Judul: My alter ego
Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.
Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Undangan ke Ruang Bawah Tanah
Layar tablet digital di tangan Hira masih menyala terang. Deretan huruf dari pesan penyusup itu berkedip pelan, menimpa seluruh dokumen legal yang baru saja ditandatangani Herman.
[Pengirim: Tidak Dikenal]
[Permainan pembuka yang cukup menghibur, Nyonya Lione. Anda berhasil menyingkirkan anjing-anjing penjaga saya dengan sangat rapi.]
[Tapi mari kita lihat, apakah Anda punya nyali untuk berhadapan langsung dengan pemiliknya. Saya tunggu Anda di lantai basemen terdalam. Sendirian.]
Jari telunjuk Hira mengusap tepi layar tablet yang terbuat dari logam dingin. Matanya menyipit membaca ulang setiap kata.
Teran Honigan menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu ganda dari kayu jati itu. Pria bertubuh tegap tersebut memutar kepalanya dari balik bahu. Mata hitamnya menatap lurus ke arah Hira yang masih berdiri mematung di dekat meja mahoni.
"Ada masalah dengan dokumennya, Hira?"
Teran menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Tatapannya menuntut jawaban.
Hira memutar tubuhnya dengan gerakan yang sangat luwes. Ia menekan tombol daya di sisi tablet. Layar itu langsung menggelap seketika.
"Hanya pesan notifikasi dari sistem perbankan. Pemblokiran rekening Herman sudah berhasil dieksekusi oleh pusat data."
Hira menyelipkan tablet tipis itu ke bawah lengannya. Senyum miring yang sangat meyakinkan terukir di wajah cantiknya.
Teran mengangguk pelan. Tidak ada sedikit pun tanda kecurigaan di wajah pria itu.
"Bagus. Pastikan seluruh asetnya dibekukan sebelum jam makan siang berakhir."
Teran membalikkan badan dan melangkah keluar dari Ruang Rapat Puncak. Leo, asisten pribadinya, segera merapatkan pintu ganda tersebut dari luar. Bunyi klik engsel pintu yang berat menjadi penanda bahwa ruangan itu kini benar-benar tertutup rapat.
Hira memutar pandangannya ke arah meja melingkar.
Herman masih duduk tertunduk memandangi kedua telapak tangannya sendiri yang bergetar hebat. Surya dan tiga direktur senior lainnya duduk membatu. Mereka menatap Hira seolah melihat malaikat pencabut nyawa yang masih berkeliaran mencari mangsa tambahan.
Hira melangkah melewati mereka tanpa melirik sedikit pun. Sepatu hak tinggi merah marunnya mengetuk lantai marmer dengan ritme yang stabil dan mendominasi.
Ia mendorong pintu ganda itu dan melangkah keluar.
Lorong melingkar di luar Ruang Rapat Puncak tampak sepi. Teran dan Leo sudah turun menggunakan lift utama.
Hira berjalan lurus menuju lift perak khusus eksekutif. Tangannya merogoh saku celana kain hitamnya, mengeluarkan kartu tanpa logo dengan garis emas di pinggirnya.
Ia menempelkan kartu itu ke panel pemindai.
Layar kecil di atas panel menyala hijau. Pintu perak itu bergeser terbuka tanpa suara. Hira melangkah masuk dan berbalik menghadap panel lantai.
{Sistem keamanan tingkat eksekutif ini diklaim tidak bisa ditembus. Tapi seseorang baru saja mengirim pesan langsung ke layarmu. Ini bukan main-main.}
Suara jiwa Hira yang asli bergema di dalam kepalanya. Ada getaran kepanikan yang sangat kentara. Jantung di dalam dada Hira berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.
{Kita seharusnya memberitahu Teran. Pria pengirim pesan ini pasti memiliki akses ke seluruh tulang punggung digital perusahaan.}
Sudut bibir Hira perlahan tertarik ke atas. Sebuah seringai yang mematikan terbentuk sempurna. Sang alter ego mengambil alih penuh kendali pikirannya, menekan habis semua kepanikan itu ke sudut terdalam.
{Memberitahu Teran? Dan terlihat seperti gadis kecil yang berlari mencari perlindungan ayahnya di hari pertama kerja? Jangan konyol.}
Hira mengulurkan tangannya ke panel digital di dinding lift. Ia tidak menekan tombol lantai lima puluh lima. Jari lentiknya terus menggulir layar ke arah bawah, melewati puluhan angka lantai, hingga mencapai deretan paling dasar.
[Basemen 7 - Brankas Arsip Utama & Panel Generator]
Jari Hira menyentuh layar tersebut.
[Akses Ditolak. Area Terlarang Tingkat Satu.]
Hira tidak menarik tangannya. Ia menempelkan kembali kartu hitamnya tepat di atas layar panel yang menampilkan peringatan merah itu.
Bunyi pemindai berderik pelan. Layar merah itu seketika berubah warna.
[Akses Override Diterima. Tujuan: Basemen 7.]
Lift perak itu mulai bergerak turun dengan kecepatan ekstrem. Tekanan gravitasi membuat perut Hira sedikit bergejolak, namun postur tubuhnya tetap tegak sempurna.
{Darmawan dan Herman hanyalah boneka tua yang rakus. Pengirim pesan ini adalah dalang yang menarik benang mereka dari ruang gelap.}
Mata Hira menatap pantulan dirinya di pintu lift yang mengilap.
{Kita tidak lari dari monster. Kita memburu mereka di sarangnya sendiri.}
Angka di atas pintu lift terus meluncur turun. Nol. Minus satu. Minus empat. Minus tujuh.
Ting.
Pintu perak itu bergeser terbuka perlahan.
Tidak ada lobi yang terang. Tidak ada karpet tebal atau dinding pualam.
Sebuah ruangan beton raksasa yang sangat luas menyambut pandangan Hira. Deretan pilar baja berukuran masif menopang langit-langit yang dipenuhi pipa-pipa sirkulasi udara sebesar batang pohon. Cahaya neon berwarna putih pucat berkedip pelan di beberapa sudut, memberikan penerangan yang sangat minim.
Hira melangkah keluar dari lift. Sepatu hak tingginya menghasilkan gema yang sangat tajam dan panjang di ruangan beton kosong itu.
Di tengah-tengah ruangan yang dibatasi oleh deretan rak besi karatan, terdapat sebuah meja kerja dari kayu solid. Di atas meja itu, dua buah layar monitor raksasa menyala terang, menampilkan ratusan baris kode dan grafik keuangan yang bergerak konstan.
Seseorang duduk di kursi di balik meja tersebut.
"Sepatu hak tinggi di lantai beton."
Suara pria itu memantul di dinding ruangan. Nadanya sangat kasual, seolah sedang menyapa rekan kerja di pantri kantor.
"Pilihan yang sangat berani untuk seseorang yang berjalan masuk ke kandang singa, Nyonya Lione."
Hira tidak menghentikan langkahnya. Ia berjalan lurus mendekati meja kayu tersebut.
Pria itu memutar kursinya hingga menghadap ke arah Hira.
Ia terlihat jauh lebih muda dari Herman atau Darmawan. Mungkin awal tiga puluhan. Setelan jasnya berwarna biru gelap tanpa dasi. Kemeja putihnya dibiarkan terbuka di bagian kerah. Sebelah tangannya memutar-mutar sebuah koin perak berukuran besar dengan sangat lincah.
"Kau pemilik anjing-anjing itu."
Hira menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan meja. Posturnya memancarkan dominasi mutlak.
Pria itu tersenyum simpul. Ia menangkap koin perak yang melayang di udara dan menggenggamnya erat.
"Viktor."
Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan sikunya di atas meja.
"Kepala Auditor Internal Pusat. Sekaligus orang yang memastikan miliaran rupiah uang yang dicuri oleh Darmawan dan Herman dicuci dengan bersih sebelum masuk ke pasar saham luar negeri."
Hira memiringkan kepalanya sedikit.
"Kau mengendalikan mereka. Tapi kau diam saja saat aku memotong leher mereka satu per satu pagi ini."
Viktor tertawa pelan. Ia melemparkan koin peraknya ke atas meja. Bunyi logam berdenting keras.
"Mereka sudah terlalu tua dan ceroboh. Terutama Herman. Membeli villa di Spanyol memakai nama anaknya? Bodoh sekali."
Viktor menekan beberapa tombol di keyboardnya.
"Kau justru membantuku membuang sampah yang sudah mulai membusuk. Aku harus berterima kasih padamu."
"Kalau begitu, ini bukan panggilan untuk balas dendam."
Hira menyilangkan lengannya di depan dada.
"Apa yang kau inginkan dari Eksekutif Independen yang baru saja direkrut oleh bos besarmu?"
Viktor menatap Hira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sorot matanya menunjukkan penilaian yang sangat mendetail.
"Aku menginginkan rekan kerja yang tidak sebodoh Darmawan."
Viktor memutar layar monitornya ke arah Hira.
[Dokumen Rahasia: Proyek Kontingensi - Target: Hira Lione]
"Kau pikir Teran Honigan memberimu kartu hitam itu karena dia mengagumi kemampuanmu?"
Viktor mengetuk layar monitornya. Barisan dokumen rahasia bermunculan bergantian.
"Teran sudah tahu kejaksaan agung akan mengaudit total perusahaan ini bulan depan. Dia butuh kambing hitam yang sempurna. Seseorang yang memegang akses tak terbatas ke seluruh sistem, yang akan meninggalkan jejak digital di setiap persetujuan pencairan dana kotor."
Hira menatap layar monitor itu tanpa berkedip. Matanya menelusuri rentetan rencana sistematis yang tertulis di sana.
Teran tidak pernah berniat menjadikannya ratu di gedung ini. Teran menyerahkan akses master kepadanya agar seluruh riwayat korupsi di masa lalu dialihkan ke ID milik Hira. Saat kejaksaan datang, Teran akan mencuci tangan dan menyerahkan Hira sebagai dalang utama.
Di dalam kepalanya, jiwa Hira yang asli membeku dalam ketakutan yang melumpuhkan.
{Teran... dia menipu kita. Pria itu monster yang jauh lebih buruk dari Reza!}
Namun di luar, wajah Hira tidak berubah sedikit pun. Otot wajahnya terkendali dengan sangat sempurna. Senyum miring itu perlahan kembali muncul di bibirnya.
"Rencana pembersihan yang sangat rapi."
Hira mengalihkan pandangannya dari layar monitor, menatap langsung ke mata Viktor.
"Dan karena kau memegang data aslinya, kau menawarkanku jalan keluar."
Viktor menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia menyilangkan kakinya dengan santai.
"Kita hancurkan Teran bersama. Aku memberikanmu data otentik yang membuktikan keterlibatan langsung CEO dalam skema pencucian uang ini. Kau gunakan wewenang eksekutifmu untuk membekukan aksesnya dari dalam."
Viktor mengulurkan tangannya ke seberang meja.
"Kita ambil alih perusahaan ini, dan kita bagi dua seluruh aset lepas pantai yang selama ini disembunyikan Teran."
Hira menundukkan pandangannya ke arah tangan Viktor yang terulur. Ia diam selama beberapa detik. Suara mesin pendingin ruangan berdengung rendah mengisi keheningan.
Hira mendongak. Ia tidak menyambut uluran tangan itu.
"Tawaran yang sangat menggiurkan."
Hira melangkah maju satu langkah. Matanya menyorotkan kilat pembunuh yang sangat tajam.
"Tapi ada satu masalah kecil, Viktor."
Viktor perlahan menarik tangannya kembali. Dahinya berkerut tipis.
"Aku tidak suka menjadi pion Teran."
Hira menumpukan kedua tangannya di atas meja kayu milik Viktor. Tubuhnya condong ke depan, mengintimidasi pria itu dari atas.
"Dan aku jauh lebih benci menjadi pion dari seekor tikus tanah yang bersembunyi di basemen gelap."
Wajah Viktor langsung mengeras. Senyum kasual di bibirnya lenyap seketika.
"Kau menolak tawaranku?"
Viktor berdiri perlahan. Tubuhnya ternyata jauh lebih tinggi dari yang terlihat saat ia duduk.
"Kau tahu apa artinya itu bagi masa depanmu di gedung ini?"
"Itu artinya, aku akan menghancurkan Teran Honigan dengan caraku sendiri."
Hira membalikkan badan, memunggungi Viktor sepenuhnya. Ia melangkah kembali menuju pintu lift.
"Simpan saja koin perakmu itu, Viktor. Bersiaplah mengemas barang-barangmu. Aku akan membereskanmu tepat setelah aku selesai memotong leher bos besarmu."
Viktor menekan sebuah tombol merah di bawah mejanya.
Bunyi alarm elektronik memekakkan telinga meledak di seluruh penjuru ruangan beton itu.
[Sistem Keamanan Diaktifkan. Akses Pintu Keluar Dikunci.]
Lampu di dalam lift perak seketika mati. Pintu bajanya tidak merespon sama sekali.
Langkah Hira terhenti tepat satu meter di depan pintu lift yang kini tidak berguna.
"Kau terlalu percaya diri, Nyonya Lione."
Suara Viktor terdengar dingin dan sangat mengancam dari belakang.
"Jika kau menolak tawaranku, maka besok pagi petugas kebersihan akan menemukan mayat Eksekutif Independen yang baru saja gantung diri di ruang arsip basemen karena tidak tahan dengan tekanan pekerjaan."
Hira perlahan memutar tubuhnya menghadap Viktor. Lampu neon yang berkedip menyorot wajahnya secara dramatis.
Sebuah tawa pelan meluncur dari bibir Hira. Tawa itu semakin keras, menggema di seluruh ruangan beton, mengalahkan bunyi alarm keamanan yang memekakkan telinga.
"Kau ingin bermain kunci-kuncian denganku?"
Hira merogoh sakunya. Ia mengeluarkan tablet digitalnya sendiri yang tadi ia matikan.
"Mari kita lihat, siapa yang akan memohon untuk dibukakan pintu lebih dulu."
lg seru nih
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
kodammu luar biasa!
🤝
ampe qu ulang baca part 1 hlo
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪