"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Tatapan Kecurigaan
Cahaya lampu di depan Toko Buku Senja mulai mendominasi jalanan ketika Nadira menurunkan rolling door hingga menutup seluruh bagian depan toko. Jam operasional telah berakhir hampir setengah jam yang lalu.
Para pengunjung sudah lama pulang, sementara Maya lebih dulu berpamitan karena harus menghadiri acara keluarga. Kini hanya tersisa Nadira yang memastikan setiap sudut toko telah aman sebelum meninggalkannya. Ia baru saja mengunci gembok ketika sebuah sedan hitam berhenti perlahan di depannya.
Arga turun dari balik kemudi, masih mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku. Meski wajahnya terlihat lelah setelah seharian bekerja, senyum tipis tetap muncul begitu melihat Nadira.
"Lama nunggu?" tanya Nadira sambil menghampirinya.
Arga menggeleng. "Baru sampai." Seperti biasanya, tanpa diminta ia mengambil tas yang dibawa Nadira.
"Langsung pulang?" Nadira mengenggam tangan Arga seraya menatapnya.
Arga tampak berpikir sejenak sebelum menjawab. "Sebenarnya aku harus mampir ke kantor sebentar."
Nadira mengangguk pelan. "Masih ada pekerjaan?"
"Ada beberapa dokumen yang harus kutandatangani malam ini. Besok pagi harus sudah masuk ke bagian legal. Paling lima belas menit."
Nadira tersenyum kecil. "Ya sudah. Aku ikut."
Gedung pusat Wijaya Group tampak jauh lebih tenang dibandingkan biasanya. Hampir seluruh lantai sudah gelap. Hanya beberapa ruangan yang masih menyala, menandakan masih ada karyawan yang lembur.
Lift membawa mereka menuju lantai eksekutif.
Begitu pintunya terbuka, hawa dingin pendingin ruangan langsung menyambut mereka. Koridor panjang itu tampak lengang. Suara langkah kaki mereka bergema pelan hingga akhirnya berhenti di depan ruang kerja Arga.
"Kamu duduk dulu." Arga membuka pintu ruangannya. "Aku selesaikan berkas ini sebentar."
Nadira masuk sambil mengangguk.
Ruangan itu masih sama seperti pertama kali ia melihatnya. Luas, modern, tetapi tidak berlebihan. Dinding kaca yang membentang dari lantai hingga langit-langit memperlihatkan pemandangan Jakarta di malam hari. Ribuan lampu kota membentuk garis-garis cahaya yang memanjang hingga ke kejauhan.
Nadira memilih duduk di sofa dekat jendela. Ia meletakkan tas di sampingnya sambil menikmati suasana malam dari ketinggian.
Sementara itu, Arga langsung duduk di balik meja kerjanya. Tumpukan dokumen yang harus ditandatangani sudah menunggunya.
Belum lama ia bekerja, terdengar suara ketukan di pintu.
"Masuk," kata Arga mempersilakan.
Pintu terbuka. Kevin masuk dengan membawa sebuah map berwarna hitam. "Maaf mengganggu, Kak."
"Nggak apa-apa." Arga menerima map tersebut. "Masih ada yang kurang?"
"Ada satu dokumen tambahan dari bagian hukum."
"Taruh saja."
Kevin meletakkan map di atas meja. Saat hendak keluar, pandangannya bertemu dengan Nadira yang sedang duduk di dekat jendela.
"Oh, Kak Nadira juga di sini."
Nadira tersenyum ramah.
Kevin sempat ragu beberapa detik. "Kalau nggak mengganggu... boleh aku duduk sebentar?"
"Tentu."
Senyum lebar terpampang di wajah Kevin. Dia berjalan menuju sofa dan duduk berhadapan dengan Nadira. Untuk beberapa saat suasana terasa canggung. Mereka memang sering bertemu dalam acara keluarga, tetapi hampir tidak pernah berbicara berdua.
"Aneh juga ya. Kita sudah beberapa kali ketemu, tapi baru sekarang benar-benar ngobrol,” ucap Kevin cepat dan luwes.
Nadira ikut tersenyum. "Iya juga."
"Soalnya setiap ketemu pasti suasananya serius atau llagi makan malam keluarga."
Nadira mengangguk sambil ikut tertawa. "Benar."
"Kadang baru mau ngobrol sebentar, Mama sudah mengalihkan pembicaraan."
Kalimat itu membuat Nadira hanya tersenyum tipis.
"Maaf ya."
Nadira sedikit terkejut. "Maaf?"
Kevin mengangguk pelan.
"Aku mau minta maaf atas sikap Mama."
Nadira tidak langsung menjawab.
Kevin melanjutkan. "Aku tahu beberapa kali Mama menyindir Kakak. Bahkan kadang sengaja membuat suasana jadi nggak nyaman."
"Nggak apa-apa." Nadira menggeleng pelan. "Aku nggak terlalu memikirkannya."
"Tapi aku memikirkannya." Kevin tersenyum hambar. "Bagaimanapun juga, beliau ibuku."
Ruangan kembali hening beberapa detik. "Sejak kecil Mama memang seperti itu."
"Maksudnya?"
"Beliau selalu ingin keluarganya mendapatkan yang terbaik. Tapi kadang keinginan itu berubah menjadi ambisi." Kevin menatap keluar jendela. "Sejak Kakek menunjuk Kak Arga sebagai pewaris perusahaan, Mama sulit menerima kenyataan itu. Merasa keputusan itu tidak adil."
Nadira mendengarkan tanpa memotong.
"Mama pernah bilang, kalau perusahaan sebesar Wijaya Group seharusnya tidak diserahkan kepada satu orang saja. Makanya beliau terus mencoba mencari celah."
"Mas Arga tahu?" Nadira melirik sekilas sosok Arga yang ternyata terlihat sangat sibuk. Percakapannya dengan Kevin tidak dipedulikan, mungkin sengaja mengacuhkan.
Kevin tersenyum kecil. "Kak Arga tahu, api memilih diam."
"Kenapa?"
"Karena kalau diladeni, masalahnya justru semakin besar."
Nadira mengangguk pelan. "Aku mengerti."
Kevin kembali menatap Nadira. "Aku cuma nggak mau Kakak berpikir semua keluarga Wijaya sama. Masih banyak yang sebenarnya hanya ingin hidup tenang."
Nadira tersenyum. "Aku tahu."
Kevin tampak sedikit lega. "Terima kasih." Ia terdiam beberapa saat sebelum kembali berbicara dengan nada lebih pelan. "Ada satu hal lagi."
Nadira menatapnya.
"Aku tahu..." Kevin menyeringai,"...kalau pernikahan Kakak dan Kak Arga awalnya hanya kontrak."
Jantung Nadira langsung berdegup lebih cepat. Ekspresinya berubah. "Dari mana kamu tahu?"
Kevin tersenyum puas. "Maaf. Itu nggak bisa aku jawab." Dia nampak senang atas respon Nadira. "Tapi tenang … aku nggak pernah membicarakannya kepada siapa pun."
"Benarkah?"
"Menurutku itu bukan urusanku." Kevin melirik Arga yang masih sibuk membaca dokumen. "Lagipula aku rasa hubungan kalian sekarang sudah jauh berbeda. Kak Arga berubah banyak."
Kevin bersidekap, menyelonjorkan kakinya ke atas meja kaca. Nadira hanya terdiam melihat tingkah bocah itu. "Dulu Arga cuma memikirkan pekerjaan. Sekarang selalu memastikan Kakak sudah makan, sudah pulang, sudah tidur. Hal-hal kecil yang dulu bahkan nggak pernah beliau lakukan untuk dirinya sendiri."
Pipi Nadira perlahan memerah. Tanpa sadar, ia ikut menoleh ke arah Arga.
Pria itu masih serius membaca berkas di mejanya. Namun sesekali matanya tetap melirik ke arah mereka, memastikan Nadira tidak bosan menunggunya.
Tak lama kemudian Arga berdiri. "Sudah selesai." Ia menghampiri mereka sambil merapikan map.
"Maaf, lama ya."
"Nggak kok," jawab Kevin sambil ikut berdiri. "Aku juga mau pulang."
Kevin mengambil map kosong yang tadi dibawanya. Sebelum keluar, ia menghentikan langkah dan membalikkan badan.
Tatapannya tertuju kepada Arga. "Kak..."
"Hm?"
Kevin tersenyum tipis. "Aku iri sama Kakak."
Arga mengernyit heran. "Iri?"
Kevin mengangguk. Tatapannya perlahan bergeser kepada Nadira. "Aku iri karena di tengah semua kekacauan hidup Kakak, masih ada seseorang yang memilih tetap berdiri di samping Kakak."
Kevin tersenyum sekali lagi. "Tolong jangan pernah kecewakan dia,” liriknya ke arah Nadira.
Tanpa menunggu jawaban, Kevin membuka pintu dan keluar dari ruangan. Suasana kembali hening.
Arga memandang pintu yang baru saja tertutup, lalu mengalihkan pandangannya kepada Nadira. "Aneh," ucapnya.
Nadira mengangguk pelan. "Iya."
Di balik ucapan Kevin tadi, keduanya sama-sama merasa ada sesuatu yang belum sempat diungkapkan. Sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar rasa iri.