NovelToon NovelToon
Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius / Penyesalan Suami / Teman lama bertemu kembali
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 028

"Jawab aku," suara Kevin semakin rendah. "Apa yang kau lakukan sampai Keira menangis?"

Jason menatapnya tanpa bergerak. Di meja, aroma almond dari kue Liem masih tertinggal, tipis, manis, dan anehnya membuat dada Keira semakin sesak.

"Aku hanya membawa kue," jawab Jason akhirnya.

"Kue tidak membuat orang menangis seperti itu."

Keira mengangkat tangan sebelum dua pria itu saling menekan lebih jauh. "Cukup. Kevin, aku tidak apa-apa."

"Matamu merah."

"Karena aku lelah." Keira menarik napas, lalu menoleh pada Jason. "Pak Jason, terima kasih kuenya. Tapi malam ini aku perlu istirahat."

Jason mengerti penolakan halus itu. Ia berdiri, merapikan manset jasnya, lalu menatap Keira lebih lama dari seharusnya. Di matanya ada sesuatu yang hampir runtuh, tetapi ia menahannya dengan seluruh kekuatan.

"Baik," katanya pelan. "Istirahatlah, Keira."

Kevin tidak mengantar. Jason juga tidak meminta. Saat pintu tertutup, ruang tamu kembali sunyi, tetapi sunyi itu meninggalkan sesuatu yang tidak selesai.

Beberapa hari setelah malam itu, Jason tidak datang lagi ke Menteng Residence. Namun mobil hitamnya beberapa kali berhenti jauh dari pagar Jakarta International Preschool.

Pagi itu langit Jakarta cerah setelah hujan semalam. Anak-anak turun dari mobil antar jemput dengan tas warna-warni, sepatu kecil berdecit di lantai paving yang masih lembap. Tiffany melompat turun paling akhir, rambutnya diikat dua dengan pita putih, boneka kelinci kecil terselip di depan tasnya.

Jason berdiri di bawah pohon tabebuya di seberang gerbang sekolah. Ia mengenakan kemeja putih dan jas abu-abu gelap, cukup rapi untuk rapat direksi, terlalu rapi untuk seorang pria yang hanya berdiri di depan preschool.

Ia tahu seharusnya tidak terlalu dekat.

Rio sudah menempatkan orang di sekitar sekolah. Kevin juga pasti punya mata di sana. Jason tidak ingin membuat Keira merasa diawasi. Ia hanya ingin melihat, sekali saja, apakah anak perempuan itu benar-benar mirip dengan adiknya saat kecil.

Tiffany menoleh saat seorang guru menunduk untuk mengambil botol minumnya yang jatuh. Matanya menangkap pria tinggi di seberang jalan. Pria itu tidak tersenyum lebar, tetapi wajahnya baik. Lebih tepatnya, wajahnya sedih.

Tiffany memiringkan kepala.

Lalu, sebelum pengasuh sempat memanggil, ia berlari kecil ke arah gerbang bagian samping.

"Tiffi!" guru memanggil panik.

Jason langsung melangkah maju, tetapi berhenti saat satpam sekolah membuka pintu kecil dan Tiffany berdiri di balik pagar, tidak benar-benar keluar. Anak itu menempelkan kedua tangan mungilnya pada besi pagar.

"Om ganteng," katanya ceria, "kamu nunggu siapa?"

Jason membeku.

Nada itu ringan, polos, tanpa curiga. Namun wajah kecil di balik pagar membuat tenggorokannya seperti dicekik. Mata Tiffany besar dan jernih. Bentuk dagunya, lengkung alisnya, bahkan cara ia mengerutkan hidung saat penasaran, semuanya seperti foto lama yang selama dua puluh tahun disimpan Engkong Liem di laci terkunci.

Keira kecil.

Bukan persis. Ada garis Hartono di wajah anak itu, dingin dan tajam seperti Kevin. Tetapi senyumnya, kehangatan di matanya, cara ia mendekat tanpa takut, semua itu menghantam Jason begitu keras sampai matanya panas.

"Om?" Tiffany mengedip. "Kamu sakit mata?"

Jason menelan ludah. "Tidak."

"Kalau begitu kamu nunggu siapa? Mau kencan dengan Mommy?"

Satpam yang berdiri di dekat pagar hampir batuk. Guru Tiffany menahan senyum tegang, jelas tidak tahu apakah harus meminta maaf atau pura-pura tidak mendengar.

Jason, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, tersenyum benar-benar.

"Tidak," jawabnya lembut. "Om hanya lewat."

"Tapi Om sudah lewat tiga kali." Tiffany mengangkat tiga jari. "Tiffi lihat. Hari Senin, Rabu, sama hari ini."

Jason kehilangan kata-kata.

Anak ini bukan hanya manis. Ia juga tajam.

"Kamu pintar sekali."

"Koko Eth bilang Tiffi harus hafal wajah orang yang lihat Mommy terlalu lama." Tiffany mendekatkan wajah ke pagar, berbisik serius, "Soalnya Mommy cantik. Banyak om yang bisa jatuh cinta."

Jason tertawa kecil, tetapi tawanya pecah di tengah. Ia jongkok agar sejajar dengan Tiffany. Dari jarak sedekat itu, ia melihat garis halus di pergelangan tangan kanan anak itu, bekas gelang kecil yang mungkin terlalu sering dipakai. Tanpa sadar ia membayangkan pergelangan tangan Keira, tanda daun maple yang disembunyikan bertahun-tahun.

"Kamu sayang Mommy?" tanya Jason.

"Paling sayang." Tiffany menjawab tanpa berpikir. "Mommy suka bilang Tiffi malaikat kecil. Tapi kalau Tiffi nakal, Mommy diam saja. Itu lebih seram daripada marah."

"Mommy kamu memang seperti itu."

Tiffany menatapnya curiga. "Om kenal Mommy?"

Jason baru sadar ia telah bicara terlalu dekat dengan kenyataan. Ia berdiri pelan. "Sedikit."

"Kalau mau kencan, harus tanya Daddy dulu," Tiffany menambahkan dengan wajah sangat serius. "Daddy sekarang sudah datang. Daddy besar sekali, galak, tapi kalau lihat Mommy matanya jadi lembut."

Kata Daddy menusuk Jason dengan cara berbeda. Keira bukan hanya adik yang hilang. Ia sudah menjadi ibu. Ia bertahan lima tahun sendirian, membesarkan tiga anak, sementara Keluarga Liem gagal menemukannya.

Jason mengangguk pelan. "Om tidak akan membuat Mommy kamu sedih."

"Janji?"

"Janji."

Tiffany tersenyum puas. Guru akhirnya membimbingnya masuk. Sebelum berbalik, anak itu melambaikan tangan.

"Bye, Om ganteng! Jangan nangis lagi, ya!"

Jason berdiri di tempatnya lama setelah gerbang tertutup. Di dalam mobil, Bi Mei yang sejak tadi menunggu dengan amplop cokelat di pangkuan sudah menangis diam-diam.

"Tuan Muda Jason," bisiknya saat Jason masuk, "sampelnya sudah saya kirim."

Jason menutup pintu mobil. Suaranya serak. "Ke laboratorium mana?"

"Laboratorium genetika swasta di kawasan Kuningan. Mereka biasa menangani kasus keluarga besar. Dokternya bilang hasil ekspres bisa keluar tiga hari."

"Akurat?"

"Mereka menggunakan dua metode pembanding. Sampel dari gelas Keira dan sampel Anda sudah diterima. Tingkat akurasi mereka sangat tinggi."

Jason menutup mata. Tiga hari. Hanya tiga hari, setelah dua puluh tahun mencari.

Malam pertama, ia tidak tidur.

Di apartemen pribadinya, Jason membuka brankas kecil dan mengeluarkan foto bayi yang pinggirannya sudah menguning. Bayi perempuan itu dibungkus kain putih, matanya belum benar-benar terbuka, satu tangannya terangkat sehingga tanda kecil berbentuk daun maple terlihat di pergelangan.

Di belakang foto, tulisan Rosalind masih ada, tipis namun jelas.

Kei, pulanglah saat kau sudah siap.

Jason menyentuh tulisan itu dengan ujung jari. Ia tidak menangis keras. Ia hanya duduk di sofa sampai pagi, lampu kota Jakarta memantul di kaca, sementara foto kecil itu terasa lebih berat daripada seluruh saham Liem Group.

Malam kedua, ia membaca ulang laporan lama tentang hilangnya Rosalind dan bayi perempuannya. Nama Teguh Mulyono muncul di catatan pinggir, bukan sebagai tersangka, hanya sebagai saksi yang pernah membawa seorang bayi ke klinik kecil di Jakarta Selatan.

Malam ketiga, Jason tidak membuka laptop. Ia hanya memegang liontin bertuliskan Jin di telapak tangan, lalu menunggu ponselnya berbunyi.

Di tempat lain, Keira juga tidak diam.

Di ruang kerja Menteng Residence, ia duduk di depan tiga layar. Rio berdiri di sisi meja, membawa tablet berisi salinan akta lama, catatan panti, dan arsip notaris yang didapat dari jaringan lama Mulyono.

"Bos," kata Rio, "catatan adopsi Anda tidak bersih."

Keira mengangkat mata. "Jelaskan."

"Ada nomor registrasi yang hilang. Tanggal masuk dan tanggal pengesahan berbeda tujuh bulan, tapi di arsip digital dibuat seolah terjadi di hari yang sama. Tanda tangan Pak Teguh juga tidak konsisten."

Jari Keira berhenti di atas meja.

"Dipalsukan?"

"Lebih tepatnya diubah setelah kejadian." Rio menggeser layar. "Bagian metadata menunjukkan arsip itu pernah dibuka ulang bertahun-tahun setelah dokumen asli dibuat. Orang yang mengubahnya memakai akses notaris lama Keluarga Mulyono."

Keira menatap layar. Nama Teguh Mulyono tertulis di sana, rapi dan dingin, seperti pintu yang tidak pernah ia berani buka sepenuhnya.

"Kapan arsip itu diubah?"

Rio diam sebentar sebelum menjawab.

"Tanggalnya berdekatan dengan malam kematian Pak Teguh."

Udara di ruang kerja terasa menipis. Keira menyandarkan punggungnya perlahan, tetapi matanya tidak lepas dari layar.

Selama ini ia mengira kematian ayah angkatnya adalah kecelakaan keluarga yang sengaja dipakai Hendra untuk merebut segalanya. Namun jika arsip adopsinya diubah pada waktu yang sama, berarti kematian Teguh mungkin bukan akhir dari sebuah kecelakaan.

Mungkin itu awal dari seseorang yang menutup jejaknya.

Ponsel Rio tiba-tiba bergetar. Ia membaca pesan singkat yang masuk, lalu wajahnya berubah.

"Bos," katanya pelan, "orang yang mengubah catatan adopsi itu... aksesnya muncul tepat setelah laporan kecelakaan Pak Teguh dibuat."

Keira menatapnya.

Kali ini, bahkan suara hujan di luar jendela terdengar seperti peringatan.

1
sunaryati jarum
Kamu minta maaf bukan merasa bersalah hanya takut perusahaan kamu koleb
sunaryati jarum
Berarti ibu Rosalind masih hidup
Tri Septi
apakah Leon kakaknya Kevin? dia mirip Raymond ayahnya Kevin ya 🤔🤔🤔
Tri Septi
lanjut thor🙏🙏🙏🙏
Tri Septi
mama keira hilang diculik, mama Kevin juga ada di mana ??? makin rumit aja
Tri Septi
semangat Kevin 💪 terima kasih author meski sedikit 😁🙏🙏🙏
Tri Septi
Kevin, ayo buktikan bahwa kamu bersih dan mereka yang berbuat jahat terbukti bersalah /Casual/
Tri Septi
sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan gagal juga....niat jahat semoga dpat digagalkan😆💪🙏
Tri Septi
orang bertopeng ini apakah sama dengan yang mengambil Darren waktu bayi ya......banyak yg terlibat, musuh keira banyak😠 semoga bisa segera terungkap 💪🙏
Tri Septi
penyesalan selalu di akhir
Tri Septi
mama Rosalind mungkin jenius, sehingga ada yg berniat menyembinyikan dan memanfaatkan nya /Frown//Frown//Frown/
Tri Septi
selamat datang kembali "Kei" 😍😍😍
Tri Septi
ada konspirasi....apa motifnya ya /Casual/
Siti Maryati
sampe.ikut berdesir mambaca "kamu punya aku"
Tri Septi
yang dibelakang Maya patut diwaspadai /Casual/ makin penasaran thor😄😄😄
sunaryati jarum
Berarti saudara seibu artinya ayahnya beda
sunaryati jarum
Semoga kalian cepat bersatu
Tri Septi
Kevin mau pdkt apa menyelidik? 🤣🤣🤣
Tri Septi
seperti induk ayam yang melindungi anak2nya, keira semangat 💪💪💪
Tri Septi
musuh dalam selimut 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!