Dunia berubah dalam semalam. Langit di atas tanah perbatasan Amerika berubah warna, bumi terbelah, dan makhluk-makhluk yang dulunya manusia atau ternak kini bangkit sebagai monster haus darah. Di tengah kekacauan itu, Elena Cross — janda pemilik Rocking Spur Ranch yang tengah hamil delapan bulan — berjuang sendirian mempertahankan tanahnya dari serangan pertama gerombolan ternak yang bermutasi.
Di saat paling genting, sebuah kekuatan misterius bangkit dalam dirinya: **Gudang Tanpa Batas**, sebuah sistem ajaib yang bisa memunculkan senjata, makanan, obat-obatan, dan perbekalan apa pun dari udara kosong — aktif hanya karena satu syarat: melindungi kehidupan baru di tengah kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miichi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pilihan Seorang Ibu
Kata-kata Elias menggantung berat di ruangan itu, seperti asap yang enggan menghilang. Elena menatap tangannya sendiri, masih gemetar dari sensasi dingin yang menjalar saat membaca pesan terkunci dari Gudangnya.
"Pergi ke fasilitas itu," ulangnya pelan, "tempat yang menyebabkan semua ini. Tempat yang mungkin masih penuh dengan bahaya yang bahkan lebih buruk dari apa yang sedang menuju kemari sekarang."
"Aku tahu ini gila," kata Elias cepat, seolah membaca keraguan di wajah Elena. "Dan aku tidak yakin ini akan berhasil. Tapi kalau pesan itu benar, kalau kekuatanmu memang terhubung dengan sumber yang sama seperti pasukan itu—mungkin hanya di sanalah kau bisa menemukan cara untuk benar-benar menghentikan mereka, bukan cuma menunda kedatangan mereka."
Whitlock menggeleng tegas. "Terlalu berisiko. Kita bicara soal meninggalkan Prescott dua hari sebelum pasukan itu sampai, melakukan perjalanan ke fasilitas yang bahkan tidak kita tahu kondisinya sekarang, dan berharap menemukan jawaban tepat waktu untuk kembali dan membantu pertahanan di sini."
"Aku tahu risikonya, Whitlock," kata Elena, suaranya tegas meski hatinya bergejolak. Ia memikirkan Grace, jauh di ranch, masih terlalu kecil untuk memahami dunia yang sedang dipertaruhkan atas namanya. "Tapi kalau aku tidak melakukan apa pun selain menunggu di sini, dan pasukan itu benar sekuat yang digambarkan Cassius—berapa banyak nyawa lagi yang akan hilang, termasuk mungkin nyawa Grace sendiri, kalau Prescott dan ranch kami akhirnya jatuh?"
Margaret, yang sejak tadi mendengarkan dengan wajah tegang, akhirnya bersuara. "Ada jalan tengah, mungkin. Cassius bilang pasukan itu masih dua hari lagi. Fasilitas yang dimaksud Elias berjarak sekitar satu hari perjalanan cepat dari sini. Kalau Nyonya Cross berangkat sekarang, dengan pengawalan tercepat kami, ada kemungkinan dia bisa sampai, menemukan apa yang dibutuhkan, dan kembali sebelum pertempuran sesungguhnya dimulai."
"Itu perhitungan yang sangat ketat," gumam Whitlock, namun nadanya mulai melunak, mempertimbangkan kemungkinan itu.
Elena menutup matanya sejenak, memikirkan Grace, memikirkan Sarah yang menjaganya, memikirkan semua orang di Rocking Spur dan Prescott yang nyawanya kini seolah bergantung pada keputusan yang harus ia ambil dalam hitungan menit ini.
"Aku akan pergi," katanya akhirnya, membuka mata dengan tekad yang mengeras. "Elias, kau akan jadi penunjuk jalan. Whitlock—"
"Aku ikut," potong Whitlock cepat, tidak memberi ruang untuk bantahan. "Kau tidak akan pergi ke tempat seperti itu tanpa seseorang yang bisa menembak lurus di sisimu, Nyonya Cross."
Margaret mengangguk setuju. "Aku akan kirim Cassius juga—dia kenal medan utara lebih baik dari siapa pun di sini. Dan aku akan siapkan kuda tercepat yang kami punya."
Sebelum berangkat, Elena meminta waktu sebentar untuk mengirim pesan kembali ke ranch melalui pengendara cepat Dewan, memberitahu Sarah tentang keputusannya dan memohon agar Grace dijaga baik-baik hingga ia kembali.
*Sarah,* tulisnya dengan tangan gemetar di atas kertas lusuh, *aku harus pergi mencari jawaban yang mungkin bisa menyelamatkan kita semua—Grace, ranch kita, Prescott, mungkin lebih banyak lagi. Aku tahu ini keputusan yang menakutkan, tapi aku percaya inilah yang harus kulakukan sebagai ibunya—bukan hanya melindunginya hari ini, tapi memastikan ada dunia yang layak untuknya besok. Peluk dia untukku setiap malam sampai aku kembali. Aku janji akan kembali.*
Ia menyerahkan surat itu pada pengendara dengan tangan yang masih gemetar, menahan air mata yang mengancam tumpah. Kotak cahaya di sudut penglihatannya berdenyut lembut, seolah memahami beban yang ia panggul—bukan lagi sekadar bertahan hidup untuk dirinya sendiri, melainkan mempertaruhkan segalanya untuk masa depan yang lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Saat matahari mulai condong ke barat, empat sosok—Elena, Whitlock, Elias, dan Cassius—menunggangi kuda tercepat yang dimiliki Prescott, melesat menuju utara, menuju fasilitas yang telah mengubah dunia menjadi neraka, membawa harapan tipis bahwa di tempat yang sama, mungkin juga tersimpan kunci untuk menyelamatkannya.
---
ajaib kenapa tidak rahsia kan saja
gila !!