NovelToon NovelToon
CEO NYEBELIN Vs GADIS BAR-BAR

CEO NYEBELIN Vs GADIS BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syah_runi

Arga Mahendra dikenal sebagai CEO termuda sekaligus paling menyebalkan di kota. Wajahnya tampan, hartanya melimpah, tetapi sifatnya dingin, arogan, dan perfeksionis. Semua orang takut padanya… kecuali satu orang. Namanya Nayla Pramesti. Gadis pemberani yang mulutnya lebih cepat daripada otaknya. Saat pertama kali bertemu, Nayla tanpa sengaja menyiram kopi ke jas mahal Arga. Bukannya minta maaf, ia malah berkata, “Kalau jalan jangan kayak punya trotoar sendiri, Pak CEO.” Sejak hari itu, Arga bersumpah akan membuat hidup Nayla sengsara. Takdir justru mempertemukan mereka lagi ketika Nayla diterima bekerja di perusahaan Arga. Setiap hari kantor berubah menjadi medan perang. Mereka saling mengejek, saling menjahili, dan tak ada yang mau mengalah. Namun di balik pertengkaran itu, Arga mulai melihat sisi lembut Nayla yang selalu disembunyikan di balik sikap bar-barnya. Sementara Nayla mulai menyadari bahwa di balik wajah dingin CEO itu, ada luka masa lalu yang belum sembuh. Saat cinta mulai tumbuh, muncul seorang tunangan pilihan keluarga Arga dan mantan kekasih Nayla yang berniat merebutnya kembali. Akankah dua orang keras kepala ini akhirnya mengakui perasaan mereka, atau justru kehilangan satu sama lain karena gengsi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syah_runi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancamam untuk Nayla

Malam semakin larut.

Lampu di ruang CEO masih menyala terang. Arga berdiri di depan jendela dengan ponsel yang masih berada di tangannya.

Kalimat dari penelepon misterius itu terus terngiang di kepalanya.

“Kalau kamu ingin pegawai barumu tetap aman… jauhi dia.”

Sudah bertahun-tahun memimpin Mahendra Group, Arga tidak asing dengan ancaman. Namun, ini pertama kalinya seseorang membawa nama seorang pegawai.

Dan pegawai itu adalah… Nayla.

Tok…

Tok…

“Masuk.”

Dimas masuk sambil membawa beberapa dokumen.

“Pak, semua divisi sudah pulang.”

Arga meletakkan ponselnya.

“Dimas.”

“Iya, Pak?”

“Cari tahu siapa yang menyebarkan foto itu.”

“Sudah saya mulai.”

“Kalau perlu, periksa rekaman CCTV gedung proyek.”

Dimas sedikit terkejut.

“Pak curiga pelakunya orang dalam?”

“Bisa jadi.”

Arga memandang ke luar jendela.

“Dan mulai besok…”

“Pastikan Nayla tidak pulang sendirian.”

Dimas mengangguk.

“Baik, Pak.”

Keesokan paginya.

Nayla datang dengan semangat seperti biasa.

“Pagi!”

Namun kali ini tidak ada yang langsung menyapanya.

Beberapa karyawan hanya memandangnya sekilas sebelum kembali bekerja.

Sebagian lagi malah berbisik-bisik.

Nayla pura-pura tidak peduli.

“Sudahlah… paling mereka masih bahas foto itu.”

Ia baru saja duduk ketika sebuah amplop cokelat tergeletak di atas mejanya.

“Ini apa?”

Tidak ada nama pengirim.

Perlahan ia membukanya.

Di dalamnya hanya ada satu lembar foto.

Foto dirinya bersama Arga saat berada di bawah payung.

Namun…

Wajah Arga dicoret dengan spidol merah.

Di bagian belakang foto tertulis satu kalimat.

“Jauhi dia kalau masih ingin selamat.”

Seketika wajah Nayla memucat.

Tangannya gemetar.

“Ini…”

Rina yang melihat perubahan wajah Nayla langsung menghampiri.

“Nayla?”

“Kamu kenapa?”

Tanpa berkata apa-apa, Nayla menyerahkan foto itu.

Rina langsung membelalak.

“Ya Tuhan!”

“Siapa yang ngirim beginian?”

Nayla menggeleng pelan.

“Aku nggak tahu.”

Lima menit kemudian…

Foto itu sudah berada di meja Arga.

Brak!

Arga mengepalkan tangannya begitu membaca tulisan di balik foto.

“Waktu ancamannya sama…”

Dimas mengangguk.

“Berarti orang yang menelepon semalam kemungkinan orang yang sama.”

Arga berdiri.

“Bawa Nayla ke sini.”

Tok…

Tok…

“Masuk.”

Nayla melangkah masuk dengan wajah yang masih pucat.

“Pak…”

Arga menunjuk kursi di depannya.

“Duduk.”

Nayla menurut.

Arga memperhatikan wajah gadis itu beberapa saat.

“Kamu takut?”

Nayla tersenyum tipis.

“Sedikit.”

“Hanya sedikit?”

“Iya.”

“Soalnya…”

“Kalau saya panik, masalahnya juga nggak selesai.”

Arga menghela napas pelan.

“Kamu tidak perlu menghadapi ini sendirian.”

Nayla menatap Arga.

“Pak…”

“Mulai hari ini…”

“Jangan pulang sendirian.”

“Saya bisa naik ojek.”

“Tidak.”

“Saya antar.”

Nayla langsung terdiam.

“Hah?”

Arga sadar apa yang baru saja ia ucapkan.

Ia segera berdeham.

“Maksud saya…”

“Mobil perusahaan.”

“Oh…”

Nayla mengangguk pelan.

Meski begitu, sudut bibirnya sedikit terangkat.

“Kirain dia sendiri yang mau antar…”

Sore harinya.

Jam kerja telah usai.

Sesuai perintah Arga, sebuah mobil perusahaan sudah menunggu Nayla.

Namun saat Nayla keluar dari gedung…

Ia melihat Nino sudah berdiri di depan gerbang.

“Nayla!”

“Hai.”

“Aku jemput.”

Nayla tersenyum.

“Nggak usah.”

“Kantor sudah nyiapin mobil.”

“Kenapa?”

“Ada sedikit masalah.”

Belum sempat Nino bertanya lebih jauh…

Mobil hitam milik Arga berhenti tepat di depan mereka.

Kaca mobil perlahan turun.

“Masuk.”

Suara Arga terdengar tenang.

Nino menatap Arga.

Arga membalas tatapannya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan.

Suasana mendadak canggung.

Nayla menggaruk kepalanya.

“Pak…”

“Ini teman saya.”

“Saya tahu.”

Jawaban Arga singkat.

Nino tersenyum sopan.

“Pak Arga, saya bisa mengantar Nayla.”

“Tidak perlu.”

“Saya bertanggung jawab atas keselamatan pegawai saya.”

Nino mengangguk pelan.

“Kalau begitu, saya percaya Nayla pada Bapak.”

Arga hanya mengangguk.

Nayla segera masuk ke dalam mobil sebelum suasana semakin aneh.

Begitu mobil melaju…

Keheningan memenuhi kabin.

Beberapa menit berlalu.

Nayla akhirnya membuka suara.

“Pak…”

“Hm?”

“Bapak tadi…”

“Cemburu lagi ya?”

Arga hampir tersedak air mineral yang sedang diminumnya.

“Apa?”

“Iya.”

“Soalnya tiap ada Nino…”

“Bapak langsung berubah.”

Arga tersenyum tipis.

“Kamu terlalu banyak membaca novel.”

“Lho?”

“Berarti bukan?”

“Bukan.”

“Yakin?”

“Sangat yakin.”

Nayla menyandarkan kepalanya ke kursi sambil tersenyum jahil.

“Kalau nanti ternyata iya…”

“Saya tagih pengakuannya.”

Arga hanya menggeleng.

“Dasar gadis bar-bar.”

Mendengar kalimat itu, Nayla tertawa lepas.

Tawa yang tanpa sadar membuat Arga ikut tersenyum.

Namun dari kejauhan…

Sebuah mobil berwarna abu-abu mengikuti mereka sejak keluar dari kantor.

Seseorang di dalam mobil itu mengangkat kamera dengan lensa panjang.

Klik!

Satu foto lagi berhasil diambil.

Pria misterius itu kemudian tersenyum tipis.

“Permainan baru saja dimulai…”

1
Erni Erni
kenapa tiap apisode jd horor terus min
jd senam jantung🤧
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!