Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.
Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.
Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DZ~17
Zia pulang dengan hati yang sudah hancur berantakan. Kepalanya penuh dengan ribuan pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.
Ia berjalan menyusuri gang pesantren yang sepi, ditemani air mata yang akhirnya jebol juga dari bendungannya. "Tenang Zia, tenang. Kamu kuat, kamu bukan orang lemah," batinnya menyemangati diri sendiri, meski langkah kakinya sudah doyong ke kanan dan ke kiri mirip orang kurang darah.
***
"Assalamu'alaikum," salam Zizan saat melangkah masuk kamar. Wajahnya murung, senyumnya lenyap, dan aura di sekitarnya mendadak suram mirip mendung mau badai. Ia meletakkan kitab-kitabnya di meja dengan lunglai.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Dafa dan Ares kompak.
Kedua cowok itu langsung mengerutkan dahi serentak. Mereka menatap Zizan yang mendadak merenung dengan wajah ditekuk pemandangan yang lebih langka daripada melihat dompet mereka tebal di akhir bulan.
Dafa dan Ares saling melempar kode mata. "Apakah ada yang salah dengan pertemuan malam ini, wahai Saudaraku? Mengapa wajahmu sekusut cucian dua minggu?" tanya Ares, mulai keluar mode puitis setengah matangnya.
Zizan menghela napas berat, langsung menjatuhkan badannya ke karpet, telentang menatap langit-langit seolah sedang mencari wangsit. "Tau, ah. Aku kayaknya bikin masalah gede deh."
Ares menyenggol siku Dafa, “Kenapa tuh temenmu? Kesambet setan aula?”
Dafa hanya mengangkat bahu, “Mana aku tau, emang aku dukun?”
Karena rasa kepo sudah di ubun-ubun, Dafa akhirnya mendekat.
"Kenapa, Bro? Cerita sini. Tumben amat muka kamu lemas tak berdaya gitu."
Zizan akhirnya menyerah. Sambil menatap langit-langit kamar, ia mengalirkan semua kejadian yang baru saja terjadi di aula bersama Zia. Tanpa sensor.
"Waduh, parah sih ini. Mas Charis fix agak laen," ketus Dafa langsung emosi.
"Iya, lagian ya! Udah bener dapet Zia yang cakep, kalem, spek idaman mertua, malah nyari yang modelan lain. Kurang bersyukur emang tuh manusia," gerutu Ares menggebu-gebu.
"Tapi masalahnya, kita kan belum tahu pasti itu martabak beneran buat Salsa apa bukan. Tapi kalau dipikir-pikir pake logika matematika, emang rumusnya mengarah ke Salsa semua. Ah, tau ah! Kenapa jadi aku yang pusing sih? Hubungan punya siapa, yang bengek siapa!" keluh Zizan frustrasi. Ia menyambar tumpukan bantal di sebelahnya, lalu membekap wajahnya sendiri sambil mengerang.
"Tapi emang kalau disambung-sambungin ya nyambung ke Salsa, Zan. Bukannya kita mau suuzon berjamaah ya, tapi coba deh mikir pake otak jenius aku," kata Ares tiba-tiba, mendadak merasa secerdas detektif. "Mas Charis beli martabak keju yang katanya kesukaan Salsa. Terus Salsa bilang ke orang-orang kalau dia dibeliin martabak keju sama kamu. Udah fix, Zan! Nama kamu cuma dijadikan tumbal pengalihan isu biar Zia nggak curiga."
"Nah! Otak kamu tumben encer, Res. Aku juga mikirnya begitu," timpal Dafa sambil menjentikkan jari di jidad Ares.
"Aduh sakit tau, "rengek Ares sambil memegang jidatnya.
Dafa hanya senyum tak peduli.
"Ya aku sama Zia tadi juga mikirnya begitu!" seru Zizan dari balik bantal, suaranya sudah hampir lenyap teredam kain.
"Makanya Zia langsung nangis waktu aku keceplosan. Niat hati mau ngecengin Zia sama Mas Charis biar kita nggak kaku-kaku banget, malah jadi penghancur hubungan orang. Dosa apa aku..." Zizan pun kembali hanyut dalam lautan rasa bersalah, meratapi nasibnya yang mendadak jadi agen perusak hubungan tanpa sertifikat resmi.
"Emang benernya tuh aku diam aja kali ya, mau coba setel ramah biar nggak kelihatan cuek banget, malahan salah kaprah. Gila, gila," gerutu Zizan tanpa jeda, membuat Dafa dan Ares hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang mendadak linglung
***
Keesokan harinya. Zia mencoba bersikap biasa saja saat membantu di dapur umum pesantren. Di sebelahnya, Salsa sedang sibuk mencuci piring tanpa banyak bicara. Zia berusaha menutupi hatinya yang runtuh, namun lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa berbohong.
Sinta, yang sejak kemarin mengawasi gerak-gerik Zia, hanya bisa menghela napas berat dari kejauhan. Ia sudah menyadari perubahan mata Zia pagi ini. “Zi, plis jangan kayak gini terus. Aku takut kalau kamu tahu semuanya, kamu bakal bener-bener drop,” batin Sinta perih.
Sebagai sahabat, Sinta tahu kebenaran yang sebenarnya tentang Salsa. Namun, ia memilih menahan diri. Jika ia membongkarnya sekarang, Zia yang terlalu tulus pasti akan tetap membela Salsa.
Lamunan Sinta buyar saat Ratna tiba-tiba bersuara, "Mbak Zia, itu matanya kenapa? Habis kena banjir bandang semalaman ya?"
Zia tersentak gugup. Haduh masih kelihatan ternyata padahal aku udah coba basuh pakai cuci muka berkali-kali,udah pakai bedak juga biar nggak kelihatan. batinnya.
"Eh? Enggak, kok. Semalam aku cuma nggak bisa tidur, jadi sekarang masih ngantuk banget," Zia mencari alasan sambil berpura-pura menguap lebar.
"Syukur alhamdulillah deh. Aku kira ada apa-apa," sahut Ratna lega.
"Awas aja kalau ada yang berani nyakitin senior kita yang baik hati ini."
"Iya, setuju banget! Kita labrak bareng-bareng!" timpal Sindi sambil mengangkat tongkat kayu di sebelah tungku tinggi-tinggi seperti sedang demo.
Sinta melirik sinis ke arah Salsa yang mendadak kaku di depan wastafel. "Kalau yang nyakitin ternyata temannya sendiri gimana? Misalnya aku gitu?" sindir Sinta telak.
"Ya tetap kita lawan! Hidup Mbak Zia!" seru Sindi dan Ratna kompak.
Rara pun ikut mengangkat tangan penuh semangat.
"Mbak Salsa nggak mau ikut kompak juga?" tanya Ratna polos, menatap Salsa.
Salsa gelagapan, ia mematikan kran air dengan tangan agak gemetar.
"Eh? Ikut, dong. Aku... aku setuju banget pokoknya," jawabnya terbata-bata tanpa berani menatap mata Sinta yang terus mengintimidasinya.
Melihat kehangatan adik-adik tingkatnya yang begitu tulus membelanya, pertahanan Zia runtuh. Dadanya sesak oleh rasa haru sekaligus sedih yang mendalam. "Ih, kok aku malah mau nangis ya..." bisik Zia, suaranya mulai bergetar menahan tangis.
Melihat mata Zia yang kembali berkaca-kaca, Sinta tidak bisa menahan dirinya lagi.
"Aaaah, Zia..." air mata Sinta ikut luruh.
Zia merentangkan kedua tangannya dengan rapuh. "Mau peluk..."
Tanpa dikomando, Sinta, Ratna, Sindi, dan Rara langsung mendekat dan mendekap Zia erat-erat. Mereka membentuk lingkaran pelukan yang hangat di sudut dapur. Di dalam pelukan itu, Zia akhirnya membiarkan air matanya jatuh bebas, menyalurkan seluruh rasa sakit yang ia pendam sendiri sejak semalam.
“Ya Allah, terima kasih. Engkau tetap menghadirkan sahabat-sahabat terbaik di saat aku berada di titik terendah ini,” doa Zia dalam hati.
"Udah, jangan nangis lagi ya, Mbak," bisik Sinta lembut sambil mengusap punggung Zia, ikut menangis bersama sahabatnya yang sedang terluka dalam diam.
"Makasih ya kalian. Udah selalu ada buat aku. Aku nggak tau kalau nggak ada kalian. " Zia semakin menangis sedu mengingat luka yang sangat dalam yang sedang ia alami. Mereka berempat pun tak kuasa melihat Zia selemah itu. Segera kembali berpelukan, menyalurkan energi agar Zia tetap kuat.
Sementara tanpa mereka sadari Salsa sudah tak berada di sana. Entah kemana perginya Salsa dan mengapa tidak ikut bergabung? Mungkin karena Salsa sudah merasa tidak enak dengan sikap Sinta akhirnya memilih untuk pergi sebelum suasana semakin keruh.
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca