NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Runtuhnya istana kaca.

Sejak dulu, Prisha selalu merasa ibunya tidak pernah benar-benar mencintai siapa pun di rumah ini. Tidak dirinya, tidak abangnya, bahkan tidak juga ayahnya. Bagi Prisha, Noumi hanyalah seorang wanita yang hatinya telah dibutakan oleh kilau harta, jauh di atas arti sebuah keluarga.

Hari ini, dugaan yang selama ini dipendamnya terbukti nyata.

Prisha berdiri mematung di ujung tangga lantai atas. Langkahnya terkunci, matanya tak berkedip memperhatikan kedua orang tuanya yang sedang beradu argumen di ruang tengah. Jemari gadis itu mencengkeram erat pegangan tangga, memutih, setiap kali lengkingan suara Noumi memecah keheningan rumah.

Di sebelah ibunya, dua koper besar berukuran jumbo sudah berdiri angkuh, siap untuk dibawa pergi. Ya, Noumi memutuskan angkat kaki karena tahu sudah tidak ada lagi kemewahan yang bisa ia nikmati di rumah ini.

“Pokoknya aku mau cerai!” teriak Noumi sambil mendorong dada Hije hingga pria itu terhuyung mundur.

Dengan mata memerah dan napas yang memburu, Hije menatap tajam wanita di hadapannya. “Sebelum Prisha lahir, kamu tidak seperti ini, Noumi! Entah apa yang membuatmu berubah sedramatis ini. Ingatkah saat kamu hamil Prisha dulu? Kamu begitu lembut dan penyayang.”

“Aku tidak ingin mengenang masa lalu yang tidak berguna!” ketus Noumi, memalingkan muka.

“Bagaimana bisa kamu tega meninggalkan anak-anak tepat setelah perusahaan kunyatakan bangkrut?” Hije meremas rambutnya sendiri dengan frustrasi. Pada detik itulah, netranya menangkap sosok Prisha yang berdiri di ujung tangga, menatap mereka dengan tatapan nanar dan terluka. “Prisha...?” ucapnya spontan, suaranya mendadak tercekat.

Noumi ikut menoleh ke atas. Alih-alih merasa bersalah, sebuah senyum miring justru terukir di bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala. “Baguslah kalau dia dengar. Urus saja anak-anakmu itu. Aku tidak peduli lagi. Selamat tinggal.”

Tanpa menoleh lagi ke belakang, Noumi melangkah lebar menyeret kopernya, meninggalkan badai yang baru saja ia ciptakan. Tubuh Hije seketika lemas. Pria itu tumbang ke atas sofa, kehilangan seluruh energinya.

Melihat sang ayah hancur, Prisha langsung berlari menuruni anak tangga. Ia berlutut dan memeluk erat ayahnya, sementara matanya menatap nanar ke arah pintu depan, tempat ibunya melangkah pergi tanpa sudi mengucapkan kata pamit perpisahan padanya.

“Ayah ….” lirih Prisha, suaranya bergetar menahan tangis.

“Nak, maafkan Ayah, ya. Ayah janji akan mencari jalan keluar agar hidupmu tidak menderita,” bisik Hije, membalas pelukan putrinya tak kalah erat.

Kini, di rumah megah yang terasa mendadak asing ini, hanya tinggal mereka berdua. Davier, anak sulung di keluarga mereka, sudah menghilang tanpa jejak sejak enam bulan lalu, menambah daftar panjang kemalangan yang menimpa mereka.

Prisha tahu rumah besar ini akan segera disita oleh bank. Dengan lembut, ia membantu Hije untuk duduk lebih tegak di sofa. “Ayah, aku sudah mengemasi pakaianku sejak tadi malam. Kapan kita akan pergi dari sini?”

“Masih ada waktu, Nak. Tunggulah dua hari lagi di sini. Ayah akan pergi sebentar untuk menjemputmu nanti.”

“Ayah mau ke mana?” Prisha refleks menggenggam tangan Hije, mendadak dirayapi rasa cemas.

Sebuah usapan halus mendarat di puncak kepala Prisha. Seutas senyum tulus terbit dari bibir Hije, menggantikan gurat kemarahan yang tadi sempat mendominasi wajah ringkihnya. “Tenang saja, tidak akan lama. Ayah akan kembali membawa solusi untuk kita.”

Mau tidak mau, Prisha perlahan melepaskan genggaman tangannya. Ia melepas kepergian sang ayah dengan berat hati, menatap punggung tua yang kini tampak memikul beban seberat dunia.

Hari berikutnya, Prisha setia menunggu di ruang tengah yang sepi. Satu hari berlalu tanpa kabar, hingga berganti ke hari berikutnya. Rasa cemasnya kian menumpuk. Namun, begitu bel rumah akhirnya berdentang nyaring, Prisha langsung bangkit dan berlari menuju pintu depan dengan wajah semringah.

“Ayah akhirnya pul—”

Kalimat Prisha terputus di udara tepat setelah ia menarik gagang pintu. Senyum di wajahnya luntur seketika. Sosok yang berdiri di hadapannya bukanlah sang ayah, melainkan dua orang pria berseragam polisi dengan raut wajah formal dan kaku.

“O-oh … petugas yang mau menyita rumah, ya? Sebentar, saya ambil koper saya dan Ayah dulu di dalam,” ucap Prisha terbata, berusaha menutupi kekecewaannya.

Baru saja Prisha hendak berbalik badan, salah seorang polisi memanggil namanya dengan nada berat. “Benar dengan Saudari Prisha? Kami datang bukan untuk urusan rumah, melainkan untuk mengabarkan bahwa ayah Anda … baru saja ditemukan meninggal dunia.

***

Seusai pemakaman yang diguyur rintik hujan, Prisha harus menelan pil pahit yang amat pekat. Tak ada satu pun anggota keluarga besar yang sudi menginjakkan kaki di pemakaman Hije. Saat dihubungi, mereka kompak melempar alasan klise: sedang berada di luar negeri dan tidak bisa pulang dalam waktu dekat.

Bahkan Davier, abang kandungnya yang sangat ia harapkan datang sebagai pelindung, masih tak memunculkan batang hidungnya. Prisha menangis tersedu-sedu di depan gundukan tanah yang masih basah itu, sendirian, meratapi takdirnya yang mendadak runtuh.

Ketika melangkah gontai kembali ke rumah, pemandangan menyedihkan langsung menyambutnya. Koper pakaian yang ia siapkan masih tergeletak bisu di depan pintu jati yang terkunci.

Rumah besar itu kini kosong melompong. Dulu, setidaknya ada pelayan yang akan membukakan pintu dan menyambutnya dengan hangat. Sekarang? Rumah megah itu tampak gelap, dingin, dan mencekam layaknya rumah hantu.

Prisha menyeret tubuhnya masuk, lalu terduduk lemas di balik pintu yang tertutup rapat. Air matanya sudah mengering, menyisakan perih. Besok, pihak bank akan datang untuk menyita aset ini secara resmi. Pertanyaan besar yang menghantui kepalanya adalah: Ke mana ia harus pergi besok?

Dengan tangan bergetar, Prisha merogoh ponselnya. Ia mencoba menghubungi satu per satu kerabat yang ia kenal, membuang jauh-jauh rasa gengsinya demi memohon tumpangan tinggal.

Namun, respons yang ia terima bagai tamparan keras. Semua kerabatnya menolak mentah-mentah. Kabar kebangkrutan Hije telah menyebar luas, lengkap dengan desas-desus bahwa pria itu meninggalkan utang dalam jumlah fantastis. Mereka tidak sudi terlibat, apalagi menampung sisa ahli waris yang dianggap hanya akan membawa sial dan penagih utang ke rumah mereka.

Tepat setelah sambungan telepon terakhir diputus secara sepihak, ketakutan terbesar Prisha langsung menjelma nyata. Pintu depan digedor dengan kasar.

Bukan pihak bank yang datang, melainkan sekelompok pria berbadan tegap dengan wajah garang, para penagih utang dari rentenir kelas kakap. Tanpa basa-basi, mereka menyodorkan selembar kertas bermaterai ke hadapan wajah Prisha.

"Satu koma dua triliun rupiah, beserta bunganya yang terus berjalan," ucap sang pimpinan dengan nada dingin tanpa belas kasihan.

Dunia Prisha rasanya berputar hebat. Kesadaran gadis itu hampir tumbang, lututnya lemas hingga ia harus berpegangan pada tepi pintu agar tidak ambruk ke lantai. Angka itu terlalu tidak masuk akal untuk dicerna oleh akalnya yang sedang berduka.

"Be-beri aku waktu untuk mencari jalannya ..." bisik Prisha terbata-bata, suaranya nyaris hilang dicekik rasa takut. "Kalian tahu, kan? Keluargaku yang lain ... mereka orang-orang kaya. Aku pasti bisa mengusahakannya."

Pria tegap itu menatap Prisha sinis, sebelum akhirnya mendengus. "Tiga hari. Kami beri waktu tiga hari. Kalau uang itu tidak ada, kau tahu sendiri akibatnya."

Setelah para rentenir itu pergi, keheningan kembali mencekik Prisha. Kebingungan total merayapi otaknya hingga ia merasa kehilangan akal sehat. Dengan frustrasi, Prisha membenturkan kepalanya berkali-kali ke permukaan pintu kayu, berharap rasa sakit fisik bisa mengalihkan rasa sakit di dadanya.

Bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam tiga hari? Jangankan meminjam triliunan rupiah, menumpang tinggal di rumah saudaranya saja ia diusir bagai pengemis. Prisha benar-benar berada di titik nadir. Ia syok karena kematian ayahnya yang mendadak, kini ditambah teror utang yang mustahil ia lunasi.

Ia sendirian di dunia ini. Perutnya berbunyi, perih karena lapar, tetapi tak ada sebutir nasi pun yang bisa ia makan. Uang di rekeningnya nihil. Biaya kuliahnya yang mahal lantas bagaimana? Jika semuanya sudah hancur seperti ini, apakah ia masih layak untuk hidup? Yang ada, sisa hidupnya hanya akan diisi oleh penderitaan dan kejaran para rentenir.

Malam merambat semakin larut, membawa pekat yang semakin mencekik. Pada jam tengah malam yang sunyi, Prisha sudah berdiri di atas sebuah jembatan sepi yang melintasi sungai berarus deras. Angin malam menusuk kulitnya, tetapi hatinya jauh lebih dingin.

"Katanya Papa mau pulang membawa solusi? Kenapa justru utang sebanyak ini yang datang padaku, Ayah?!" Prisha berteriak histeris, air matanya kembali tumpah deras, menatap kegelapan pekat air sungai di bawahnya yang seolah memanggil-manggil namanya untuk berserah.

"Kalau ujungnya harus begini, mending aku ikut Ayah saja!"

Prisha memejamkan mata, bersiap melompati pembatas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya condong ke depan, sepasang tangan dengan kuat mencengkeram lengannya, menariknya mundur dengan sentakan keras.

"Apa yang kamu lakukan, Nak?!" seru sebuah suara wanita paruh baya, napasnya tersengal-sengal karena panik.

"Lepaskan aku! Lepas!" Prisha memberontak histeris, sisa-sisa tenaganya ia gunakan untuk melepaskan diri. "Biarkan aku mati! Lepaskan aku, Bibi!"

"Tenanglah! Jangan bodoh! Ayo bicara dengan Bibi dulu," ucap wanita paruh baya itu dengan nada tegas namun tersirat kekhawatiran yang mendalam.

Melihat Prisha yang masih terus berontak dan menangis histeris di tepi jembatan, wanita itu menoleh ke arah mobil mewahnya yang terparkir di pinggir jalan dengan lampu hazard menyala. "Pak, cepat bantu saya! Bawa anak ini masuk ke dalam mobil!"

Sopir pribadi wanita itu bergegas turun. Dengan sigap namun hati-hati, ia membantu majikannya memegangi Prisha yang sudah lemas kehabisan tenaga, lalu menuntun, setengah menyeret, gadis yang patah hati itu ke dalam kabin mobil yang hangat.

Bersambung....

1
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!