Kesalahan yang dilakukan Azalea Calista membuat suaminya kecewa dan berakhir ingin menceraikannya. Namun demi cinta yang tumbuh di hati Alea, dia bertekad untuk mengejar kembali cinta sang suami.
Sayangnya Alea harus kehilangan Fathan karena laki-laki itu pergi tanpa berpamitan. Hingga suatu hari, keduanya kembali dipertemukan dalam keadaan berbeda.
Akankah mereka kembali bersama atau justru memilih saling melepaskan bersama pasangan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 - Khawatir
Alea mengira kedatangan Fathan ke rumahnya untuk memarahi dia.
"Kenapa, gak terima tunangan kesayangannya aku tampar? Aku sakiti?" balas Alea kecewa sama sikap Fathan yang langsung bicara seolah dia yang salah.
Grep.
Namun tiba-tiba Fathan memeluk Alea.
"Aku khawatir sama kamu, Yank. Kamu gak apa-apa kan? Aku takut dia nekat nyakitin kamu dan Azka."
"Kamu.." Alea pikir Fathan mau mengamuk, eh malah memeluknya posesif.
Fathan melepaskan pelukannya, dan menatap Alea sedih bercampur khawatir. "Gimana gak khawatir sama kamu saat papanya Silvi datang membuat keributan di rumahku dan bilang kamu sudah menamparnya, menjambaknya, memukulinya."
Tatapan matanya melihat menar di pipi, tangannya terangkat mengusap lembut pipi Alea. "Ini pasti sakit, apa ini ulah Silvi? Maaf ..."
Belum juga selesai bicara Alea lebih dulu menepis kasar tangan Fathan mundur selangkah, tersenyum sinis. "Segitunya sayang sama dia sampai kamu yang minta maaf, harusnya dia yang minta maaf bukan kamu. Oh atau dia ngadu sama kamu kalau aku udah nampar dia."
Kepala Fathan menggeleng. "Bukan gitu, Yank."
"Pulang sana! Aku gak mau ketemu kamu, yang ada hidupku makin terganggu sama TUNANGAN kamu." Dia hendak menutup pintu tapi di halangi Fathan.
"Dengerin aku dulu Alea, aku minta maaf bukan untuk dia tapi untuk semua rasa sakit yang kamu rasakan disebabkan oleh aku. Aku gak tau awal mula kalian bertengkar tapi jujur yang aku khawatirkan cuman keadaan kamu."
Fathan mendorong pintunya masuk ke dalam kemudian menutup pintu.
"Bilang aja mau protes tunangannya aku hajar," balasnya kesal.
"Enggak kok, justru aku bangga sama kamu sudah berani menghajar dia tapi aku tetap mengkhawatirkan keadaan kamu. Lihat, pipi kamu merah gitu dan itu karena aku yang sudah mengakhiri hubungan sama Silvi. Silvi pasti marah dan mengira kita punya hubungan, padahal emang punya sih," balas Fathan melangkah mendekatinya.
Alea mendelik jengah, "gak ada ya, kita gak ada hubungan sama sekali."
"Ada, buktinya kamu bilang dihadapan semua orang aku suami kamu, hayo suami loh," balas Fathan menarik nurunkan alisnya tersenyum menggoda.
"Dih, apaan sih, pulang sana. Kamu gak dibutuhkan disini." Alea berbalik menghindari tatapan Fathan yang mampu membuatnya berdebar. Cuman segitu doang pertahanan dia, ck benar-benar gampang luluh.
Grep
Tangannya di raih, lebih dulu Fathan melangkah menuju dapur. "Seribu kali kamu mengusirku aku tetap akan berdiri disampingmu. Kita obati pipi kamu dulu."
"Gak usah, aku bisa sendiri, mendingan pulang sana urus tunangan kamu dulu."
Langkah pria itu berhenti di samping meja makan, menoleh pada Alea menatapnya lembut penuh kasih sayang. "Aku dan ibu sudah memutuskan hubungan kita, Yank. Aku gak mau melanjutkan hubungan sama dia karena aku tidak mencintainya."
Terus Fathan meminta Alea duduk, ia mengambil air es dari dalam kulkas dan mencari lap bersih.
"Terus yang kamu cintai siapa?" Walaupun mulut meminta Fathan pergi tapi tubuhnya mengikuti arahan Fathan.
"Ada deh," balas Fathan usil.
"Ck, bilang aja tunangan kamu sudah berhasil membuatmu jatuh cinta, buktinya kamu lebih dulu move on melanjutkan hidup bersama orang baru, apa namanya kalau bukan cinta. Beda sama aku malah terjebak di masa lalu, terjebak satu momen yang membuatku gak bisa move on." Inilah Alea, sering jujur dalam berkata dan sering mengutarakan isi hatinya. Mau orang lain suka ataupun tidak baginya jujur lebih utama.
Justru pengakuan Fathan membuat hatinya berbunga, Alea masih sama, masih memiliki perasaan untuknya dan itu jauh lebih penting dari hal apapun.
Mangkuk berisi air dingin di simpan ke atas meja, kain yang ia bawa di celupkan kemudian di peras. Dia juga duduk dihadapan Alea menatap dalam wanita di depannya.
"Makasih sudah mau bertahan, aku masih mencintaimu."
Deg.
Alea yang tadinya menunduk murung seketika mendongak kaget, dia gak salah dengar pria di depannya bilang cinta lagi?
"Dasar buaya, bilang cinta sama wanita lain disaat sudah punya tunangan, omong kosong."
Tangan Fathan terulur mengompres pipi merah Alea. "Dari dulu sampai saat ini aku hanya jatuh cinta sama satu orang, meski ada wanita yang pernah jadi pacarku dan pernah jadi tunanganku nyatanya cintaku tetap pada satu orang yaitu kamu."
Lirikan matanya beralih menatap mata Alea yang juga sedang menatapnya. "Aku jatuh cinta pada gadis cupu yang pernah aku tolong dari beberapa preman yang mau melecehkannya."
Pergerakan tangan Fathan berhenti, menyimpan kain ke dalam mangkuk kemudian kembali menyentuh pipi Alea dengan mata masih saling menatap satu sama lain.
"Sejak saat itu aku tidak bisa melupakannya sama sekali dan berniat mencarinya lagi. Hingga suatu hari datanglah gadis cantik suka buat masalah, cari perhatian, gadis yang sering membuatku geleng kepala karena tingkahnya tapi mampu membuatku berdebar sama seperti pertemuanku dengan gadis cupu itu. Kamu yang sangat berubah penampilan sulit buatku mengenalimu tapi perasaanku padamu tidak begitu sulit untuk jatuh cinta."
....
"Namun aku terpaksa menjauhinya karena seorang perempuan nekat mau nyakitin kamu dan nyakitin diri sendiri di depan umum ketika aku tolak perasaannya. Aku yang tidak bisa berbuat apa-apa dihadapan banyak orang dan terus di desak banyak orang dan aku terpaksa menerima dia menjadi kekasihku dan terpaksa menjauhi kamu. Jika boleh jujur waktu kita menghabiskan malam bersama aku bahagia karena pada akhirnya aku bisa memiliki kamu dan bisa menjadi alasanku mengakhiri hubunganku dengannya."
Sejenak Fathan menjeda ucapannya, tidak ada komentar apapun dari Alea dan ia kembali berbicara. "Aku tidak pernah menyesal menikahimu tapi aku juga menyesal karena kebodohanku aku harus kehilangan kamu. Karena kebodohanku juga aku mengalami kecelakaan, koma berbulan-bulan, bahkan kakiku mengalami kelumpuhan dan kecelakaan itu terjadi setelah aku menceraikanmu."
Bola mata Alea terbelalak, dia baru tahu kalau Fathan mengalami kecelakaan.
"Kamu kecelakaan?"
Fathan mengangguk sambil menurunkan tangannya dari pipi Alea beralih menggenggam kedua tangan Alea secara lembut.
"Aku yang tidak punya apa-apa, ibu yang juga tidak punya banyak uang terpaksa menerima tawaran orangtuanya Silvi untuk menjodohkan kami setelah aku sembuh. Orangtuanya Silvi yang sudah bantu ibu membayar seluruh pengobatanku hingga aku sembuh, itu sebabnya aku tidak bisa menolak perjodohan itu karena aku merasa hutang budi sama keluarga Silvi. Makanya satu bulan yang lalu aku terpaksa bertunangan demi ibu juga."
Wajah Fathan menunduk sedih, ada penyesalan, marah pada dirinya sendiri dan juga kecewa sama keadaan yang selalu mempermainkannya.
"Ibu akan masuk penjara jika aku tidak menerima tawaran itu," lirih Fathan sedih.
"Apa?! Segitunya!"