NovelToon NovelToon
Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Status: tamat
Genre:Teen / Sistem / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.

Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:

[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]

Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.

Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.

Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.

Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?

Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Xavier Mulai Mengejar

Keira menghabiskan malam itu dengan menatap lemari.

Isi lemarinya tiba-tiba terlihat seperti barisan tersangka. Kardigan krem, kemeja putih, rok denim, celana hitam, hoodie biru tua yang dulu membuat hidupnya hampir berakhir karena terlalu mirip dengan Xavier. Semua pakaian itu pernah terasa biasa. Sekarang setiap helai seperti menunggu untuk dipasangkan dengan kata yang membuat pipinya panas.

Outfit couple.

"Gila," gumam Keira sambil menutup pintu lemari. "Sistem ini makin lama makin hobi ikut campur urusan hati orang."

Nokia tua di atas meja tidak menjawab.

Tentu saja tidak. Benda itu hanya bisa menghancurkan ketenangan, lalu diam seperti tidak punya dosa.

Keira akhirnya tidur dengan satu keputusan pengecut: besok ia tidak akan memikirkan Misi 3 dulu.

Keputusan itu hanya bertahan sampai pukul tujuh pagi.

Ketika ia membuka pintu apartemen, sebuah paper bag kecil sudah tergantung di gagang pintu. Ada kotak makan transparan di dalamnya, berisi sandwich panggang yang dipotong rapi menjadi dua, satu botol jus apel tanpa es, dan sticky note berwarna kuning.

`Jangan cuma roti kosong. Ini masih roti, tapi lebih niat.`

Keira mematung.

Di seberang koridor, pintu apartemen Xavier terbuka sedikit. Pemiliknya muncul dengan kaus hitam dan celana training, rambut masih berantakan, wajah datar seperti baru saja melakukan hal paling normal di dunia.

"Pagi."

Keira mengangkat paper bag itu. "Ini apa?"

"Sarapan."

"Aku tahu ini sarapan. Maksudku kenapa ada di pintu aku?"

"Karena kalau aku taruh di pintu aku, kamu tidak makan."

Keira kehilangan kata-kata selama dua detik. Dua detik yang cukup untuk membuat Xavier berjalan mendekat dan memasukkan satu botol kecil lagi ke paper bag.

"Vitamin. Bukan obat aneh."

"Aku belum tanya."

"Wajah kamu sudah tanya."

Keira ingin membalas, tetapi aroma roti panggang dan telur hangat membuat perutnya mengkhianati harga diri. Ia menggenggam paper bag itu lebih erat.

"Kamu masak?"

"Menurut kamu?"

"Menurut aku, anak Fakultas Hukum yang hidupnya terlihat seperti brosur kampus tidak seharusnya jago bikin sandwich."

Xavier menatapnya datar. "Untung aku bukan brosur."

Ia kembali ke apartemennya sebelum Keira sempat tersenyum terlalu lebar.

Pintu tertutup.

Keira menunduk melihat sticky note di kotak makan.

Satu tindakan kecil, tetapi dadanya penuh seperti baru menerima bunga satu toko.

Masalahnya, tindakan kecil itu tidak berhenti di hari itu.

Hari berikutnya, di gagang pintu ada bubur ayam tanpa sambal, dengan daun bawang dipisah karena Xavier pernah melihat Keira menyingkirkannya satu per satu.

Hari ketiga, ada roti pisang hangat dan susu kedelai.

Hari keempat, ada onigiri buatan sendiri yang bentuknya agak miring. Keira memotretnya sebelum makan, karena bagian rumput lautnya membentuk wajah kucing yang jelas-jelas gagal menjadi lucu, tapi justru membuatnya tertawa sendirian.

Setiap kotak selalu punya sticky note.

`Makan pelan-pelan.`

`Kalau mual, jangan dipaksa habis.`

`Jangan beli seblak level setan. Aku serius.`

Pada hari kelima, Keira berdiri di depan pintu dengan kotak makan kosong di tangan, menunggu Xavier keluar.

Begitu pintu seberang terbuka, ia langsung menyodorkan kotak itu.

"Aku bukan program langganan katering."

Xavier menerima kotak kosong itu. "Aku tahu."

"Terus kenapa tiap pagi ada makanan?"

"Karena kamu sering melewatkan sarapan."

"Kamu tahu dari mana?"

"Dari wajah kamu jam sepuluh pagi."

Keira menyipit. "Wajah aku punya fitur laporan lambung?"

"Kurang lebih."

Ia bicara datar, tetapi matanya terlalu lembut untuk disebut bercanda biasa.

Keira menurunkan pandangan lebih dulu.

Misi 3 belum ia sentuh. Ia belum menemukan cara meminta Xavier memakai outfit couple tanpa terdengar seperti orang yang tiba-tiba ingin mengumumkan hubungan. Namun sebelum ia sempat memikirkan itu, Xavier sudah membuat seluruh hari-harinya terasa seperti pacaran diam-diam.

Dan itu jauh lebih berbahaya.

Di kampus, bahaya itu makin jelas.

Selesai kelas DKV siang itu, Keira keluar dari studio dengan tablet gambar di satu tangan dan tas tote hampir melorot dari bahu. Ia baru hendak mencari ojek online ketika sebuah mobil hitam berhenti di dekat lobi fakultas.

Kaca jendela turun.

Xavier menoleh dari kursi pengemudi. "Masuk."

Beberapa teman sekelas Keira langsung menoleh.

Salah satu dari mereka berbisik, tetapi cukup keras untuk didengar, "Itu Xavier Sia, kan?"

Yang lain menyikut temannya. "Dia jemput Keira?"

Wajah Keira terasa panas sampai leher.

Ia berjalan cepat ke sisi mobil dan membuka pintu. "Kamu ngapain di sini?"

"Menjemput."

"Aku bisa pulang sendiri."

"Bisa. Tapi hari ini mendung."

Keira menatap langit. Memang mendung. Tetapi Bandung sering mendung. Itu bukan alasan yang sah untuk membuat satu fakultas menatap mereka seperti sedang menonton episode baru web drama.

"Kamu tidak ada kelas?"

"Sudah selesai."

"Kebetulan sekali."

"Tidak. Aku memang tunggu."

Keira yang baru memasang seatbelt langsung terdiam.

Xavier menjalankan mobil dengan tenang, seolah kalimat `aku memang tunggu` tidak baru saja membuat sistem pernapasan Keira lupa bekerja.

Di layar ponselnya, pesan dari Celine masuk.

`KEI.`

`JANGAN BILANG ITU BUKAN DIA.`

`DIA NGEJAR KAMU YA? TERIMA AJA!`

Keira menutup layar.

Xavier melirik sekilas. "Celine?"

"Kenapa kamu tahu?"

"Wajah kamu kalau membaca chat dari dia selalu terlihat ingin pindah negara."

"Kalian semua kenapa hobi membaca wajah aku?"

"Karena wajah kamu berisik."

Keira menoleh ke jendela, menahan senyum dan panik sekaligus.

Malamnya, Celine benar-benar menyerbu kamar kos Keira lewat video call grup. Tania ikut masuk beberapa menit kemudian, sementara Bianca hanya muncul sebagai suara pelan dari belakang.

"Gue ulang," kata Celine, wajahnya memenuhi layar. "Dia kirim sarapan tiap pagi, jemput lo selesai kelas, masak kalau lo tidak makan benar, terus story hati-hati itu. Kalau ini bukan ngejar, berarti definisi gue perlu update."

Keira duduk di lantai, memeluk bantal. "Mungkin dia cuma baik."

Celine menatapnya seperti melihat bug dalam game. "Kei, cowok baik itu banyak. Cowok yang bikin onigiri bentuk kucing gagal jam enam pagi itu bukan cuma baik. Itu sudah masuk wilayah pengabdian."

Tania tertawa kecil, tetapi suaranya tetap lembut. "Kamu suka dia?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Keira diam.

Di layar, wajah kedua temannya ikut berubah. Celine berhenti bercanda. Tania menunggu tanpa memaksa.

Keira menatap ujung bantal.

Suka.

Jawabannya mudah.

Terlalu mudah sampai membuatnya takut.

Ia suka cara Xavier mengingat hal kecil. Ia suka ketika pria itu berkata pendek-pendek tetapi tindakannya panjang. Ia suka suara pintu seberang yang terbuka setiap pagi. Ia suka bayangan mereka di lift, bahu yang hampir bersentuhan, dan tatapan Xavier yang seperti berkata ia boleh lelah di depannya.

Tetapi suka tidak otomatis berarti ia boleh menerima.

Di laci meja, Nokia tua menyimpan angka dua bulan. Angka yang membuatnya berharap, tetapi belum cukup untuk menjanjikan apa pun.

"Aku tidak tahu," kata Keira akhirnya.

Celine mengerutkan dahi. "Lo tahu."

"Cel."

"Lo tahu, tapi lo takut."

Kata itu jatuh terlalu tepat.

Keira memejamkan mata sebentar.

Tania mengambil alih dengan suara lebih pelan. "Kalau kamu belum siap, tidak apa-apa. Tapi jangan menghukum diri sendiri karena masa depan belum jelas."

Keira membuka mata. "Bagaimana kalau masa depan aku memang tidak ada?"

Hening.

Celine menatapnya tajam. "Jangan ngomong begitu."

Keira tersenyum kecil, berusaha membuatnya ringan. "Aku cuma bilang kemungkinan."

"Kemungkinan bukan vonis," kata Tania.

Kalimat itu membuat tenggorokan Keira terasa penuh.

Ia mengangguk, lalu pura-pura menguap agar panggilan itu tidak berubah menjadi sesi menangis nasional. Setelah mereka menutup video call, kamar menjadi terlalu sunyi.

Keira mengambil Nokia tua dari laci.

`Misi 3: Pakai outfit couple bersama target, minimal 3 kali.`

Ia menatap pesan itu lama.

Kalau ia menerima pengejaran Xavier, tugas itu mudah. Mereka bisa memilih baju bersama, tertawa di depan cermin, dan membiarkan orang lain menebak apa pun yang ingin ditebak.

Kalau ia menolak, ia mungkin tetap bisa mencari cara licik. Warna sama. Tema sama. Kebetulan yang dibuat-buat.

Namun kali ini, Keira lelah bersembunyi di balik kebetulan.

Keesokan sore, Xavier mengajaknya ke kafe kecil dekat The Springs. Bukan tempat mahal, hanya kedai kopi dengan jendela besar dan lampu kuning hangat. Xavier memesan teh jahe untuknya tanpa bertanya, lalu duduk di seberang dengan siku di meja.

"Weekend ini ada acara?"

Keira mengaduk teh. "Tugas. Mungkin tidur. Mungkin pura-pura produktif."

"Sabtu ikut aku."

Sendok Keira berhenti. "Ke mana?"

"Pameran kecil di Braga. Ada ilustrator lokal. Kamu mungkin suka."

Keira menatapnya.

Xavier tahu.

Ia tahu Keira suka melihat display buku kecil, poster, zine, dan karya digital yang dicetak seadanya tapi penuh hati. Ia tahu tanpa Keira pernah menjelaskan panjang lebar.

"Kamu ngajak aku kencan?" tanya Keira, mencoba membuat suaranya ringan.

Xavier tidak langsung menjawab.

Tatapannya turun sebentar ke cangkir, lalu kembali ke wajah Keira.

"Kalau aku bilang iya, kamu akan menolak?"

Keira merasakan perutnya berputar pelan. Bukan mual karena sakit. Ini jenis kacau yang lain.

"Xavier..."

"Aku tidak mau memaksa." Suaranya tetap tenang, tetapi tidak sedingin biasanya. "Tapi aku juga tidak mau pura-pura semua ini cuma kebetulan."

Keira menggenggam cangkir dengan dua tangan. Hangatnya menempel di telapak, tetapi ujung jarinya tetap dingin.

"Aku tidak tahu harus jawab apa."

"Jawab yang benar."

Ia tertawa pelan, hampir tanpa suara. "Kalau yang benar sulit?"

"Tetap jawab."

Kafe di sekitar mereka ramai. Mesin kopi berdengung. Pintu berbunyi setiap kali pelanggan baru masuk. Namun meja mereka terasa seperti ruang kecil yang tertutup dari dunia.

Xavier menatapnya, kali ini tanpa bercanda, tanpa berlindung di balik kalimat pendek.

"Keira," katanya pelan, "kamu sebenarnya suka aku tidak?"

1
Evelyn Sharon
Mereka yang kasmaran kenapa jadi aku yang salting yak🫠
Evelyn Sharon
mulai suka nihh 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!