Alena Rahmawati tidak pernah menyangka bahwa menemukan dompet seorang pria asing di tengah bioskop tengah malam yang akan akan mengubah kehidupannya.
Demi biaya sekolah adiknya Dimas, Alena menerima tawaran aneh dari Arven Alfarizi, seorang CEO muda yang tampak memiliki segalanya. Sebagai imbalan sejumlah uang, Alena harus membuat Arven jatuh cinta kepada dirinya dalam waktu tiga puluh hari.
Awalnya semua hanya kesepakatan. Namun seiring berjalannya waktu, batas antara sandiwara dan perasaan yang sesungguhnya mulai menghilang. Saat Alena benar-benar jatuh cinta, ia baru mengetahui rahasia yang selama ini Arven sembunyikan.
Mampukah Alena membuat Arven jatuh cinta ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 ( Hadiah Jika Menang )
Setelah keluar dari bioskop, Alena masih terus menggoda Arven.
" Jadi tadi Filmnya tentang apa Ar ? "
Arven terdiam
" Horor "
Jawab Arven sekenanya
" Ya gue juga tau itu film horor, anak TK juga kalau nonton tau kalau itu film horor "
" Emang ada anak TK nonton fil horor Al ? "
" Ada, liat muka lo aja horor "
" Ga, gue ganteng "
" Ganteng tapi nyebelin "
" Tetap ganteng intinya "
" Gausah mengalihkan Arven, coba tadi judul filmnya apa ? "
Arven kembali diam
Sedangkan Alena kini justru tertawa
" Lo ga nonton kan pasti, orang mata lo aja merem terus "
" Nonton Alena, cuma ga fokus aja gue "
" Emang mikirin apa sampai ga fokus ? Kerjaan ? "
Arven mengusap tengkuknya
" Liatin pacar gue "
Alena langsung merasa salah tingkah
" Bisa ga gausah modus sekali aja "
" Ga modus Alena "
" Ya tapi jangan kayak gitu Arven "
" Kenapa emang ? "
" Ya gue malu Arven "
" Masa sama pacar sendiri malu "
" Arven...!! "
Arven tertawa puas
Setelah meninggalkan area bioskop, Alena dan Arven berkeliling sejenak.
Alena terus memeluk lengan Arven sepanjang mereka berkeliling.
Hingga keduanya melewati sebuah arena bermain.
" Arven..!! "
" Hmm ? "
" Mau main "
Alena menunjuk kesebuah arena bermain.
Arven menggelengkan kepalanya.
" Engga mau "
" Kenapa ? "
" Malu "
" Malu atau CEO takut main ? "
" Engga takut, males aja "
" Yaudah kalau gitu, kita pulang aja "
" Eehh iya ayo, kita main ayo "
Alena pun tersenyum dan menarik tangan Arven untuk masuk kedalam.
Namun belum juga mereka memulai permainan, Arven merasa menyesal dengan keputusannya.
" Lo bisa masukin basket ga ? "
Tanya Alena saat mereka berdiri tepat didepan game basket.
" Lo meremehkan seorang Arven "
Alena tersenyum jahil
" Gimana kalau kita taruhan ? "
Arven pun langsung tertarik
" Kalau gue menang, lo harus beliin gue apapun yang gue minta "
" Okee "
Arven Setuju
" Kalau lo yang menang ? "
Tanya Alena
Arven mulai berpikir
Lalu ia tersenyum
" Nanti gue pikirin "
" Oke, ayo "
Permainan pun dimulai
Alena sangat percaya diri, karena dulu ia selalu menang melawan Dimas adiknya
Namun ternyata Alena salah
Arven ternyata jago, bahkan semua bola berhasil masuk dengan sempurna.
" Masuk "
" Masuk "
" Masuk lagi "
Alena mulai panik
" Loh.. Loh.. "
Sedangkan Arven tersenyum puas
" Ko bengong sih Al ? Katanya mau menang "
" Lo curang Arven "
" Engga "
" Curang "
" Engga sayang "
Alena Diam.
Hasilnya kalah telak
Alena memegang kepalanya
" 25 - 12 "
Ucap Arven sombong
" Kalah "
" Iyah iya lo menang iya "
" Yaudah gue mau hadiah gue "
" Apa ?? "
" Nanti aja "
Alena langsung waspada
" Jangan aneh-aneh "
" Gue ga aneh "
" Yakin ? "
" Yakin Alena "
" Yaudah gue mau kesana dulu "
Alena berjalan meninggalkan Arven
Sedangkan Arven sedang tersenyum memikirkan hadiah yang ia dapatkan.
Alena berhenti di depan mesin boneka capit.
Ia menunjuk salah satu boneka beruang putih yang sangat menggemaskan.
" Gue mau itu " Alena menunjuk
" Gampang "
Arven mulai memasukkan koin
Percobaan pertama gagal
Koin kedua
Gagal
Koin ketiga
Gagal
Hingga koin kesepuluh
Gagal
Alena tertawa karena melihat wajah Arven yang frustasi.
" Sisa 2 koin " kata Alena
" Bisa tenang Alena "
Arven kembali memasukkan koin
Namun gagal lagi
Sisa koin terakhir miliknya
Ia berharap jika kali ini berhasil.
" Kalau berhasil hadiah gue 2 ya ? "
ucap Arven dengan percaya diri
" Oke ga masalah "
Alena menjawab tidak kalah takut
Koin terakhir pun masuk
Alena terkejut saat Arven berhasil mengambil boneka yang Alena inginkan.
" Liat ? Gue berhasil "
Arven memberikan boneka itu kepada Alena
" Dua hadiah " bisik Arven
Arven meninggalkan mesin capit itu dengan raut wajahnya yang gembira, sedangkan Alena sedang merasa was-was dengan permintaan Arven.
Puas berkeliling Alena dan Arven memilih untuk duduk di bangku yang cukup sepi.
Suasana mulai tenang
Berbeda dengan sebelumnya yang penuh dengan tawa.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam
Menikmati kebersamaan itu.
Hingga Arven memecahkan suasana itu.
" Alena.. "
" Ya ? "
" Lo seneng ga hari ini ? "
Alena tersenyum
" Seneng banget "
" Sama, gue juga "
Arven pun beralih menatap Alena cukup lama.
Hal itu membuat Alena menjadi gugup.
" Kenapa liatin gue terus ? "
" Karena cantik, dan karena lo Alena "
" Arven stop "
" Serius Alena "
Jantung Alena mulai berdebat dan begitu juga dengan Arven.
Untuk pertama kalinya setelah mereka resmi pacaran
Mereka mulai sadar
Bahwa hubungan mereka bukan lagi sekedar misi
Angin berhembus dengan kencang, membuat rambut Alena sedikit berterbangan.
Arven mengusap lembut rambut Alena yang tertiup angin.
" Al.. "
" Hmm "
" Hadiah gue sederhana ko "
" Apa ? "
" Tutup mata lo "
" Engga mau. "
" Kenapa ? "
" Takut. "
" Takut kenapa ? "
" Takut lo aneh-aneh nanti "
Arven tertawa
" Engga Alena, janji. Kalau gue aneh-aneh lo bisa teriak "
" Hmm "
Namun beberapa detik kemudian..
Alena pun memejamkan matanya
Jantungnya berdebar-debar dengan kencang
Begitu juga dengan Arven
Bahkan tangannya sedikit gemetar
" Arven ? "
" Hmm "
" Kalau gajadi gue buka mata ya "
" Siapa bilang ga jadi ? "
Perlahan-lahan Arven mendekat
Kemudian mengecup lembut kening Alena
Sangat singkat dan sangat hati-hati
Seolah-olah Alena adalah barang paling berharga
Alena membuka matanya perlahan memberanikan menatap Arven.
Wajah keduanya sama sama merah.
" Hadiah lo cuma itu ? "
Tanya Alena pelan
" Iyah "
Arven mengangguk
" Padahal.. "
Arven menggantung ucapannya
" Padahal apa ? "
Alena ikut gugup
" Engga "
Arven pun tersenyum
Lalu dengan sangat hati-hati
Ia mengusap pipi Alena
" Kalau yang itu.. "
Arven beralih mengusap bibir Alena
Gue masih nunggu izin dari pemilik nya
Alena langsung menundukkan kepalanya karena merasa malu
sedangkan Arven ia tertawa kecil
Dan untuk pertama kalinya..
Mereka menikmati momen yang benar-benar seperti pasangan yang sedang jatuh cinta.
....
Saat hendak tidur Alena memegangi keningnya sambil tersenyum.
Kemudian ia mengambil boneka dari hasil capit yang Arven dapatkan tadi.
Alena memeluknya dengan erat, sambil sesekali ia mencium boneka itu.
" Kalau lo ga nikahin gue, gue yang nikahin lo Arven "
Alena tersenyum dan memeluk erat boneka itu.
...
Setelah pulang tadi Arven terus tersenyum, bahkan yang ada dipikirannya saat ini hanya Alena.
Kemudian ia pun mengirimkan pesan di grup nya kembali.
[Arven : Misi berhasil ]
[Reza : Nonton? ]
[Bayu : Hotel ? ]
[Arven : Bayu, lo gue pecat ya]
[Bayu : Ampun ]
[Reza : Terus berhasil apa ? ]
[Arven : Ngajak nonton sama main game ]
[Bayu : Kayak anak SMP ]
[Arven : Gue menang, dan gue dapet hadiah ]
[Reza : APA HADIAHNYA ?]
[Bayu : APA ?]
[Arven : Gue berhasil cium keningnya]
[Reza : Cuma itu ?]
[Bayu : Lumayan ada peningkatan]
[Arven : Tapi karena hadiah gue 2, jadi ga tau besok ]
[Reza : Kacauu pasien gue]
[Bayu : Suhu ternyata dia Za ]
Arven tertawa kemudian menutup layar ponselnya.
" Apa gue ajak nikah aja ya langsung "
" Daripada gue keburu mati ? "