NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:938
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Danau Widuri Asri (part 2)

"Konon, menurut cerita turun temurun, dusun ini adalah tanah tandus dan berbatu. Hujan tidak turun selama bertahun-tahun, membuat sumur dan sungai mengering. Banyak ternak mati. Warga dusun berada di ambang keputusasaan dan kelaparan," Pak Wandi mulai mengisahkan asal usul Danau Widuri Asri.

Sementara itu, Linda dan Azra duduk berdampingan di atas batu besar, menyimak dengan tenang cerita Pak Wandi yang duduk bersila di atas batu yang lain.

"Di tengah penderitaan itu, hadir seorang ulama pengembara yang saleh dan dihormati. Melihat penderitaan warga, ia melakukan iktikaf dan salat istisqa -salat mohon hujan- bersama warga dan binatang ternak di lembah lapang yang paling kering.

Dia berdoa, memohon agar Tuhan memberikan sumber air abadi yang tidak akan pernah kering agar cucu Adam di dusun ini tidak lagi kelaparan."

Pak Wandi menghentikan kalimatnya sejenak. Lelaki tua itu menatap lurus ke tengah danau, seolah ingatan masa lalu itu tergambar jelas di atas permukaan air yang tenang. Alis matanya bertaut, mencoba mengingat apa yang terjadi selanjutnya.

Linda hendak membuka suara, tangannya ditahan oleh Azra.

Mata hazelnut Azra mengisyaratkan untuk diam, membiarkan Pak Wandi menyusun ingatan kisah danau yang mungkin mulai mengabur seiring bertambah usianya. Linda menelan kembali kata-katanya.

Mata Pak Wandi terpejam, menikmati embusan semilir angin danau yang mendadak terasa lebih dingin.

​"Setelah berdoa lama, dari semenjak matahari tepat di atas kepala sampai tergelincir ke barat, langit tiba-kira menggelap, Nduk," suara Pak Wandi memberat, tangannya terangkat menunjuk ke arah langit di atas danau.

"Awan-awan mendung membawa air hujan berarak menutup dusun ini. Tuhan menurunkan hujan yang lebat selama tiga hari tiga malam, hingga terciptalah Danau Widuri Asri ini."

​Pak Wandi menoleh ke arah kedua gadis di sampingnya, lalu tersenyum arif, "Airnya berkilau indah layaknya permata saat tertimpa sinar matahari. Itu sebabnya dinamakan Widuri Asri. Sejak hari itu, dusun ini berubah menjadi lahan agraris yang makmur."

Pak Wandi berdiri dari duduknya, melakukan sedikit peregangan pada otot-ototnya yang terasa kaku.

"Terus katanya banyak larangan yang tidak boleh dilakukan di sini ya, Pak. Itu gimana?" Tanya Linda yang sudah tidak tahan ingin berkomentar sedari tadi.

Pak Wandi menoleh, dan menatap lurus kepada yang bertanya, "Tuhan tidak suka dengan kemaksiatan, karena terlalu banyak maksiat kala itu, maka dusun ini tidak diberi hujan. Setelah manusianya bertobat dan memperbaiki diri, baru dikasih air hujan. Begitu, Nduk."

"Larangan berbuat maksiat dan keburukan, tidak hanya berlaku di sekitar danau ini saja, Lin. Di mana pun, tidak boleh berbuat sesuatu yang mengundang murka Allah, kalau tidak ingin diturunkan bala' atau bencana," jelas Azra menambahkan.

"Nah, betul kuwi Nduk. Kudu iso Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkoro, menjaga keindahan alam semesta dan memberantas sifat angkara murka di dalam diri."

Di akhir kalimat, Pak Wandi menyeru kepada warga di sekitar danau untuk segera pulang, "Ayo kabeh ndang bali, sudah mau maghrib. Ayo, ayo, ndang cepetan."

Mereka beranjak pulang meninggalkan danau bersamaan. Meski sudah sepuh, ucapan dan perilaku Pak Wandi masih didengar dan diikuti oleh warga.

Tepat sampai di rumah Pak Wandi, ketika azan magrib dikumandangkan. Azra dan Linda segera masuk rumah mengikuti Pak Wandi. Lalu Pak Wandi menutup rapat-rapat pintu dan jendela.

"Kayak Dokter Azra, Pak. Kalau sudah azan magrib, sibuk nutup jendela, pintu, tempat air dan makanan yang terbuka. Hehehe ... saya kira Dokter Azra saja yang begitu," ujar Linda setelah duduk di atas kursi sedan Jawa di rumah Pak Wandi.

Pak Wandi hanya menatap sekilas lalu tersenyum.

"Mbak Linda sama Nak Dokter, salat mboten?" Tanya Pak Wandi.

"Saya saja, Pak, yang salat. Di mana tempat wudu nya?" Linda bertanya kembali.

"Monggo ...," Pak Wandi berjalan ke belakang, diikuti Linda.

Suasana hening. Azra duduk sendirian di kursi sedan Jawa yang masih nampak kokoh, tak lapuk dimakan usia. Bibirnya tidak berhenti berzikir, sembari menunggu yang lain salat.

Udara malam yang merayap masuk lewat celah kayu terasa begitu dingin. Mata Azra diserang kantuk yang kuat, dan tidak berapa lama, dia terlelap di atas kursi.

"Maafkan ibu, Rara. Ibu tidak bisa menemanimu tumbuh besar,"Air mata menetes di pipi wanita itu.

Dalam tidurnya, Azra menjelajah ingatan ke masa sepuluh tahun lalu.

Azra melihat seorang ibu terbaring lemah di atas kasur, sementara di sampingnya seorang gadis kecil menangis sambil menggenggam erat tangan ibunya.

"Jangan pergi, Bu. Rara janji tidak akan nakal. Rara janji tidak akan cari-cari ayah lagi. Ibu temani Rara, jangan tinggalkan Rara sendirian. Rara takut," gadis remaja usia SMP itu mulai menangis keras.

"Maafkan ibu, nak. Ibu sudah menelpon nenekmu, kalau sudah datang ikut nenek ya. Jangan nakal, patuh sama nenek. Uhuk! Uhuk!' Darah segar keluar dari mulut ibu Rara. Napasnya tersengal beberapa saat, tubuhnya meregang, lalu melemah perlahan, hingga akhirnya menutup mata untuk selamanya.

"Ibu ... ibu ... bangun, Bu. Ibu bangun," Digoyangkannya tubuh ibunya berkali-kali, tapi sudah tidak ada respons.

Kening Azra berkerut dalam. Setitik keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Tubuhnya bergerak gelisah.

"Ibu... Ibu..."

Azra mengigau memanggil ibunya dengan pilu. Linda menggoyang tangan Azra berkali-kali, "Kak ... bangun kak. Kak Azra, bangun!" Panggil Linda sedikit menghentak.

"Astagfirullah ..." Azra tersentak kaget. Dia terduduk dengan jantung berdegup kencang. Pandangannya linglung menatap sekitar.

Pak Wandi menatap iba, gadis di depannya, "Mimpi toh Nduk?"

"Astagfirullah ... inggih, Pak." Azra mengusap wajahnya pelan, menunduk menutup mukanya dengan telapak tangan. Berusaha mengatur napas dan mengingat mimpi yang baru saja lewat.

"Maaf, saya tertidur," ujarnya lirih dengan senyum dipaksakan.

"Ora popo Nduk. Keliatannya capek sekali ya, sampai duduk pun tertidur. Wis ke kamar mandi dulu ndang cuci muka, ben seger. Sari, antar Bu Dokter ke kamar mandi," perintah Pak Wandi pada cucu gadisnya, Sari.

Sari tersenyum pada Azra, dan mereka beriringan menuju kamar mandi. Sesekali terdengar suara tawa Azra yang bercanda dengan Sari.

Sementara Linda duduk terpaku di kursi. Ia menangkap sesuatu yang ganjil dari cara Pak Wandi menatap Azra—bukan sekadar tatapan iba kepada orang asing, melainkan tatapan seorang kakek yang menyimpan rahasia besar cucunya.

Linda merasa Azra bukan orang asing bagi keluarga Pak Wandi. Selama ini, Azra memang tidak pernah bercerita tentang keluarganya ...

Setiap kali ditanya, dia akan selalu mengalihkan pembicaraan.

"Nyapo, Nduk. Bingung?" tebak Pak Wandi sambil menyeruput kopi yang dihidangkan Sari.

"Hehe ..." hanya itu yang keluar dari mulut Linda. Speechless kehilangan kata-kata.

1
ensu77
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!