NovelToon NovelToon
Aku Masuk Ke Tubuh Villainess Yang Akan Dieksekusi

Aku Masuk Ke Tubuh Villainess Yang Akan Dieksekusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Menjadi NPC
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayahku, Ibuku, dan Kebohongan yang Disimpan Terlalu Lama

Keesokan paginya, aku kembali ke kediaman Arvella dengan pengawalan ganda.

Dua pengawal kerajaan berjalan di belakangku dengan wajah tegang, seolah setiap vas bunga di lorong bisa berubah menjadi pembunuh bayaran. Mira berada di sampingku, membawa tas yang isinya makin hari makin tidak masuk akal: alat uji racun, saputangan, roti kering, sebotol ramuan pusing, benang jahit, gunting kecil, dan entah kenapa sebuah sendok perak.

Aku menatap sendok itu sejak kami masih di kereta.

“Mira.”

“Ya, Nona?”

“Kenapa kau membawa sendok?”

“Untuk keadaan darurat.”

“Keadaan darurat seperti apa yang membutuhkan sendok?”

Mira berpikir serius. “Makan sup, menggali tanah, mengetuk dinding palsu, atau menyerang mata musuh jika sangat diperlukan.”

Aku terdiam.

“Baik. Sendok itu boleh ikut.”

Cassian berada di kereta belakang. Tentu saja ia tidak menyebut itu pengawalan, melainkan “tindakan pencegahan strategis”. Pria itu punya bakat luar biasa mengubah kekhawatiran menjadi istilah militer agar terdengar tidak personal.

Lucien tidak ikut, tetapi ia mengirim pesan resmi melalui kurir istana.

Jangan masuk lorong rahasia lagi.

Aku membacanya sekali, lalu melipat surat itu dengan tenang.

Dalam hati, aku membalas: salahkan lantainya, bukan aku.

Setelah jatuh dari lantai rahasia kedua di kapel barat, aku mulai merasa istana seharusnya menyediakan buku panduan keselamatan bangunan. Setidaknya beri tanda: hati-hati, lantai ini memiliki kecenderungan mengkhianati orang. Tapi tentu saja, bangsawan lebih suka menyembunyikan semua hal: racun, konspirasi, anak tidak sah, dan rupanya juga lubang di bawah altar.

Kami selamat dari kejatuhan itu dengan luka ringan, banyak debu, dan harga diri yang rusak. Cassian mendarat dengan cara yang sangat tidak adil—tenang, rapi, dan hanya sedikit mengernyit. Aku mendarat dengan cara manusia biasa: hampir kehilangan napas dan mengutuk seluruh arsitek istana. Mira mendarat di atas karung tua dan langsung menyatakan bahwa karung tersebut adalah “pahlawan tanpa nama”.

Pendeta muda dan pelayan yang kami tangkap langsung diamankan. Surat yang menyebut nama Marquess Arvella kini berada di tangan Cassian, disalin, disegel, dan disembunyikan di tempat yang bahkan aku tidak diberi tahu.

Katanya, “Agar Anda tidak mencarinya sendirian.”

Aku merasa tersinggung karena ia benar.

Kediaman Arvella terlihat sama seperti sebelumnya: megah, bersih, dan tidak ramah. Gerbang besi terbuka perlahan, seolah rumah itu sendiri enggan menerimaku pulang. Halamannya sunyi. Air mancur masih berkilau. Patung-patung batu masih berdiri dengan wajah dingin, seakan ikut menyimpan rahasia keluarga yang terlalu lama dibiarkan membusuk di balik tirai mahal.

Marquess Arvella menunggu di ruang kerja.

Kali ini ia tidak terlihat marah.

Ia terlihat lelah.

Rambutnya lebih kusut dari terakhir kali aku melihatnya. Matanya cekung. Garis di wajahnya tampak lebih dalam, seperti dalam satu malam ia menua beberapa tahun. Untuk pertama kalinya, ia tampak seperti manusia, bukan patung ayah dingin edisi bangsawan.

Aneh sekali melihat orang yang selama ini kuanggap hanya kumpulan kekecewaan berdiri dengan bahu berat seperti seseorang yang akhirnya kehabisan tenaga untuk berpura-pura.

“Kau menemukan catatan ibumu,” katanya.

Tidak ada salam. Tidak ada pertanyaan apakah aku terluka setelah jatuh dari lantai rahasia. Tidak ada, “Evangeline, aku mengkhawatirkanmu.” Rupanya keluarga Arvella memang alergi terhadap kehangatan emosional.

Aku duduk tanpa diminta. “Dan terowongan. Dan markas rahasia. Dan daftar nama yang menjadikan saya variabel rusak. Hari saya cukup produktif.”

Mira berbisik, “Nona, jangan lupa jatuh dari lantai.”

“Terima kasih, Mira. Sangat membantu.”

Marquess memejamkan mata. “Kau tidak seharusnya terseret lagi.”

Aku menajamkan pandangan.

“Lagi?”

Satu kata itu terasa lebih berat daripada seluruh percakapan kami sebelumnya.

Lagi berarti sebelumnya pernah terjadi.

Lagi berarti aku bukan pertama kali berada di tengah bahaya ini.

Lagi berarti Evangeline kecil mungkin sudah menjadi target bahkan sebelum ia cukup besar untuk memahami mengapa ayahnya tidak pernah memeluknya.

Marquess membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil. Kotak itu tampak tua, tetapi terawat. Tidak ada ukiran mencolok. Tidak ada hiasan emas. Hanya kayu gelap dengan kunci kecil berwarna kusam.

Tangannya gemetar sedikit saat membukanya.

Di dalamnya ada kalung sederhana dengan liontin berbentuk mawar hitam.

Ruangan tiba-tiba terasa lebih sunyi.

“Itu milik ibumu,” katanya.

Aku mengambilnya dengan hati-hati.

Begitu ujung jariku menyentuh liontin itu, kepalaku berdenyut.

Rasa sakitnya tidak tajam, tetapi dalam. Seperti pintu lama di dalam ingatan terbuka terlalu cepat. Pandanganku bergetar. Ruang kerja mengabur. Suara Mira terdengar jauh.

Lalu kilasan ingatan muncul.

Seorang wanita berambut merah gelap memeluk gadis kecil di dekat jendela. Wajahnya lembut, tetapi matanya menyimpan ketakutan yang ditahan mati-matian. Gadis kecil itu menangis pelan, tangannya menggenggam boneka kain lusuh.

Wanita itu menunduk dan mencium keningnya.

“Evangeline,” bisiknya, “jika suatu hari semua orang menyebutmu penjahat, jangan buru-buru percaya. Orang baik pun bisa dipaksa memakai topeng buruk agar tetap hidup.”

Aku tersentak kembali ke tubuhku.

Napas masuk ke paru-paruku seperti baru saja diizinkan.

Mira langsung memegang lenganku. “Nona?”

“Aku...” Aku menatap liontin itu. “Aku melihat sesuatu.”

Marquess menunduk.

Untuk pertama kalinya, aku melihat rasa bersalah di wajahnya bukan sebagai bayangan samar, tetapi sebagai luka terbuka.

“Rosaline adalah bagian dari Ordo Mahkota Patah,” katanya pelan. “Tapi ia bergabung bukan karena setia. Ia menyusup.”

Cassian yang berdiri dekat rak buku berkata, “Untuk siapa?”

“Untuk mendiang ratu.”

Ruangan hening.

Mendiang ratu.

Ibu Lucien.

Nama yang selama ini hanya muncul dalam sejarah kerajaan, doa resmi, dan potret besar di aula istana, tiba-tiba menjadi pusat dari rahasia yang membuat ibuku mati dan aku hampir dieksekusi.

Marquess menarik napas berat.

“Dua puluh tahun lalu, Ordo mencoba mengendalikan suksesi kerajaan. Mereka tidak ingin takhta jatuh kepada penguasa yang kuat. Mereka ingin memilih penguasa yang bisa mereka gerakkan dari bayangan. Seorang raja yang tampak memimpin, tetapi sebenarnya hanya boneka. Seorang ratu yang dipuji rakyat, tetapi tunduk pada tangan yang tidak terlihat.”

Aku menggenggam liontin lebih erat.

“Rosaline mengetahui rencana itu?”

“Ia lebih dari sekadar mengetahui.” Suara Marquess hampir pecah. “Ia masuk ke dalam lingkaran mereka. Ia berpura-pura setuju. Menghadiri pertemuan. Menghafal nama. Menyalin surat. Mengumpulkan bukti sedikit demi sedikit.”

Cassian bertanya, “Bagaimana Ordo tidak mencurigainya?”

Marquess tersenyum pahit. “Karena semua orang percaya perempuan cantik di istana hanya pandai tersenyum dan menari.”

Aku terdiam.

Mira mengusap air matanya diam-diam.

“Rosaline memanfaatkan prasangka itu,” lanjut Marquess. “Ia membuat mereka percaya bahwa ia kecewa pada kerajaan, bahwa ia ingin keluarga Arvella mendapat tempat lebih tinggi, bahwa ia siap mendukung penguasa pilihan Ordo. Mereka percaya karena mereka ingin percaya.”

Aku melihat liontin mawar hitam di telapak tanganku.

Mawar berduri.

Simbol yang selama ini kupikir hanya perhiasan, ternyata mungkin tanda perlawanan.

“Sebelum sempat menyerahkan bukti kepada ratu,” kata Marquess, “ia dibunuh.”

Aku menelan ludah. “Lalu kenapa Ayah diam?”

Wajah Marquess menegang.

“Karena mereka mengancammu.”

Aku ingin marah. Seharusnya marah. Itu reaksi paling masuk akal. Selama ini Evangeline hidup dibenci, disalahpahami, dan dipaksa menjadi penjahat sosial demi rahasia orang dewasa. Semua luka itu tidak bisa hilang hanya karena kalimat “aku melindungimu”.

Tapi ada sesuatu di mata Marquess yang membuat kata-kataku tertahan.

Bukan karena aku memaafkannya.

Belum.

Mungkin tidak semudah itu.

Tetapi karena untuk pertama kalinya, aku melihat bahwa pria di depanku tidak hanya dingin. Ia ketakutan terlalu lama sampai lupa cara menjadi ayah.

“Kau masih kecil,” lanjutnya. “Mereka berkata jika aku membuka mulut, putriku akan mati seperti ibunya. Aku memilih membuatmu terlihat buruk, menjauhkanmu dari pusat politik, membiarkan orang menganggapmu bodoh, manja, dan tidak layak dipercaya. Aku pikir reputasi buruk bisa menjadi perisai.”

Aku tertawa pendek.

“Perisai yang hampir membuat saya dieksekusi.”

Ia menutup mata.

“Aku gagal.”

Tidak ada drama. Tidak ada pembelaan panjang. Tidak ada alasan tambahan untuk membuat dirinya terdengar benar.

Hanya dua kata itu.

Aku gagal.

Aku tidak tahu harus merasakan apa.

Evangeline asli tumbuh dengan ayah yang dingin, keluarga yang membiarkannya dibenci, dan reputasi buruk yang mungkin sengaja dibentuk untuk melindunginya. Tapi perlindungan macam apa yang membuat anak merasa tidak dicintai? Perlindungan macam apa yang mengubah seorang gadis menjadi sosok yang mudah dijadikan villainess oleh semua orang?

Mungkin Marquess berusaha menyelamatkan nyawa putrinya.

Tapi ia kehilangan hatinya dalam proses itu.

Dan Evangeline yang asli membayar harga paling mahal.

Mira menangis diam-diam. Kali ini tidak berlebihan. Tidak ada suara dramatis, tidak ada saputangan berkibar, tidak ada ratapan tentang takdir bangsawan. Ia hanya menunduk, air matanya jatuh satu per satu.

Itu membuatku semakin ingin menangis juga.

Aku menahan diri.

“Kalau Ayah tahu Ordo kembali bergerak,” kataku, “kenapa tidak membantu saya di sidang?”

Marquess menatapku dengan penuh rasa sakit.

“Karena orang yang mengancammu ada di antara dewan. Jika aku membela terlalu keras, mereka akan tahu aku masih menyimpan sesuatu. Mereka akan tahu bahwa aku belum benar-benar tunduk.”

Cassian berkata, “Sesuatu seperti kunci di utara?”

Marquess langsung menatapnya.

Reaksinya terlalu cepat.

Aku menajamkan pandangan. “Apa kunci itu?”

Hening turun lagi, tetapi kali ini berbeda. Ini bukan hening karena tidak ada jawaban. Ini hening karena jawaban itu terlalu berbahaya untuk dikeluarkan dari mulut.

Marquess berdiri, lalu berjalan menuju lukisan Rosaline di dinding.

Aku baru memperhatikan lukisan itu sekarang. Rosaline Arvella digambarkan mengenakan gaun biru gelap, rambut merahnya terurai di satu bahu, dan mawar hitam di tangannya. Wajahnya cantik, tetapi matanya tidak lembut seperti lukisan bangsawan biasa. Ada kecerdasan di sana. Keteguhan. Seolah pelukisnya menangkap detik ketika ia memutuskan untuk tidak tunduk.

Marquess menekan bingkai bagian bawah.

Sebuah laci rahasia terbuka.

Mira berbisik, “Kenapa semua rumah bangsawan punya laci rahasia? Di rumah hamba, yang rahasia hanya tempat menyembunyikan kue.”

Cassian berkata datar, “Kemungkinan kue itu lebih aman daripada sebagian besar dokumen bangsawan.”

Mira mengangguk muram. “Benar juga.”

Dari laci itu, Marquess mengambil peta kecil. Kertasnya sudah tua, dilipat berkali-kali, dan di bagian sudutnya ada tanda mawar hitam yang sama dengan liontinku.

Ia membuka peta itu di atas meja.

Wilayah utara.

Pegunungan tajam. Hutan gelap. Garis benteng. Jalur perdagangan lama. Dan satu titik ditandai tinta merah.

Benteng Northmere.

“Rosaline menyembunyikan salinan bukti utama di Benteng Northmere,” kata Marquess. “Wilayah keluarga North.”

Aku menoleh ke Cassian.

Ia tidak tampak terkejut.

Itu justru mencurigakan.

“Anda tahu?”

“Saya menduga.”

“Mengapa tidak bilang?”

“Karena dugaan tanpa bukti bisa membuat Anda berlari ke utara dengan membawa Mira dan helm.”

Mira mengangkat helm kecil dari tasnya. “Helm tetap penting.”

Aku memejamkan mata sejenak.

“Duke North, mulai sekarang, saya ingin semua dugaan yang menyangkut hidup saya disampaikan sebelum saya hampir mati lagi.”

“Catatan diterima.”

“Bukan catatan. Perintah.”

“Perintah diterima.”

Aku menatapnya lebih lama. Entah kenapa, jawaban itu membuat dadaku terasa sedikit lebih ringan.

Marquess menyerahkan peta itu.

“Jika kau pergi ke Northmere, Ordo akan bergerak lebih terang-terangan.”

“Kalau saya tidak pergi?”

“Mereka akan tetap memburumu.”

Aku tersenyum pahit. “Pilihan yang sangat menyenangkan.”

“Itulah mengapa aku tidak ingin kau tahu.”

“Tidak tahu tidak pernah membuat saya aman,” kataku. “Hanya membuat saya bodoh di mata musuh.”

Marquess tidak menjawab.

Mungkin karena kali ini ia tahu aku benar.

Sebelum pembicaraan berlanjut, pintu ruang kerja terbuka.

Seorang pemuda masuk dengan langkah cepat.

Rambutnya merah gelap, hampir sama seperti Evangeline. Matanya tajam. Seragam militernya berdebu seperti baru menempuh perjalanan jauh tanpa cukup istirahat. Ada pedang di pinggangnya dan luka tipis di pelipisnya yang belum sepenuhnya kering.

Ia berhenti begitu melihatku.

“Evangeline.”

Mira terkejut. “Tuan Adrian!”

Kakak laki-laki Evangeline.

Adrian Arvella.

Dalam novel, ia hampir tidak muncul. Hanya disebut bertugas di perbatasan. Tokoh latar. Nama yang lewat di satu paragraf. Saudara yang terlalu jauh untuk ikut menyelamatkan atau menghancurkan.

Sekarang ia berdiri di depanku dengan wajah lelah dan marah.

“Aku baru mendengar kau hampir dieksekusi.”

Aku menatapnya. “Kabar keluarga kita memang lambat.”

Ia menoleh pada Marquess. “Ayah menyembunyikan ini dariku?”

Marquess tidak menjawab.

Keheningan itu cukup sebagai pengakuan.

Adrian mengepalkan tangan. “Selama ini kita terus berbohong padanya?”

Aku berdiri sebelum percakapan mereka berubah menjadi drama keluarga yang bisa menunggu sampai aku tidak lagi diburu organisasi rahasia.

“Kalian bisa bertengkar nanti. Saya butuh tahu satu hal.” Aku menatap Adrian. “Apakah Kakak tahu tentang Ordo?”

Adrian menatapku lama.

Ada sesuatu di wajahnya. Rasa bersalah. Kelegaan. Keraguan. Mungkin ia mencari adik perempuan yang ia kenal di wajahku dan menemukan seseorang yang lebih tajam.

Akhirnya ia mengangguk.

“Ya. Dan aku pulang karena mereka sudah menyusup ke pasukan perbatasan.”

Ruangan mendadak sangat sunyi.

“Bukan hanya istana?” tanyaku.

“Bukan.”

Adrian mengeluarkan lencana kecil dari sakunya dan meletakkannya di atas meja.

Simbol gagak mahkota patah.

“Aku menemukannya pada mayat kurir militer semalam,” katanya. “Ia membawa laporan palsu tentang pergerakan pasukan utara. Jika laporan itu diterima, sebagian penjagaan perbatasan akan dipindahkan. Benteng Northmere akan terbuka.”

Cassian mendekat ke meja. Matanya menjadi sangat dingin.

“Jadi mereka tahu tentang Northmere.”

“Atau setidaknya mereka tahu ada sesuatu di sana,” jawab Adrian.

Mira memegang helmnya erat. “Nona, apakah boleh hamba mulai panik sekarang?”

Aku menatap lencana itu.

Lalu peta utara.

Lalu liontin ibuku.

Lalu Cassian.

Dunia novel yang kukira sudah kuketahui semakin runtuh di sekelilingku. Alur asli tidak lagi bisa dipercaya. Tokoh-tokoh sampingan mulai membawa rahasia. Ibuku bukan sekadar ibu mati tragis. Ayahku bukan sekadar pria dingin. Kakakku bukan sekadar nama yang bertugas di perbatasan. Dan aku bukan lagi villainess yang menunggu bab kematian.

“Tidak,” kataku pelan. “Kali ini kita tidak panik.”

Mira menarik napas gemetar. “Tidak panik. Baik. Hamba akan menunda panik.”

Aku menggenggam liontin ibuku.

“Kali ini kita pergi ke sumbernya.”

Cassian menatapku. “Northmere?”

Aku mengangguk.

“Northmere.”

Marquess tampak ingin menolak. Adrian tampak ingin ikut bicara. Mira tampak ingin membuka daftar benda darurat. Cassian hanya menatapku dengan ekspresi tenang yang mulai kukenal: ia sudah memutuskan akan ikut bahkan sebelum aku menyelesaikan kalimat.

Mira mengangkat tangan. “Apakah di utara ada makanan hangat?”

Cassian menjawab, “Ada sup.”

Mira langsung mengangguk serius. “Hamba siap menghadapi organisasi rahasia.”

Aku tertawa kecil, meski dadaku terasa berat.

Utara menunggu.

Benteng Northmere menunggu.

Kunci rahasia ibuku ada di sana.

Dan jika Ordo Mahkota Patah ingin menjadikanku penjahat dalam cerita mereka, maka aku akan pergi ke tempat yang tidak ada dalam novel asli.

Tempat alurnya belum tertulis.

Tempat di mana Evangeline Arvella mungkin tidak harus mati sebagai villainess.

Tempat di mana aku bisa memilih menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Seseorang yang tahu kebenaran.

1
E H Mukti
Lady evangeline 👌👌👌
Carina Yuda: hi kak, makasih udah mampir
total 1 replies
E H Mukti
😍😍😍👌
Carina Yuda: selamat membaca :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!