NovelToon NovelToon
HERE I AM "GHOST"

HERE I AM "GHOST"

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: chiechie kim

Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.

Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.

Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketenangan yang Datang

Mereka bertiga akhirnya berjalan pulang dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan meski tubuh masih lelah. Beban berat yang membelenggu hati Min-woo dan menyelimuti ruang musik selama ini akhirnya terangkat.

Sesampainya di depan kontrakan Seung-hyun, Soo-jin berpamitan untuk pulang ke tempatnya sendiri. Min-woo dan Seung-hyun pun masuk ke dalam rumah yang sederhana itu.

“Benar-benar tugas yang berat hari ini,” keluh Seung-hyun sambil melempar tasnya ke sofa.

Min-woo mengangguk pelan sambil menghela napas panjang. “Ya… tapi setidaknya semuanya sudah selesai dengan baik.”

Seung-hyun menoleh ke arahnya sambil tersenyum ramah. “Min-woo, apakah kau lapar? Kita mau masak apa?”

“Terserah kau saja,” jawab Min-woo sambil berjalan menuju kamar mandi. “Aku pergi mandi dulu.”

“Baiklah,” sahut Seung-hyun sambil menuju dapur kecilnya. “Stik dan kentang mungkin enak juga, ditambah sedikit salad. Oke, aku akan buat itu.”

Sementara suara air mandi terdengar dari balik pintu, Seung-hyun mulai sibuk di dapur. Aroma masakan yang menggugah selera perlahan menyebar, membawa suasana hangat dan damai yang sudah lama tidak mereka rasakan.

Tak lama kemudian, Min-woo keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit basah dan mengenakan pakaian santai. Wajahnya tampak jauh lebih segar, dan senyum tipis tak pernah lepas dari bibirnya. Di meja makan, stik daging yang masih mengepul panas, kentang goreng yang renyah, serta salad sayur yang segar sudah tertata rapi.

“Wah, baunya sangat enak,” puji Min-woo sambil duduk di kursi hadapan Seung-hyun.

“Pasti enak lah, aku sudah latihan berkali-kali,” jawab Seung-hyun sambil tertawa bangga. “Ayo makan selagi hangat, isinya akan semakin enak kalau kita makan bersama.”

Mereka pun menyantap makanan itu dengan nikmat. Tidak ada lagi pembicaraan tentang hantu, tugas berat, atau masa lalu yang menyakitkan. Hanya obrolan santai tentang hal-hal sederhana: pelajaran sekolah yang sulit, pertandingan bola yang akan datang, hingga kelakuan guru yang kadang lucu.

Di tengah obrolan itu, Min-woo berhenti sejenak, menatap temannya dengan tulus. “Terima kasih, Hyun. Terima kasih sudah ada di sampingku selama ini. Kalau tidak ada kau… mungkin aku tidak akan sanggup menghadapi semuanya sendirian.”

Seung-hyun tersenyum lebar, lalu menyodorkan potongan stik paling besar ke piring Min-woo. “Sama-sama. Kita ini sahabat dari kecil, kan? Saling bantu itu sudah kewajiban. Lagian, sekarang kau sudah tidak lari dari masalah lagi, kan? Itu yang paling penting.”

Min-woo mengangguk mantap,Tak lama kemudian, Min-woo keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit basah dan mengenakan pakaian santai. Wajahnya tampak jauh lebih segar, dan senyum tipis tak pernah lepas dari bibirnya. Di meja makan, stik daging yang masih mengepul panas, kentang goreng yang renyah, serta salad sayur yang segar sudah tertata rapi.

“Wah, baunya sangat enak,” puji Min-woo sambil duduk di kursi hadapan Seung-hyun.

“Pasti enak lah, aku sudah latihan berkali-kali,” jawab Seung-hyun sambil tertawa bangga. “Ayo makan selagi hangat, isinya akan semakin enak kalau kita makan bersama.”

Mereka pun menyantap makanan itu dengan nikmat. Tidak ada lagi pembicaraan tentang hantu, tugas berat, atau masa lalu yang menyakitkan. Hanya obrolan santai tentang hal-hal sederhana: pelajaran sekolah yang sulit, pertandingan bola yang akan datang, hingga kelakuan guru yang kadang lucu.

Di tengah obrolan itu, Min-woo berhenti sejenak, menatap temannya dengan tulus. “Terima kasih, Hyun. Terima kasih sudah ada di sampingku selama ini. Kalau tidak ada kau… mungkin aku tidak akan sanggup menghadapi semuanya sendirian.”

Seung-hyun tersenyum lebar, lalu menyodorkan potongan stik paling besar ke piring Min-woo. “Sama-sama. Kita ini sahabat dari kecil, kan? Saling bantu itu sudah kewajiban. Lagian, sekarang kau sudah tidak lari dari masalah lagi, kan? Itu yang paling penting.”

Min-woo mengangguk , lalu kembali melanjutkan makanannya dengan hati yang tenang. Malam itu, di rumah kontrakan sederhana itu, akhirnya mereka benar-benar bisa beristirahat dengan damai. lalu kembali melanjutkan makanannya dengan hati yang tenang. Malam itu, di rumah kontrakan sederhana itu, akhirnya mereka benar-benar bisa beristirahat dengan damai.

Setelah selesai makan, mereka berdua bekerja sama membereskan meja dan mencuci piring dengan cepat. Tidak ada yang mengeluh—rasa kebersamaan membuat pekerjaan ringan itu terasa menyenangkan.

Malam semakin larut. Seung-hyun membentangkan kasur tambahan di ruang tengah untuk Min-woo.

“Tidurlah yang nyenyak. Besok kita harus sekolah seperti biasa,” ucap Seung-hyun sambil mematikan lampu utama.

“Terima kasih,” jawab Min-woo pelan sambil berbaring. Ia menatap langit-langit kamar yang remang, tapi kali ini tidak ada bayangan menakutkan yang melintas di pikirannya. Hanya rasa lega yang mendalam.

Tak butuh waktu lama sebelum napas Min-woo menjadi teratur dan ia terlelap untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidur tanpa mimpi buruk, tanpa rasa bersalah yang menghantui.

Pagi harinya, cahaya matahari masuk melalui jendela kontrakan lebih terang dari biasanya. Min-woo terbangun dengan perasaan ringan, tanpa rasa berat di dada yang biasanya ia rasakan saat membuka mata. Ia bangkit, merapikan tempat tidurnya sendiri, lalu bersiap berangkat sekolah bersama Seung-hyun.

Sesampainya di gerbang sekolah, Soo-jin sudah menunggu di sana. Begitu melihat Min-woo, matanya langsung berbinar—ia bisa melihat perubahan besar pada pemuda itu. Tidak ada lagi tatapan kosong, tidak ada lagi raut wajah yang tertutup dinding pertahanan.

“Min-woo! Kau terlihat… berbeda hari ini,” sapa Soo-jin dengan senyum lebar. “Lebih tenang, dan lebih cerah.”

Min-woo tersenyum tulus, senyum yang sampai ke matanya. “Aku merasa begitu juga. Terima kasih, Soo-jin. Untuk semuanya.”

Mereka berjalan berdampingan menuju kelas, langkah mereka ringan dan penuh semangat. Di lorong sekolah yang riuh, Min-woo menyadari satu hal: meskipun luka masa lalu tidak akan hilang sepenuhnya, ia tidak lagi harus membawanya sendirian. Ia punya sahabat, punya teman yang bisa dipercaya, dan akhirnya ia sudah berdamai dengan kenangan kakaknya.

Suasana kelas terasa biasa saja bagi orang lain, tapi bagi ketiganya, hari ini adalah awal yang baru.

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Min-woo berhenti di depan gerbang. Ia menoleh ke arah Seung-hyun dan Soo-jin yang menunggu di sampingnya.

“Aku akan pulang ke rumah dulu,” ucapnya mantap. “Aku ingin berbicara dengan Ayah dan Ibu.”

Seung-hyun menepuk bahunya pelan. “Kami tunggu di sini kalau kau butuh apa-apa. Tapi kau sudah siap, kan?”

Min-woo mengangguk dengan senyum tenang. “Aku siap. Sekarang aku tahu apa yang harus kukatakan.”

Ia melangkah masuk ke rumah yang dulu terasa seperti penjara baginya. Kali ini, ia tidak menyelinap, tidak berlari, dan tidak menghindar. Ibu dan Ayahnya sedang duduk di ruang tamu mereka tampak lelah dan cemas, jelas terlihat sudah lama menunggunya.

“Min-woo…” Ibu berdiri terkejah, matanya berkaca-kaca. “Kau… kau pulang.”

Ayahnya juga berdiri, mulutnya terbuka hendak menegur, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan melihat tatapan tenang putranya.

“Ayah, Ibu,” sapa Min-woo lembut namun tegas. “Maafkan aku yang pergi tanpa pamit. Dan maafkan aku selama ini selalu menutup telinga dan menjauh dari kalian.”

Ia duduk di hadapan mereka, lalu melanjutkan:

“Aku tahu Ayah berharap aku seperti Kakak—suka musik, menjadi musisi yang membanggakan. Tapi Ayah, Kakak sendiri sebenarnya tidak pernah benar-benar bahagia dengan semua tekanan itu. Dan aku… aku tidak bisa menjadi orang lain selain diriku sendiri. Aku punya jalan, punya tugas, dan punya hal yang ingin kubela dengan caraku.”

Ayahnya terdiam lama, lalu perlahan raut wajah kerasnya melemah. Ia melihat kesedihan dan keberanian di mata Min-woo persis seperti mata Min-jun dulu.

“Jadi… kau tidak membenci kami?” tanya Ayah pelan.

“Tidak,” jawab Min-woo tulus. “Aku hanya ingin kita saling mengerti. Aku anakmu, tapi aku juga Min-woo dengan mimpiku sendiri.”

Ibu segera berlari memeluknya erat, air matanya menetes bahagia. Ayahnya mendekat, menaruh tangan di bahu Min-woo untuk pertama kalinya tanpa amarah.

“Baiklah… Ayah mengerti,” ucap Ayah pelan. “Lakukan apa yang kau yakini. Kami akan mendukungmu dengan caramu sendiri.”

Hari itu, dinding tebal yang memisahkan mereka akhirnya runtuh. Rumah itu pun terasa hangat kembali.

1
chie_bapeer
❤️❤️❤️
chie_bapeer
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!