyaan 2: Apa bahaya utama dari membuka Meridian Hati sebelum Meridian Paru-paru stabil? Jelaskan konsekuensi fisiologisnya.

Ini adalah pertanyaan jebakan klasik. Buku teks standar mengatakan itu menyebabkan "ketidakseimbangan Yin-Yang".

Lin Fan tahu jawaban yang lebih dalam dari pengalaman ribuan tahun mengamati kegagalan kultivasi orang lain.

"Membuka Meridian Hati terlebih dahulu akan memicu lonjakan tekanan darah spiritual yang tidak dapat didinginkan oleh sirkulasi paru-paru. Konsekuensinya bukan sekadar ketidakseimbangan, melainkan 'Ledakan Api Jiwa'. Darah akan mendidih di dalam pembuluh kapiler otak, menyebabkan kerusakan saraf permanen, halusinasi kronis, dan dalam kasus ekstrem, kematian akibat stroke qi. Stabilisasi paru-paru berfungsi sebagai radiator pendingin bagi pompa jantung spiritual."

Ia melanjutkan ke pertanyaan ketiga, keempat, dan kelima. Setiap jawaban yang ia tulis bukan sekadar benar, tapi fundamental. Ia membongkar dogma-dogma kuno yang sudah diterima begitu saja selama berabad-abad, menggantinya dengan logika mekanistik yang presisi.

Di podium, Elder Mo berjalan mondar-mandir. Ia sesekali melirik kertas-kertas peserta. Kebanyakan tulisan mereka standar, klise, dan penuh dengan frasa hafalan.

Tiba-tiba, langkah Elder Mo terhenti di belakang meja Lin Fan.

Elder Mo membaca jawaban Lin Fan untuk Pertanyaan 3: Teori Resonansi Suara dalam Pemecahan Batu Spirit.

Lin Fan menulis: "Batu Spirit memiliki frekuensi getaran alami. Memukulnya dengan palu biasa adalah pemborosan energi. Dengan menghasilkan nada tertentu menggunakan Qi vokal (seperti teknik Raungan Naga versi mikro), kita dapat menciptakan resonansi destruktif yang memecah ikatan molekuler batu tanpa merusak inti spirit di dalamnya. Ini mengurangi limbah material hingga 40%."

Elder Mo terdiam. Matanya melebar. Teori ini... ini adalah konsep tingkat tinggi yang biasanya hanya diajarkan kepada Master Alkemi atau Ahli Suara tingkat lanjut. Bagaimana seorang remaja dari klan pinggiran bisa mengetahuinya? Dan lebih aneh lagi, penjelasannya sangat masuk akal secara ilmiah, bukan mistis.

Elder Mo menatap punggung Lin Fan. Remaja itu masih menulis dengan tenang, seolah-olah ia sedang menuliskan daftar belanja, bukan menjawab ujian paling sulit di kota ini.

"Waktu tinggal sepuluh menit!" seru pengawas.

Lin Fan meletakkan penanya. Ia telah selesai sejak satu jam yang lalu. Ia menghabiskan sisa waktu untuk memeriksa ulang ejaan dan kerapian tulisannya. Ia tidak ingin memberikan alasan bagi penguji untuk mengurangi nilai karena hal teknis.

Di barisan depan, Lin Hao mengelap keringatnya. Ia baru saja menyelesaikan pertanyaan terakhir dengan tulisan yang berantakan dan ragu-ragu. Ia menoleh ke belakang, melihat Lin Fan yang sudah santai, bahkan tampak sedikit bosan. Rasa marah dan inferioritas membakar dada Lin Hao. Dia pasti mencontek! Tidak mungkin dia tahu jawabannya!

Namun, Lin Hao tidak bisa membuktikan apa-apa. Ruangan diawasi ketat.

"Waktu habis! Letakkan pena!" perintah Elder Mo.

Para peserta menghela napas lega, sebagian besar tampak lelah mental. Kertas-kertas dikumpulkan oleh asisten penguji.

Elder Mo kembali ke podium. Ia memegang tumpukan kertas ujian. Biasanya, ia akan membawa kertas-kertas itu ke ruang tertutup untuk dinilai oleh dewan penguji selama berhari-hari. Tapi hari ini, sesuatu membuatnya ingin melakukan pengecualian.

"Aku akan membaca beberapa jawaban menarik secara acak," kata Elder Mo tiba-tiba, membuat seluruh ruangan hening. "Ini untuk memberi gambaran tentang standar yang kami cari."

Ia mengambil satu kertas. Bukan kertas Lin Hao. Bukan kertas Zhang Wei.

Itu kertas Lin Fan.

Elder Mo membersihkan tenggorokannya, lalu membaca dengan lantang jawaban Pertanyaan 1 Lin Fan tentang Lima Elemen sebagai proses, bukan bahan.

Ruangan menjadi sunyi. Para tetua klan yang hadir di galeri penonton mulai bergumam. Beberapa ahli alkimia yang duduk di barisan VIP saling berpandangan, wajah mereka menunjukkan keterkejutan yang mendalam.

"Lalu," lanjut Elder Mo, matanya berbinar, "jawaban untuk Pertanyaan 2 tentang 'Ledakan Api Jiwa' dan fungsi paru-paru sebagai radiator..."

Seorang tetua tua dari Klan Wang, yang juga seorang dokter ahli, berdiri setengah dari kursinya. "Tunggu! Itu... itu teori yang belum pernah dipublikasikan! Siapa yang menulis ini?"

Elder Mo menatap Lin Fan. "Lin Fan. Maju ke depan."

Lin Fan berdiri, berjalan menuju podium dengan langkah tenang. Semua mata tertuju padanya. Kali ini, tatapan itu bukan ejekan, melainkan rasa ingin tahu yang intens, dicampur dengan skeptisisme.

"Apakah ini idemu sendiri, Lin Fan?" tanya Elder Mo, suaranya rendah agar hanya Lin Fan dan dewan penguji yang mendengar, meski mikrofon kecil di podium membuatnya terdengar samar-samar oleh penonton.

"Ya, Guru," jawab Lin Fan jujur. "Saya hanya mengamati bagaimana tubuh saya bekerja saat sakit dulu. Saya melihat pola."

"Pola..." gumam Elder Mo. Ia menatap Lin Fan dalam-dalam. "Kau menyadari bahwa kultivasi adalah sains, bukan sihir."

"Sains adalah nama lain untuk memahami aturan Tuhan, Guru," balas Lin Fan.

Elder Mo tersenyum lebar. Ia mengangkat kertas Lin Fan. "Jawaban ini... sempurna. Bahkan melampaui ekspektasi tingkat akademi. Ini adalah pemikiran tingkat master."

Sorakan kecil terdengar dari galeri VIP, tempat para ahli duduk. Tapi di antara peserta ujian, suasana menjadi canggung. Lin Hao merasa wajahnya terbakar. Zhang Wei menatap Lin Fan dengan kalkulasi dingin.

"Nilai untuk Lin Fan di tahap teori: Sempurna. Poin maksimal," announced Elder Mo.

Lin Fan membungkuk hormat, lalu kembali ke tempatnya. Ia tidak tersenyum sombong. Ia tahu apa yang baru saja ia lakukan. Ia tidak hanya lulus; ia baru saja menantang otoritas intelektual kota ini. Dengan menjawab dengan cara yang "terlalu benar", ia telah membuat dirinya terlihat sebagai anomali yang berbahaya bagi status quo.

Bagi para tetua konservatif, Lin Fan bukan lagi sekadar "sampah yang beruntung". Dia adalah "heretik yang cerdas". Dan heretik sering kali diburu lebih ganas daripada kriminal biasa.

Elder Mo menutup sesi tersebut. "Hasil akhir akan diumumkan besok pagi di papan utama. Tiga tahap telah selesai. Tahap Fisik, Tahap Teori, dan besok... Tahap Mental di Ruang Ilusi."

Lin Fan mengepalkan tangan di bawah meja. Tahap terakhir. Tempat di mana masa lalunya sebagai Kaisar bisa menjadi kutukan terbesar. Tapi dengan Sutra Ketenangan Jiwa Kosong, ia siap.

Namun, saat ia keluar dari aula, ia merasakan tatapan tajam dari bayang-bayang pilar dekat pintu keluar. Seseorang sedang memperhatikannya. Bukan Lin Hao. Bukan Zhang Wei.

Sosok itu mengenakan jubah abu-abu bertudung, wajahnya tertutup. Tapi Lin Fan mengenali aromanya. Aroma racun manis dan tanah basah.

Luo Feng.

Ahli racun itu tidak menyerang. Ia hanya mengangkat satu jari ke arah bibirnya, isyarat diam, lalu menghilang ke dalam kerumunan.

Lin Fan mengerutkan kening. Apa maksud peringatan itu? Apakah Lin Hao berencana sesuatu di Tahap Mental? Atau ada ancaman lain yang lebih besar?

Lin Fan mempercepat langkahnya pulang. Ia harus bersiap. Karena besok, ia tidak akan bertarung melawan lawan fisik atau soal tertulis. Ia akan bertarung melawan hantu-hantu di kepalanya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!