Ikuti aturan. Dibawah 21 jangan baca.
Belum pernah ada yang bisa merebut hati Kaisar Zhou Shen Wang sebelumnya. Setiap pernikahan hanya ia laksanakan sebagai formalitas semata. Itupun karena permintaan ibunya Shen Wang agar ia dapat segera menimang cucu pewaris bagi Kerajaan Zhou.
Bagi Shen Wang tak ada yang spesial dari wanita, selain dari pada kecantikan dan sikap manis palsunya dihadapan seorang kaisar bermartabat sepertinya.
Tapi karena sebuah kejadian yang tak terduga, Shen Wang mengalami sakit parah. Satu satunya tabib yang handal pun sedang diutus mengatasi perang di wilayah perbatasan. Akhirnya seorang gadis bernama Liang Kim Hwa, putri dari tabib handal itu dipaksa untuk mengobati Shen Wang.
Dengan tekun Kim Hwa mengobati sang kaisar muda dalam waktu yang cukup lama. Tak disangka, akhirnya Shen Wang dapat merasakan yang namanya jatuh cinta. Ternyata cinta itu rasanya tidak masuk akal. Ternyata cinta itu tak mengenal waktu dan tempat.
Tapi apakah ia akan mengambil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon souzouzuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 23 - Rencana Harus Berbelok Lagi
"Ayo kemari, kau pasti sangat ingin menjadi kaisar bukan? Menjadi seseorang yang paling berkuasa dan dihormati. Sekarang pelajari soal kekaisaran." Jin Lian menggenggam tangan Shen Wang.
Shen Wang mengibaskannya.
"Tidak. Aku belum menyelesaikan ini...." Shen Wang menangis lagi. Setiap bentakan dan sikap kasar ibunya padanya akhir-akhir ini membuatnya menangis takut.
Jin Lian tertegun melihat air mata anaknya itu.
"Aku tidak ingin menjadi kaisar." Shen Wang membuang muka.
Kalau bukan Shen Wang yang mengingini tahta, lalu siapa? Jin Luan menjadi lebih bingung kali ini. Semua ini menandakan kalau Shen Wang bukanlah anak tamak apa lagi sampai merencana pemberontakan tersembunyi itu.
Shen Wang mengambil kembali kuasnya.
"Tapi saat ini hanya kamu penerus Kerajaan Zhou. Apa kamu tidak mau menolong ibu? Ayah dan kakakmu sudah pergi meninggalkan ibu." Bibir Permaisuri Jin Lian bergetar menahan tangis.
Shen Wang menatap ibunya masih dengan air mata yang membasahi pipinya. "Ibu datang saat butuh, iya kan? Kak Yauw sudah pergi. Tak ada yang mengisi gelar putra mahkota. Sekarang ibu mulai bersikap baik padaku? Selama ini kakak sangat ibu sanjung-sanjung, aku tersisih. Hari itu ibu bahkan menamparku tanpa berfikir."
Shen Wang belum melupakan setiap kejadian yang menyakitinya.
"Kau mulai berani pada ibumu ha? Lagi pula jika dibandingkan dengan Shen Yauw, kamu memang lebih banyak menangis." Jin Lian yang masih terguncang dengan tragedi hari itu pun belum stabil pikirannya. Ia langsung naik darah mendengar perlawanan Shen Wang.
"Sekarang pergi pada guru kekaisaran! Minta Perdana Menteri Ban Poo mengajarimu cara mengatur kerajaan! Calon kaisar tidak boleh menangis! Apa lagi lemah!" bentak Jin Lian.
Shen Wang terus menunduk takut dengan isakan-isakan kecil.
A Yong yang ada di sebelahnya segera memeluk erat Shen Wang untuk sekedar menenangkan.
"Haaah!" Jin Lian berteriak tak waras. Ia berjalan cepat keluar dari kamar Shen Wang.
"Pangeran..." A Yong memeluk erat tuannya yang terduduk di lantai dan terus menangis itu.
"Semua ini terjadi karena pemberontakan sial itu! Semua ini karenanya!! Aku yakin pelakunya adalah perdana menteri! Atau entah siapa..." Shen Wang memukul-mukul lantai kamarnya untuk melepas kekesalannya.
"Tenang Pangeran... tenang... A Yong sendiri melihat kalau perdana menteri itu orangnya tidak mencurigakan. Mungkin Pangeran memang salah lihat. Se-sebaiknya Pangeran berhenti berselisih dengan permaisuri agar permasalahan ini tidak terus berlanjut." saran A Yong.
"Jika Yang Mulia menurut dan mau menjadi kaisar, bukannya itu lebih baik dari pada menangisi nasib seperti ini?" bujuk A Yong.
Shen Wang mendengarkan setiap nasehat A Yong. Sedikit banyak kepalanya itu dapat berfikir dengan dingin kembali.
"Yang Mulia bisa mencobanya dulu, benar kan?" A Yong tersenyum melihat Pangeran Shen Wang yang telah berhenti menangis.
Shen Wang mengepalkan tangannya. "A Yong."
"Ya Pangeran?"
"Apa aku memang dibedakan seperti ini karena aku cengeng?" tanyanya.
"Bukan begitu..."
"Haha bahkan ibu masih sempat-sempatnya memuji Kak Yauw yang sudah tiada itu di depanku. Aku memang tidak setegar dan sekuat Kak Yauw ya?"
A Yong malah cemas melihat tawa singkat Shen Wang barusan.
"Baiklah. Tidak ada yang namanya menangis lagi mulai hari ini." Shen Wang mengusap air matanya.
Shen Wang langsung berdiri dari tempatnya.
"Aku akan belajar mengenai kekaisaran." tekad Shen Wang.
.
.
Saat Shen Wang berumur enam belas tahun, ia pun berhasil dinobatkan menjadi kaisar. Walau begitu, satu tahun ini terus ia jalani dengan pengorbanan. Selalu melakukan hal yang tidak ia sukai. Jarang tersenyum dan tidak pernah menangis.
Selain itu, karena hasutan Ban Poo, ibunya itu semakin sombong dan tidak mau berada dibawah anak laki-lakinya. Setiap keputusan masih didominasi oleh ibu suri hingga Shen Wang merasa bahwa ia hanyalah kaisar boneka.
Satu tahun setelah hari penobatan itu...
"Yue Xi memberi hormat kepada Yang Mulia Kaisar Shen Wang. Yue Xi memberi hormat kepada Yang Mulia Ibu Suri Jin Lian." Yue Xi mengatupkan tangannya ke depan.
Jin Lian tersenyum menanggapi, sementara Shen Wang hanya memasang wajah datar.
"Ah Yang Mulia, saya disini ingin memberi masukan." Ban Poo mulai berbicara.
"Katakan." kata Shen Wang.
"Bagaimana kalau Yang Mulia mengambil seorang permaisuri untuk mendapatkan seorang pewaris?" tanya Ban Poo.
"Ya kau benar perdana menteri. Aku juga memikirkan hal yang sama." Ibu Suri Jin Lian tersenyum.
Ban Poo dan Yue Xi segera tersenyum penuh harapan. Mereka sengaja sering datang berdua akhir-akhir ini, agar ibu suri terfikir untuk menjodohkan Shen Wang dengan Yue Xi.
"Hubungan Kerajaan Song dan kerajaan ini sudah semakin dekat. Apabila bersatu juga akan semakin erat dan menguntungkan, selain itu aku juga akan melihat generasi penerus kerajaan sebelum aku tua dan mati." Ibu Suri Jin Lian tersenyum pada anak laki-lakinya.
Ekspresi Shen Wang belum berubah. Ia sama sekali tak tertarik ataupun terlihat menolak.
"Kau mau memberi ibu seorang cucu, kan?" Jin Lian menyentuh pundak putra hebatnya yang bergelar kaisar sekarang.
Shen Wang melirik menatap jari-jemari tangan ibu suri yang menyentuhnya dengan lembut di pundaknya.
"Ibu. Aku belum pernah melihat gadis itu." kata Shen Wang.
"Tidak apa-apa. Dia sangat cantik. Kau pasti langsung menyukainya. Ibu pernah berkunjung kesana saat ayahmu masih ada." bujuk Ibu Suri.
Mata Shen Wang melebar seakam teringat akan suatu hal. Ia sama sekali tak menjawab. Karena itu, ibu suri menganggap Shen Wang tak menolak perjodohan yang ia tawarkan.
Ibu Suri tersenyum bahagia sambil menyentuh pipi anaknya. "Shen Wang, ibu bangga padamu."
Sudah pasti menjadi kebahagiaan besar orang tua zaman dahulu kalau anaknya menikah. Entah mengapa sampai ada pemahaman kuat mengenai hal yang seperti itu.
Shen Wang tertegun. Ia menahan-nahan air matanya. Sudah sangat lama ia ingin diberi perhatian khusus yang tulus, sama seperti perhatian ibunya pada kakaknya yang bernama Shen Yauw itu.
Tapi sekali lagi ia harus menuruti keinginan ibunya.
Sementara Ban Poo dan Yue Xi saling bertatapan. Yue Xi mengerutkan alisnya hendak protes kepada rencana ayahnya yang gagal. Sedangkan ayahnya itu memberi isyarat agar putrinya itu tenang dan tidak mengacau dan berbuat tak sopan disini.
Ban Poo segera mengatur ekspresinya menjadi sumringah. "Ahaha baik sekali Ibu Suri. Sepertinya Yang Mulia Kaisar juga tidak keberatan. Bukan begitu Yang Mulia?"
Shen Wang masih tak menjawab, ia hanya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.
"Baiklah. Saya akan segera membantu membuatkan surat lamarannya bersama Menteri Utusan. Selamat Yang Mulia!" Ban Poo tersenyum lebar tertawa-tawa seakan ikut berbahagia.
Sementara Yue Xi muda yang masih remaja itu tak dapat menyembunyikan kekesalan hatinya. Ia terus cemberut dan menunduk.
Dengan tanggap Ban Poo menutupi kebodohan putrinya. "Ah Xiao Qi, antar Yue Xi ke kamarnya! Sepertinya dia masih sakit."
"Baik Tuan." Xiao Qi segera mendekap Yue Xi untuk menutupi wajah cemberut dan air matanya, lalu menggiringnya keluar.
"Apa putrimu baik-baik saja?" tanya Jin Lian.
"Ah sebenarnya tadi itu dia sedang tidak enak badan, tapi aku memaksanya ikut kemari agar tidak keasyikan mendekam di rumah dan melupakan keberadaan pemimpin besar seperti Ibu Suri dan kaisar." kekeh Ban Poo.
Beda ma Yuzhen..
ahh jgn gitu lah thor.. kasian si kim hwa.. biarpun ini ttg keadilan tp ini kisah conta tragis menurutq sih..
kaisar menang banyak.. jg melambangkan ke egoisan laki" menang telak d sini..!!!! 😥😥😥
oh y thor,, bawang putih cina itu yg kek mana yak?? serius nanya.. mihon d jawab..🙏
bukannya itu GK nyambung dengan judul yha
kalo mau flashback yh GK harus gini juga udh dari kemarin GK selesai ²+sekarang bikin pembaca kecewa aj terlalu lama flashback ny😢
menunggu itu GK menyebalkan tour