NovelToon NovelToon
Mawar di Pinggangnya

Mawar di Pinggangnya

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.

Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.

Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.

Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.

Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.

Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?

(148 kata Indonesia)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 010

Belanja Tengah Malam

Untuk beberapa detik, tidak ada suara selain angin malam dan detak jantung Kiara sendiri.

Rayhan masih memegang ponsel di dekat telinga. Di layar, panggilan dengan Opa belum terputus. Kiara berdiri di dekat meja makan dengan gelas kosong, merasa seperti seseorang yang baru saja membuka pintu ruangan rahasia dan tertangkap sebelum sempat melihat isinya.

"Opa, nanti saya telepon lagi."

Rayhan menutup panggilan.

Kiara langsung mengangkat gelasnya, seolah gelas kosong itu alasan yang sangat masuk akal untuk berdiri membeku di sana. "Aku... mau ambil air."

"Kiara."

Ia berhenti.

Suara Rayhan tidak keras, tapi cukup menahan langkahnya. Kiara menatap dispenser di dapur, bukan wajahnya.

"Kamu dengar?"

Pertanyaan itu terlalu jujur. Kiara menggenggam gelas lebih erat.

"Sedikit."

"Bagian mana?"

Bagian karena aku.

Bagian yang membuat jantungku seperti orang bodoh.

"Bagian Opa," jawab Kiara, lalu hampir membenci dirinya sendiri karena bohong seburuk itu.

Rayhan tidak langsung membalas. Kiara bisa merasakan tatapannya di punggung.

"Begitu."

Satu kata itu datar, tetapi ada sesuatu yang tertahan di sana. Mungkin kecewa. Mungkin lega. Mungkin juga keduanya.

Kiara mengisi gelas terlalu penuh sampai air hampir tumpah. "Kak Rayhan mau minum?"

"Tidak."

"Aku tidur dulu."

"Kiara."

Kali ini Kiara memaksa diri menoleh.

Rayhan berdiri di balik pintu kaca, bayangannya setengah tertimpa lampu balkon. Angin menggerakkan ujung rambutnya. Ia tampak seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya hanya berkata, "Kunci pintu kamarmu."

Kiara mengangguk pelan.

Malam itu, ia tidak langsung tidur.

Di kamar, Kiara berbaring miring sambil menatap garis cahaya dari bawah pintu. Perutnya terasa tidak nyaman, tapi ia mengira itu karena terlalu banyak menahan emosi. Pak Song, kantor, telepon Opa, kalimat Rayhan yang terputus, semuanya bercampur di kepala sampai sulit dipisahkan.

Rasa nyeri pertama datang menjelang tengah malam.

Kiara meringkuk, menekan telapak tangan ke perut bawah. Nyeri itu akrab. Terlalu akrab. Ia bangun dengan panik kecil, membuka laci meja, lalu laci lemari.

Kosong.

Pembalut yang biasanya ia simpan ternyata habis.

"Hebat, Kiara," bisiknya pada diri sendiri.

Ia mengecek ponsel. Pukul 23.47. Minimarket di depan cluster masih buka, tapi membayangkan berjalan sendiri keluar rumah setelah dua hari berturut-turut mendapat ancaman membuat tubuhnya menolak.

Ia bisa pesan ojek online.

Ia bisa menunggu pagi.

Ia bisa memakai tisu sementara dan berdoa.

Perutnya kembali melilit. Kiara duduk di tepi ranjang, menarik napas pendek. Saat berdiri, ia merasa ada noda hangat di celana rumahnya. Wajahnya langsung panas, kali ini bukan karena malu pada Rayhan, tapi malu pada seluruh kehidupan.

Ia membuka pintu kamar pelan, berniat turun mengambil handuk kecil.

Lampu ruang keluarga masih menyala.

Rayhan duduk di sofa dengan laptop di meja, mungkin membaca laporan kasus. Ia langsung mengangkat kepala saat mendengar pintu.

"Kenapa belum tidur?"

"Mau ambil... air hangat."

Rayhan menutup laptop. "Wajahmu pucat."

"Nggak apa-apa."

"Kiara."

Nama itu, dengan nada seperti itu, selalu membuat kebohongan Kiara berantakan.

Ia memegang perut bawah, lalu menunduk. "Aku haid."

Hening.

Kiara ingin lantai menelannya.

"Pembalutku habis," tambahnya cepat, karena diam Rayhan terasa lebih memalukan. "Aku bisa pesan online. Kak Rayhan tidur aja."

Rayhan berdiri.

"Merek?"

Kiara mengangkat wajah. "Apa?"

"Pembalut. Merek apa?"

"Kak Rayhan nggak perlu."

"Merek apa, Kiara?"

Nada itu tidak memberi ruang untuk drama. Praktis. Tenang. Seperti ia sedang bertanya obat alergi, bukan benda yang membuat Kiara ingin menutup muka dengan bantal.

"Biasanya Charm. Yang malam. Dua puluh sembilan sentimeter." Ia berdeham kecil. "Kalau ada."

"Celana?"

Kiara hampir tersedak. "Apa?"

"Celana menstruasi. Kamu perlu?"

Panas di wajah Kiara naik sampai ubun-ubun. "Kak Rayhan tahu dari mana?"

"Aku bisa membaca."

"Itu bukan jawaban."

"Aku pergi."

Sebelum Kiara sempat menahan, Rayhan sudah mengambil kunci mobil. Ia berhenti di pintu, menoleh. "Tunggu di kamar. Kalau nyeri berat, telepon aku. Jangan turun tangga."

"Aku nggak lumpuh."

"Malam ini, anggap begitu."

Pintu tertutup.

Kiara berdiri di ruang keluarga, memegang perut, tidak tahu apakah harus marah, tersentuh, atau menggali lubang untuk bersembunyi.

Di minimarket dua puluh empat jam dekat cluster, Rayhan Tan berdiri di depan rak pembalut dengan ekspresi yang biasanya ia pakai saat membaca berkas pembunuhan.

Terlalu banyak pilihan.

Siang. Malam. Bersayap. Tidak bersayap. Herbal. Extra long. Ultra thin. Celana menstruasi ukuran M, L, XL. Ada gambar bulan, bunga, dan perempuan tersenyum yang menurut Rayhan sangat tidak realistis untuk orang yang sedang kesakitan.

Seorang pegawai perempuan mendekat hati-hati. "Cari apa, Pak?"

"Pembalut malam dua puluh sembilan sentimeter. Charm kalau ada." Rayhan mengambil napas. "Dan celana menstruasi."

Pegawai itu berkedip, lalu tersenyum kecil. "Untuk istri, Pak?"

Rayhan berhenti sepersekian detik.

"Iya."

Kata itu keluar tanpa ragu.

Di ujung rak, dua remaja laki-laki yang sedang membeli mi instan saling sikut dan tertawa pelan. Rayhan menoleh sekali. Tidak tajam, hanya cukup datar untuk membuat mereka langsung sibuk membaca label saus sambal.

Pegawai perempuan itu menahan senyum. "Jarang ada suami yang hafal ukuran begini, Pak."

"Dia sedang sakit," jawab Rayhan. "Saya tidak mau salah beli. Saya juga tidak mau dia turun sendiri malam-malam dalam kondisi sakit."

"Kalau alirannya banyak, lebih aman ambil yang malam dan celana menstruasi. Kadang perempuan malu bilang butuh lebih dari satu."

Rayhan memasukkan dua bungkus tambahan ke keranjang. "Kalau begitu ambil lebih."

Pegawai perempuan itu membantu mengambil beberapa pilihan. "Kalau nyeri, bisa sekalian koyo hangat atau minuman jahe instan, Pak."

"Ambilkan."

"Merek apa?"

"Yang paling bagus."

Sepuluh menit kemudian, Rayhan kembali ke rumah membawa dua kantong belanja.

Kiara yang menunggu di depan kamar hampir menjatuhkan ponsel.

"Kak Rayhan beli satu rak?"

Rayhan meletakkan kantong di meja kecil dekat kamarnya. "Aku tidak tahu mana yang paling nyaman."

Kiara membuka kantong pertama. Ada pembalut malam, pembalut siang, tisu basah, koyo hangat, minuman jahe instan, cokelat, dan obat pereda nyeri. Kantong kedua berisi tiga bungkus celana menstruasi.

Tiga ukuran.

Kiara menatapnya, wajahnya mati rasa karena malu.

"Kenapa ada ukuran L?"

"Kalau M tidak nyaman."

"Kak Rayhan..."

"Pakai dulu." Rayhan menunduk sedikit, suaranya lebih pelan. "Kalau kurang, aku beli lagi."

Kiara memeluk kantong belanja itu di depan dada, tidak tahu harus berkata apa.

Rayhan memalingkan wajah, memberi ruang untuknya masuk kamar. Tapi sebelum ia pergi, Kiara mendengar suaranya lagi.

"Kiara."

"Iya?"

"Kalau bocor, jangan panik. Itu bukan salahmu."

Kalimat sederhana itu membuat mata Kiara panas dengan cara yang tidak ia siapkan.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!