NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24. Hari kepulangan

Sejak menemukan buku catatan itu, ketenangan yang selama ini ia cari akhirnya datang. Leon tidak lagi memandang pengalaman di dunia cerita sebagai sesuatu yang mustahil atau sekadar khayalan otak yang sedang sakit. Buku itu menjadi bukti nyata, jembatan yang menghubungkan dua kenyataan yang berbeda namun sama-sama menjadi bagian dari dirinya.

Hari-hari berikutnya berjalan lebih tenang. Dokter terus memeriksa kondisinya dan semakin takjub melihat perkembangan yang luar biasa. Dalam waktu seminggu, Leon sudah bisa berjalan tanpa bantuan, nafsu makannya pulih total, dan tidak ada keluhan fisik lagi.

“Kalau terus begini, Bapak, Ibu, kemungkinan besar minggu depan Leon sudah boleh pulang ke rumah,” ujar dokter saat melakukan pemeriksaan rutin, dengan senyum lega. “Ini benar-benar keajaiban. Pasien yang terbaring koma selama lima tahun biasanya butuh waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk bisa beraktivitas seperti sedia kala, tapi Leon justru pulih secepat ini.”

Mendengar kabar itu, Bu Ina dan Pak Indra saling berpandangan, mata mereka berkaca-kaca karena rasa syukur yang meluap. Mereka memegang tangan Leon dengan erat, seolah tak percaya bahwa mimpi terbesar mereka akhirnya menjadi kenyataan.

Saat sendirian lagi di kamar, Leon kembali membuka halaman buku catatannya. Ia membaca kembali setiap baris tulisan, melihat sketsa pemandangan yang ia buat: Gunung Es Abadi yang megah, Hutan Kenangan yang rindang, Pegunungan Suara yang penuh alunan nada, dan wajah Liora yang ia gambarkan dengan hati-hati. Setiap kali ia menatap sketsa itu, samar-samar ia bisa merasakan kehangatan, seolah Liora sedang tersenyum padanya dari kejauhan.

“Gue nggak akan melupakan kalian,” bisiknya pelan. “Gue janji, suatu saat nanti kita akan bertemu lagi.”

Hari kepulangan pun tiba. Leon keluar dari rumah sakit dengan berjalan tegap, didampingi oleh kedua orang tuanya. Udara luar terasa segar, terasa berbeda dari yang ia ingat atau mungkin karena ia melihat segalanya dengan pandangan yang baru. Ia menyadari bahwa dunia nyata ini juga memiliki keindahannya sendiri, meski tidak sepenuhnya seperti dunia yang ia ciptakan.

Sesampainya di rumah, suasana terasa hangat dan akrab. Meskipun ingatannya tentang lima tahun terakhir kosong, ia masih mengenal setiap sudut ruangan, setiap benda yang ada, dan aroma rumah yang sudah ia kenal sejak kecil. Kamarnya pun masih sama persis seperti yang ia tinggalkan, hanya saja ada tumpukan debu tipis yang menandakan sudah lama tidak ada yang menempatinya.

Setelah membereskan barang-barangnya, Leon duduk di meja belajarnya. Ia meletakkan buku catatan itu di atas meja, lalu mengambil pulpen. Kali ini, ia tidak menulis cerita fiksi untuk mengisi kekosongan dunia lain. Ia mulai menuliskan kenyataan yang sedang ia jalani tentang kebangkitannya dari koma, tentang rasa syukur kepada orang tuanya, dan tentang dua dunia yang kini hidup berdampingan di dalam hatinya.

Malam itu, saat rumah sudah sunyi, Leon terbangun karena merasakan angin lembut yang berhembus masuk melalui celah jendela. Cahaya bulan masuk menerangi ruangan, dan di atas halaman buku catatannya, ia melihat cahaya samar berwarna keperakan muncul perlahan. Cahaya itu membentuk tulisan yang terlihat jelas namun hanya bisa ia baca sendiri.

“Kami menunggumu. Selama kamu mengingat, jalan di antara dua dunia akan selalu terbuka. Istirahatlah, dan pulihkan kekuatanmu. Sampai saatnya tiba kita bertemu kembali.”

Saat tulisan itu memudar, Leon tersenyum lebar. Rasa rindu yang tadinya terasa berat kini berubah menjadi harapan yang menenangkan. Ia tahu, perjalanannya belum selesai. Ia harus menjalani hidupnya di dunia ini sebaik mungkin, menebus waktu yang terlewat bersama orang tuanya, sambil menjaga ingatan dan ikatan yang ia miliki di dunia cerita itu.

Ia memejamkan matanya dengan hati yang tenang. Kini ia tidak lagi merasa terbelah atau bingung. Ia memahami bahwa seseorang bisa memiliki lebih dari satu tempat untuk pulang, lebih dari satu keluarga untuk dicintai, dan lebih dari satu kisah untuk dijalani.

Dan di tempat yang jauh, di tengah keindahan Dunia Cerita Sembarangan, Liora, Zarek, dan Valgus juga merasakan kehadiran Leon kembali. Mereka tersenyum, menunggu saat yang tepat, yakin bahwa suatu hari nanti, sahabat dan orang yang mereka cintai itu akan kembali melangkah di antara mereka, melanjutkan lembaran cerita yang tak akan pernah berakhir.

1
Sarah
Ini karya yang bagus sih, Kak Anggita. Aku suka sama pesan tentang menerima takdir dan Leon yang akhirnya sadar tempatnya itu di dunia nyata. Aku juga suka sama endingnya yang kerasa adem banget terus penuh dengan pesan saling memaafkan juga. Aku juga suka sama proses tentang sihir Reza itu yang akhirnya beneran ditunjukkan awal mulanya. Saran aku sebagai pembaca bener-bener ditampung dan dipertimbangkan. Ceritanya santai dan ringan banget. Aku pasti bakal rate sih, Kak. Meski bukan sekarang. 👍
Sarah
Nah ’kan~
Aku sudah mencium baunya. /Doge/
Sarah
Laki-laki juga boleh nangis, kok. Kalian kan juga manusia. Cuma turun-turunin ego aja~
(Dan jangan di tempat umum juga sih~) 😌
Sarah
Ia, tempatmu di sini, Leon. Kecuali kalau kamu bener-bener mati di dunia nyata terus isekai. Jodohmu cari yang satu dimensi aja. 😂
Sarah
Sejak awal juga sebenarnya aku bingung...
Nanti kalau Leon jadi sama Liora... gimana??
Tinggalnya dimana?
Terus kalaupun ada jembatan antara dua dunia... bingung juga sih...
maksudku...
Di dunia cerita dia beristri, putri dari kerajaan cahaya pula.
Sementara di dunia nyata ibu-ibu masih suka nanya, “Leon kapan nikah?” 😭
Sarah
Baru tau kekuatan dukun bisa untuk isekai... mau juga dong... 😭
Sarah
Meskipun aku kritik bukan berarti aku benci yah.
Semangat yah, aku kasih 2 bunga deh./Rose/👍
Sarah
Sayangnya kematian Liora masih terasa kurang emosional. Kurang pendalaman emosi sama reaksi karakter lain (selain Leon. Zarek, Valgus, Raja, semuanya juga orang terdekat Liora. Padahal mereka orang yang bahkan lebih lama bersama Liora, Tapi yang di highlight paling terpukul... Leon doang. Zarek reka Liora sejak lama, Valgus... dulunya musuh tapi sekarang temannya juga, Raja... ya... bayangin aja, putri kesayangan lu satu-satunya mati di hadapan lu. Harusnya yang paling terpukul gak cuma Leon doang. Reaksi karakter lain gak langsung tegar dan suruh Leon balik. Masih ada tahap renungan dulu pasca tubuh Liora memudar.)
Mana scene pas matinya itu kayak masih berada cepet banget.
Paling kekurangan besar cerita ini... dramanya sih.
(Ya... lain kali aja aku jabarkan lebih jelas soal ini.)
Sarah
Aku jadi bertanya-tanya lagi, Leon ini sebenarnya penulis hebat atau amatir sih? Kalau di bilang yang udah jago rasanya gak mungkin deh. Karena ya... dunia cerita dia ajak se-gak jelas itu. Dan jujur tokoh-tokoh di dunia ceritanya Leon masih kerasa kaku kurang natural dan ada vibe klise nya juga. Tapi, dipuji guru yah?... bagus dong tulisannya.
Atau apakah gini...
Tulisan yang dimaksud kayak tulisan yang tugas-tugas gitu, tapi kalau buat nulis novel masih belum...?
Sarah
Gue pikir bakal di bogem. Untung kagak. Biasanya kan gitu di cerita-cerita film/novel. 😂
Ya... meskipun emang salah, kalau dia langsung nge-bogem juga Dimas jadi ikutan salah. Bayangin aja baru bangun, masih di RS, terus dipukul. /Facepalm/
Sarah
Kamu masih punya ortu dan temen-temenmu, Leon...
Sarah
Wait, meskipun aku gak terlalu sedih sih tapi... agak gak nyangka juga dia bakal mati sekarang. 😦😮
Sarah
Jangan lupa mie instan, Bang~ 😌
Sarah
Mon maap, Leon udah berapa hari di dunia cerita yah? Takut gak bisa balik eyy. Asaan udah lamaa. /Scowl/
Sarah
Nama, thor. Biasakan huruf awal kapital.
Sarah
Masa selamanya? Nanti layu dong. 😂
Wulandari Ayuningtyas
Semangat thor💪
Ananda Anggit: semangat💪💪
total 1 replies
Sarah
Kalau menurutku... Bimo emang gak sejahat itu sih, dia iri aja itu mah. Coba pikirin deh, 5 tahun koma... tidak sadarkan diri, titik paling tak berdaya, itu bukan waktu yang singkat lho. Dalam jangka waktu itu kalau Bimo mau, dia bisa aja bunuh Leon. Diam-diam tinggal cabut alat-alat rumah sakit yang ada badannya, atau bisa lewat cara apa aja asal diam-diam. Udah deh, bisa wassalam itu Si Leon. Tapi meski 5 tahun, tapi dia gak ada niatan bunuh Leon. Padahal itu waktu yang panjang banget untuk merencanakan sesuatu...
Sarah
Tapi, aku masih bertanya-tanya... soal Leon yang awalnya ingetnya dia anak kost dan sebelum masuk cerita dia lagi di kamar kost-an. Padahal nyatanya dia sama sekali gak pernah nge-kost?
Sarah
Nah, mulai lebih make sense nih. Good job. 👍😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!